Masuk"Jangan... sentuh... kotor..."
"Bodo amat! Bapak mau protes kebersihan atau mau napas?!"
Citra menyeret tubuh bongsor Elang sekuat tenaga. Berat badan pria itu tidak masuk akal, seperti menyeret kulkas dua pintu yang sedang korslet.
Tapi pengalaman mengangkat galon air ke lantai tiga di kosan dulu, memberinya otot punggung yang solid.
Mereka masuk ke kamar mandi utama. Ruangan itu lebih mirip lobi hotel bintang lima daripada tempat membersihkan diri. Marmer hitam, aksen emas, dan wangi eukaliptus yang mengejek situasi panik ini.
Citra mendorong Elang masuk ke bilik shower kaca. Pria itu limbung, menabrak dinding transparan. Napasnya memburu, wajahnya bengkak merah mengerikan.
Citra menekan panel dinding. Hening. Hanya ada suara robot wanita yang sopan tapi menyebalkan.
"Selamat pagi, Tuan Elang. Silakan login untuk mengatur preferensi suhu."
"Persetan sama preferensi!"
Citra menekan layar sentuh itu berkali-kali. Minta sandi. Minta verifikasi suara. Elang sudah merosot ke lantai, mencengkeram lehernya sendiri.
Mata Citra menangkap sikat punggung dari kayu eboni tebal di rak sabun. Benda itu terlihat kokoh. Tanpa pikir panjang, dia menyambarnya.
Dia mengayunkan kayu itu sekuat tenaga ke arah panel kontrol digital.
*BRAK!*
Layar sentuh itu retak seribu. Sistem pintar itu menyerah pada kekerasan primitif. Katup solenoid di balik dinding terbuka paksa.
*BYUR!*
Air menyembur deras dari langit-langit. Bukan air hangat, tapi air dingin langsung dari toren. Tekanan maksimal.
Elang tersentak saat air es menghantam tubuhnya yang mendidih. Dia terbatuk, mencoba berdiri tapi terpeleset. Citra menahan tubuh pria itu, ikut basah kuyup seketika.
"Napas, Pak! Fokus!" teriak Citra di tengah deru air.
Elang mencengkeram kerah kemejanya. "Sempit... nggak bisa..."
Air dingin membuat serat sutra kemeja Elang menyusut drastis. Kain mahal itu kini mencekik leher dan dadanya seperti plastik vakum. Jari-jari Elang yang biasa memegang pena mahal terlalu lemah untuk membuka kancing mutiara kecil itu.
Bibirnya mulai membiru.
"Maaf, Pak. Potong aja gaji saya nanti."
Citra maju. Dia mencengkeram kerah kemeja Elang dengan kedua tangan. Kuku-kukunya yang pendek dan kuat menancap di kain. Dia menghentakkan tangannya ke samping.
*KREK!*
*TAK. TAK. TAK.*
Kancing-kancing mutiara putus dan berhamburan ke lantai, memantul di bawah guyuran air.
Dada Elang terekspos. Kulitnya merah membara, penuh ruam. Uap panas mengepul saat bertemu air dingin. Citra tidak berhenti. Dia menempelkan telapak tangannya langsung ke dada telanjang Elang, mengusap air dingin ke area leher yang bengkak.
"Tahan... jangan digaruk."
Elang membeku.
Bukan karena dingin. Tapi karena tekstur itu.
Tangan Citra kasar. Ada kapalan tebal di pangkal jari telunjuk dan jempol, bekas memegang pisau dapur bertahun-tahun. Kulitnya tidak mulus seperti sutra atau kulit model yang biasa dia temui.
Rasanya seperti amplas halus yang digosokkan ke kulit sensitifnya.
Anehnya, rasa gatal yang menyiksa itu berhenti. Sensasi kasar dari tangan Citra mengalihkan saraf Elang dari rasa sakit. Otaknya bingung memproses sinyal antara sakit dan kasar, dan hasilnya tekstur kasar itu menang telak.
Itu sensasi yang nyata. Grounding. Sesuatu yang solid di tengah dunianya yang licin.
Napas Elang melambat. Matanya terkunci pada wajah Citra yang basah kuyup.
"Tanganmu..." suara Elang parau. "Kenapa... kasar sekali?"
Citra baru sadar posisinya. Dia mengangkang di atas kaki miliarder, basah kuyup, tangan menempel di dada pria itu. Dia menarik tangannya cepat-cepat.
"Bekas nyuci piring katering lima tahun. Bapak mau komplain tekstur kulit saya sekarang?"
Elang memejamkan mata, menyandarkan kepala ke dinding kaca.
"Jangan berhenti," perintahnya lirih. "Gatalnya balik lagi kalau kamu lepas."
"Dih, manja?"
Tapi Citra menempelkan lagi tangannya. Kali ini di leher, merasakan denyut nadi yang mulai normal.
***
Sepuluh menit kemudian.
Citra keluar dari kamar mandi dengan tubuh menggigil. Dia memeras ujung kaos partai kuningnya ke lantai marmer.
