ホーム / Romansa / Nona Hemat di Sarang Konglomerat / 3. Racun Rakyat Jelata di Kerongkongan Sultan

共有

3. Racun Rakyat Jelata di Kerongkongan Sultan

作者: VILNOCTE
last update 公開日: 2026-01-21 19:22:17

Pukul tujuh pagi di lantai lima puluh. Matahari masuk dengan sopan lewat kaca anti peluru, tapi bagi Citra Melati, dapur Penthouse Arcadia ini terasa seperti medan ranjau.

Dia berdiri di depan mesin kopi *La Marzocco* berlapis krom yang berkilau angkuh.

Benda itu lebih mirip mesin bagian dalam pesawat tempur daripada alat pembuat minuman. Ada tiga tuas, dua barometer tekanan, dan pipa uap yang terlihat mengintimidasi.

Citra mendengus. Otaknya langsung menghitung.

"Daya listrik minimal dua ribu watt. Sekali nyala, meteran listrik di rumahku pasti langsung stroke."

Suara *tit-tit-tit* dari token listrik yang sekarat terngiang di kepalanya. Itu suara horor masa kecil yang lebih menakutkan dari film hantu mana pun.

Dia tidak akan menyentuh monster krom itu.

Tangan Citra bergerak cepat ke balik dispenser air galon. Dia menarik harta karun yang disembunyikan di sana. Sebuah sachet plastik kecil berwarna merah menyala.

Kopi instan curah. Beli satu renceng, gratis piring cantik.

Komposisinya jelas: sembilan puluh persen gula biang, krimer nabati dari kelapa sawit, perasa sintetik, dan sedikit doa supaya konsumen tidak kena diabetes sebelum usia tiga puluh.

Citra menyobek bungkus itu dengan gigi.

*Sret.*

Bubuk kopi tumpah ke dalam cangkir keramik Hermes.

Dia menekan tuas air panas dispenser.

*Currrr.*

Uap mengepul. Aroma manis yang tajam dan artifisial langsung menonjok udara. Baunya bertabrakan frontal dengan aroma ruangan yang berbau vanilla-sandalwood mahal.

Kopi murah ini seperti preman pasar yang masuk ke lobi hotel bintang lima tanpa permisi. Menusuk. Dominan.

"Lumayan. Hemat empat puluh ribu," gumam Citra.

Dia baru saja akan menyesap cairan hitam pekat itu ketika suara langkah kaki berat terdengar diseret.

*Srek. Srek.*

Citra menoleh cepat.

Elang Soerya muncul dari lorong gelap.

Pria itu berantakan. Rambutnya yang biasa klimis kini mencuat seperti sarang burung yang diterjang badai.

Dia memakai piyama sutra biru dongker dengan kancing yang salah pasang, memperlihatkan dada bidangnya yang pucat.

Matanya merah dan kosong. Persis mayat hidup yang bangkit karena dikejar tagihan pinjol.

"Pak Elang?" sapa Citra ragu.

Hening.

Elang tidak menjawab. Tatapannya terkunci lurus pada cangkir di tangan Citra. Hidung bangsawannya kembang kempis.

Sebagai pecandu kafein akut, otak Elang sedang dalam mode survival. Dia tidak peduli aroma apa itu, yang dia tahu hanya satu: Itu stimulan. Dia butuh itu untuk menghidupkan sistem sarafnya yang mati suri.

Tanpa peringatan, tangan besar Elang menyambar cangkir itu.

"Eh, Pak! Jangan! Itu-"

Terlambat.

Elang menenggak cairan panas itu dalam sekali teguk rakus. Jakunnya naik turun cepat.

*Gluk. Gluk. Gluk.*

Citra mematung. Mulutnya terbuka.

Satu detik.

Dua detik.

Elang menurunkan cangkir. Lidahnya mengecap sisa rasa.

Mata Elang mendadak membelalak lebar. Pupilnya mengecil seukuran jarum. Ekspresi nikmat sesaat tadi berubah menjadi horor murni.

Cangkir keramik mahal itu lepas dari genggamannya.

*PRANG!*

Pecahan beling menghambur. Cairan kopi mengotori marmer putih Italia dengan noda cokelat yang jelek.

