Home / Romansa / Nona Hemat di Sarang Konglomerat / 6. Pelukan di Titik Nol

Share

6. Pelukan di Titik Nol

Author: VILNOCTE
last update Last Updated: 2026-01-21 19:22:29

Hantaman itu datang tanpa permisi. Bahu kekar sekeras beton menabrak perut Citra dengan presisi militer.

*BUGH!*

Dunia Citra berputar seratus delapan puluh derajat. Punggungnya menghantam lantai marmer dingin. Napasnya dipaksa keluar dari paru-paru. Belum sempat dia mengaduh, beban seberat delapan puluh kilogram menimpanya.

Damar Langit tidak sekadar menjatuhkannya. Dia melakukan teknik perisai hidup.

Pria itu menindih tubuh Citra, menekan kepala gadis itu agar menempel ke lantai dengan telapak tangannya yang besar. Lutut Damar mengunci di antara kedua paha Citra. Dada bidangnya menekan dada Citra sampai gadis itu sesak napas.

Wajah Damar terbenam di ceruk leher Citra. Napasnya panas dan memburu gila-gilaan.

"Pak! Lepasin! Berat!" Citra meronta panik. Tangannya memukul punggung jas mahal itu. "Bapak gila ya?!"

"DIAM!"

Bentakan itu bukan nada marah. Itu suara putus asa. Suara orang yang sedang menawar nyawa pada malaikat maut.

"TIARAP! JANGAN BERGERAK! PECAHANNYA MENYEBAR!"

Tangan Damar mencengkeram belakang kepala Citra lebih kuat, memaksanya mencium debu lantai. Tubuh pria itu menegang kaku seperti batu, menunggu ledakan yang akan mencabik punggungnya.

Citra berhenti meronta.

Bukan karena patuh. Tapi karena dia merasakan sesuatu yang aneh di balik himpitan tubuh maskulin itu.

Tubuh Damar gemetar.

Pria yang biasanya menatap orang seperti ingin membunuh itu gemetar hebat. Jantungnya berdetak begitu kencang sampai Citra bisa merasakannya menembus lapisan jas tebal.

*Dug. Dug. Dug.*

Irama jantung itu kacau balau. Ini bukan serangan seksual. Ini serangan panik.

Citra diam. Matanya menatap langit-langit koridor yang miring dari sudut pandangnya. Suara *Tit... Tit...* itu masih terdengar konstan dari arah dapur.

Damar sedang melindungi Citra dari sesuatu yang hanya ada di dalam kepalanya sendiri. Dia menjadikan punggungnya tameng daging untuk ledakan imajiner.

Insting Citra menyala. Dia pernah menghadapi ibu-ibu histeris karena panci gosong yang dikira kebakaran. Polanya sama: mereka terjebak ilusi ketakutan.

Perlahan, tangan Citra bergerak naik. Dia menepuk punggung Damar. Pelan. Berirama.

*Puk. Puk. Puk.*

Persis seperti cara ibunya menepuk pantatnya dulu supaya tidur saat hujan petir.

"Pak Damar," panggil Citra. Suaranya diubah menjadi nada rendah yang biasa dia pakai untuk menawar harga cabai. Tenang dan membumi.

"Tunduk! Jangan lihat cahayanya!" racau Damar, suaranya tercekat.

"Nggak ada cahaya, Pak. Nggak ada pecahan. Itu bukan bom," bisik Citra tepat di telinga Damar.

Tangan kasarnya mengusap punggung jas Damar, mencoba menyalurkan rasa tenang. Aroma tubuh pria itu, campuran musk mahal, tembakau, dan keringat dingin menusuk hidung Citra.

"Itu cuma token listrik yang habis. Meterannya minta diisi pulsa. Dia laper."

"Ti... dak..." Napas Damar tersengal.

"Iya, Pak. Cuma butuh dua puluh ribu perak. Nanti saya beli di Alfamart depan. Nggak bakal meledak. Paling cuma mati lampu terus kita digigit nyamuk."

Damar terdiam.

Kata-kata "dua puluh ribu perak" dan "Alfamart" adalah mantra dunia nyata yang terlalu konyol untuk skenario terorisme. Otak paranoidnya mengalami korsleting. Logika bom C4 tidak bisa bersatu dengan logika minimarket.

Wajah Damar perlahan terangkat dari leher Citra. Jarak wajah mereka hanya lima sentimeter. Citra bisa melihat pupil mata Damar yang masih liar ketakutan.

