แชร์

Pedan Singkat Mama

ผู้เขียน: Aisyah Ahmad
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-20 18:11:44

Elena menariknya ke dalam pelukan.

“Mommy minta maaf…” bisiknya. “Mommy minta maaf kamu harus dengar kata-kata seperti itu.”

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Hatinya teriris. Luka masa lalunya seperti diseret kembali ke permukaan. Tapi kini, yang lebih menyakitkan adalah melihat anak-anaknya menanggungnya.

Ia mengusap rambut Eros.

“You’re not alone. You have me.”

(Kamu tidak sendirian. Kamu punya Mommy.)

Lalu ia berdiri dan menghadap guru BK.

“Saya minta maaf atas kejadian ini, Pak. Saya
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Noda Pernikahan Paksa   Pedan Singkat Mama

    Elena menariknya ke dalam pelukan.“Mommy minta maaf…” bisiknya. “Mommy minta maaf kamu harus dengar kata-kata seperti itu.”Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.Hatinya teriris. Luka masa lalunya seperti diseret kembali ke permukaan. Tapi kini, yang lebih menyakitkan adalah melihat anak-anaknya menanggungnya.Ia mengusap rambut Eros.“You’re not alone. You have me.”(Kamu tidak sendirian. Kamu punya Mommy.) Lalu ia berdiri dan menghadap guru BK.“Saya minta maaf atas kejadian ini, Pak. Saya akan membimbing Eros di rumah. Saya pastikan ini tidak terulang lagi.” Guru itu mengangguk.“We understand. Kids can be cruel sometimes.”(Kami mengerti. Anak-anak kadang bisa sangat kejam.)Elena mengangguk pelan.Ia kembali ke Eira, menggandeng kedua anaknya.“Ayo, kita pulang.” Keenan berdiri di dekat pintu ruang guru sejak tadi, menyaksikan semuanya dalam diam.Tatapannya pada Elena berubah. bukan lagi sekadar profesional. Ada sesuatu yang lebih dalam.Ia baru saja melihat seorang ibu yang

  • Noda Pernikahan Paksa   You’re not alone. You have me

    Elena memalingkan wajahnya ke arah jalan raya. Lampu kendaraan memantul di genangan, berpendar seperti kilasan masa lalu yang tak pernah benar-benar padam. “Aku baik-baik saja,” jawabnya singkat.“Kamu tidak perlu berbohong.”Nada Keenan mantap.“Aku melihat perempuan yang dulu berani menembakkan batu ke mata dua preman tanpa ragu. Perempuan yang berdiri tegak di balik pagar tinggi dan tidak pernah takut pada apa pun.” Ia menatap profil wajah Elena.“Sekarang aku melihat seseorang yang berjalan seperti memikul dunia.”Elena mengepalkan jemarinya di pangkuan.“Aku memilih jalan ini,” katanya akhirnya. “Tidak ada yang perlu dikasihani.”“Aku tidak mengasihani.”Keenan menggeleng.“Aku hanya ingin tahu siapa yang membuat peri kecil itu berhenti percaya bahwa dia pantas dilindungi.” Kalimat itu seperti mengetuk sesuatu yang paling Elena sembunyikan.Rahangnya mengeras. “Jangan ikut campur,” ucapnya pelan, tapi kali ini suaranya sedikit bergetar.“Nggak semua hal harus kamu tahu.”Kee

  • Noda Pernikahan Paksa   Peri Kecil Dari Masalalu

    “Lalu? Untuk apa belakangan ini dokter selalu terlihat di dekat saya?” Keenan mencolek ujung hidungnya pelan, seolah mereka sudah sangat akrab.“Dasar kamu.” Elena refleks mundur sedikit.“Kok malah marah…” “Bagaimana tidak selalu terlihat? Kita ini tetangga, lho.” Elena terdiam. Wajahnya memerah. Ia menggaruk tengkuknya pelan, merasa terlalu percaya diri tadi. Senyum malunya muncul tanpa sadar. “Tapi, Elena… boleh aku tanya satu hal?”“Apa, Dok?” Keenan tersenyum.“Tunggu. Gimana kalau panggil Keenan saja? Kita tidak sedang di rumah sakit.”Elena terkekeh kecil. “Hahaha… Dokter ini lucu. Bukan begitu, saya hanya mau menghormati dokter. Masa saya panggil nama saja? Rasanya tidak sopan.” “No problem,” balasnya santai. Hening sebentar.Keenan menarik napas dalam, lalu berkata pelan tapi jelas.“Elena… tolong bagi bebanmu itu padaku. Izinkan aku jadi tempatmu bersandar.”Elena menoleh perlahan. “Kamu… menikahlah denganku.”Seketika tubuh Elena menegang. Ia mundur beberapa senti

