Beranda / Romansa / Nona Hemat di Sarang Konglomerat / 2. Empat Dewa dan Satu Nyawa

Share

2. Empat Dewa dan Satu Nyawa

Penulis: VILNOCTE
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-21 19:22:14

Sofa kulit ini terlalu empuk.

Citra merasa pantatnya tenggelam pelan-pelan, seolah furnitur impor ini sedang mencoba menelannya hidup-hidup.

Di rumah kontrakannya, kursi kayu jati bekas peninggalan nenek selalu membuat tulang ekornya nyeri setelah sepuluh menit. Di sini, bahaya justru datang dari kenyamanan yang melenakan.

Ruangan ini luasnya tidak masuk akal. Plafon tinggi dihiasi lampu gantung kristal yang harganya pasti cukup untuk memberi makan satu kelurahan selama setahun.

Cahayanya memantul menyakitkan mata, menciptakan ilusi kemewahan yang membuat kepala Citra pening.

Di hadapannya, empat pria itu duduk seperti dewan juri neraka.

Elang Soerya masih berdiri di jarak aman tiga meter, menatap Citra seolah dia adalah cawan petri berisi bakteri E. coli yang baru saja tumbuh kaki. Bastian Wijaya duduk dengan kaki di atas meja marmer, sibuk dengan ponselnya.

Dua lainnya baru saja bergabung.

Raka Pradana duduk di sofa tunggal. Jari-jarinya mengetuk layar tablet tanpa melihat. Dia tidak menatap wajah Citra, melainkan menatap grafik yang bergerak di layarnya.

"Namanya Citra Melati. Usia 25 tahun," suara Raka terdengar datar. Seperti suara mesin ATM yang kehabisan uang tunai.

"Detak jantung 110 bpm. Pupil melebar. Kortisol tinggi. Kamu sedang ketakutan atau menahan lapar?"

Citra meneguk ludah. Tenggorokannya terasa berpasir.

"Dua-duanya, Pak. Tapi lebih dominan takut saya nggak bisa bayar kontrakan besok."

"Logis," sahut Raka tanpa emosi.

"Data visual mengonfirmasi status ekonomimu. Sepatu kananmu solnya lepas separuh. Kamu mengelemnya ulang dengan lem aibon warungan. Warna kuningnya meluber. Estimasi harga sepatu: tujuh puluh lima ribu di Tanah Abang."

Wajah Citra memanas.

Dia refleks menarik kakinya ke bawah sofa. Sialan. Orang ini lebih teliti daripada tetangga yang suka julid. Rasanya seperti ditelanjangi di depan umum, tapi yang dikuliti bukan bajunya, melainkan harga dirinya.

"Apa hubungannya sepatu saya dengan pekerjaan ini?" tembak Citra. Nada suaranya naik satu oktaf.

"Efisiensi."

Suara berat itu datang dari pojok ruangan yang paling gelap. Damar Langit duduk di sana. Posturnya tegang, seolah siap melompat menerkam siapa saja yang bergerak terlalu cepat.

"Orang yang bisa jalan dengan sepatu rusak tanpa pincang punya toleransi sakit yang tinggi. Itu kualifikasi dasar."

Damar menatap tajam ke tas selempang Citra yang kusam.

"Isi tas?"

"Hah? Cuma berkas, dompet, sama..."

"Senjata tajam? Bahan peledak? Pen sadap?" potong Damar cepat. Tangannya bergerak sedikit ke balik jasnya.

"Gunting kuku, Pak! Astaga. Muka saya ini muka orang susah, bukan muka teroris."

Bastian tertawa kencang sampai tersedak ludahnya sendiri.

"Anjir. Gunting kuku katanya. Damar, lo parnoan banget sumpah."

Elang akhirnya bersuara. Dia menunjuk dagu Citra dengan dagunya sendiri, menghindari kontak mata langsung.

