MasukHantaman itu datang tanpa permisi. Bahu kekar sekeras beton menabrak perut Citra dengan presisi militer.
*BUGH!*
Dunia Citra berputar seratus delapan puluh derajat. Punggungnya menghantam lantai marmer dingin. Napasnya dipaksa keluar dari paru-paru. Belum sempat dia mengaduh, beban seberat delapan puluh kilogram menimpanya.
Damar Langit tidak sekadar menjatuhkannya. Dia melakukan teknik perisai hidup.
Pria itu menindih tubuh Citra, menekan kepala gadis itu agar menempel ke lantai dengan telapak tangannya yang besar. Lutut Damar mengunci di antara kedua paha Citra. Dada bidangnya menekan dada Citra sampai gadis itu sesak napas.
Wajah Damar terbenam di ceruk leher Citra. Napasnya panas dan memburu gila-gilaan.
"Pak! Lepasin! Berat!" Citra meronta panik. Tangannya memukul punggung jas mahal itu. "Bapak gila ya?!"
"DIAM!"
Bentakan itu bukan nada marah. Itu suara putus asa. Suara orang yang sedang menawar nyawa pada malaikat maut.
"TIARAP! JANGAN BERGERAK! PECAHANNYA MENYEBAR!"
Tangan Damar mencengkeram belakang kepala Citra lebih kuat, memaksanya mencium debu lantai. Tubuh pria itu menegang kaku seperti batu, menunggu ledakan yang akan mencabik punggungnya.
Citra berhenti meronta.
Bukan karena patuh. Tapi karena dia merasakan sesuatu yang aneh di balik himpitan tubuh maskulin itu.
Tubuh Damar gemetar.
Pria yang biasanya menatap orang seperti ingin membunuh itu gemetar hebat. Jantungnya berdetak begitu kencang sampai Citra bisa merasakannya menembus lapisan jas tebal.
*Dug. Dug. Dug.*
Irama jantung itu kacau balau. Ini bukan serangan seksual. Ini serangan panik.
Citra diam. Matanya menatap langit-langit koridor yang miring dari sudut pandangnya. Suara *Tit... Tit...* itu masih terdengar konstan dari arah dapur.
Damar sedang melindungi Citra dari sesuatu yang hanya ada di dalam kepalanya sendiri. Dia menjadikan punggungnya tameng daging untuk ledakan imajiner.
Insting Citra menyala. Dia pernah menghadapi ibu-ibu histeris karena panci gosong yang dikira kebakaran. Polanya sama: mereka terjebak ilusi ketakutan.
Perlahan, tangan Citra bergerak naik. Dia menepuk punggung Damar. Pelan. Berirama.
*Puk. Puk. Puk.*
Persis seperti cara ibunya menepuk pantatnya dulu supaya tidur saat hujan petir.
"Pak Damar," panggil Citra. Suaranya diubah menjadi nada rendah yang biasa dia pakai untuk menawar harga cabai. Tenang dan membumi.
"Tunduk! Jangan lihat cahayanya!" racau Damar, suaranya tercekat.
"Nggak ada cahaya, Pak. Nggak ada pecahan. Itu bukan bom," bisik Citra tepat di telinga Damar.
Tangan kasarnya mengusap punggung jas Damar, mencoba menyalurkan rasa tenang. Aroma tubuh pria itu, campuran musk mahal, tembakau, dan keringat dingin menusuk hidung Citra.
"Itu cuma token listrik yang habis. Meterannya minta diisi pulsa. Dia laper."
"Ti... dak..." Napas Damar tersengal.
"Iya, Pak. Cuma butuh dua puluh ribu perak. Nanti saya beli di Alfamart depan. Nggak bakal meledak. Paling cuma mati lampu terus kita digigit nyamuk."
Damar terdiam.
Kata-kata "dua puluh ribu perak" dan "Alfamart" adalah mantra dunia nyata yang terlalu konyol untuk skenario terorisme. Otak paranoidnya mengalami korsleting. Logika bom C4 tidak bisa bersatu dengan logika minimarket.