Elang mencengkeram lehernya sendiri dengan kedua tangan. Wajahnya yang pucat berubah merah padam dalam sekejap. Urat-urat di lehernya menonjol keluar.

"Paaanas..." desis Elang.

Suaranya bukan lagi bariton berwibawa. Itu suara cicitan tercekik.

"Pak?!" Citra melempar bungkus kopi kosong ke lantai. "Bapak kenapa? Keselek ampas?"

Elang mundur, menabrak meja island. Kulit leher dan wajahnya mulai timbul bentol-bentol besar kemerahan. Matanya bengkak drastis.

Tubuh steril yang dibesarkan dalam inkubator kemewahan itu sedang mengalami culture shock biologis. Sistem imun ningratnya mengamuk melawan pengawet buatan rakyat jelata.

*BRAK!*

Pintu lorong terbanting. Tiga pria lain bermunculan.

Damar Langit masuk lebih dulu dengan posisi kuda-kuda tempur, matanya liar memindai jendela.

"Status!" bentak Damar. "Serangan gas saraf? Racun kontak?"

"Bukan!" Citra berteriak panik. "Dia minum kopi sachet saya! Merek Kapal Selam!"

Raka Pradana muncul di belakang Damar. Tanpa ekspresi, dia berjongkok di dekat tumpahan kopi. Dia mencelupkan telunjuk ke cairan itu, lalu menjilatnya sedikit.

Wajah datarnya berkerut jijik.

"Natrium Kaseinat. Tartrazin. Pemanis Aspartam," ucap Raka cepat seperti mesin penjawab otomatis.

"Sistem imun Elang mendeteksi ini sebagai racun biologis level empat. Syok anafilaktik. Saluran napas akan tertutup total dalam tiga menit."

"Anjir! Muka Kak Elang jadi jelek banget!"

Bastian Wijaya menjerit dari ambang pintu. Dia memegang ponsel, panik menutupi kamera depannya.

"Ini bencana PR! Kalau ada paparazzi liat muka dia bengkak kayak kodok rebus begini, saham properti bisa anjlok! Ambil concealer gue! Kita harus touch up sebelum panggil ambulans!"

"Jangan ditambahin bedak, bego!" Citra menepis tangan Bastian yang hendak mendekat. "Dia butuh oksigen!"

Elang mengerang keras. Kuku-kukunya mencakar leher sendiri, meninggalkan jejak merah panjang.

"Panas... bakar..."

Damar berlari ke jendela, menutup tirai tebal dengan kasar. Dia menekan panel dinding.

*KLIK. KLAK.*

"Saya kunci perimeter! Tidak ada yang boleh masuk atau keluar! Kita isolasi racunnya!" teriak Damar, paranoianya kumat.

"Nggak ada yang ngeracun dia, Pak Damar! Itu cuma reaksi alergi!" Citra berteriak frustrasi.

"Dia butuh didinginin! Sekarang! Sebelum dia mati konyol gara-gara kopi seribuan!"

Citra memandang ketiga CEO itu dengan putus asa.

Si Robot sibuk analisis kimia. Si Selebgram sibuk visual. Si Paranoid sibuk mengunci pintu.

Tidak ada yang berguna. Orang-orang kaya ini pintar cari duit, tapi bodoh dalam bertahan hidup.

"Minggir semua!"

Citra menerjang maju. Dia mencengkeram lengan Elang yang panasnya sudah seperti setrika uap korslet.

"Kita ke kamar mandi," desis Citra, menyeret tubuh raksasa itu sekuat tenaga. "Sekarang."