Di depan pintu, Raka Pradana sudah berdiri tegak. Lengkap dengan tablet dan kalkulator fisik. Pakaiannya kering, steril, kontras dengan Citra yang seperti tikus got.
"Sudah selesai?" tanya Raka datar.
"Iya, dia nggak mati. Cuma trauma sama kopi sachet."
Raka mengetuk layar tabletnya.
*Tik. Tik.*
"Debit air tekanan tinggi dua belas menit: empat puluh lima ribu. Panel kontrol impor Jerman: tiga juta lima ratus. Kemeja sutra yang kamu robek: lima belas juta."
Raka menatap Citra dari balik kacamata tanpa bingkai. Tatapan setajam silet yang menembus dompet kosong Citra.
"Total kerugian operasional pagi ini: Delapan belas juta lima ratus empat puluh lima ribu rupiah."
Lutut Citra lemas. Jantungnya serasa berhenti. Delapan belas juta. Itu bisa buat renovasi atap rumahnya dua kali.
"Itu kan darurat! Force majeure!" suara Citra melengking putus asa. "Masa saya ganti rugi karena nyelamatin nyawa orang? Hati nurani Bapak ketinggalan di server?"
"Nyawa Elang tak ternilai. Tapi aset tetap aset," balas Raka tanpa emosi. "Nanti kita diskusikan skema potong gajinya."
Damar muncul dari lorong. Dia berjalan mendekati Citra, mengendus udara seperti anjing pelacak.
"Bau kopi murahnya hilang," gumam Damar. "Tapi ada yang aneh. Elang diam. Biasanya dia merengek panggil dokter."
Damar menatap tangan Citra. Tatapan predator yang menemukan mainan baru.
Pintu kamar mandi terbuka.
Elang keluar. Dia sudah memakai jubah mandi putih tebal. Rambutnya disisir ke belakang. Kulitnya masih merah, tapi aura Tuan Besar-nya sudah kembali.
Dia berjalan melewati Raka dan Damar, lalu berhenti tepat di depan Citra.
"Pak, soal kemeja itu... saya bisa cicil-"
"Citra."
Tangan Elang terulur. Meraih pergelangan tangan kanan Citra. Dia membalik telapaknya yang kasar, mengusap kapalan di pangkal jari dengan ibu jarinya.
Citra menahan napas. Sentuhan itu analitis. Seperti kolektor memeriksa barang antik.
"Mulai hari ini," kata Elang pelan, matanya menatap tajam ke manik mata Citra. "Saya melarang kamu memakai sarung tangan saat melayani saya."
"Hah? Nanti ada kuman-"
"Persetan dengan kuman."
Elang menekan ibu jarinya lebih kuat ke telapak tangan Citra. Matanya menyipit, menikmati sensasi gesekan kulit kasar itu.
"Saya butuh tekstur ini. Amplas ini. Kulit saya terlalu terbiasa dengan kelembutan palsu. Ternyata saya butuh sesuatu yang kasar untuk merasa... nyata."
Elang melepaskan tangan Citra, lalu berbalik menuju kamarnya.
"Siapkan bubur organik. Dan buang semua kopi sachet itu. Kalau saya mencium baunya lagi, saya potong gaji kamu lima puluh persen."
Citra berdiri mematung. Basah, kedinginan, dan terlilit utang delapan belas juta.
Dia menatap telapak tangannya sendiri. Tangan yang selama ini dia benci karena kasar, tiba-tiba menjadi aset berharga bagi miliarder gila.
"Orang kaya emang sakit jiwa semua."
