Home / Romansa / Nona Hemat di Sarang Konglomerat / 5. Gelap, Terang, dan Detik-Detik Kematian

Share

5. Gelap, Terang, dan Detik-Detik Kematian

Author: VILNOCTE
last update Last Updated: 2026-01-21 19:22:25

Otot deltoid Citra rasanya mau meledak.

Setiap kali dia mengangkat lengan kanannya sedikit saja di atas bahu, rasa nyeri itu menjalar dari pangkal leher sampai ke ujung jari. Rasanya seperti ada kawat berduri yang ditarik paksa di dalam dagingnya.

Ini bukan nyeri biasa akibat salah bantal atau kebanyakan mengulek sambal. Ini adalah cidera kerja spesifik yang didapatnya pagi tadi.

Mengangkat tubuh bongsor Elang Soerya yang basah kuyup, licin oleh sabun, dan seberat dosa masa lalu di kamar mandi licin itu jelas bukan olahraga kardio yang disarankan dokter.

Citra mendesis pelan sambil memijat bahunya sendiri. Dia berdiri di ambang pintu ruang tengah Penthouse Arcadia yang luasnya bisa dipakai untuk lapangan bulu tangkis ganda putra.

Pukul tujuh malam kurang lima belas menit.

Di luar jendela kaca raksasa setinggi lima meter, langit Jakarta sudah berubah warna menjadi ungu kotor bercampur abu-abu polusi.

Tapi di dalam sini, kemewahan itu nyata dan menyilaukan.

Lampu kristal gantung di atas meja makan menyala terang benderang. Lampu sorot untuk lukisan abstrak yang gambarnya cuma coretan benang kusut juga menyala.

Lampu pilar dekoratif menyala. Bahkan lampu di dalam lemari pajangan keramik pun menyala.

Mata Citra menyipit. Kalkulator di dalam kepalanya langsung berbunyi nyaring.

*Tit. Tit. Tit.*

Satu lampu kristal dayanya empat puluh watt. Ada dua puluh titik. Delapan ratus watt. Ditambah AC sentral yang suhunya disetel delapan belas derajat celcius, kulkas raksasa, dan segala macam elektronik standby.

"Ini kalau di Petamburan, gardu listrik satu RW pasti langsung meledak," gumam Citra sinis.

Dia melangkah masuk. Misinya malam ini sederhana: Efisiensi Energi.

Jari telunjuknya menekan panel sakelar di dinding.

*Klik.*

Lampu kristal gantung mati.

*Klik.*

Lampu sorot lukisan mati.

*Klik.*

Lampu pilar dekoratif mati.

"Kamu sedang melakukan ritual pemanggilan arwah leluhur atau bagaimana?"

Suara itu berat, lambat, dan penuh penghakiman.

Citra menoleh. Di sofa kulit Chesterfield yang harganya bisa buat beli rumah subsidi, Elang Soerya duduk dengan kaki disilangkan.

Dia memegang sebuah buku tebal bersampul kulit tua. Wajahnya terlihat terganggu, seolah Citra baru saja melempar kotoran kucing ke wajahnya.

"Saya lagi penghematan, Pak," jawab Citra datar. Tangannya masih menempel di panel sakelar, siap mematikan satu lampu lagi.

"Bapak tahu tagihan listrik tempat ini sebulan berapa? Saya barusan lihat tagihan bulan lalu di meja resepsionis. Tiga puluh juta. Tiga puluh juta cuma buat bikin ruangan ini terang kayak pasar malam."

Elang menutup bukunya perlahan. Gerakannya anggun, tapi matanya menatap Citra dengan tatapan merendahkan yang khas. Tatapan seorang dewa yang melihat manusia fana meributkan remah roti.

"Citra," panggilnya. Nadanya sabar, tapi kesabarannya tipis setipis tisu toilet murah.

"Cahaya itu bukan sekadar iluminasi agar mata tidak menabrak meja. Cahaya adalah mood. Adalah estetika. Adalah jiwa dari arsitektur."

