LOGINPukul tujuh pagi di lantai lima puluh. Matahari masuk dengan sopan lewat kaca anti peluru, tapi bagi Citra Melati, dapur Penthouse Arcadia ini terasa seperti medan ranjau.
Dia berdiri di depan mesin kopi *La Marzocco* berlapis krom yang berkilau angkuh.
Benda itu lebih mirip mesin bagian dalam pesawat tempur daripada alat pembuat minuman. Ada tiga tuas, dua barometer tekanan, dan pipa uap yang terlihat mengintimidasi.
Citra mendengus. Otaknya langsung menghitung.
"Daya listrik minimal dua ribu watt. Sekali nyala, meteran listrik di rumahku pasti langsung stroke."
Suara *tit-tit-tit* dari token listrik yang sekarat terngiang di kepalanya. Itu suara horor masa kecil yang lebih menakutkan dari film hantu mana pun.
Dia tidak akan menyentuh monster krom itu.
Tangan Citra bergerak cepat ke balik dispenser air galon. Dia menarik harta karun yang disembunyikan di sana. Sebuah sachet plastik kecil berwarna merah menyala.
Kopi instan curah. Beli satu renceng, gratis piring cantik.
Komposisinya jelas: sembilan puluh persen gula biang, krimer nabati dari kelapa sawit, perasa sintetik, dan sedikit doa supaya konsumen tidak kena diabetes sebelum usia tiga puluh.
Citra menyobek bungkus itu dengan gigi.
*Sret.*
Bubuk kopi tumpah ke dalam cangkir keramik Hermes.
Dia menekan tuas air panas dispenser.
*Currrr.*
Uap mengepul. Aroma manis yang tajam dan artifisial langsung menonjok udara. Baunya bertabrakan frontal dengan aroma ruangan yang berbau vanilla-sandalwood mahal.
Kopi murah ini seperti preman pasar yang masuk ke lobi hotel bintang lima tanpa permisi. Menusuk. Dominan.
"Lumayan. Hemat empat puluh ribu," gumam Citra.
Dia baru saja akan menyesap cairan hitam pekat itu ketika suara langkah kaki berat terdengar diseret.
*Srek. Srek.*
Citra menoleh cepat.
Elang Soerya muncul dari lorong gelap.
Pria itu berantakan. Rambutnya yang biasa klimis kini mencuat seperti sarang burung yang diterjang badai.
Dia memakai piyama sutra biru dongker dengan kancing yang salah pasang, memperlihatkan dada bidangnya yang pucat.
Matanya merah dan kosong. Persis mayat hidup yang bangkit karena dikejar tagihan pinjol.
"Pak Elang?" sapa Citra ragu.
Hening.
Elang tidak menjawab. Tatapannya terkunci lurus pada cangkir di tangan Citra. Hidung bangsawannya kembang kempis.
Sebagai pecandu kafein akut, otak Elang sedang dalam mode survival. Dia tidak peduli aroma apa itu, yang dia tahu hanya satu: Itu stimulan. Dia butuh itu untuk menghidupkan sistem sarafnya yang mati suri.
Tanpa peringatan, tangan besar Elang menyambar cangkir itu.
"Eh, Pak! Jangan! Itu-"
Terlambat.
Elang menenggak cairan panas itu dalam sekali teguk rakus. Jakunnya naik turun cepat.
*Gluk. Gluk. Gluk.*
Citra mematung. Mulutnya terbuka.
Satu detik.
Dua detik.
Elang menurunkan cangkir. Lidahnya mengecap sisa rasa.
Mata Elang mendadak membelalak lebar. Pupilnya mengecil seukuran jarum. Ekspresi nikmat sesaat tadi berubah menjadi horor murni.
Cangkir keramik mahal itu lepas dari genggamannya.
*PRANG!*
Pecahan beling menghambur. Cairan kopi mengotori marmer putih Italia dengan noda cokelat yang jelek.
Elang mencengkeram lehernya sendiri dengan kedua tangan. Wajahnya yang pucat berubah merah padam dalam sekejap. Urat-urat di lehernya menonjol keluar.
"Paaanas..." desis Elang.
Suaranya bukan lagi bariton berwibawa. Itu suara cicitan tercekik.
"Pak?!" Citra melempar bungkus kopi kosong ke lantai. "Bapak kenapa? Keselek ampas?"
Elang mundur, menabrak meja island. Kulit leher dan wajahnya mulai timbul bentol-bentol besar kemerahan. Matanya bengkak drastis.
Tubuh steril yang dibesarkan dalam inkubator kemewahan itu sedang mengalami culture shock biologis. Sistem imun ningratnya mengamuk melawan pengawet buatan rakyat jelata.
*BRAK!*
Pintu lorong terbanting. Tiga pria lain bermunculan.
Damar Langit masuk lebih dulu dengan posisi kuda-kuda tempur, matanya liar memindai jendela.
"Status!" bentak Damar. "Serangan gas saraf? Racun kontak?"