"Tugasmu sederhana. Kami berempat punya masalah... domestik. Kami butuh orang untuk membereskan kekacauan harian kami. Tanpa drama. Dan yang paling penting, dilarang jatuh cinta pada kami. Denda sepuluh miliar kalau melanggar."

Citra mendengus pelan. Dia menegakkan punggungnya.

"Pak, jatuh cinta itu butuh modal. Beli baju, make-up, pulsa buat telponan sampai pagi. Saya lagi mode hemat ekstrem. Hati saya nggak masuk anggaran bulan ini. Mahal."

Raka menaikkan alisnya satu milimeter.

"Menarik. Dia mengkonversi emosi menjadi valuta. Mekanisme pertahanan yang efisien."

Sebuah map kulit disodorkan ke meja. Kontrak kerja.

Citra membukanya. Matanya langsung melompat ke halaman terakhir. Kolom honorarium.

Napasnya tercekat. Angka nol-nya berbaris rapi seperti pasukan pengibar bendera. Ini bukan cuma gaji. Ini tiket kebebasan. Ini pelunasan utang Bapak. Ini biaya operasi Ibu. Ini daging sapi rendang setiap hari Minggu.

Tangannya gemetar saat merogoh saku, mengeluarkan pulpen promosi obat batuk yang tintanya sering macet. Elang mengernyit jijik melihat benda murah itu.

Citra berhenti. Ujung pulpen menggantung di atas kertas.

"Saya mau," katanya serak. "Tapi ada syarat."

"Apa?" tanya Elang ketus.

"Saya minta uang muka gaji bulan pertama. Sekarang. Tunai."

"Tunai?" Bastian menurunkan ponselnya, melotot jenaka. "Mbak, lo purba banget. Nggak punya QRIS? Crypto?"

"Kalau masuk rekening, nanti langsung auto-debit sama..." Citra menelan ludah, menahan rasa pahit di lidahnya. "...sama sistem perbankan saya yang lagi error."

Damar berdiri. Tanpa suara, dia berjalan mendekat dan melempar amplop cokelat tebal ke meja.

Buk!

Suara gepokan uang itu terdengar lebih indah dari lagu pop mana pun.

"Tanda tangan," perintah Damar mutlak.

Citra menyambar pulpennya. Dia menekan kertas itu kuat-kuat, takut angka-angka di sana akan lari kalau dia tidak segera mengikatnya dengan tinta.

***

Lima belas menit kemudian.

Pintu kaca lobi Arcadia terbuka otomatis. Udara panas Jakarta langsung menampar wajah Citra. Bau aspal meleleh, asap knalpot Kopaja, dan debu jalanan menyerbu hidungnya.

Kontras suhu yang ekstrem membuat kepalanya pening. Tapi beban di bahunya terasa nyata. Ada sepuluh juta rupiah tunai di dalam tasnya.

"Oke, Citra. Kamu cuma jadi babu elit. Nggak masalah. Harga diri bisa dicicil nanti," gumamnya pada diri sendiri.

Zzzt. Zzzt.

Ponsel di saku blazernya bergetar. Pola getarannya panjang dan agresif. Bukan notifikasi operator.

Citra merogoh benda retak itu. Sebuah pesan W******p masuk dari nomor asing tanpa foto profil.

Tidak ada salam. Tidak ada basa-basi. Hanya sebuah gambar.

Foto ibunya.

Ibu sedang memilih sayur di pasar, memakai daster batik yang warnanya sudah pudar. Angle fotonya diambil dari atas, jauh, dan tersembunyi. Seperti bidikan pemangsa yang mengintai dari atap ruko.

Jantung Citra berhenti berdetak satu detik.

Di bawah foto itu, sebuah pesan singkat muncul.

*Bapakmu ninggalin utang, tapi ninggalin janda cantik juga. Bunga naik 20% mulai besok. Telat bayar, Ibu yang kami angkut.*

Lutut Citra lemas seketika. Tangannya mencengkeram tas berisi uang sepuluh juta itu sampai kuku-kukunya memutih. Uang yang dia kira tiket kebebasan, ternyata cuma cukup untuk membeli nyawa ibunya selama beberapa hari lagi.

