LOGIN"Dyyyymm !!! Apa yang mau lo lakuin di sana, Safira?!" bisik Axel panik.
Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Matanya sempat melirik ke arah gerbang rumah orang tuanya yang tinggal sejengkal lagi. Namun, foto ketinggian gedung yang dikirimkan Safira benar-benar merenggut kewarasannya. Di satu sisi, ia harus segera melacak keberadaan Elena. Namun di sisi lain, ego lelaki dan rasa cintanya tidak akan sanggup membiarkan Safira melakukan tindakan konyol itu. "Agrrrhhh! Bangsat!" Akhirnya Axel membanting setir, memutar balik mobilnya dengan kasar. Kendaraan itu menderu membelah jalanan, melesat menuju gedung yang menjadi latar foto kiriman Safira. Sepanjang perjalanan, isi kepala Axel seolah mau pecah. Ibu jarinya tak berhenti menekan tombol panggil pada nomor Safira, tetapi wanita itu tetap menolak panggilannya. "Ayolah, Fira... lo jangan gila kayak gini dong," gumamnya frustrasi. Sepagian ini, Axel terus-menerus menginjak pedal gas dalam-dalam, memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak sampai sepuluh menit, ia mengerem mendadak di depan sebuah gedung tua terbengkalai yang tak jauh dari rumahnya—tempat tersembunyi yang biasa mereka gunakan untuk bertemu diam-diam. Axel langsung melompat turun, berlari kencang menerobos tangga demi tangga menuju lantai teratas. Di sana, di tepi beton yang rapuh tanpa pembatas, Safira sedang berdiri diam. Matanya menatap kosong ke arah deretan mobil yang merangkak kecil di bawah sana. "Safira! Safira, no! Apa-apaan sih yang kamu lakuin? Hah?!" teriak Axel kehabisan napas. Safira perlahan menoleh, wajahnya sembap. "Kamu datang, Axel?" "Ya jelas aku datang! Mana mungkin aku membiarkan orang yang aku cintai lompat dan mati konyol di sini?! Apa sih yang ada di otak kamu, Safira?!" Safira tersenyum tipis, sebuah senyuman miris yang menyayat hati. "Yang ada di otak aku? Untuk apa lagi aku hidup kalau nggak ada lagi orang yang peduli sama aku? Di dunia ini aku nggak punya siapa-siapa, Ax. Aku cuma punya kamu. Tapi sekarang... kamu bahkan udah nggak peduli lagi sama aku. Jadi buat apa aku bertahan?" "Safira, please... turun dulu, ya? Kita bicarakan ini baik-baik. Kita turun sekarang, oke?" bujuk Axel, suaranya melunak, penuh permohonan. Air mata Safira kembali luruh tersedu-sedu. "Aku nggak mau! Biarkan aku mati aja, Axel! Dengan begitu, aku nggak akan pernah jadi penghalang lagi buat kamu dan istri pilihan orang tuamu itu, kan?!" "Ya ampun, kamu ngomong apa sih, Safira?! Udah ya, kita turun... Aku antar kamu balik ke apartemen," ucap Axel. Langkahnya bergeser perlahan, mencoba meraih pergelangan tangan Safira yang masih berdiri tepat di ujung bibir lantai beton. "Nggak usah! Kamu harus nemuin perempuan itu, kan? Udah, cari aja sana dia sampai dapat!" "Ya nggak gitu dong, Sayang... Udah, yuk, turun." "Nggak mau!" "Safira!" Safira sengaja membuang muka. Kaki kanannya perlahan terangkat, bersiap melangkah ke udara kosong. Melihat itu, detak jantung Axel serasa berhenti. Sebelum wanita itu benar-benar nekat melompat, Axel melesat maju dan menarik tubuh Safira dengan sentakan kuat hingga mereka berdua jatuh terduduk di lantai semen. "Oke! Oke! Aku janji akan segera nikahin kamu!" sentak Axel panik sembari mencengkeram kedua bahu Safira. "Aku akan segera urus perceraian itu. Setelah Elena ketemu, aku akan langsung urus semuanya! Tapi kita pulang sekarang, ya? Kamu mau ke mana sekarang, hm? Aku temenin ke mana pun. Kamu mau apa? Shopping? Beli baju baru? Tas? Perhiasan? Ayo, aku turuti semuanya." Isak tangis Safira perlahan mereda. Ia menatap Axel dengan mata bulatnya. "Kamu... beneran?" "Iya, demi Tuhan. Ayo sekarang kita turun dulu, ya? Ayo." Perlahan, Safira mengangguk dan membiarkan Axel menuntunnya berdiri. "Bagus. Ayo... kita pergi dari tempat sialan ini, Sayang." "Ya." Matahari siang itu menggantung tepat di atas kepala, memancarkan terik yang membakar, seolah enggan bergeser walau waktu terus merayap. Jalanan ibu kota dipenuhi