  • Noda Pernikahan Paksa   Tagihan Sekolah menumpuk

    “I’m not questioning, Ma’am. I’ve completed all my design submissions. The projects are finished on schedule.”(Saya tidak mempertanyakan, Bu. Semua desain saya sudah selesai tepat waktu.) “That is your job. You get paid when the finance department processes it.”(Itu memang tugasmu. Kamu dibayar ketika bagian keuangan memprosesnya.) “But this isn’t the first time…”(Tapi ini bukan pertama kalinya…) “Oh, so now you’re accusing the company?”Nada itu makin tinggi. Elena mengepalkan tangan.“I just need what I earned, Ma’am.”(Saya hanya meminta hak saya.)“Get out if you’re unhappy.”Ruang itu mendadak sunyi. “Excuse me?” “You heard me. If you can’t handle professional standards, you’re free to leave.”(Kamu dengar saya. Kalau kamu tidak bisa mengikuti standar profesional di sini, kamu bebas mengundurkan diri.) Kalimat itu seperti tamparan.Elena berdiri terpaku beberapa detik.Lalu, perlahan… ia mengambil tasnya.“Fine.”Ia berbalik.Langkahnya kaku. Dada panas.Begitu keluar d

  • Noda Pernikahan Paksa   Takut Terulang

    “Ya udah! Sana kalian ikut Om Keenan aja!”Suara Elena tiba-tiba naik, cukup membuat dua kepala kecil itu terdiam. “Sana ikut! Biar Mommy jalan sendiri aja! Mommy bisa kok jalan sendiri. Mommy kuat. Sana!” Ia melepaskan tangan mereka. Lalu berjalan lebih dulu.Langkahnya cepat. untuk ukuran jarak yang sebenarnya dekat.Eira dan Eros berdiri sebentar. Kaget. “Yah… Mommy marah deh…” bisik Eira.“Hu’um… gara-gara kita ya?” Eros menggigit bibirnya. Elena sebenarnya mendengar semuanya.Ia tidak marah.Ia hanya… takut.Takut kalau mereka mulai berharap pada seseorang.Takut kalau mereka mulai menyukai seseorang yang belum tentu tinggal.Takut kalau sejarah itu berulang. Ia mempercepat langkahnya, mencoba menelan rasa bersalah yang tiba-tiba naik ke tenggorokan.Di belakangnya ... “Mommy! Tungguuu!!!”Langkah kaki kecil berlari. Nafasnyq terburu-buru.Dan dalam hitungan detik, dua tangan mungil kembali menggenggam tangannya. Satu di kanan. Satu di kiri.Elena berhenti. “Mommy…” Eira m

  • Noda Pernikahan Paksa   Pagi yang Indah

    Pagi datang terlalu cepat. Elena bahkan merasa baru saja memejamkan mata ketika alarm di ponselnya berbunyi nyaring. Ia meraba-raba meja samping ranjang, mematikannya sebelum bunyi itu membangunkan satu lantai rumah.Ia duduk pelan. Rambutnya masih berantakan. Wajahnya sedikit sembap karena kurang tidur.“Bangun, Elena,” gumamnya pada diri sendiri. Lima menit kemudian, ia sudah turun ke dapur.Sisa bahan masakan semalam masih tertata rapi di kulkas. daging yang belum terpakai, sayuran segar, telur, dan beberapa potong ayam yang sudah dibumbui. Ia terdiam sesaat, mengingat siapa yang membawanya.Cepat-cepat ia menggeleng.Fokus. Elena mulai menyalakan kompor. Wajan dipanaskan dan Telur dipecahkan. Aroma bawang putih yang ditumis pelan mulai memenuhi dapur kecil itu. Ia memasak nasi goreng sederhana, menambahkan potongan ayam kecil dan sayur supaya lebih bergizi. Satu tangan mengaduk.Satu tangan membuka bekal makan siang.Di sela-sela itu, ia berlari ke tangga. “Eroooos… Eiraa… b

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status