"Bukan!" Citra berteriak panik. "Dia minum kopi sachet saya! Merek Kapal Selam!"
Raka Pradana muncul di belakang Damar. Tanpa ekspresi, dia berjongkok di dekat tumpahan kopi. Dia mencelupkan telunjuk ke cairan itu, lalu menjilatnya sedikit.
Wajah datarnya berkerut jijik.
"Natrium Kaseinat. Tartrazin. Pemanis Aspartam," ucap Raka cepat seperti mesin penjawab otomatis.
"Sistem imun Elang mendeteksi ini sebagai racun biologis level empat. Syok anafilaktik. Saluran napas akan tertutup total dalam tiga menit."
"Anjir! Muka Kak Elang jadi jelek banget!"
Bastian Wijaya menjerit dari ambang pintu. Dia memegang ponsel, panik menutupi kamera depannya.
"Ini bencana PR! Kalau ada paparazzi liat muka dia bengkak kayak kodok rebus begini, saham properti bisa anjlok! Ambil concealer gue! Kita harus touch up sebelum panggil ambulans!"
"Jangan ditambahin bedak, bego!" Citra menepis tangan Bastian yang hendak mendekat. "Dia butuh oksigen!"
Elang mengerang keras. Kuku-kukunya mencakar leher sendiri, meninggalkan jejak merah panjang.
"Panas... bakar..."
Damar berlari ke jendela, menutup tirai tebal dengan kasar. Dia menekan panel dinding.
*KLIK. KLAK.*
"Saya kunci perimeter! Tidak ada yang boleh masuk atau keluar! Kita isolasi racunnya!" teriak Damar, paranoianya kumat.
"Nggak ada yang ngeracun dia, Pak Damar! Itu cuma reaksi alergi!" Citra berteriak frustrasi.
"Dia butuh didinginin! Sekarang! Sebelum dia mati konyol gara-gara kopi seribuan!"
Citra memandang ketiga CEO itu dengan putus asa.
Si Robot sibuk analisis kimia. Si Selebgram sibuk visual. Si Paranoid sibuk mengunci pintu.
Tidak ada yang berguna. Orang-orang kaya ini pintar cari duit, tapi bodoh dalam bertahan hidup.
"Minggir semua!"
Citra menerjang maju. Dia mencengkeram lengan Elang yang panasnya sudah seperti setrika uap korslet.
"Kita ke kamar mandi," desis Citra, menyeret tubuh raksasa itu sekuat tenaga. "Sekarang."
Kaki bangku kayu itu menghantam lantai marmer dengan kasar. Citra Melati tidak berteriak. Dia bukan tipe wanita di film horor yang menjerit histeris saat tahu ada pembunuh di dalam lemari.Dia adalah wanita Petamburan yang terlatih menghadapi debt collector.Dia naik ke atas bangku. Tangan kanannya mencengkeram jeruji ventilasi AC sentral di langit-langit dapur. Wajahnya didekatkan ke celah-celah besi berdebu itu.Matanya menyipit.Di sana, tersembunyi di antara kegelapan saluran udara, ada benda kecil berbentuk bulat. Lensa. Kecil. Hitam. Dengan satu titik merah redup yang berkedip pelan.*Bip.*"Brengsek," desis Citra.Kalkulator di kepalanya langsung menyala. Pasal 31 UU ITE. Intersepsi ilegal. Denda delapan ratus juta rupiah. Angka yang seksi. Tapi lawannya adalah Damar Langit, orang yang punya tim legal sekelas monster. Menuntut Damar sama saja bunuh diri finansial.Citra turun dari bangku. Dia tidak akan menuntut lewat jalur hukum. Dia akan menuntut lewat jalur premanisme verbal
"Satu juta setengah."Citra Melati menatap nanar seekor Lobster Thermidor yang masih mengepul di atas troli perak. Otaknya bukan melihat makanan mewah, tapi token listrik 900 VA yang bisa menyala nonstop selama enam bulan.Pramusaji hendak menarik kembali piring itu. "Maaf, Mbak. Tuan Bastian menolak makan. Sesuai SOP, makanan lewat 30 menit harus dibuang."*Dibuang?*Insting kemiskinan Citra menjerit. Dia hampir saja minta dibungkus untuk dipanaskan di magic com kosan, tapi suara sirine memekakkan telinga memotong niatnya.*NGIIING... NGIIING...*Bukan alarm kebakaran. Itu suara rekaman Bastian Wijaya yang berteriak "HELP! EMERGENCY!" lewat interkom. Citra memijat pelipis. Dia meninggalkan lobster tragis itu dan berjalan cepat ke ruang tengah.***Bastian tergeletak dramatis di sofa kulit Chesterfield. Satu tangan terkulai ke lantai, wajah dibenamkan ke bantal bulu angsa. Di meja kopi, botol kosong Artisan Cold Brew - Extra Strong menjadi saksi bisu kebodohan manusia."Citra..." rint
