MasukSofa kulit ini terlalu empuk.
Citra merasa pantatnya tenggelam pelan-pelan, seolah furnitur impor ini sedang mencoba menelannya hidup-hidup.
Di rumah kontrakannya, kursi kayu jati bekas peninggalan nenek selalu membuat tulang ekornya nyeri setelah sepuluh menit. Di sini, bahaya justru datang dari kenyamanan yang melenakan.
Ruangan ini luasnya tidak masuk akal. Plafon tinggi dihiasi lampu gantung kristal yang harganya pasti cukup untuk memberi makan satu kelurahan selama setahun.
Cahayanya memantul menyakitkan mata, menciptakan ilusi kemewahan yang membuat kepala Citra pening.
Di hadapannya, empat pria itu duduk seperti dewan juri neraka.
Elang Soerya masih berdiri di jarak aman tiga meter, menatap Citra seolah dia adalah cawan petri berisi bakteri E. coli yang baru saja tumbuh kaki. Bastian Wijaya duduk dengan kaki di atas meja marmer, sibuk dengan ponselnya.
Dua lainnya baru saja bergabung.
Raka Pradana duduk di sofa tunggal. Jari-jarinya mengetuk layar tablet tanpa melihat. Dia tidak menatap wajah Citra, melainkan menatap grafik yang bergerak di layarnya.
"Namanya Citra Melati. Usia 25 tahun," suara Raka terdengar datar. Seperti suara mesin ATM yang kehabisan uang tunai.
"Detak jantung 110 bpm. Pupil melebar. Kortisol tinggi. Kamu sedang ketakutan atau menahan lapar?"
Citra meneguk ludah. Tenggorokannya terasa berpasir.
"Dua-duanya, Pak. Tapi lebih dominan takut saya nggak bisa bayar kontrakan besok."
"Logis," sahut Raka tanpa emosi.
"Data visual mengonfirmasi status ekonomimu. Sepatu kananmu solnya lepas separuh. Kamu mengelem ulang dengan lem aibon warung. Warna kuningnya meluber. Estimasi harga sepatu, tujuh puluh lima ribu di Tanah Abang."
Wajah Citra memanas.
Dia refleks menarik kakinya ke bawah sofa. Sialan. Orang ini lebih teliti daripada tetangga yang suka julid. Rasanya seperti ditelanjangi di depan umum, tapi yang dikuliti bukan bajunya, melainkan harga dirinya.
"Apa hubungannya sepatu saya dengan pekerjaan ini?" tembak Citra. Nada suaranya naik satu oktaf.
"Efisiensi."
Suara berat itu datang dari pojok ruangan yang paling gelap. Damar Langit duduk di sana. Posturnya tegang, seolah siap melompat menerkam siapa saja yang bergerak terlalu cepat.
"Orang yang bisa jalan dengan sepatu rusak tanpa pincang punya toleransi sakit yang tinggi. Itu kualifikasi dasar."
Damar menatap tajam ke tas selempang Citra yang kusam.
"Isi tas?"
"Hah? Cuma berkas, dompet, sama..."
"Senjata tajam? Bahan peledak? Pen sadap?" potong Damar cepat. Tangannya bergerak sedikit ke balik jasnya.
"Gunting kuku, Pak! Astaga. Muka saya ini muka orang susah, bukan muka teroris."
Bastian tertawa kencang sampai tersedak ludahnya sendiri.
"Anjir. Gunting kuku katanya. Damar, lo parnoan banget sumpah."
Elang akhirnya bersuara. Dia menunjuk dagu Citra dengan dagunya sendiri, menghindari kontak mata langsung.
"Tugasmu sederhana. Kami berempat punya masalah... domestik. Kami butuh orang untuk membereskan kekacauan harian kami. Tanpa drama. Dan yang paling penting, dilarang jatuh cinta pada kami. Denda sepuluh miliar kalau melanggar."
Citra mendengus pelan. Dia menegakkan punggungnya.
"Pak, jatuh cinta itu butuh modal. Beli baju, make-up, pulsa buat telponan sampai pagi. Saya lagi mode hemat ekstrem. Hati saya nggak masuk anggaran bulan ini. Mahal."
Raka menaikkan alisnya satu milimeter.
"Menarik. Dia mengkonversi emosi menjadi valuta. Mekanisme pertahanan yang efisien."
Sebuah map kulit disodorkan ke meja. Kontrak kerja.
Citra membukanya. Matanya langsung melompat ke halaman terakhir. Kolom honorarium.
Napasnya tercekat. Angka nol-nya berbaris rapi seperti pasukan pengibar bendera. Ini bukan cuma gaji. Ini tiket kebebasan. Ini pelunasan utang Bapak. Ini biaya operasi Ibu. Ini daging sapi rendang setiap hari Minggu.
