MasukOtot deltoid Citra rasanya mau meledak.
Setiap kali dia mengangkat lengan kanannya sedikit saja di atas bahu, rasa nyeri itu menjalar dari pangkal leher sampai ke ujung jari. Rasanya seperti ada kawat berduri yang ditarik paksa di dalam dagingnya.
Ini bukan nyeri biasa akibat salah bantal atau kebanyakan mengulek sambal. Ini adalah cidera kerja spesifik yang didapatnya pagi tadi.
Mengangkat tubuh bongsor Elang Soerya yang basah kuyup, licin oleh sabun, dan seberat dosa masa lalu di kamar mandi licin itu jelas bukan olahraga kardio yang disarankan dokter.
Citra mendesis pelan sambil memijat bahunya sendiri. Dia berdiri di ambang pintu ruang tengah Penthouse Arcadia yang luasnya bisa dipakai untuk lapangan bulu tangkis ganda putra.
Pukul tujuh malam kurang lima belas menit.
Di luar jendela kaca raksasa setinggi lima meter, langit Jakarta sudah berubah warna menjadi ungu kotor bercampur abu-abu polusi.
Tapi di dalam sini, kemewahan itu nyata dan menyilaukan.
Lampu kristal gantung di atas meja makan menyala terang benderang. Lampu sorot untuk lukisan abstrak yang gambarnya cuma coretan benang kusut juga menyala.
Lampu pilar dekoratif menyala. Bahkan lampu di dalam lemari pajangan keramik pun menyala.
Mata Citra menyipit. Kalkulator di dalam kepalanya langsung berbunyi nyaring.
*Tit. Tit. Tit.*
Satu lampu kristal dayanya empat puluh watt. Ada dua puluh titik. Delapan ratus watt. Ditambah AC sentral yang suhunya disetel delapan belas derajat celcius, kulkas raksasa, dan segala macam elektronik standby.
"Ini kalau di Petamburan, gardu listrik satu RW pasti langsung meledak," gumam Citra sinis.
Dia melangkah masuk. Misinya malam ini sederhana: Efisiensi Energi.
Jari telunjuknya menekan panel sakelar di dinding.
*Klik.*
Lampu kristal gantung mati.
*Klik.*
Lampu sorot lukisan mati.
*Klik.*
Lampu pilar dekoratif mati.
"Kamu sedang melakukan ritual pemanggilan arwah leluhur atau bagaimana?"
Suara itu berat, lambat, dan penuh penghakiman.
Citra menoleh. Di sofa kulit Chesterfield yang harganya bisa buat beli rumah subsidi, Elang Soerya duduk dengan kaki disilangkan.
Dia memegang sebuah buku tebal bersampul kulit tua. Wajahnya terlihat terganggu, seolah Citra baru saja melempar kotoran kucing ke wajahnya.
"Saya lagi penghematan, Pak," jawab Citra datar. Tangannya masih menempel di panel sakelar, siap mematikan satu lampu lagi.
"Bapak tahu tagihan listrik tempat ini sebulan berapa? Saya barusan lihat tagihan bulan lalu di meja resepsionis. Tiga puluh juta. Tiga puluh juta cuma buat bikin ruangan ini terang kayak pasar malam."
Elang menutup bukunya perlahan. Gerakannya anggun, tapi matanya menatap Citra dengan tatapan merendahkan yang khas. Tatapan seorang dewa yang melihat manusia fana meributkan remah roti.
"Citra," panggilnya. Nadanya sabar, tapi kesabarannya tipis setipis tisu toilet murah.
"Cahaya itu bukan sekadar iluminasi agar mata tidak menabrak meja. Cahaya adalah mood. Adalah estetika. Adalah jiwa dari arsitektur."
Elang menunjuk ke sekeliling ruangan yang kini remang-remang.
"Gelap itu identik dengan ketiadaan. Dengan kesedihan. Dan yang paling parah... kegelapan itu identik dengan kemelaratan."
Citra mendengus. Dia berjalan mendekat, tapi tetap menjaga jarak aman dua meter. Dia tidak mau kejadian pagi tadi terulang, diseret masuk ke drama fisik orang kaya.
"Terang benderang tanpa ada manusianya itu identik dengan pemborosan, Pak. Dan pemborosan adalah musuh cashflow. Musuh dompet. Musuh masa depan."
Elang hendak mendebat. Mulutnya sudah terbuka untuk kuliah tujuh menit tentang filosofi cahaya. Namun, matanya terpaku pada tangan Citra yang terus meremas bahu kanannya sendiri. Wajah gadis itu meringis kecil.
Ingatan Elang berputar ke kejadian pagi tadi. Uap panas. Lantai licin. Dan tangan kasar Citra yang menahan berat tubuhnya agar tidak gegar otak. Rasa gengsi bertarung hebat dengan hutang budi.
