Beranda / Romansa / Nona Hemat di Sarang Konglomerat / 4. Tagihan Delapan Belas Juta.

Share

4. Tagihan Delapan Belas Juta.

Penulis: VILNOCTE
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-21 19:22:21

"Jangan... sentuh... kotor..."

"Bodo amat! Bapak mau protes kebersihan atau mau napas?!"

Citra menyeret tubuh bongsor Elang sekuat tenaga. Berat badan pria itu tidak masuk akal, seperti menyeret kulkas dua pintu yang sedang korslet.

Tapi pengalaman mengangkat galon air ke lantai tiga di kosan dulu, memberinya otot punggung yang solid.

Mereka masuk ke kamar mandi utama. Ruangan itu lebih mirip lobi hotel bintang lima daripada tempat membersihkan diri. Marmer hitam, aksen emas, dan wangi eukaliptus yang mengejek situasi panik ini.

Citra mendorong Elang masuk ke bilik shower kaca. Pria itu limbung, menabrak dinding transparan. Napasnya memburu, wajahnya bengkak merah mengerikan.

Citra menekan panel dinding. Hening. Hanya ada suara robot wanita yang sopan tapi menyebalkan.

"Selamat pagi, Tuan Elang. Silakan login untuk mengatur preferensi suhu."

"Persetan sama preferensi!"

Citra menekan layar sentuh itu berkali-kali. Minta sandi. Minta verifikasi suara. Elang sudah merosot ke lantai, mencengkeram lehernya sendiri.

Mata Citra menangkap sikat punggung dari kayu eboni tebal di rak sabun. Benda itu terlihat kokoh. Tanpa pikir panjang, dia menyambarnya.

Dia mengayunkan kayu itu sekuat tenaga ke arah panel kontrol digital.

*BRAK!*

Layar sentuh itu retak seribu. Sistem pintar itu menyerah pada kekerasan primitif. Katup solenoid di balik dinding terbuka paksa.

*BYUR!*

Air menyembur deras dari langit-langit. Bukan air hangat, tapi air dingin langsung dari toren. Tekanan maksimal.

Elang tersentak saat air es menghantam tubuhnya yang mendidih. Dia terbatuk, mencoba berdiri tapi terpeleset. Citra menahan tubuh pria itu, ikut basah kuyup seketika.

"Napas, Pak! Fokus!" teriak Citra di tengah deru air.

Elang mencengkeram kerah kemejanya. "Sempit... nggak bisa..."

Air dingin membuat serat sutra kemeja Elang menyusut drastis. Kain mahal itu kini mencekik leher dan dadanya seperti plastik vakum. Jari-jari Elang yang biasa memegang pena mahal terlalu lemah untuk membuka kancing mutiara kecil itu.

Bibirnya mulai membiru.

"Maaf, Pak. Potong aja gaji saya nanti."

Citra maju. Dia mencengkeram kerah kemeja Elang dengan kedua tangan. Kuku-kukunya yang pendek dan kuat menancap di kain. Dia menghentakkan tangannya ke samping.

*KREK!*

*TAK. TAK. TAK.*

Kancing-kancing mutiara putus dan berhamburan ke lantai, memantul di bawah guyuran air.

Dada Elang terekspos. Kulitnya merah membara, penuh ruam. Uap panas mengepul saat bertemu air dingin. Citra tidak berhenti. Dia menempelkan telapak tangannya langsung ke dada telanjang Elang, mengusap air dingin ke area leher yang bengkak.

"Tahan... jangan digaruk."

Elang membeku.

Bukan karena dingin. Tapi karena tekstur itu.

Tangan Citra kasar. Ada kapalan tebal di pangkal jari telunjuk dan jempol, bekas memegang pisau dapur bertahun-tahun. Kulitnya tidak mulus seperti sutra atau kulit model yang biasa dia temui.

Rasanya seperti amplas halus yang digosokkan ke kulit sensitifnya.

Anehnya, rasa gatal yang menyiksa itu berhenti. Sensasi kasar dari tangan Citra mengalihkan saraf Elang dari rasa sakit. Otaknya bingung memproses sinyal antara sakit dan kasar, dan hasilnya tekstur kasar itu menang telak.