Elang menunjuk ke sekeliling ruangan yang kini remang-remang.

"Gelap itu identik dengan ketiadaan. Dengan kesedihan. Dan yang paling parah... kegelapan itu identik dengan kemelaratan."

Citra mendengus. Dia berjalan mendekat, tapi tetap menjaga jarak aman dua meter. Dia tidak mau kejadian pagi tadi terulang, diseret masuk ke drama fisik orang kaya.

"Terang benderang tanpa ada manusianya itu identik dengan pemborosan, Pak. Dan pemborosan adalah musuh cashflow. Musuh dompet. Musuh masa depan."

Elang hendak mendebat. Mulutnya sudah terbuka untuk kuliah tujuh menit tentang filosofi cahaya. Namun, matanya terpaku pada tangan Citra yang terus meremas bahu kanannya sendiri. Wajah gadis itu meringis kecil.

Ingatan Elang berputar ke kejadian pagi tadi. Uap panas. Lantai licin. Dan tangan kasar Citra yang menahan berat tubuhnya agar tidak gegar otak. Rasa gengsi bertarung hebat dengan hutang budi.

Elang membuang muka. Dia membuka kembali bukunya, pura-pura membaca.

"Terserah," gumamnya ketus. "Lakukan sesukamu. Asal jangan matikan lampu baca saya. Mata saya aset perusahaan."

"Siap, Bos. Mata aman, dompet aman."

Citra memutar tumit. Dia meninggalkan Elang di singgasananya yang kini gelap dramatis, melangkah menuju koridor panjang yang menghubungkan ruang tengah dengan area dapur.

Koridor ini sunyi. Lantai marmer terasa dingin menembus sol sepatu pantofel Citra yang sudah tipis. Dia mempercepat langkah. Rencananya sederhana: seduh teh, oles balsem Geliga, lalu tidur.

Tiba-tiba, suara itu terdengar.

*Tit.*

Langkah Citra terhenti total.

*Tit.*

Ia menarik napas panjang. Nada tinggi, pendek, interval dua detik. Suara paling horor bagi rakyat jelata se-Indonesia Raya. Lebih menakutkan dari tawa kuntilanak.

*Tit.*

"Mampus. Token habis," desis Citra panik.

Refleks kemiskinannya mengambil alih. Otak rasionalnya yang tahu ini adalah Penthouse elit dengan listrik pascabayar mendadak korslet. Trauma masa lalu lebih kuat daripada logika.

Di telinga Citra, itu adalah alarm kematian. Lima menit lagi gelap gulita. Kulkas mati. Makanan busuk.

Tangan Citra merogoh saku blazernya dengan panik, mencari dompet.

"Perasaan kemarin baru diisi. Apa ada kebocoran arus?" gumamnya ngawur.

Dia mendongak, menatap sebuah alat bulat berkedip merah di langit-langit koridor, tepat di atas kepalanya.

*Tit.*

"Sabar dong, elah! Lagi dicariin duitnya!" bentak Citra pada langit-langit.

Di sudut gelap persimpangan koridor, sepasang mata tajam sedang mengawasi.

Damar Langit mematung.

Dia baru saja hendak ke dapur, tapi langkahnya mati saat mendengar bunyi itu.

*Tit.*

Bagi Damar, itu bukan suara token listrik.

Memorinya ditarik paksa mundur lima belas tahun. Ke sebuah gudang pengap. Bau mesiu. Bau keringat penculik. Dan suara timer digital yang menghitung mundur di rompi yang terpasang paksa di tubuh ibunya.

Timer. Detonator. Bom.

Pupil mata Damar mengecil seukuran jarum. Napasnya tertahan. Adrenalin membanjiri darah dalam hitungan milidetik. Mode tempur aktif.

Dia melihat Citra berdiri tepat di bawah sumber suara itu. Gadis bodoh itu berdiri di Ground Zero. Di titik ledak.

"AWAS!"

Teriakan Damar menggelegar, memecah kesunyian koridor.