Matanya terpaku pada layar ponsel yang retak.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   11. Hantu Oranye di Balik Lensa Termal

    Kaki bangku kayu itu menghantam lantai marmer dengan kasar. Citra Melati tidak berteriak. Dia bukan tipe wanita di film horor yang menjerit histeris saat tahu ada pembunuh di dalam lemari.Dia adalah wanita Petamburan yang terlatih menghadapi debt collector.Dia naik ke atas bangku. Tangan kanannya mencengkeram jeruji ventilasi AC sentral di langit-langit dapur. Wajahnya didekatkan ke celah-celah besi berdebu itu.Matanya menyipit.Di sana, tersembunyi di antara kegelapan saluran udara, ada benda kecil berbentuk bulat. Lensa. Kecil. Hitam. Dengan satu titik merah redup yang berkedip pelan.*Bip.*"Brengsek," desis Citra.Kalkulator di kepalanya langsung menyala. Pasal 31 UU ITE. Intersepsi ilegal. Denda delapan ratus juta rupiah. Angka yang seksi. Tapi lawannya adalah Damar Langit, orang yang punya tim legal sekelas monster. Menuntut Damar sama saja bunuh diri finansial.Citra turun dari bangku. Dia tidak akan menuntut lewat jalur hukum. Dia akan menuntut lewat jalur premanisme verbal

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   10. Serbuk Kebahagiaan di Dapur Elit

    "Satu juta setengah."Citra Melati menatap nanar seekor Lobster Thermidor yang masih mengepul di atas troli perak. Otaknya bukan melihat makanan mewah, tapi token listrik 900 VA yang bisa menyala nonstop selama enam bulan.Pramusaji hendak menarik kembali piring itu. "Maaf, Mbak. Tuan Bastian menolak makan. Sesuai SOP, makanan lewat 30 menit harus dibuang."*Dibuang?*Insting kemiskinan Citra menjerit. Dia hampir saja minta dibungkus untuk dipanaskan di magic com kosan, tapi suara sirine memekakkan telinga memotong niatnya.*NGIIING... NGIIING...*Bukan alarm kebakaran. Itu suara rekaman Bastian Wijaya yang berteriak "HELP! EMERGENCY!" lewat interkom. Citra memijat pelipis. Dia meninggalkan lobster tragis itu dan berjalan cepat ke ruang tengah.***Bastian tergeletak dramatis di sofa kulit Chesterfield. Satu tangan terkulai ke lantai, wajah dibenamkan ke bantal bulu angsa. Di meja kopi, botol kosong Artisan Cold Brew - Extra Strong menjadi saksi bisu kebodohan manusia."Citra..." rint

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   9. Daki Miliarder

    Pukul 23.45.Aroma lavender mahal dari *diffuser* otomatis di lorong Penthouse malam ini kalah telak. Ia mati kutu, tercekik oleh bau yang jauh lebih agresif, pedas, dan merakyat.Di pantry yang sunyi, Citra Melati sedang melakukan operasi penyelamatan diri sendiri. Dia berdiri di depan pantulan kaca oven *built-in* yang gelap, meringis sambil mengoleskan gel lengket berwarna putih keruh ke leher.Bau methyl salicylate dosis tinggi langsung menguar. Baunya tajam, menusuk hidung, jenis aroma yang biasa tercium di bus malam antar-provinsi atau ruang tunggu tukang urut patah tulang."Gila. Bahu rasanya kayak abis manggul beras raskin lima karung," desis Citra pelan.Ini oleh-oleh dari insiden tiga hari lalu. Damar Langit dan teknik tackle anti-terornya yang berlebihan itu sukses membuat otot trapezius Citra meradang. Citra melirik pot kaca kecil di tangannya. Isinya tinggal setengah.*Tit. Tit. Tit.*Kalkulator di kepalanya berbunyi. Harga balsam dua belas ribu. Kalau dia beli baru sebel