Itu sensasi yang nyata. Grounding. Sesuatu yang solid di tengah dunianya yang licin.

Napas Elang melambat. Matanya terkunci pada wajah Citra yang basah kuyup.

"Tanganmu..." suara Elang parau. "Kenapa... kasar sekali?"

Citra baru sadar posisinya. Dia mengangkang di atas kaki miliarder, basah kuyup, tangan menempel di dada pria itu. Dia menarik tangannya cepat-cepat.

"Bekas nyuci piring katering lima tahun. Bapak mau komplain tekstur kulit saya sekarang?"

Elang memejamkan mata, menyandarkan kepala ke dinding kaca.

"Jangan berhenti," perintahnya lirih. "Gatalnya balik lagi kalau kamu lepas."

"Dih, manja?"

Tapi Citra menempelkan lagi tangannya. Kali ini di leher, merasakan denyut nadi yang mulai normal.

***

Sepuluh menit kemudian.

Citra keluar dari kamar mandi dengan tubuh menggigil. Dia memeras ujung kaos partai kuningnya ke lantai marmer.

Di depan pintu, Raka Pradana sudah berdiri tegak. Lengkap dengan tablet dan kalkulator fisik. Pakaiannya kering, steril, kontras dengan Citra yang seperti tikus got.

"Sudah selesai?" tanya Raka datar.

"Iya, dia nggak mati. Cuma trauma sama kopi sachet."

Raka mengetuk layar tabletnya.

*Tik. Tik.*

"Debit air tekanan tinggi dua belas menit: empat puluh lima ribu. Panel kontrol impor Jerman: tiga juta lima ratus. Kemeja sutra yang kamu robek: lima belas juta."

Raka menatap Citra dari balik kacamata tanpa bingkai. Tatapan setajam silet yang menembus dompet kosong Citra.

"Total kerugian operasional pagi ini: Delapan belas juta lima ratus empat puluh lima ribu rupiah."

Lutut Citra lemas. Jantungnya serasa berhenti. Delapan belas juta. Itu bisa buat renovasi atap rumahnya dua kali.

"Itu kan darurat! Force majeure!" suara Citra melengking putus asa. "Masa saya ganti rugi karena nyelamatin nyawa orang? Hati nurani Bapak ketinggalan di server?"

"Nyawa Elang tak ternilai. Tapi aset tetap aset," balas Raka tanpa emosi. "Nanti kita diskusikan skema potong gajinya."

Damar muncul dari lorong. Dia berjalan mendekati Citra, mengendus udara seperti anjing pelacak.

"Bau kopi murahnya hilang," gumam Damar. "Tapi ada yang aneh. Elang diam. Biasanya dia merengek panggil dokter."

Damar menatap tangan Citra. Tatapan predator yang menemukan mainan baru.

Pintu kamar mandi terbuka.

Elang keluar. Dia sudah memakai jubah mandi putih tebal. Rambutnya disisir ke belakang. Kulitnya masih merah, tapi aura Tuan Besar-nya sudah kembali.

Dia berjalan melewati Raka dan Damar, lalu berhenti tepat di depan Citra.

"Pak, soal kemeja itu... saya bisa cicil-"

"Citra."

Tangan Elang terulur. Meraih pergelangan tangan kanan Citra. Dia membalik telapaknya yang kasar, mengusap kapalan di pangkal jari dengan ibu jarinya.

Citra menahan napas. Sentuhan itu analitis. Seperti kolektor memeriksa barang antik.

"Mulai hari ini," kata Elang pelan, matanya menatap tajam ke manik mata Citra. "Saya melarang kamu memakai sarung tangan saat melayani saya."

"Hah? Nanti ada kuman-"

"Persetan dengan kuman."

Elang menekan ibu jarinya lebih kuat ke telapak tangan Citra. Matanya menyipit, menikmati sensasi gesekan kulit kasar itu.

"Saya butuh tekstur ini. Amplas ini. Kulit saya terlalu terbiasa dengan kelembutan palsu. Ternyata saya butuh sesuatu yang kasar untuk merasa... nyata."

