INICIAR SESIÓNBeberapa hari kemudian berlalu. Hubungan Bella dan Shin berjalan seperti biasa, hanya saja kini ada beberapa momen intim yang mulai mewarnai kebersamaan mereka.Saat jam pulang sekolah tiba, ponsel Bella bergetar. Sebuah pesan dari Shin mengabarkan bahwa pria itu sudah menunggunya di depan gerbang sekolah TK. Malam ini, keduanya memang berencana untuk makan siang dan makan malam bersama di luar. Ekspresi wajah Bella saat membalas pesan itu tampak biasa saja, namun tangannya bergerak jauh lebih cepat dari biasanya saat membereskan barang-barang di atas meja."Sampai jumpa, Miss Clara," pamit Bella kepada rekan sesama gurunya."Sampai jumpa juga, Miss Bella. Hati-hati di jalan," balas Miss Clara ramah.Begitu melangkah keluar gedung, Bella langsung bisa melihat sosok Shin yang sedang bersandar santai di bawah pohon yang cukup rindang. Pria itu tampak sibuk dengan ponsel di tangannya. Bella mempercepat langkah kakinya, namun panggilan nyaring dari arah belakang mendadak membuat seluruh t
Di sebuah tempat yang cukup tersembunyi dengan penerangan yang minim, ruangan yang terhitung luas itu mendadak terasa sempit. Lebih dari lima puluh orang berkumpul di sana untuk mendiskusikan sesuatu. Suara mereka terdengar pelan, menandakan bahwa pembicaraan ini sangat serius dan rahasia. Meski berada dalam cahaya yang remang-remang, guratan kemarahan tetap terlihat jelas di wajah pria-pria berbadan kekar dan garang yang mendominasi ruangan tersebut."Sialan! Ini semua gara-gara Shin Vitali! Kenapa dia harus menghancurkan kelompok kita?" umpat Pria A dengan mengepalkan tangan. "Kalau memang ingin menghukum, dia tidak perlu sampai meratakan markas kita!""Kita sudah seperti tikus got sekarang, hanya bisa bersembunyi di tempat terpencil dan sempit seperti ini," timpal Pria B dengan nada frustrasi. "Setiap kali keluar, kita harus ekstra hati-hati agar tidak berpapasan dengan kelompok lain. Apakah kita akan terus hidup seperti ini?""Kita harus memikirkan cara untuk membalas dendam," sah
Bella mengira dirinya akan diculik lagi. Ia sampai menahan napas saat tubuhnya dengan begitu mudah dibawa masuk ke dalam kegelapan gang. Namun setelah itu, tidak terjadi apa-apa. Tidak ada serangan lanjutan. Ia justru bisa mendengar embusan napas berat tepat di belakangnya. Detik berikutnya, tubuh Bella dilingkupi oleh sebuah pelukan erat dan aroma parfum yang sudah sangat tidak asing lagi bagi penciumannya."Shin," panggil Bella, langsung mengenali sosok di belakangnya."Hm," jawab Shin singkat sambil semakin mengeratkan pelukan lengannya. Pria itu kemudian kembali bersuara, "Apakah kau terkejut?"Bella bisa mendengar ada nada jahil yang terselip dalam intonasi suara pria itu. Tangannya bergerak menepuk kesal tangan Shin yang melingkar kuat di pinggangnya. "Kau sengaja melakukannya, kan?"Shin terkekeh rendah. Kepalanya miring ke samping dan langsung mencuri satu ciuman cepat di pipi Bella. Hembusan napas hangatnya terdengar sangat jelas di telinga Bella hingga membuat gadis itu mera
Bella mengira dirinya akan diculik lagi. Ia sampai menahan napas saat tubuhnya dengan begitu mudah dibawa masuk ke dalam kegelapan gang. Namun setelah itu, tidak terjadi apa-apa. Tidak ada serangan lanjutan. Ia justru bisa mendengar embusan napas berat tepat di belakangnya. Detik berikutnya, tubuh Bella dilingkupi oleh sebuah pelukan erat dan aroma parfum yang sudah sangat tidak asing lagi bagi penciumannya."Shin," panggil Bella, langsung mengenali sosok di belakangnya."Hm," jawab Shin singkat sambil semakin mengeratkan pelukan lengannya. Pria itu kemudian kembali bersuara, "Apakah kau terkejut?"Bella bisa mendengar ada nada jahil yang terselip dalam intonasi suara pria itu. Tangannya bergerak menepuk kesal tangan Shin yang melingkar kuat di pinggangnya. "Kau sengaja melakukannya, kan?"Shin terkekeh rendah. Kepalanya miring ke samping dan langsung mencuri satu ciuman cepat di pipi Bella. Hembusan napas hangatnya terdengar sangat jelas di telinga Bella hingga membuat gadis itu mera