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   8. Anomali Detak Jantung

    Dua jam pasca insiden kamar mandi, atmosfer di meja makan Penthouse Arcadia terasa lebih mencekik daripada tagihan listrik yang menunggak tiga bulan.Pukul 08.00 pagi.Citra berdiri kaku di samping troli makanan. Dia sudah berganti pakaian dengan seragam kerjanya, blazer hitam yang mulai tipis di bagian siku dan rok span yang membatasi gerak.Matanya fokus pada teko jus jeruk, berusaha mengabaikan empat pasang mata empat pria berduit di depannya.*Ting.*Suara sendok perak beradu dengan piring porselen terdengar terlalu nyaring.Elang Soerya duduk di ujung meja. Dia memotong croissant dengan presisi dokter bedah. Gerakannya lambat, anggun, dan penuh intimidasi.Di sebelahnya, Bastian Wijaya sibuk memotret mangkuk oatmeal dari lima sudut berbeda. Flash ponselnya menyambar-nyambar, tapi tidak ada yang menegur.Damar Langit duduk membelakangi dinding. Dia makan roti bakar dengan kecepatan militer, matanya terus memindai pintu masuk seolah pelayan yang membawa kopi mungkin adalah pembunuh

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   7. Kalkulasi Harga Diri di Bawah Nol Derajat

    Pukul 05.45 pagi.*Sret.*Lembar koyo kedua menempel sempurna di pinggang kiri. Panasnya langsung menjalar, seolah ada setrika uap mini yang ditempelkan paksa ke kulit.Citra meringis. Pinggangnya rasanya mau patah. Ini semua gara-gara aksi heroik Damar Langit semalam yang membantingnya ke lantai marmer."Remuk. Badan gue resmi jadi kerupuk seblak," keluhnya.Masalah bertambah karena kamar mandinya sendiri sedang mogok kerja. Saluran air mampet, menciptakan kolam limbah setinggi mata kaki.Teknisi bilang suku cadangnya harus impor dari Italia. Omong kosong. Itu cuma akal-akalan manajemen gedung biar kelihatan elit, pikir Citra.Sekarang opsinya hanya satu: Numpang mandi.Unit Elang? Mustahil. Pasti sedang ritual mandi susu. Bastian? Zona bahaya, baru tidur jam tiga pagi. Damar? Masuk ke sana sama saja setor nyawa.Target terkunci: Unit 02. Raka Pradana.Menurut basis data di kepala Citra, CEO kaku itu punya jadwal lari pagi presisi militer selama empat puluh lima menit. Kamarnya pasti

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   6. Pelukan di Titik Nol

    Hantaman itu datang tanpa permisi. Bahu kekar sekeras beton menabrak perut Citra dengan presisi militer.*BUGH!*Dunia Citra berputar seratus delapan puluh derajat. Punggungnya menghantam lantai marmer dingin. Napasnya dipaksa keluar dari paru-paru. Belum sempat dia mengaduh, beban seberat delapan puluh kilogram menimpanya.Damar Langit tidak sekadar menjatuhkannya. Dia melakukan teknik perisai hidup.Pria itu menindih tubuh Citra, menekan kepala gadis itu agar menempel ke lantai dengan telapak tangannya yang besar. Lutut Damar mengunci di antara kedua paha Citra. Dada bidangnya menekan dada Citra sampai gadis itu sesak napas.Wajah Damar terbenam di ceruk leher Citra. Napasnya panas dan memburu gila-gilaan."Pak! Lepasin! Berat!" Citra meronta panik. Tangannya memukul punggung jas mahal itu. "Bapak gila ya?!""DIAM!"Bentakan itu bukan nada marah. Itu suara putus asa. Suara orang yang sedang menawar nyawa pada malaikat maut."TIARAP! JANGAN BERGERAK! PECAHANNYA MENYEBAR!"Tangan Dama

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status