Pukul 23.00 WIB. Waktu merayap lambat, seolah udara di dalam rumah petak itu telah berubah menjadi lem kental yang mencekik paru-paru.Citra Melati berjalan pelan. Lututnya kaku, matanya bengkak dan perih. Ia menyeret langkahnya menuju kamar tidur yang sempit, meninggalkan ruang tamu yang kini terasa seperti kuburan memori.Di bawah pendar lampu bohlam lima watt yang menguning, Citra duduk bersila di atas kasur busanya yang menipis. Tangannya yang gemetar merogoh kolong bantal, menarik keluar sebuah buku tulis bersampul batik pudar dan sebatang pulpen promosi yang tintanya sering macet.Ini adalah jangkarnya. Buku kas.Selama bertahun-tahun, buku inilah yang menyelamatkan kewarasannya. Setiap kali dunia terasa runtuh, Citra akan mengonversinya menjadi angka. Utang, cicilan, harga beras, biaya rumah sakit Ibu—semuanya bisa dihitung. Semuanya punya solusi matematis. Jika ada masalah, buatlah tabe
Pukul 23.00 WIB. Waktu merayap lambat, seolah udara di dalam rumah petak itu telah berubah menjadi lem kental yang mencekik paru-paru.Citra Melati berjalan pelan. Lututnya kaku, matanya bengkak dan perih. Ia menyeret langkahnya menuju kamar tidur yang sempit, meninggalkan ruang tamu yang kini terasa seperti kuburan memori.Di bawah pendar lampu bohlam lima watt yang menguning, Citra duduk bersila di atas kasur busanya yang menipis. Tangannya yang gemetar merogoh kolong bantal, menarik keluar sebuah buku tulis bersampul batik pudar dan sebatang pulpen promosi yang tintanya sering macet.Ini adalah jangkarnya. Buku kas.Selama bertahun-tahun, buku inilah yang menyelamatkan kewarasannya. Setiap kali dunia terasa runtuh, Citra akan mengonversinya menjadi angka. Utang, cicilan, harga beras, biaya rumah sakit Ibu—semuanya bisa dihitung. Semuanya punya solusi matematis. Jika ada masalah, buatlah tabe
Deru mesin-mesin bertenaga kuda besar itu terdengar seperti geraman hewan buas yang dipaksa mundur. Satu per satu, roda-roda lebar dari Rolls Royce, Mercedes-Benz, dan Range Rover menggilas aspal retak Petamburan untuk terakhir kalinya.Jeep Rubicon hitam doff milik Damar Langit menjadi penutup barisan, bergerak lambat seolah enggan meninggalkan medan pertempuran.Warga yang biasanya riuh rendah kini membisu. Pak RT yang sedang memegang sapu lidi berhenti bergerak di pinggir jalan. Ibu-ibu yang biasa bergosip di warung sayur hanya menatap kosong dari kejauhan.Ada beban kasat mata yang menggantung di udara pagi yang mulai terik. Atmosfer perpisahan itu terasa sangat berat, menekan dada siapa pun yang melihatnya.Citra Melati berdiri mematung di teras rumahnya. Tangannya mencengkeram tiang kayu keropos seolah itu satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak ikut terseret pergi. Matanya mengunci lam
Pukul 08.00 WIB. Udara di dalam "Posko Cinta" terasa hampa.Biasanya, jam segini aroma bawang putih yang ditumis atau wangi kopi tubruk sudah menginvasi ruangan kaca itu, bertarung dengan dinginnya AC sentral. Pagi ini, tidak ada denting spatula yang beradu dengan wajan. Tidak ada desis air mendidih.Elang, Raka, Bastian, dan Damar duduk mengelilingi meja makan lipat yang kosong melompong. Mereka saling lirik dalam diam. Rutinitas pagi yang biasanya dikendalikan oleh satu perempuan, kini mati suri. Ada ketegangan yang menyesakkan yang membuat napas terasa berat.Sreeet.Pintu kaca bergeser. Citra Melati melangkah masuk.Dia tidak mengenakan sisa kemewahan semalam. Tidak ada gaun sutra merah atau riasan elegan. Citra sengaja membungkus dirinya dengan daster batik paling kusam yang warnanya sudah pudar menjadi abu-abu pucat. Wajahnya berminyak, tanpa bedak. Matanya bengkak parah, m
Kain sutra merah itu meluncur jatuh, membentur lantai yang dingin dengan suara desir yang nyaris tak terdengar.Citra Melati berdiri mematung di depan cermin lemari plastik yang retak membelah dua pantulan wajahnya. Di bawah kakinya, gaun seharga puluhan juta itu teronggok seperti genangan darah yang membeku, menciptakan kontras yang begitu mencolok dengan dinding kamarnya yang mengelupas.Tangannya yang gemetar meraih daster batik lusuh dari gantungan kawat. Ia memakainya cepat-cepat, mencari perlindungan dari kain katun pudar yang selama bertahun-tahun menjadi zirah kemiskinannya.Tapi rasanya salah.Daster itu tidak lagi terasa seperti pelukan rumah. Kainnya terasa ganjil di kulitnya, seolah ia baru saja mengenakan kostum badut yang ukurannya mulai menyempit. Ia telah berubah, dan daster ini tidak lagi muat untuk menampung versi dirinya yang sekarang.Citra mengangkat ba
Kain sutra merah itu jatuh memeluk tubuh Citra Melati seperti aliran lava yang membeku; panas, berbahaya, dan menuntut perhatian mutlak. Di depan cermin lemari plastik yang retak di sudut, Citra menatap pantulan dirinya.Ia nyaris tidak mengenali sosok itu.Rambutnya digelung longgar, menyisakan anak rambut yang jatuh membingkai leher jenjangnya. Gaun itu mengekspos punggungnya dengan berani, sementara belahan roknya yang tinggi seolah menantang siapa pun untuk tidak menahan napas."Gila," bisik Citra. "Ini bukan baju kencan. Ini baju perang."Tok. Tok.Ketukan di pintu depan terdengar sopan namun tegas. Citra menarik napas panjang, mengenakan sepatu Manolo Blahnik yang haknya setajam silet, lalu melangkah keluar.Di teras rumah yang diterangi lampu bohlam kuning lima watt, Elang Soerya berdiri membelakangi pintu. Ia menatap langit malam Jakarta yang keruh. P