"Token...?" gumam Damar serak.

"Iya. Token. Bunyi itu artinya minta jajan. Bukan minta nyawa."

Mereka bertahan dalam posisi intim itu selama sepuluh detik. Hening. Hanya suara napas mereka berdua yang bersahutan.

"Permisi."

Suara ketiga muncul. Datar. Tanpa emosi. Seperti mesin ATM yang kehabisan uang.

Damar tersentak hebat. Dia menoleh cepat.

Raka Pradana berdiri menjulang di ujung kaki mereka. Dia memegang tablet, menatap tumpukan manusia di lantai itu dengan ekspresi bosan maksimal.

"Damar. Lepaskan Citra. Efisiensi posisi kalian nol persen. Dan secara visual, ini melanggar norma kesusilaan," kata Raka monoton.

Damar menoleh ke Raka, lalu kembali menatap Citra di bawah kukungan tubuhnya. Wajah gadis itu merah padam, rambutnya berantakan, kancing blazernya terbuka satu.

Raka mengetuk layar tabletnya.

*Tik. Tik.*

"Analisis audio spektrum. Suara itu berasal dari Smoke Detector tipe SD-90 di langit-langit. Indikator baterai Low Voltage."

Raka menurunkan tabletnya, menatap Damar dengan tatapan kasihan yang analitis.

"Bukan detonator. Bukan timer bom rakitan. Dan..." Raka melirik Citra sekilas. "...bukan meteran token PLN. Gedung ini punya gardu mandiri."

Realitas menampar wajah Damar. Keras.

Dia baru saja membanting karyawannya sendiri dan nyaris mematahkan tulang rusuk gadis itu hanya karena baterai detektor asap seharga sepuluh ribu perak.

Damar berguling menjauh secepat kilat, seolah tubuh Citra mendadak berubah menjadi bara api. Dia berdiri, terhuyung sedikit karena pusing akibat lonjakan adrenalin yang turun drastis.

Dia merapikan jasnya dengan gerakan kaku. Menarik kerah, meluruskan manset. Dia tidak berani menatap Citra. Wajahnya pucat, tapi rahangnya mengeras sampai urat lehernya menonjol.

Harga dirinya sebagai Sang Pelindung hancur lebur oleh baterai Alkaline.

Citra bangkit sambil meringis, memegangi pinggangnya.

"Aduh... encok saya kambuh. Bapak kalau mau meluk bilang-bilang dong, jangan main smackdown."

Damar berdeham keras. Dia memasang kembali topeng dinginnya.

"Kamu," Damar menunjuk Citra tanpa melihat wajahnya. Telunjuknya sedikit gemetar. "Jangan berdiri di blindspot koridor. Posisi itu taktisnya buruk. Kamu target empuk."

"Hah? Target siapa? Nyamuk demam berdarah?" Citra melongo.

"Target... situasi," jawab Damar asal.

Dia tidak bisa minta maaf. Kata maaf tidak ada dalam kamus pertahanan dirinya. Mengakui kesalahan berarti menunjukkan kelemahan. Dan di dunia Damar, kelemahan berarti kematian.

Damar berbalik badan. Dia berjalan kaku menuju kamarnya seperti orang dikejar setan rasa malu.

*BLAM!*

Pintu kamar Damar terbanting keras. Suara kunci digital terdengar beruntun mengunci rapat.

Citra masih berdiri di tengah koridor, menatap pintu tertutup itu dengan mulut terbuka.

"Dih? Udah ngebanting, nggak minta maaf, malah nyalahin posisi berdiri. Dasar cowok freak," gerutu Citra.

Raka melangkah mendekat. Dia tidak membantu Citra berdiri. Dia hanya mengarahkan sensor inframerah di tabletnya ke wajah Citra.

"Detak jantung 130 bpm. Pupil dilatasi. Saran saya, minum air hangat 200 mililiter. Itu akan menurunkan tensi vaskular."

Setelah memberikan diagnosis medis gratis yang tidak diminta, Raka berbalik dan pergi dengan tenang. Meninggalkan Citra sendirian di koridor yang masih berbunyi *Tit... Tit...*

Citra menghela napas panjang. Matanya tiba-tiba menangkap sesuatu di lantai. Tepat di tempat Damar tadi bangkit berdiri.

Citra memungutnya.