barisan kendaraan yang merangkak lambat. Sesekali pekikan klakson yang melengking memecah udara panas yang padat dan pengap. Asap knalpot bercampur debu tebal menyelimuti trotoar, tempat di mana pohon-pohon kurus berusaha keras untuk tetap tegak bertahan hidup. Di antara lajur mobil yang mengunci, motor-motor menyelip lincah layaknya ikan kecil, mencari celah sempit agar tidak terjebak terlalu lama dalam neraka kemacetan. "Ck. Macet banget lagi. Tadi padahal belum separah ini," gerutu Axel sembari memukul kemudi. Ia menoleh ke samping. "Aku antar kamu balik ke apartemen dulu ya? Biar kamu bisa istirahat." Safira merengut, melipat kedua tangannya di depan dada. "Yaaah... aku bosen di apartemen terus, Axel. Mau kerja juga mana ada perusahaan besar yang mau nerima lulusan SMA kayak aku." Axel menghela napas, lalu mengulas senyum tipis. "Ya udah... kita jalan-jalan ke mall aja sekarang. Kita shopping, mau?" "Aaaaa... mau banget!" sahut Safira seketika, berubah manja. Ia langsung menggelayut mesra di lengan kiri Axel yang sedang menyetir. Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan akibat macet, mobil sport milik Axel akhirnya memasuki area parkir salah satu mall mewah di Jakarta. "Udah ya... jangan ngambek-ngambek lagi. Pokoknya kamu tenang aja, aku pasti bakal nikahin kamu. Tapi tolong sabar sebentar," ucap Axel setelah memarkirkan mobilnya. "Ck. Ya gimana ya, Ax. Kadang aku ngerasa kamu mulai jauh dari jangkauan aku. Kamu yang sekarang sulit diajak keluar, kita juga makin susah buat chatting-an. Rasanya kita makin asing, gimana aku nggak khawatir coba?" keluh Safira dengan nada menuntut. Axel menghela napas berat. "Iya, aku minta maaf. Tapi masalah ini terlalu rumit, Sayang. Terlalu gegabah kalau aku ceraikan Elena sekarang. Dia itu... menantu emas di keluarga gue. Bahkan Papa dan Mama jauh lebih percaya sama dia dibanding sama anak kandungnya sendiri." "Memangnya apa sih istimewanya cewek itu? Kalau misal kamu kenalin aku ke orang tua kamu dari dulu, aku juga pasti bisa berusaha buat ambil hati mereka, Axel!" Axel menyugar rambutnya ke belakang, frustrasi. "Kalau segalanya sesimpel itu, udah dari awal aku bawa kamu ke hadapan orang tua aku, Sayang. Dengar ya... aku sama Elena itu tinggal di lingkungan yang sama sejak kecil. Papa gue sama papanya Elena bersahabat karib. Sempat terpisah waktu muda, sebelum akhirnya ketemu lagi saat kami masih anak-anak." Axel menjeda kalimatnya, mengingat masa lalu. "Saat itu, keluarga gue hampir bangkrut total. Perusahaan-perusahaan keluarga sudah mulai dilelang satu per satu. Yang tersisa cuma dua perusahaan, itu pun di ambang kolaps. Lalu... keluarganya Elena yang datang mengulurkan tangan. Ada mungkin sekitar delapan tahun keluarga gue benar-benar bergantung pada bantuan finansial keluarga Elena, sampai akhirnya kami bisa bangkit dan jaya lagi seperti sekarang. Makanya, orang tua gue merasa punya utang budi seumur hidup sama mereka. Papa Mama udah sayang sama Elena sejak kecil. Dan... terjadilah perjodohan konyol itu!" Wajah Axel menggelap saat melanjutkan, "Masalah terbesarnya adalah... Papa ngancem gue. Kalau sampai gue berani nyakitin atau menceraikan Elena, Papa bakal coret nama gue dari Kartu Keluarga dan daftar ahli waris. Semua fasilitas bakal dicabut, termasuk semua kartu kredit gue." Mata Safira membelalak sempurna. "What?! Kamu serius, Ax?" "Ya iya, aku serius. Tapi kamu tenang aja, aku pasti bakal cari cara agar bisa terlepas dari perjodohan konyol ini tanpa kehilangan sepeser pun." "Caranya?" tanya Safira penasaran. "Ada lah. Aku bakal bikin situasi di mana Elena sendiri yang minta cerai dari gue. Jadi, Papa nggak punya alasan buat menghukum gue. Kan dia yang mau pisah," ucap Axel dengan seringai licik. Mendengar itu, wajah Safira langsung cerah. "Aaah, iya! Kamu bener, Sayang! Kita harus buat seolah-olah Elena yang nggak tahan dan milih buat ninggalin kamu." "Iya. Makanya kamu sabar dulu ya? Pokoknya, aku janji cuma kamu