Tangannya gemetar saat merogoh saku, mengeluarkan pulpen promosi obat batuk yang tintanya sering macet. Elang mengernyit jijik melihat benda murah itu.
Citra berhenti. Ujung pulpen menggantung di atas kertas.
"Saya mau," katanya serak. "Tapi ada syarat."
"Apa?" tanya Elang ketus.
"Saya minta uang muka gaji bulan pertama. Sekarang. Tunai."
"Tunai?" Bastian menurunkan ponselnya, melotot jenaka. "Mbak, lo purba banget. Nggak punya QRIS? Crypto?"
"Kalau masuk rekening, nanti langsung auto-debit sama..." Citra menelan ludah, menahan rasa pahit di lidahnya. "...sama sistem perbankan saya yang lagi error."
Damar berdiri. Tanpa suara, dia berjalan mendekat dan melempar amplop cokelat tebal ke meja.
Buk!
Suara gepokan uang itu terdengar lebih indah dari lagu pop mana pun.
"Tanda tangan," perintah Damar mutlak.
Citra menyambar pulpennya. Dia menekan kertas itu kuat-kuat, takut angka-angka di sana akan lari kalau dia tidak segera mengikatnya dengan tinta.
***
Lima belas menit kemudian.
Pintu kaca lobi Arcadia terbuka otomatis. Udara panas Jakarta langsung menampar wajah Citra. Bau aspal meleleh, asap knalpot Kopaja, dan debu jalanan menyerbu hidungnya.
Kontras suhu yang ekstrem membuat kepalanya pening. Tapi beban di bahunya terasa nyata. Ada sepuluh juta rupiah tunai di dalam tasnya.
"Oke, Citra. Kamu cuma jadi babu elit. Nggak masalah. Harga diri bisa dicicil nanti," gumamnya pada diri sendiri.
Zzzt. Zzzt.
Ponsel di saku blazernya bergetar. Pola getarannya panjang dan agresif. Bukan notifikasi operator.
Citra merogoh benda retak itu. Sebuah pesan W******p masuk dari nomor asing tanpa foto profil.
Tidak ada salam. Tidak ada basa-basi. Hanya sebuah gambar.
Foto ibunya.
Ibu sedang memilih sayur di pasar, memakai daster batik yang warnanya sudah pudar. Angle fotonya diambil dari atas, jauh, dan tersembunyi. Seperti bidikan pemangsa yang mengintai dari atap ruko.
Jantung Citra berhenti berdetak satu detik.
Di bawah foto itu, sebuah pesan singkat muncul.
*Bapakmu ninggalin utang, tapi ninggalin janda cantik juga. Bunga naik 20% mulai besok. Telat bayar, Ibu yang kami angkut.*
Lutut Citra lemas seketika. Tangannya mencengkeram tas berisi uang sepuluh juta itu sampai kuku-kukunya memutih. Uang yang dia kira tiket kebebasan, ternyata cuma cukup untuk membeli nyawa ibunya selama beberapa hari lagi.
Matanya terpaku pada layar ponsel yang retak.
Pukul 23.00 WIB. Waktu merayap lambat, seolah udara di dalam rumah petak itu telah berubah menjadi lem kental yang mencekik paru-paru.Citra Melati berjalan pelan. Lututnya kaku, matanya bengkak dan perih. Ia menyeret langkahnya menuju kamar tidur yang sempit, meninggalkan ruang tamu yang kini terasa seperti kuburan memori.Di bawah pendar lampu bohlam lima watt yang menguning, Citra duduk bersila di atas kasur busanya yang menipis. Tangannya yang gemetar merogoh kolong bantal, menarik keluar sebuah buku tulis bersampul batik pudar dan sebatang pulpen promosi yang tintanya sering macet.Ini adalah jangkarnya. Buku kas.Selama bertahun-tahun, buku inilah yang menyelamatkan kewarasannya. Setiap kali dunia terasa runtuh, Citra akan mengonversinya menjadi angka. Utang, cicilan, harga beras, biaya rumah sakit Ibu—semuanya bisa dihitung. Semuanya punya solusi matematis. Jika ada masalah, buatlah tabe
Pukul 23.00 WIB. Waktu merayap lambat, seolah udara di dalam rumah petak itu telah berubah menjadi lem kental yang mencekik paru-paru.Citra Melati berjalan pelan. Lututnya kaku, matanya bengkak dan perih. Ia menyeret langkahnya menuju kamar tidur yang sempit, meninggalkan ruang tamu yang kini terasa seperti kuburan memori.Di bawah pendar lampu bohlam lima watt yang menguning, Citra duduk bersila di atas kasur busanya yang menipis. Tangannya yang gemetar merogoh kolong bantal, menarik keluar sebuah buku tulis bersampul batik pudar dan sebatang pulpen promosi yang tintanya sering macet.Ini adalah jangkarnya. Buku kas.Selama bertahun-tahun, buku inilah yang menyelamatkan kewarasannya. Setiap kali dunia terasa runtuh, Citra akan mengonversinya menjadi angka. Utang, cicilan, harga beras, biaya rumah sakit Ibu—semuanya bisa dihitung. Semuanya punya solusi matematis. Jika ada masalah, buatlah tabe