Pukul 23.45.Aroma lavender mahal dari *diffuser* otomatis di lorong Penthouse malam ini kalah telak. Ia mati kutu, tercekik oleh bau yang jauh lebih agresif, pedas, dan merakyat.Di pantry yang sunyi, Citra Melati sedang melakukan operasi penyelamatan diri sendiri. Dia berdiri di depan pantulan kaca oven *built-in* yang gelap, meringis sambil mengoleskan gel lengket berwarna putih keruh ke leher.Bau methyl salicylate dosis tinggi langsung menguar. Baunya tajam, menusuk hidung, jenis aroma yang biasa tercium di bus malam antar-provinsi atau ruang tunggu tukang urut patah tulang."Gila. Bahu rasanya kayak abis manggul beras raskin lima karung," desis Citra pelan.Ini oleh-oleh dari insiden tiga hari lalu. Damar Langit dan teknik tackle anti-terornya yang berlebihan itu sukses membuat otot trapezius Citra meradang. Citra melirik pot kaca kecil di tangannya. Isinya tinggal setengah.*Tit. Tit. Tit.*Kalkulator di kepalanya berbunyi. Harga balsam dua belas ribu. Kalau dia beli baru sebel
Dua jam pasca insiden kamar mandi, atmosfer di meja makan Penthouse Arcadia terasa lebih mencekik daripada tagihan listrik yang menunggak tiga bulan.Pukul 08.00 pagi.Citra berdiri kaku di samping troli makanan. Dia sudah berganti pakaian dengan seragam kerjanya, blazer hitam yang mulai tipis di bagian siku dan rok span yang membatasi gerak.Matanya fokus pada teko jus jeruk, berusaha mengabaikan empat pasang mata empat pria berduit di depannya.*Ting.*Suara sendok perak beradu dengan piring porselen terdengar terlalu nyaring.Elang Soerya duduk di ujung meja. Dia memotong croissant dengan presisi dokter bedah. Gerakannya lambat, anggun, dan penuh intimidasi.Di sebelahnya, Bastian Wijaya sibuk memotret mangkuk oatmeal dari lima sudut berbeda. Flash ponselnya menyambar-nyambar, tapi tidak ada yang menegur.Damar Langit duduk membelakangi dinding. Dia makan roti bakar dengan kecepatan militer, matanya terus memindai pintu masuk seolah pelayan yang membawa kopi mungkin adalah pembunuh
Pukul 05.45 pagi.*Sret.*Lembar koyo kedua menempel sempurna di pinggang kiri. Panasnya langsung menjalar, seolah ada setrika uap mini yang ditempelkan paksa ke kulit.Citra meringis. Pinggangnya rasanya mau patah. Ini semua gara-gara aksi heroik Damar Langit semalam yang membantingnya ke lantai marmer."Remuk. Badan gue resmi jadi kerupuk seblak," keluhnya.Masalah bertambah karena kamar mandinya sendiri sedang mogok kerja. Saluran air mampet, menciptakan kolam limbah setinggi mata kaki.Teknisi bilang suku cadangnya harus impor dari Italia. Omong kosong. Itu cuma akal-akalan manajemen gedung biar kelihatan elit, pikir Citra.Sekarang opsinya hanya satu: Numpang mandi.Unit Elang? Mustahil. Pasti sedang ritual mandi susu. Bastian? Zona bahaya, baru tidur jam tiga pagi. Damar? Masuk ke sana sama saja setor nyawa.Target terkunci: Unit 02. Raka Pradana.Menurut basis data di kepala Citra, CEO kaku itu punya jadwal lari pagi presisi militer selama empat puluh lima menit. Kamarnya pasti
Hantaman itu datang tanpa permisi. Bahu kekar sekeras beton menabrak perut Citra dengan presisi militer.*BUGH!*Dunia Citra berputar seratus delapan puluh derajat. Punggungnya menghantam lantai marmer dingin. Napasnya dipaksa keluar dari paru-paru. Belum sempat dia mengaduh, beban seberat delapan puluh kilogram menimpanya.Damar Langit tidak sekadar menjatuhkannya. Dia melakukan teknik perisai hidup.Pria itu menindih tubuh Citra, menekan kepala gadis itu agar menempel ke lantai dengan telapak tangannya yang besar. Lutut Damar mengunci di antara kedua paha Citra. Dada bidangnya menekan dada Citra sampai gadis itu sesak napas.Wajah Damar terbenam di ceruk leher Citra. Napasnya panas dan memburu gila-gilaan."Pak! Lepasin! Berat!" Citra meronta panik. Tangannya memukul punggung jas mahal itu. "Bapak gila ya?!""DIAM!"Bentakan itu bukan nada marah. Itu suara putus asa. Suara orang yang sedang menawar nyawa pada malaikat maut."TIARAP! JANGAN BERGERAK! PECAHANNYA MENYEBAR!"Tangan Dama