yang bakal jadi istri gue." "Oke! Ya udah, yuk. Kapan nih shopping-nya kalau kita ngobrol di dalam mobil terus?" " Oh iya... oke, let's go baby!" Axel terkekeh pelan. Mereka berdua segera turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam mall. Suasana mall siang itu cukup ramai namun tidak terlalu padat. Orang-orang berlalu-lalang keluar masuk gerai butik. Axel berjalan di sebelah Safira dengan gaya santai, satu tangannya disembunyikan di dalam saku celana, sementara tangan lainnya menggenggam ponsel. “Aku mau lihat tas sebentar di sebelah sana,” kata Safira menunjuk sebuah butik branded. “Lantai dua?” tanya Axel. Safira mengangguk. Karena antrean lift cukup penuh, mereka memilih naik menggunakan eskalator. Safira dengan antusias memperhatikan setiap etalase butik, sementara Axel hanya mengekor di belakangnya tanpa minat. "Axel, lihat tas itu! Bagus banget, kayaknya itu koleksi limited edition deh!" Safira setengah berlari mendekati tas yang terpajang di etalase berputar. "Kamu mau?" "Aaaaa, mau bangeeet! Eh, tapi... yang warna itu juga bagus!" seru Safira heboh sembari menunjuk tas kulit berwarna hijau emerald yang terletak di etalase bagian atas. "Mbak, mau lihat yang itu dulu dong. Sama yang ini juga!" pinta Safira pada pelayan toko. Pelayan itu tersenyum ramah, lalu dengan cekatan mengambilkan dua tas yang dimaksud Safira. "Nah... coba lihat, Sayang. Bagusan yang mana menurut kamu?" tanya Safira memamerkan kedua tas itu di depan dada. "Bagus yang—" Drrrttttt... drrrrrttttt... drrrrrrrrtt... Belum sempat Axel menyelesaikan kalimatnya, ponsel di genggamannya bergetar hebat. Layarnya menampilkan nama sang ayah. "Sebentar, ya," ucap Axel sembari menempelkan jari telunjuknya di bibir, memberi isyarat agar Safira diam. "Halo, Pa?" [PULANG SEKARANG, ATAU JANGAN PERNAH INJAKKAN KAKI DI RUMAH INI LAGI!] Bentakan menggelegar dari ujung telepon membuat Axel tersentak mundur. "Pa-Pa, ada apa—" [PULANG!!!]Tiga Tahun KemudianPagi itu, sinar matahari hangat menerobos masuk melalui celah gorden kamar utama. Aroma lavender dari pelembab udara berpadu lembut dengan wangi kopi hangat yang dibawa Axel ke dalam kamar.Di atas ranjang besar, Elena tersenyum tipis saat merasakan sebuah kecupan lembut di keningnya. Perlahan ia membuka mata, menyambut senyum hangat dari pria yang tiga tahun terakhir ini tak pernah absen berdiri di sampingnya. menjadi pelindung, penopang, dan satu-satunya tempat ia pulang."Pagi, Sayang," bisik Axel lembut, lalu mendaratkan tangan hangatnya di atas perut Elena yang membuncit besar. "Pagi juga, Jagoan Papi..."Elena mengelus jemari Axel yang berada di atas perutnya. "Pagi, Papi..."Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk menyembuhkan luka akibat kehilangan kedua orang tuanya. Namun, Axel membuktikannya. Pria itu tidak pernah memaksa, selalu sabar menuntun Elena keluar dari masa-masa kelam, hingga akhirnya Elena benar-benar luluh dan membuka hatinya seutuhnya
"Elena... lihat Mama, Nak..." suara ibu Axel, Heranica. terdengar begitu lembut, bergetar menahan duka yang sama besar.Elena perlahan mendongak dengan pandangan kabur oleh air mata. Matanya sembab, merah, dan tatapannya begitu kosong seolah nyawanya telah ikut pergi bersama brankar yang baru saja melintas.Heranica merengkuh wajah Elena dengan kedua tangannya, mengusap pipi wanita muda itu yang terasa dingin. "Mama tahu ini berat... berat banget buat kamu. Tapi Mama sama Papa kamu udah tenang, Nak. Mereka udah nggak ngerasain sakit lagi...""Mama Heranica..." bisik Elena, suaranya parau dan tercekik. "Aku... aku sekarang sendirian, Ma... Papa udah nggak ada... Mama juga pergi...""Enggak, Sayang. Kamu nggak sendirian," potong Heranica tegas namun hangat, lalu membawanya kembali ke dalam pelukan erat. "Kamu masih punya Mama, punya Papa Ares, punya Axel... Kita keluarga kamu. Mama nggak akan pernah biarkan kamu sendirian."Di seberang lorong, Axel berdiri menatap dua wanita itu d