Elang membuang muka. Dia membuka kembali bukunya, pura-pura membaca.
"Terserah," gumamnya ketus. "Lakukan sesukamu. Asal jangan matikan lampu baca saya. Mata saya aset perusahaan."
"Siap, Bos. Mata aman, dompet aman."
Citra memutar tumit. Dia meninggalkan Elang di singgasananya yang kini gelap dramatis, melangkah menuju koridor panjang yang menghubungkan ruang tengah dengan area dapur.
Koridor ini sunyi. Lantai marmer terasa dingin menembus sol sepatu pantofel Citra yang sudah tipis. Dia mempercepat langkah. Rencananya sederhana: seduh teh, oles balsem Geliga, lalu tidur.
Tiba-tiba, suara itu terdengar.
*Tit.*
Langkah Citra terhenti total.
*Tit.*
Ia menarik napas panjang. Nada tinggi, pendek, interval dua detik. Suara paling horor bagi rakyat jelata se-Indonesia Raya. Lebih menakutkan dari tawa kuntilanak.
*Tit.*
"Mampus. Token habis," desis Citra panik.
Refleks kemiskinannya mengambil alih. Otak rasionalnya yang tahu ini adalah Penthouse elit dengan listrik pascabayar mendadak korslet. Trauma masa lalu lebih kuat daripada logika.
Di telinga Citra, itu adalah alarm kematian. Lima menit lagi gelap gulita. Kulkas mati. Makanan busuk.
Tangan Citra merogoh saku blazernya dengan panik, mencari dompet.
"Perasaan kemarin baru diisi. Apa ada kebocoran arus?" gumamnya ngawur.
Dia mendongak, menatap sebuah alat bulat berkedip merah di langit-langit koridor, tepat di atas kepalanya.
*Tit.*
"Sabar dong, elah! Lagi dicariin duitnya!" bentak Citra pada langit-langit.
Di sudut gelap persimpangan koridor, sepasang mata tajam sedang mengawasi.
Damar Langit mematung.
Dia baru saja hendak ke dapur, tapi langkahnya mati saat mendengar bunyi itu.
*Tit.*
Bagi Damar, itu bukan suara token listrik.
Memorinya ditarik paksa mundur lima belas tahun. Ke sebuah gudang pengap. Bau mesiu. Bau keringat penculik. Dan suara timer digital yang menghitung mundur di rompi yang terpasang paksa di tubuh ibunya.
Timer. Detonator. Bom.
Pupil mata Damar mengecil seukuran jarum. Napasnya tertahan. Adrenalin membanjiri darah dalam hitungan milidetik. Mode tempur aktif.
Dia melihat Citra berdiri tepat di bawah sumber suara itu. Gadis bodoh itu berdiri di Ground Zero. Di titik ledak.
"AWAS!"
Teriakan Damar menggelegar, memecah kesunyian koridor.
Citra menoleh bingung. Mulutnya terbuka. "Ha-"
Belum sempat dia menyelesaikan satu suku kata, bayangan besar menerjangnya dari kegelapan.
Damar tidak mempedulikan apa pun. Logika mati, insting bicara. Dia menubruk tubuh Citra sekuat tenaga, membantingnya menjauh dari titik suara itu sebelum hitungan mundur mencapai nol.
*BRAK!*
Pukul 23.00 WIB. Waktu merayap lambat, seolah udara di dalam rumah petak itu telah berubah menjadi lem kental yang mencekik paru-paru.Citra Melati berjalan pelan. Lututnya kaku, matanya bengkak dan perih. Ia menyeret langkahnya menuju kamar tidur yang sempit, meninggalkan ruang tamu yang kini terasa seperti kuburan memori.Di bawah pendar lampu bohlam lima watt yang menguning, Citra duduk bersila di atas kasur busanya yang menipis. Tangannya yang gemetar merogoh kolong bantal, menarik keluar sebuah buku tulis bersampul batik pudar dan sebatang pulpen promosi yang tintanya sering macet.Ini adalah jangkarnya. Buku kas.Selama bertahun-tahun, buku inilah yang menyelamatkan kewarasannya. Setiap kali dunia terasa runtuh, Citra akan mengonversinya menjadi angka. Utang, cicilan, harga beras, biaya rumah sakit Ibu—semuanya bisa dihitung. Semuanya punya solusi matematis. Jika ada masalah, buatlah tabe
Pukul 23.00 WIB. Waktu merayap lambat, seolah udara di dalam rumah petak itu telah berubah menjadi lem kental yang mencekik paru-paru.Citra Melati berjalan pelan. Lututnya kaku, matanya bengkak dan perih. Ia menyeret langkahnya menuju kamar tidur yang sempit, meninggalkan ruang tamu yang kini terasa seperti kuburan memori.Di bawah pendar lampu bohlam lima watt yang menguning, Citra duduk bersila di atas kasur busanya yang menipis. Tangannya yang gemetar merogoh kolong bantal, menarik keluar sebuah buku tulis bersampul batik pudar dan sebatang pulpen promosi yang tintanya sering macet.Ini adalah jangkarnya. Buku kas.Selama bertahun-tahun, buku inilah yang menyelamatkan kewarasannya. Setiap kali dunia terasa runtuh, Citra akan mengonversinya menjadi angka. Utang, cicilan, harga beras, biaya rumah sakit Ibu—semuanya bisa dihitung. Semuanya punya solusi matematis. Jika ada masalah, buatlah tabe