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   Bab 114: Jemuran di Taman Firdaus [TAMAT]

    Empat tahun berlalu seperti embusan angin sore di Lebak Bulus; tenang, sejuk, dan tidak lagi membawa aroma kepanikan.Matahari pukul 16.30 WIB menggantung rendah di cakrawala, menyebarkan rona emas yang hangat di atas rumput Jepang yang terpangkas rapi.Di sudut halaman belakang rumah bergaya minimalis modern itu, terdapat sebuah pemandangan yang kontras. Di antara arsitektur beton dan kaca yang mahal, membentang kawat jemuran sederhana yang disangga tiang besi—sebuah replika kecil dari akar Petamburan yang menolak untuk dicabut.Citra Melati berdiri di depan jemuran itu. Tangannya yang kini lebih halus, namun tetap memiliki kekuatan yang sama, sedang memindahkan handuk-handuk kecil berwarna pastel ke dalam keranjang rotan.Ia tidak lagi mengenakan daster batik kusam. Citra memakai gaun rumah berbahan linen berwarna sage green yang elegan namun sangat nyaman.Rambutnya diikat asal, memperlihatkan cincin perak polos di jari manisnya yang berkilau terkena cahaya senja.Suara tawa renyah

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   Bab 113: Akar Baru di Tanah Harapan

    Uap tipis mengepul malas dari cangkir porselen putih yang bertengger di atas meja marmer balkon.Aroma pahit kopi hitam yang pekat menyusup ke indra penciuman, memberikan ketenangan instan bagi saraf-saraf Citra yang masih sedikit tegang.Citra Melati menyesap kopinya perlahan. Rasa pahit yang membakar lidah itu terasa begitu jujur, jauh lebih masuk akal daripada kemewahan yang mengepungnya saat ini.Ia menyandarkan punggung ke kursi, membiarkan angin pagi menyapu wajahnya yang mulai segar.Di hadapannya, Elang Soerya duduk dengan gaya santai yang jarang diperlihatkan. Kemeja putih mahalnya dibiarkan terbuka di bagian kerah, memperlihatkan garis leher yang kokoh.Pria itu meletakkan ponselnya ke meja dengan bunyi tak yang pelan."Orang-orang kita sudah kembali ke posisinya masing-masing lebih dulu," ucap Elang.Elang tidak melanjutkan kalimatnya. Ia hanya diam, mengamati Citra tanpa suara. Tatapannya tidak lepas dari wajah istrinya, seolah sedang menghafal setiap lekuk dan bayangan yan

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   Bab 112: 06:00: Embun di Marmer Putih 

    Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu dari celah tirai otomatis yang terbuka hanya satu inci.Garis emas itu jatuh tepat di atas lantai karpet sutra, membiaskan debu halus yang menari tenang di udara kamar Presidential Suite yang sunyi.Citra Melati membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah berat yang nyaman melintang di atas pinggangnya.Lengan kekar yang dipenuhi otot padat itu mengunci tubuhnya dalam dekapan posesif, seolah takut Citra akan menguap jika pegangannya melonggar sedikit saja.Ia menoleh sedikit, menatap wajah Elang Soerya dari jarak yang sangat dekat.Helai rambut hitam Elang yang biasanya klimis kini jatuh berantakan di dahi. Napas pria itu teratur, menerpa lembut puncak kepala Citra.Dalam tidurnya, wajah aristokrat yang biasanya kaku itu tampak jauh lebih manusiawi, bahkan sedikit damai.Memori semalam menyerbu tanpa ampun. Suara derit tempat tidur, desahan yang pecah, dan penyatuan yang merobek seluruh logika krisisnya. Wajah Citra merona mer

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   Bab 111: Penyatuan Dua Dunia (21+)

    Pukul 22.15 WIB.Pintu jati ganda Presidential Suite itu tertutup dengan desis vakum yang kedap, mengunci rapat kebisingan sisa pesta dan denting selo di bawah sana.Seketika, dunia luar yang riuh mendadak mati, menyisakan keheningan yang begitu pekat hingga suara detak jantung Citra Melati terdengar seperti tabuhan genderang di telinganya sendiri.Citra merasakan tubuhnya melayang.Elang Soerya mengangkatnya dalam posisi bridal style dengan kemudahan yang mengintimidasi.Lengan kokoh Elang menyangga punggung dan lipatan lututnya, membuat Citra merasa sangat kecil dan ringkih di dalam dekapan sang raja.Elang melangkah mantap di atas karpet sutra tebal yang meredam suara langkah kakinya. Matanya menatap lurus ke depan, ke arah ranjang King Size yang luas, seolah itu adalah satu-satunya tujuan hidupnya malam ini."Pak... gaun ini berat. Saya bisa jalan sendiri," cicit Citra, tangannya meremas bahu jas Elang untuk mencari keseimbangan.Elang tidak berhenti. Ia justru mempererat dekapann