Pintu kamar terbuka pelan, disusul langkah Axel yang kembali masuk dengan raut wajah yang jauh berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi ketenangan yang tadi ia paksakan. Garis rahangnya menegang, sorot matanya tampak berat, seolah menyimpan sesuatu yang sulit diucapkan.Elena yang sejak tadi duduk gelisah di atas ranjang langsung menoleh. Hatinya berdegup lebih cepat hanya dengan melihat ekspresi Axel."Ada apa, Axel?" tanyanya, keningnya berkerut, firasat buruk mulai merayap masuk tanpa permisi.Axel tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri beberapa langkah dari tempat Elena, menatap wanita itu dengan ragu. Bibirnya sempat terbuka, namun kembali tertutup. Seolah kata-kata yang ingin keluar tertahan di tenggorokan."Axel?" Elena kembali memanggil, kali ini dengan nada lebih tegas. "Ada apa?"Hening.Axel menghela napas pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri sebelum melangkah mendekat. Ia duduk di tepi ranjang, jaraknya cukup dekat hingga ia bisa meraih tangan Elena yang terasa din
Stasiun kereta terdekat tampak penuh sesak.Orang-orang berkerumun di berbagai sudut. Suara tangis, teriakan, dan pertanyaan saling bersahutan tanpa jeda.Beberapa orang terlihat histeris, memanggil nama anggota keluarga mereka.Sebagian lainnya mengerumuni petugas, memaksa meminta kepastian."Mas, tolong dicek lagi! Nama suami saya belum ada!""Anak saya ada di gerbong tiga, Mas! Tolong!""Daftar korban di mana?!"Suasana benar-benar kacau.Penuh kepanikan.Penuh ketidakpastian.Elena berdiri di tengah keramaian itu, wajahnya pucat, matanya terus mencari ke sana kemari, seolah berharap menemukan jawaban di antara kerumunan orang.Tangannya mencengkeram lengan Axel erat."Ax… Mama sama Papa pasti mereka naik-baik saja kan…?" suaranya lirih, penuh harap yang rapuh. Axel menatap sekeliling, lalu kembali ke Elena."Iya… kita cari, ya. Tenang… aku di sini."Meski ucapannya terdengar tenang, matanya sendiri tak bisa menyembunyikan kecemasan.Beberapa kali, Axel menarik Elena mendekat saat
“A-anu, Non… Nyonya Besar dan Tuan Besar… kecelakaan, Non!”Elena tertawa hampa. “Ngaco! Jangan bercanda ah, nggak lucu. Satu jam lalu aku masih teleponan sama Mama, Bi. Mama lagi baik-baik aja.”“Saya nggak berani bercanda soal ini, Non!” potong pelayan itu dengan suara bergetar panik. “Barusan ada berita sela di TV… kecelakaan kereta api setengah jam yang lalu. Parah banget, Non… banyak korban jiwa…”“Ya terus apa hubungannya sama Papa Mama?” cecar Elena, suaranya mulai meninggi karena menolak kenyataan. “Masa iya Papa sama Mama naik kereta? Mereka itu naik pesawat!”“Tapi, Non… di daftar nama korban yang ditayangkan… ada nama Tuan Theo dan Nyonya Elis…”Dada Elena berdesir hebat. Otaknya menolak mentah-mentah ucapan itu. Dengan gerakan panik, ia menyambar ponselnya dan menekan nomor Mamanya.“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.”Elena mencoba menghubungi Papanya. Sama. Suara mesin menjawab dingin. Jarinya yang gemetar mulai tak kontrol men
"Boleh aku duduk sebentar?""Silakan, Dok."Keenan duduk di hadapan Elena dengan napas yang belum teratur. "Terakhir, Elena... apa kamu yakin nggak ada kesempatan sedikit pun buat aku?"Elena menatapnya lurus. "Keenan... aku rasa jawabanku kemarin sudah jelas. Maaf banget, jawabanku masih tetap sama."Keenan menunduk, meremas tangannya pelan sebelum menghembuskan napas panjang. Dari sudut lain, Axel memperhatikan interaksi itu dari jauh dengan raut tak tenang.Keenan kembali mendongak dengan senyum tipis. "Baik, aku terima. Aku cuma berharap kamu selalu bahagia." Ia mengusap wajahnya sekilas. "Sore ini aku fly ke London. Tugasku di sini sudah selesai."Elena terkejut. "Keenan... are you okay?""Aku nggak apa-apa," sahut Keenan cepat, berusaha tersenyum. Ia meneguk habis minumannya, lalu berdiri. "Jaga diri baik-baik. Kalau butuh apa-apa, nomorku masih sama."Tanpa menunggu balasan, Keenan berbalik dan melangkah pergi. Elena hanya bisa menatap punggung pria itu dengan sedikit