Wajah Damar perlahan terangkat dari leher Citra. Jarak wajah mereka hanya lima sentimeter. Citra bisa melihat pupil mata Damar yang masih liar ketakutan.
"Token...?" gumam Damar serak.
"Iya. Token. Bunyi itu artinya minta jajan. Bukan minta nyawa."
Mereka bertahan dalam posisi intim itu selama sepuluh detik. Hening. Hanya suara napas mereka berdua yang bersahutan.
"Permisi."
Suara ketiga muncul. Datar. Tanpa emosi. Seperti mesin ATM yang kehabisan uang.
Damar tersentak hebat. Dia menoleh cepat.
Raka Pradana berdiri menjulang di ujung kaki mereka. Dia memegang tablet, menatap tumpukan manusia di lantai itu dengan ekspresi bosan maksimal.
"Damar. Lepaskan Citra. Efisiensi posisi kalian nol persen. Dan secara visual, ini melanggar norma kesusilaan," kata Raka monoton.
Damar menoleh ke Raka, lalu kembali menatap Citra di bawah kukungan tubuhnya. Wajah gadis itu merah padam, rambutnya berantakan, kancing blazernya terbuka satu.
Raka mengetuk layar tabletnya.
*Tik. Tik.*
"Analisis audio spektrum. Suara itu berasal dari Smoke Detector tipe SD-90 di langit-langit. Indikator baterai Low Voltage."
Raka menurunkan tabletnya, menatap Damar dengan tatapan kasihan yang analitis.
"Bukan detonator. Bukan timer bom rakitan. Dan..." Raka melirik Citra sekilas. "...bukan meteran token PLN. Gedung ini punya gardu mandiri."
Realitas menampar wajah Damar. Keras.
Dia baru saja membanting karyawannya sendiri dan nyaris mematahkan tulang rusuk gadis itu hanya karena baterai detektor asap seharga sepuluh ribu perak.
Damar berguling menjauh secepat kilat, seolah tubuh Citra mendadak berubah menjadi bara api. Dia berdiri, terhuyung sedikit karena pusing akibat lonjakan adrenalin yang turun drastis.
Dia merapikan jasnya dengan gerakan kaku. Menarik kerah, meluruskan manset. Dia tidak berani menatap Citra. Wajahnya pucat, tapi rahangnya mengeras sampai urat lehernya menonjol.
Harga dirinya sebagai Sang Pelindung hancur lebur oleh baterai Alkaline.
Citra bangkit sambil meringis, memegangi pinggangnya.
"Aduh... encok saya kambuh. Bapak kalau mau meluk bilang-bilang dong, jangan main smackdown."
Damar berdeham keras. Dia memasang kembali topeng dinginnya.
"Kamu," Damar menunjuk Citra tanpa melihat wajahnya. Telunjuknya sedikit gemetar. "Jangan berdiri di blindspot koridor. Posisi itu taktisnya buruk. Kamu target empuk."
"Hah? Target siapa? Nyamuk demam berdarah?" Citra melongo.
"Target... situasi," jawab Damar asal.
Dia tidak bisa minta maaf. Kata maaf tidak ada dalam kamus pertahanan dirinya. Mengakui kesalahan berarti menunjukkan kelemahan. Dan di dunia Damar, kelemahan berarti kematian.
Damar berbalik badan. Dia berjalan kaku menuju kamarnya seperti orang dikejar setan rasa malu.
*BLAM!*
Pintu kamar Damar terbanting keras. Suara kunci digital terdengar beruntun mengunci rapat.
Citra masih berdiri di tengah koridor, menatap pintu tertutup itu dengan mulut terbuka.
"Dih? Udah ngebanting, nggak minta maaf, malah nyalahin posisi berdiri. Dasar cowok freak," gerutu Citra.
Raka melangkah mendekat. Dia tidak membantu Citra berdiri. Dia hanya mengarahkan sensor inframerah di tabletnya ke wajah Citra.