Sebuah bungkus permen karet. Merek lokal "Yosan".

Kertas pembungkusnya sudah lecek parah, seolah sering diremas-remas di dalam saku sebagai pelampiasan stres, disetrika jari sampai rapi, lalu diremas lagi.

Citra menatap bungkus perak kusam itu, lalu menatap pintu kamar Damar.

"Orang yang takut bom, punya saldo miliaran, tapi ngantongin sampah permen karet SD buat jimat penenang?"

Citra menggelengkan kepala. Dia memasukkan sampah permen itu ke saku blazernya sendiri. Entah kenapa, bayangan Damar yang gemetar ketakutan tadi tidak lagi terlihat menakutkan.

Hanya menyedihkan.

Ternyata di balik jas mahal dan sikap sok jagoan itu, ada anak kecil yang masih ketakutan gelap.

"Dasar orang-orang kaya yang rusak," gumam Citra pelan.

Dia berjalan terpincang-pincang menuju dapur untuk mencari tangga lipat. Malam ini panjang. Dan pinggangnya butuh koyo cabai secepatnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   11. Hantu Oranye di Balik Lensa Termal

    Kaki bangku kayu itu menghantam lantai marmer dengan kasar. Citra Melati tidak berteriak. Dia bukan tipe wanita di film horor yang menjerit histeris saat tahu ada pembunuh di dalam lemari.Dia adalah wanita Petamburan yang terlatih menghadapi debt collector.Dia naik ke atas bangku. Tangan kanannya mencengkeram jeruji ventilasi AC sentral di langit-langit dapur. Wajahnya didekatkan ke celah-celah besi berdebu itu.Matanya menyipit.Di sana, tersembunyi di antara kegelapan saluran udara, ada benda kecil berbentuk bulat. Lensa. Kecil. Hitam. Dengan satu titik merah redup yang berkedip pelan.*Bip.*"Brengsek," desis Citra.Kalkulator di kepalanya langsung menyala. Pasal 31 UU ITE. Intersepsi ilegal. Denda delapan ratus juta rupiah. Angka yang seksi. Tapi lawannya adalah Damar Langit, orang yang punya tim legal sekelas monster. Menuntut Damar sama saja bunuh diri finansial.Citra turun dari bangku. Dia tidak akan menuntut lewat jalur hukum. Dia akan menuntut lewat jalur premanisme verbal

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   10. Serbuk Kebahagiaan di Dapur Elit

    "Satu juta setengah."Citra Melati menatap nanar seekor Lobster Thermidor yang masih mengepul di atas troli perak. Otaknya bukan melihat makanan mewah, tapi token listrik 900 VA yang bisa menyala nonstop selama enam bulan.Pramusaji hendak menarik kembali piring itu. "Maaf, Mbak. Tuan Bastian menolak makan. Sesuai SOP, makanan lewat 30 menit harus dibuang."*Dibuang?*Insting kemiskinan Citra menjerit. Dia hampir saja minta dibungkus untuk dipanaskan di magic com kosan, tapi suara sirine memekakkan telinga memotong niatnya.*NGIIING... NGIIING...*Bukan alarm kebakaran. Itu suara rekaman Bastian Wijaya yang berteriak "HELP! EMERGENCY!" lewat interkom. Citra memijat pelipis. Dia meninggalkan lobster tragis itu dan berjalan cepat ke ruang tengah.***Bastian tergeletak dramatis di sofa kulit Chesterfield. Satu tangan terkulai ke lantai, wajah dibenamkan ke bantal bulu angsa. Di meja kopi, botol kosong Artisan Cold Brew - Extra Strong menjadi saksi bisu kebodohan manusia."Citra..." rint

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   9. Daki Miliarder

    Pukul 23.45.Aroma lavender mahal dari *diffuser* otomatis di lorong Penthouse malam ini kalah telak. Ia mati kutu, tercekik oleh bau yang jauh lebih agresif, pedas, dan merakyat.Di pantry yang sunyi, Citra Melati sedang melakukan operasi penyelamatan diri sendiri. Dia berdiri di depan pantulan kaca oven *built-in* yang gelap, meringis sambil mengoleskan gel lengket berwarna putih keruh ke leher.Bau methyl salicylate dosis tinggi langsung menguar. Baunya tajam, menusuk hidung, jenis aroma yang biasa tercium di bus malam antar-provinsi atau ruang tunggu tukang urut patah tulang."Gila. Bahu rasanya kayak abis manggul beras raskin lima karung," desis Citra pelan.Ini oleh-oleh dari insiden tiga hari lalu. Damar Langit dan teknik tackle anti-terornya yang berlebihan itu sukses membuat otot trapezius Citra meradang. Citra melirik pot kaca kecil di tangannya. Isinya tinggal setengah.*Tit. Tit. Tit.*Kalkulator di kepalanya berbunyi. Harga balsam dua belas ribu. Kalau dia beli baru sebel