Elang melepaskan tangan Citra, lalu berbalik menuju kamarnya.

"Siapkan bubur organik. Dan buang semua kopi sachet itu. Kalau saya mencium baunya lagi, saya potong gaji kamu lima puluh persen."

Citra berdiri mematung. Basah, kedinginan, dan terlilit utang delapan belas juta.

Dia menatap telapak tangannya sendiri. Tangan yang selama ini dia benci karena kasar, tiba-tiba menjadi aset berharga bagi miliarder gila.

"Orang kaya emang sakit jiwa semua."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   11. Hantu Oranye di Balik Lensa Termal

    Kaki bangku kayu itu menghantam lantai marmer dengan kasar. Citra Melati tidak berteriak. Dia bukan tipe wanita di film horor yang menjerit histeris saat tahu ada pembunuh di dalam lemari.Dia adalah wanita Petamburan yang terlatih menghadapi debt collector.Dia naik ke atas bangku. Tangan kanannya mencengkeram jeruji ventilasi AC sentral di langit-langit dapur. Wajahnya didekatkan ke celah-celah besi berdebu itu.Matanya menyipit.Di sana, tersembunyi di antara kegelapan saluran udara, ada benda kecil berbentuk bulat. Lensa. Kecil. Hitam. Dengan satu titik merah redup yang berkedip pelan.*Bip.*"Brengsek," desis Citra.Kalkulator di kepalanya langsung menyala. Pasal 31 UU ITE. Intersepsi ilegal. Denda delapan ratus juta rupiah. Angka yang seksi. Tapi lawannya adalah Damar Langit, orang yang punya tim legal sekelas monster. Menuntut Damar sama saja bunuh diri finansial.Citra turun dari bangku. Dia tidak akan menuntut lewat jalur hukum. Dia akan menuntut lewat jalur premanisme verbal

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   10. Serbuk Kebahagiaan di Dapur Elit

    "Satu juta setengah."Citra Melati menatap nanar seekor Lobster Thermidor yang masih mengepul di atas troli perak. Otaknya bukan melihat makanan mewah, tapi token listrik 900 VA yang bisa menyala nonstop selama enam bulan.Pramusaji hendak menarik kembali piring itu. "Maaf, Mbak. Tuan Bastian menolak makan. Sesuai SOP, makanan lewat 30 menit harus dibuang."*Dibuang?*Insting kemiskinan Citra menjerit. Dia hampir saja minta dibungkus untuk dipanaskan di magic com kosan, tapi suara sirine memekakkan telinga memotong niatnya.*NGIIING... NGIIING...*Bukan alarm kebakaran. Itu suara rekaman Bastian Wijaya yang berteriak "HELP! EMERGENCY!" lewat interkom. Citra memijat pelipis. Dia meninggalkan lobster tragis itu dan berjalan cepat ke ruang tengah.***Bastian tergeletak dramatis di sofa kulit Chesterfield. Satu tangan terkulai ke lantai, wajah dibenamkan ke bantal bulu angsa. Di meja kopi, botol kosong Artisan Cold Brew - Extra Strong menjadi saksi bisu kebodohan manusia."Citra..." rint

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   9. Daki Miliarder

    Pukul 23.45.Aroma lavender mahal dari *diffuser* otomatis di lorong Penthouse malam ini kalah telak. Ia mati kutu, tercekik oleh bau yang jauh lebih agresif, pedas, dan merakyat.Di pantry yang sunyi, Citra Melati sedang melakukan operasi penyelamatan diri sendiri. Dia berdiri di depan pantulan kaca oven *built-in* yang gelap, meringis sambil mengoleskan gel lengket berwarna putih keruh ke leher.Bau methyl salicylate dosis tinggi langsung menguar. Baunya tajam, menusuk hidung, jenis aroma yang biasa tercium di bus malam antar-provinsi atau ruang tunggu tukang urut patah tulang."Gila. Bahu rasanya kayak abis manggul beras raskin lima karung," desis Citra pelan.Ini oleh-oleh dari insiden tiga hari lalu. Damar Langit dan teknik tackle anti-terornya yang berlebihan itu sukses membuat otot trapezius Citra meradang. Citra melirik pot kaca kecil di tangannya. Isinya tinggal setengah.*Tit. Tit. Tit.*Kalkulator di kepalanya berbunyi. Harga balsam dua belas ribu. Kalau dia beli baru sebel