"Detak jantung 130 bpm. Pupil dilatasi. Saran saya, minum air hangat 200 mililiter. Itu akan menurunkan tensi vaskular."
Setelah memberikan diagnosis medis gratis yang tidak diminta, Raka berbalik dan pergi dengan tenang. Meninggalkan Citra sendirian di koridor yang masih berbunyi *Tit... Tit...*
Citra menghela napas panjang. Matanya tiba-tiba menangkap sesuatu di lantai. Tepat di tempat Damar tadi bangkit berdiri.
Citra memungutnya.
Sebuah bungkus permen karet. Merek lokal "Yosan".
Kertas pembungkusnya sudah lecek parah, seolah sering diremas-remas di dalam saku sebagai pelampiasan stres, disetrika jari sampai rapi, lalu diremas lagi.
Citra menatap bungkus perak kusam itu, lalu menatap pintu kamar Damar.
"Orang yang takut bom, punya saldo miliaran, tapi ngantongin sampah permen karet SD buat jimat penenang?"
Citra menggelengkan kepala. Dia memasukkan sampah permen itu ke saku blazernya sendiri. Entah kenapa, bayangan Damar yang gemetar ketakutan tadi tidak lagi terlihat menakutkan.
Hanya menyedihkan.
Ternyata di balik jas mahal dan sikap sok jagoan itu, ada anak kecil yang masih ketakutan gelap.
"Dasar orang-orang kaya yang rusak," gumam Citra pelan.
Dia berjalan terpincang-pincang menuju dapur untuk mencari tangga lipat. Malam ini panjang. Dan pinggangnya butuh koyo cabai secepatnya.
Pukul 23.00 WIB. Waktu merayap lambat, seolah udara di dalam rumah petak itu telah berubah menjadi lem kental yang mencekik paru-paru.Citra Melati berjalan pelan. Lututnya kaku, matanya bengkak dan perih. Ia menyeret langkahnya menuju kamar tidur yang sempit, meninggalkan ruang tamu yang kini terasa seperti kuburan memori.Di bawah pendar lampu bohlam lima watt yang menguning, Citra duduk bersila di atas kasur busanya yang menipis. Tangannya yang gemetar merogoh kolong bantal, menarik keluar sebuah buku tulis bersampul batik pudar dan sebatang pulpen promosi yang tintanya sering macet.Ini adalah jangkarnya. Buku kas.Selama bertahun-tahun, buku inilah yang menyelamatkan kewarasannya. Setiap kali dunia terasa runtuh, Citra akan mengonversinya menjadi angka. Utang, cicilan, harga beras, biaya rumah sakit Ibu—semuanya bisa dihitung. Semuanya punya solusi matematis. Jika ada masalah, buatlah tabe
Pukul 23.00 WIB. Waktu merayap lambat, seolah udara di dalam rumah petak itu telah berubah menjadi lem kental yang mencekik paru-paru.Citra Melati berjalan pelan. Lututnya kaku, matanya bengkak dan perih. Ia menyeret langkahnya menuju kamar tidur yang sempit, meninggalkan ruang tamu yang kini terasa seperti kuburan memori.Di bawah pendar lampu bohlam lima watt yang menguning, Citra duduk bersila di atas kasur busanya yang menipis. Tangannya yang gemetar merogoh kolong bantal, menarik keluar sebuah buku tulis bersampul batik pudar dan sebatang pulpen promosi yang tintanya sering macet.Ini adalah jangkarnya. Buku kas.Selama bertahun-tahun, buku inilah yang menyelamatkan kewarasannya. Setiap kali dunia terasa runtuh, Citra akan mengonversinya menjadi angka. Utang, cicilan, harga beras, biaya rumah sakit Ibu—semuanya bisa dihitung. Semuanya punya solusi matematis. Jika ada masalah, buatlah tabe