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   Bab 110: Puncak Resepsi di Ballroom Mulia

    Pintu ganda Ballroom Hotel Mulia terbuka lebar dengan desis halus, menyemburkan hawa dingin AC sentral yang seketika membelai kulit.Wangi ribuan mawar putih yang didatangkan langsung dari Belanda menguar pekat, memenuhi udara dan menenggelamkan aroma kota yang berdebu.Citra Melati berdiri tegak di atas pelaminan yang disulap menjadi taman gantung tropis.Berat gaun pengantin putihnya terasa nyata di pundak, apalagi ekor gaun bertahtakan mutiara sepanjang lima meter itu menjuntai angkuh di belakangnya.Kalkulator di kepalanya sempat berdenyut. Harga mutiara itu kalau dikonversi, mungkin bisa untuk membiayai kuliah seluruh anak di RT 05 sampai lulus sarjana.Elang Soerya berdiri di sampingnya, menggandeng tangan Citra. Ia membungkuk sedikit, membisikkan suara baritonnya tepat di telinga Citra."Tegak, Citra. Kamu pusat gravitasinya malam ini. Jangan biarkan lampu kristal itu mengalahkan sinarmu."Citra menarik napas panjang, menatap ke arah lautan manusia di depannya. Pemandangan itu

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   Bab 109: Ijab Kabul di Bawah Tenda Biru

    Sisa tawa dari meja gaple semalam telah menguap, digantikan oleh ketegangan sakral yang menggantung pekat di udara pagi Petamburan.Pukul 09.00 WIB. Udara lembap terperangkap rapat di bawah tenda terpal biru yang membentang menutupi sepanjang gang. Kipas angin blower yang diletakkan di sudut-sudut strategis menyemburkan uap air tanpa henti, menciptakan hawa gerah yang menabrak kulit dan membuat siapa pun yang berada di bawahnya merasa seperti sedang direbus perlahan dalam panci raksasa.Namun, keluarga besar Soerya yang duduk berjajar di atas kursi lipat besi seolah kebal terhadap cuaca ekstrem tersebut.Mereka mengenakan seragam batik sutra tulis premium yang membalut tubuh dengan elegan. Postur mereka tegak khidmat, menatap lurus ke depan.Tidak ada satu pun dari para konglomerat itu yang menunjukkan gestur menutup hidung, mengipasi diri secara berlebihan, atau risih dengan lingkungan padat yang mengelilingi mereka.Di baris terdepan, Rano Soerya—ayah kandung Elang—duduk dengan kete

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   72. Bayangan Serigala

    Deru mesin itu tidak halus. Ia tidak mendengkur seperti Rolls Royce Elang atau berdesis sunyi layaknya Tesla Raka. Suaranya kasar, parau, dan membelah keheningan senja Petamburan dengan getaran yang sanggup merontokkan debu di kaca jendela.Satu unit motor trail hitam doff be

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   70. Algoritma Karat

    Desis hidrolik yang halus membelah kebisingan gang Petamburan, suara yang begitu asing hingga membuat anak-anak yang sedang berebut layangan putus mendadak mematung. Sebuah Tesla Model X berwarna hitam pekat berhenti tanpa suara di atas aspal yang retak dan tergenang air sisa cucian. 

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   66. Barikade Sayur

    Perut yang keroncongan tidak mengenal status sosial, dan pagi ini, para dewa Arcadia baru saja mempelajari bahwa aplikasi delivery makanan tidak bisa menembus dimensi tanpa sinyal Wi-Fi.Sisa kegagalan sistem listrik semalam meninggalkan residu yang menyedihkan di "P

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   55. Gravitasi Terhenti

    Pukul 22.00 WIB.Lift privat itu meluncur naik dalam keheningan yang mahal. Dinding kaca di belakang mereka menampilkan panorama Jakarta malam hari—lautan lampu kuning dan merah yang berkedip di bawah sana, tampak kecil dan tidak berarti dari ketinggian in

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status