Deru mesin-mesin bertenaga kuda besar itu terdengar seperti geraman hewan buas yang dipaksa mundur. Satu per satu, roda-roda lebar dari Rolls Royce, Mercedes-Benz, dan Range Rover menggilas aspal retak Petamburan untuk terakhir kalinya.Jeep Rubicon hitam doff milik Damar Langit menjadi penutup barisan, bergerak lambat seolah enggan meninggalkan medan pertempuran.Warga yang biasanya riuh rendah kini membisu. Pak RT yang sedang memegang sapu lidi berhenti bergerak di pinggir jalan. Ibu-ibu yang biasa bergosip di warung sayur hanya menatap kosong dari kejauhan.Ada beban kasat mata yang menggantung di udara pagi yang mulai terik. Atmosfer perpisahan itu terasa sangat berat, menekan dada siapa pun yang melihatnya.Citra Melati berdiri mematung di teras rumahnya. Tangannya mencengkeram tiang kayu keropos seolah itu satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak ikut terseret pergi. Matanya mengunci lam
Pukul 08.00 WIB. Udara di dalam "Posko Cinta" terasa hampa.Biasanya, jam segini aroma bawang putih yang ditumis atau wangi kopi tubruk sudah menginvasi ruangan kaca itu, bertarung dengan dinginnya AC sentral. Pagi ini, tidak ada denting spatula yang beradu dengan wajan. Tidak ada desis air mendidih.Elang, Raka, Bastian, dan Damar duduk mengelilingi meja makan lipat yang kosong melompong. Mereka saling lirik dalam diam. Rutinitas pagi yang biasanya dikendalikan oleh satu perempuan, kini mati suri. Ada ketegangan yang menyesakkan yang membuat napas terasa berat.Sreeet.Pintu kaca bergeser. Citra Melati melangkah masuk.Dia tidak mengenakan sisa kemewahan semalam. Tidak ada gaun sutra merah atau riasan elegan. Citra sengaja membungkus dirinya dengan daster batik paling kusam yang warnanya sudah pudar menjadi abu-abu pucat. Wajahnya berminyak, tanpa bedak. Matanya bengkak parah, m
Kain sutra merah itu meluncur jatuh, membentur lantai yang dingin dengan suara desir yang nyaris tak terdengar.Citra Melati berdiri mematung di depan cermin lemari plastik yang retak membelah dua pantulan wajahnya. Di bawah kakinya, gaun seharga puluhan juta itu teronggok seperti genangan darah yang membeku, menciptakan kontras yang begitu mencolok dengan dinding kamarnya yang mengelupas.Tangannya yang gemetar meraih daster batik lusuh dari gantungan kawat. Ia memakainya cepat-cepat, mencari perlindungan dari kain katun pudar yang selama bertahun-tahun menjadi zirah kemiskinannya.Tapi rasanya salah.Daster itu tidak lagi terasa seperti pelukan rumah. Kainnya terasa ganjil di kulitnya, seolah ia baru saja mengenakan kostum badut yang ukurannya mulai menyempit. Ia telah berubah, dan daster ini tidak lagi muat untuk menampung versi dirinya yang sekarang.Citra mengangkat ba
Kain sutra merah itu jatuh memeluk tubuh Citra Melati seperti aliran lava yang membeku; panas, berbahaya, dan menuntut perhatian mutlak. Di depan cermin lemari plastik yang retak di sudut, Citra menatap pantulan dirinya.Ia nyaris tidak mengenali sosok itu.Rambutnya digelung longgar, menyisakan anak rambut yang jatuh membingkai leher jenjangnya. Gaun itu mengekspos punggungnya dengan berani, sementara belahan roknya yang tinggi seolah menantang siapa pun untuk tidak menahan napas."Gila," bisik Citra. "Ini bukan baju kencan. Ini baju perang."Tok. Tok.Ketukan di pintu depan terdengar sopan namun tegas. Citra menarik napas panjang, mengenakan sepatu Manolo Blahnik yang haknya setajam silet, lalu melangkah keluar.Di teras rumah yang diterangi lampu bohlam kuning lima watt, Elang Soerya berdiri membelakangi pintu. Ia menatap langit malam Jakarta yang keruh. P