Citra menoleh bingung. Mulutnya terbuka. "Ha-"

Belum sempat dia menyelesaikan satu suku kata, bayangan besar menerjangnya dari kegelapan.

Damar tidak mempedulikan apa pun. Logika mati, insting bicara. Dia menubruk tubuh Citra sekuat tenaga, membantingnya menjauh dari titik suara itu sebelum hitungan mundur mencapai nol.

*BRAK!*

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   11. Hantu Oranye di Balik Lensa Termal

    Kaki bangku kayu itu menghantam lantai marmer dengan kasar. Citra Melati tidak berteriak. Dia bukan tipe wanita di film horor yang menjerit histeris saat tahu ada pembunuh di dalam lemari.Dia adalah wanita Petamburan yang terlatih menghadapi debt collector.Dia naik ke atas bangku. Tangan kanannya mencengkeram jeruji ventilasi AC sentral di langit-langit dapur. Wajahnya didekatkan ke celah-celah besi berdebu itu.Matanya menyipit.Di sana, tersembunyi di antara kegelapan saluran udara, ada benda kecil berbentuk bulat. Lensa. Kecil. Hitam. Dengan satu titik merah redup yang berkedip pelan.*Bip.*"Brengsek," desis Citra.Kalkulator di kepalanya langsung menyala. Pasal 31 UU ITE. Intersepsi ilegal. Denda delapan ratus juta rupiah. Angka yang seksi. Tapi lawannya adalah Damar Langit, orang yang punya tim legal sekelas monster. Menuntut Damar sama saja bunuh diri finansial.Citra turun dari bangku. Dia tidak akan menuntut lewat jalur hukum. Dia akan menuntut lewat jalur premanisme verbal

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   10. Serbuk Kebahagiaan di Dapur Elit

    "Satu juta setengah."Citra Melati menatap nanar seekor Lobster Thermidor yang masih mengepul di atas troli perak. Otaknya bukan melihat makanan mewah, tapi token listrik 900 VA yang bisa menyala nonstop selama enam bulan.Pramusaji hendak menarik kembali piring itu. "Maaf, Mbak. Tuan Bastian menolak makan. Sesuai SOP, makanan lewat 30 menit harus dibuang."*Dibuang?*Insting kemiskinan Citra menjerit. Dia hampir saja minta dibungkus untuk dipanaskan di magic com kosan, tapi suara sirine memekakkan telinga memotong niatnya.*NGIIING... NGIIING...*Bukan alarm kebakaran. Itu suara rekaman Bastian Wijaya yang berteriak "HELP! EMERGENCY!" lewat interkom. Citra memijat pelipis. Dia meninggalkan lobster tragis itu dan berjalan cepat ke ruang tengah.***Bastian tergeletak dramatis di sofa kulit Chesterfield. Satu tangan terkulai ke lantai, wajah dibenamkan ke bantal bulu angsa. Di meja kopi, botol kosong Artisan Cold Brew - Extra Strong menjadi saksi bisu kebodohan manusia."Citra..." rint

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   9. Daki Miliarder

    Pukul 23.45.Aroma lavender mahal dari *diffuser* otomatis di lorong Penthouse malam ini kalah telak. Ia mati kutu, tercekik oleh bau yang jauh lebih agresif, pedas, dan merakyat.Di pantry yang sunyi, Citra Melati sedang melakukan operasi penyelamatan diri sendiri. Dia berdiri di depan pantulan kaca oven *built-in* yang gelap, meringis sambil mengoleskan gel lengket berwarna putih keruh ke leher.Bau methyl salicylate dosis tinggi langsung menguar. Baunya tajam, menusuk hidung, jenis aroma yang biasa tercium di bus malam antar-provinsi atau ruang tunggu tukang urut patah tulang."Gila. Bahu rasanya kayak abis manggul beras raskin lima karung," desis Citra pelan.Ini oleh-oleh dari insiden tiga hari lalu. Damar Langit dan teknik tackle anti-terornya yang berlebihan itu sukses membuat otot trapezius Citra meradang. Citra melirik pot kaca kecil di tangannya. Isinya tinggal setengah.*Tit. Tit. Tit.*Kalkulator di kepalanya berbunyi. Harga balsam dua belas ribu. Kalau dia beli baru sebel