Deru mesin-mesin bertenaga kuda besar itu terdengar seperti geraman hewan buas yang dipaksa mundur. Satu per satu, roda-roda lebar dari Rolls Royce, Mercedes-Benz, dan Range Rover menggilas aspal retak Petamburan untuk terakhir kalinya.Jeep Rubicon hitam doff milik Damar Langit menjadi penutup barisan, bergerak lambat seolah enggan meninggalkan medan pertempuran.Warga yang biasanya riuh rendah kini membisu. Pak RT yang sedang memegang sapu lidi berhenti bergerak di pinggir jalan. Ibu-ibu yang biasa bergosip di warung sayur hanya menatap kosong dari kejauhan.Ada beban kasat mata yang menggantung di udara pagi yang mulai terik. Atmosfer perpisahan itu terasa sangat berat, menekan dada siapa pun yang melihatnya.Citra Melati berdiri mematung di teras rumahnya. Tangannya mencengkeram tiang kayu keropos seolah itu satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak ikut terseret pergi. Matanya mengunci lam
Pukul 08.00 WIB. Udara di dalam "Posko Cinta" terasa hampa.Biasanya, jam segini aroma bawang putih yang ditumis atau wangi kopi tubruk sudah menginvasi ruangan kaca itu, bertarung dengan dinginnya AC sentral. Pagi ini, tidak ada denting spatula yang beradu dengan wajan. Tidak ada desis air mendidih.Elang, Raka, Bastian, dan Damar duduk mengelilingi meja makan lipat yang kosong melompong. Mereka saling lirik dalam diam. Rutinitas pagi yang biasanya dikendalikan oleh satu perempuan, kini mati suri. Ada ketegangan yang menyesakkan yang membuat napas terasa berat.Sreeet.Pintu kaca bergeser. Citra Melati melangkah masuk.Dia tidak mengenakan sisa kemewahan semalam. Tidak ada gaun sutra merah atau riasan elegan. Citra sengaja membungkus dirinya dengan daster batik paling kusam yang warnanya sudah pudar menjadi abu-abu pucat. Wajahnya berminyak, tanpa bedak. Matanya bengkak parah, m
Kain sutra merah itu meluncur jatuh, membentur lantai yang dingin dengan suara desir yang nyaris tak terdengar.Citra Melati berdiri mematung di depan cermin lemari plastik yang retak membelah dua pantulan wajahnya. Di bawah kakinya, gaun seharga puluhan juta itu teronggok seperti genangan darah yang membeku, menciptakan kontras yang begitu mencolok dengan dinding kamarnya yang mengelupas.Tangannya yang gemetar meraih daster batik lusuh dari gantungan kawat. Ia memakainya cepat-cepat, mencari perlindungan dari kain katun pudar yang selama bertahun-tahun menjadi zirah kemiskinannya.Tapi rasanya salah.Daster itu tidak lagi terasa seperti pelukan rumah. Kainnya terasa ganjil di kulitnya, seolah ia baru saja mengenakan kostum badut yang ukurannya mulai menyempit. Ia telah berubah, dan daster ini tidak lagi muat untuk menampung versi dirinya yang sekarang.Citra mengangkat ba
Kain sutra merah itu jatuh memeluk tubuh Citra Melati seperti aliran lava yang membeku; panas, berbahaya, dan menuntut perhatian mutlak. Di depan cermin lemari plastik yang retak di sudut, Citra menatap pantulan dirinya.Ia nyaris tidak mengenali sosok itu.Rambutnya digelung longgar, menyisakan anak rambut yang jatuh membingkai leher jenjangnya. Gaun itu mengekspos punggungnya dengan berani, sementara belahan roknya yang tinggi seolah menantang siapa pun untuk tidak menahan napas."Gila," bisik Citra. "Ini bukan baju kencan. Ini baju perang."Tok. Tok.Ketukan di pintu depan terdengar sopan namun tegas. Citra menarik napas panjang, mengenakan sepatu Manolo Blahnik yang haknya setajam silet, lalu melangkah keluar.Di teras rumah yang diterangi lampu bohlam kuning lima watt, Elang Soerya berdiri membelakangi pintu. Ia menatap langit malam Jakarta yang keruh. P