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   8. Anomali Detak Jantung

    Dua jam pasca insiden kamar mandi, atmosfer di meja makan Penthouse Arcadia terasa lebih mencekik daripada tagihan listrik yang menunggak tiga bulan.Pukul 08.00 pagi.Citra berdiri kaku di samping troli makanan. Dia sudah berganti pakaian dengan seragam kerjanya, blazer hitam yang mulai tipis di bagian siku dan rok span yang membatasi gerak.Matanya fokus pada teko jus jeruk, berusaha mengabaikan empat pasang mata empat pria berduit di depannya.*Ting.*Suara sendok perak beradu dengan piring porselen terdengar terlalu nyaring.Elang Soerya duduk di ujung meja. Dia memotong croissant dengan presisi dokter bedah. Gerakannya lambat, anggun, dan penuh intimidasi.Di sebelahnya, Bastian Wijaya sibuk memotret mangkuk oatmeal dari lima sudut berbeda. Flash ponselnya menyambar-nyambar, tapi tidak ada yang menegur.Damar Langit duduk membelakangi dinding. Dia makan roti bakar dengan kecepatan militer, matanya terus memindai pintu masuk seolah pelayan yang membawa kopi mungkin adalah pembunuh

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   7. Kalkulasi Harga Diri di Bawah Nol Derajat

    Pukul 05.45 pagi.*Sret.*Lembar koyo kedua menempel sempurna di pinggang kiri. Panasnya langsung menjalar, seolah ada setrika uap mini yang ditempelkan paksa ke kulit.Citra meringis. Pinggangnya rasanya mau patah. Ini semua gara-gara aksi heroik Damar Langit semalam yang membantingnya ke lantai marmer."Remuk. Badan gue resmi jadi kerupuk seblak," keluhnya.Masalah bertambah karena kamar mandinya sendiri sedang mogok kerja. Saluran air mampet, menciptakan kolam limbah setinggi mata kaki.Teknisi bilang suku cadangnya harus impor dari Italia. Omong kosong. Itu cuma akal-akalan manajemen gedung biar kelihatan elit, pikir Citra.Sekarang opsinya hanya satu: Numpang mandi.Unit Elang? Mustahil. Pasti sedang ritual mandi susu. Bastian? Zona bahaya, baru tidur jam tiga pagi. Damar? Masuk ke sana sama saja setor nyawa.Target terkunci: Unit 02. Raka Pradana.Menurut basis data di kepala Citra, CEO kaku itu punya jadwal lari pagi presisi militer selama empat puluh lima menit. Kamarnya pasti

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   6. Pelukan di Titik Nol

    Hantaman itu datang tanpa permisi. Bahu kekar sekeras beton menabrak perut Citra dengan presisi militer.*BUGH!*Dunia Citra berputar seratus delapan puluh derajat. Punggungnya menghantam lantai marmer dingin. Napasnya dipaksa keluar dari paru-paru. Belum sempat dia mengaduh, beban seberat delapan puluh kilogram menimpanya.Damar Langit tidak sekadar menjatuhkannya. Dia melakukan teknik perisai hidup.Pria itu menindih tubuh Citra, menekan kepala gadis itu agar menempel ke lantai dengan telapak tangannya yang besar. Lutut Damar mengunci di antara kedua paha Citra. Dada bidangnya menekan dada Citra sampai gadis itu sesak napas.Wajah Damar terbenam di ceruk leher Citra. Napasnya panas dan memburu gila-gilaan."Pak! Lepasin! Berat!" Citra meronta panik. Tangannya memukul punggung jas mahal itu. "Bapak gila ya?!""DIAM!"Bentakan itu bukan nada marah. Itu suara putus asa. Suara orang yang sedang menawar nyawa pada malaikat maut."TIARAP! JANGAN BERGERAK! PECAHANNYA MENYEBAR!"Tangan Dama

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status