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   8. Anomali Detak Jantung

    Dua jam pasca insiden kamar mandi, atmosfer di meja makan Penthouse Arcadia terasa lebih mencekik daripada tagihan listrik yang menunggak tiga bulan.Pukul 08.00 pagi.Citra berdiri kaku di samping troli makanan. Dia sudah berganti pakaian dengan seragam kerjanya, blazer hitam yang mulai tipis di bagian siku dan rok span yang membatasi gerak.Matanya fokus pada teko jus jeruk, berusaha mengabaikan empat pasang mata empat pria berduit di depannya.*Ting.*Suara sendok perak beradu dengan piring porselen terdengar terlalu nyaring.Elang Soerya duduk di ujung meja. Dia memotong croissant dengan presisi dokter bedah. Gerakannya lambat, anggun, dan penuh intimidasi.Di sebelahnya, Bastian Wijaya sibuk memotret mangkuk oatmeal dari lima sudut berbeda. Flash ponselnya menyambar-nyambar, tapi tidak ada yang menegur.Damar Langit duduk membelakangi dinding. Dia makan roti bakar dengan kecepatan militer, matanya terus memindai pintu masuk seolah pelayan yang membawa kopi mungkin adalah pembunuh

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   7. Kalkulasi Harga Diri di Bawah Nol Derajat

    Pukul 05.45 pagi.*Sret.*Lembar koyo kedua menempel sempurna di pinggang kiri. Panasnya langsung menjalar, seolah ada setrika uap mini yang ditempelkan paksa ke kulit.Citra meringis. Pinggangnya rasanya mau patah. Ini semua gara-gara aksi heroik Damar Langit semalam yang membantingnya ke lantai marmer."Remuk. Badan gue resmi jadi kerupuk seblak," keluhnya.Masalah bertambah karena kamar mandinya sendiri sedang mogok kerja. Saluran air mampet, menciptakan kolam limbah setinggi mata kaki.Teknisi bilang suku cadangnya harus impor dari Italia. Omong kosong. Itu cuma akal-akalan manajemen gedung biar kelihatan elit, pikir Citra.Sekarang opsinya hanya satu: Numpang mandi.Unit Elang? Mustahil. Pasti sedang ritual mandi susu. Bastian? Zona bahaya, baru tidur jam tiga pagi. Damar? Masuk ke sana sama saja setor nyawa.Target terkunci: Unit 02. Raka Pradana.Menurut basis data di kepala Citra, CEO kaku itu punya jadwal lari pagi presisi militer selama empat puluh lima menit. Kamarnya pasti

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   6. Pelukan di Titik Nol

    Hantaman itu datang tanpa permisi. Bahu kekar sekeras beton menabrak perut Citra dengan presisi militer.*BUGH!*Dunia Citra berputar seratus delapan puluh derajat. Punggungnya menghantam lantai marmer dingin. Napasnya dipaksa keluar dari paru-paru. Belum sempat dia mengaduh, beban seberat delapan puluh kilogram menimpanya.Damar Langit tidak sekadar menjatuhkannya. Dia melakukan teknik perisai hidup.Pria itu menindih tubuh Citra, menekan kepala gadis itu agar menempel ke lantai dengan telapak tangannya yang besar. Lutut Damar mengunci di antara kedua paha Citra. Dada bidangnya menekan dada Citra sampai gadis itu sesak napas.Wajah Damar terbenam di ceruk leher Citra. Napasnya panas dan memburu gila-gilaan."Pak! Lepasin! Berat!" Citra meronta panik. Tangannya memukul punggung jas mahal itu. "Bapak gila ya?!""DIAM!"Bentakan itu bukan nada marah. Itu suara putus asa. Suara orang yang sedang menawar nyawa pada malaikat maut."TIARAP! JANGAN BERGERAK! PECAHANNYA MENYEBAR!"Tangan Dama

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status