Deru mesin-mesin bertenaga kuda besar itu terdengar seperti geraman hewan buas yang dipaksa mundur. Satu per satu, roda-roda lebar dari Rolls Royce, Mercedes-Benz, dan Range Rover menggilas aspal retak Petamburan untuk terakhir kalinya.Jeep Rubicon hitam doff milik Damar Langit menjadi penutup barisan, bergerak lambat seolah enggan meninggalkan medan pertempuran.Warga yang biasanya riuh rendah kini membisu. Pak RT yang sedang memegang sapu lidi berhenti bergerak di pinggir jalan. Ibu-ibu yang biasa bergosip di warung sayur hanya menatap kosong dari kejauhan.Ada beban kasat mata yang menggantung di udara pagi yang mulai terik. Atmosfer perpisahan itu terasa sangat berat, menekan dada siapa pun yang melihatnya.Citra Melati berdiri mematung di teras rumahnya. Tangannya mencengkeram tiang kayu keropos seolah itu satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak ikut terseret pergi. Matanya mengunci lam
Pukul 08.00 WIB. Udara di dalam "Posko Cinta" terasa hampa.Biasanya, jam segini aroma bawang putih yang ditumis atau wangi kopi tubruk sudah menginvasi ruangan kaca itu, bertarung dengan dinginnya AC sentral. Pagi ini, tidak ada denting spatula yang beradu dengan wajan. Tidak ada desis air mendidih.Elang, Raka, Bastian, dan Damar duduk mengelilingi meja makan lipat yang kosong melompong. Mereka saling lirik dalam diam. Rutinitas pagi yang biasanya dikendalikan oleh satu perempuan, kini mati suri. Ada ketegangan yang menyesakkan yang membuat napas terasa berat.Sreeet.Pintu kaca bergeser. Citra Melati melangkah masuk.Dia tidak mengenakan sisa kemewahan semalam. Tidak ada gaun sutra merah atau riasan elegan. Citra sengaja membungkus dirinya dengan daster batik paling kusam yang warnanya sudah pudar menjadi abu-abu pucat. Wajahnya berminyak, tanpa bedak. Matanya bengkak parah, m
Kain sutra merah itu meluncur jatuh, membentur lantai yang dingin dengan suara desir yang nyaris tak terdengar.Citra Melati berdiri mematung di depan cermin lemari plastik yang retak membelah dua pantulan wajahnya. Di bawah kakinya, gaun seharga puluhan juta itu teronggok seperti genangan darah yang membeku, menciptakan kontras yang begitu mencolok dengan dinding kamarnya yang mengelupas.Tangannya yang gemetar meraih daster batik lusuh dari gantungan kawat. Ia memakainya cepat-cepat, mencari perlindungan dari kain katun pudar yang selama bertahun-tahun menjadi zirah kemiskinannya.Tapi rasanya salah.Daster itu tidak lagi terasa seperti pelukan rumah. Kainnya terasa ganjil di kulitnya, seolah ia baru saja mengenakan kostum badut yang ukurannya mulai menyempit. Ia telah berubah, dan daster ini tidak lagi muat untuk menampung versi dirinya yang sekarang.Citra mengangkat ba
Kain sutra merah itu jatuh memeluk tubuh Citra Melati seperti aliran lava yang membeku; panas, berbahaya, dan menuntut perhatian mutlak. Di depan cermin lemari plastik yang retak di sudut, Citra menatap pantulan dirinya.Ia nyaris tidak mengenali sosok itu.Rambutnya digelung longgar, menyisakan anak rambut yang jatuh membingkai leher jenjangnya. Gaun itu mengekspos punggungnya dengan berani, sementara belahan roknya yang tinggi seolah menantang siapa pun untuk tidak menahan napas."Gila," bisik Citra. "Ini bukan baju kencan. Ini baju perang."Tok. Tok.Ketukan di pintu depan terdengar sopan namun tegas. Citra menarik napas panjang, mengenakan sepatu Manolo Blahnik yang haknya setajam silet, lalu melangkah keluar.Di teras rumah yang diterangi lampu bohlam kuning lima watt, Elang Soerya berdiri membelakangi pintu. Ia menatap langit malam Jakarta yang keruh. P