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   8. Anomali Detak Jantung

    Dua jam pasca insiden kamar mandi, atmosfer di meja makan Penthouse Arcadia terasa lebih mencekik daripada tagihan listrik yang menunggak tiga bulan.Pukul 08.00 pagi.Citra berdiri kaku di samping troli makanan. Dia sudah berganti pakaian dengan seragam kerjanya, blazer hitam yang mulai tipis di bagian siku dan rok span yang membatasi gerak.Matanya fokus pada teko jus jeruk, berusaha mengabaikan empat pasang mata empat pria berduit di depannya.*Ting.*Suara sendok perak beradu dengan piring porselen terdengar terlalu nyaring.Elang Soerya duduk di ujung meja. Dia memotong croissant dengan presisi dokter bedah. Gerakannya lambat, anggun, dan penuh intimidasi.Di sebelahnya, Bastian Wijaya sibuk memotret mangkuk oatmeal dari lima sudut berbeda. Flash ponselnya menyambar-nyambar, tapi tidak ada yang menegur.Damar Langit duduk membelakangi dinding. Dia makan roti bakar dengan kecepatan militer, matanya terus memindai pintu masuk seolah pelayan yang membawa kopi mungkin adalah pembunuh

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   7. Kalkulasi Harga Diri di Bawah Nol Derajat

    Pukul 05.45 pagi.*Sret.*Lembar koyo kedua menempel sempurna di pinggang kiri. Panasnya langsung menjalar, seolah ada setrika uap mini yang ditempelkan paksa ke kulit.Citra meringis. Pinggangnya rasanya mau patah. Ini semua gara-gara aksi heroik Damar Langit semalam yang membantingnya ke lantai marmer."Remuk. Badan gue resmi jadi kerupuk seblak," keluhnya.Masalah bertambah karena kamar mandinya sendiri sedang mogok kerja. Saluran air mampet, menciptakan kolam limbah setinggi mata kaki.Teknisi bilang suku cadangnya harus impor dari Italia. Omong kosong. Itu cuma akal-akalan manajemen gedung biar kelihatan elit, pikir Citra.Sekarang opsinya hanya satu: Numpang mandi.Unit Elang? Mustahil. Pasti sedang ritual mandi susu. Bastian? Zona bahaya, baru tidur jam tiga pagi. Damar? Masuk ke sana sama saja setor nyawa.Target terkunci: Unit 02. Raka Pradana.Menurut basis data di kepala Citra, CEO kaku itu punya jadwal lari pagi presisi militer selama empat puluh lima menit. Kamarnya pasti

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   6. Pelukan di Titik Nol

    Hantaman itu datang tanpa permisi. Bahu kekar sekeras beton menabrak perut Citra dengan presisi militer.*BUGH!*Dunia Citra berputar seratus delapan puluh derajat. Punggungnya menghantam lantai marmer dingin. Napasnya dipaksa keluar dari paru-paru. Belum sempat dia mengaduh, beban seberat delapan puluh kilogram menimpanya.Damar Langit tidak sekadar menjatuhkannya. Dia melakukan teknik perisai hidup.Pria itu menindih tubuh Citra, menekan kepala gadis itu agar menempel ke lantai dengan telapak tangannya yang besar. Lutut Damar mengunci di antara kedua paha Citra. Dada bidangnya menekan dada Citra sampai gadis itu sesak napas.Wajah Damar terbenam di ceruk leher Citra. Napasnya panas dan memburu gila-gilaan."Pak! Lepasin! Berat!" Citra meronta panik. Tangannya memukul punggung jas mahal itu. "Bapak gila ya?!""DIAM!"Bentakan itu bukan nada marah. Itu suara putus asa. Suara orang yang sedang menawar nyawa pada malaikat maut."TIARAP! JANGAN BERGERAK! PECAHANNYA MENYEBAR!"Tangan Dama

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status