Tiga hari setelah Shin pergi ke luar kota, Bella akhirnya diizinkan untuk tinggal kembali di rumah kecilnya dan mengajar di TK. Giovanni terpaksa memberikan izin karena Bella terus membujuknya, ditambah lagi situasi di dalam keluarga DeLuca saat ini memang sedang tidak memungkinkan. Secara rahasia, Bella kemudian diantar oleh kepala pengawal menuju Desa San Felice.Tanpa sepengetahuan Bella, ayahnya menugaskan seseorang untuk menjaganya dari jauh. Tugas pengawasan tersebut secara kebetulan jatuh ke tangan Rico. Perintah ini sama sekali tidak melibatkan campur tangan Shin. Namun, begitu Rico mengetahui tentang tugas rahasia tersebut, ia langsung memberi tahu Shin, dan pria itu tentu saja segera mengiyakannya.Kali ini, Rico tidak menyewa tempat yang dulu ia jadikan sebagai pos pengintaian. Karena tugasnya sekarang adalah mengawasi Bella selama 24 jam penuh dan memastikan keselamatannya, Rico memilih menyewa sebuah kamar di area rooftop. Dari sudut tersebut, ia mendapatkan pemandangan y
Mendengar nama itu, Chiara dan Adrian membeku karena tidak percaya. Keduanya saling melempar tatapan penuh tanya, mencoba mencerna informasi yang baru saja mereka dengar."Apakah dia... Luca Vitali yang sama dengan yang kita kenal? Ataukah ada orang lain yang memiliki nama serupa?" tanya Adrian dengan nada ragu.Bella mengangguk. "Orang yang menjemputku tadi memang Luca Vitali.""Apa sebenarnya hubungan kalian yang sesungguhnya?" tanya Adrian lagi, kali ini dengan raut wajah yang lebih serius."Kami... teman dekat," jawab Bella, sempat menjeda kalimatnya sejenak. "Sebenarnya, dia pernah mengutarakan perasaannya kepadaku. Namun, aku masih membutuhkan waktu untuk memikirkan semuanya.""Bella, tidak baik membiarkan seorang pria yang sudah menyatakan cinta kepadamu menggantung tanpa penjelasan," timpal Chiara, memberikan nasihat sebagai seorang sahabat.Bella menatap Chiara lekat-lekat. "Aku tahu. Menurutmu, aku harus menjawab apa?"Mendengar pertanyaan itu, Chiara mendadak bungkam. Adria
Bella tidak terlihat terkejut. Justru, ia merasa lega karena langsung bertemu dengan pemilik kafe yang katanya mengetahui banyak hal tentang Kota Blackstone.“Karena kamu adalah pemilik kafe ini, bisakah kamu memberikan informasi yang berguna untukku?” tanya Bella.“Tentu saja, cantik. Aku tidak pe
Bella memperhatikan para karyawan yang berlalu-lalang di lobi perusahaan Nexus Global. Mereka tampak rapi dan elegan, bahkan pakaian yang dikenakan terlihat modis dan penuh percaya diri.Penampilan mereka sangat berbeda dengan Bella yang tampak sederhana, meskipun tetap rapi dan anggun. Tidak ada y
“Aku mendengar soal apa yang terjadi di wilayah timur kota. Kupikir orang-orang yang melakukan penyerangan ini benar-benar gila. Kalian tahu? Mereka juga menyerang mobil yang membawa tenaga medis yang dikirim untuk mengobati orang-orang terluka di sana.”Adrian tampak frustrasi, terlihat jelas dari
Steve melihat jam di dashboard dan langsung panik. Sudah jam empat sore, dan ia belum menjemput Alan.Pikiran Steve sedang bercabang ke mana-mana saat ini, memikirkan ayahnya yang berada di penjara, ibunya yang pingsan di rumah, dan putranya yang belum ia jemput di sekolah.Saat melihat gerbang sek







