Home / Mafia / Nona Incaran Ketua Mafia / Bab 99 Koki Pribadi.

Share

Bab 99 Koki Pribadi.

Author: SanASya
last update publish date: 2026-04-16 19:24:19

Memasuki musim hujan, jalan-jalan di Kota Whitesand sering basah. Udara terasa sejuk dan dingin, orang-orang berlalu lalang dengan payung di tangan. Pemandangan yang hampir terlihat setiap hari.

Luca baru saja selesai melakukan pertemuan dengan klien di sebuah restoran. Saat ini, ia sedang membalas pesan dan email dari klien lain sembari menikmati kopi hangat. Ia duduk menunggu karena setengah jam lagi harus pergi ke salah satu anak perusahaan.

Di jarak dua meja darinya, laki-laki dan perempuan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 181

    Bella dan teman-temannya, termasuk Luca, kini berdiri di hadapan banyak anak-anak yang masih duduk rapi di tempat masing-masing. Manik mata anak-anak itu menatap penuh rasa penasaran pada barisan orang dewasa di depan mereka.Tak lama kemudian, Luca menggeser langkahnya mendekati Bella. "Aku tidak bisa berinteraksi baik dengan anak-anak," bisik Luca dengan suara beratnya yang pelan. "Jadi, aku percayakan semua hadiah-hadiah ini kepada Nona Bella untuk dibagikan secara merata. Tidak perlu ada kata-kata bijak yang disampaikan kepadaku."Bella refleks mundur satu langkah karena posisi Luca berdiri terlampau dekat dengannya. Dengan senyum formal yang dipaksakan, ia mengiyakan. "Baiklah, Tuan Luca."Setelah itu, Bella mengalihkan pandangannya menatap anak-anak. Suaranya terdengar sangat lembut, nadanya tenang, dan setiap untaian katanya terdengar jelas saat ia mulai berbicara."Anak-anak... Apakah kalian senang dengan hadiah-hadiah hari ini?" tanya Bel

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 180 Membawa banyak hadiah.

    Begitu Bella melangkah keluar ruangan, sosok tegap dan tinggi pria itu tampak sedang berdiri membelakanginya. Ada suatu perasaan berkecamuk yang tidak bisa Bella jelaskan saat melihatnya kembali setelah sekian lama, dua minggu ternyata terasa cukup lama bagi Bella. Banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan kepada pria itu. Saking banyaknya, Bella sampai bingung harus memulai dari mana ketika pria itu perlahan berbalik dan menatap tepat di manik matanya dalam-dalam.Sedetik kemudian Bella tersentak sadar. Ia menunduk sejenak untuk menata hatinya, lalu kembali mengangkat wajah dengan ekspresi yang sudah normal dan tenang. Di saat yang sama, ia mendengar suara langkah kaki beberapa orang yang mendekat dari arah belakang. Itu pasti Chiara dan teman-temannya yang penasaran dengan sosok misterius yang tiba-tiba mengirim hadiah."Astaga... banyak sekali barangnya!" bisik salah satu teman bangsawan Bella.Pertama-tama mereka tercengang melihat jumlah barang yang dikirim menggunakan bebe

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 179

    Keadaan di pusat medis hari itu terasa begitu tenang, seiring dengan kondisi semua pasien yang semakin hari semakin membaik. Sebagian tenda posko kesehatan yang sebelumnya dibangun di dekat gedung pusat medis kini bahkan sudah mulai dibongkar. Anak-anak di posko kesehatan juga sudah dalam keadaan sehat semua, dan rencananya hari ini mereka semua akan diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing.Maka dari itu, Bella mengajak teman-temannya yang lain, selain Chiara dan Adrian, untuk mengadakan sebuah acara kecil-kecilan. Mereka berkumpul untuk membagikan beberapa hadiah perpisahan kepada masing-masing anak."Lihat boneka ini, Kak Bella bagus sekali!" seru salah satu anak perempuan dengan riang sembari menunjukkan hadiahnya.Bella berlutut di depannya dan tersenyum lembut. "Syukurlah kalau kamu suka. Jaga baik-baik bonekanya, ya."Melihat senyum lebar dan mendengar tawa renyah anak-anak itu, perasaan Bella seketika menjadi hangat dan tenang. Untuk sejenak, ia bahkan berhasil melupakan ra

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 178 Menunggu.

    Sesampainya di restoran tempat mereka janji untuk bertemu, Bella langsung melihat Chiara yang melambaikan tangan ke arahnya. Chiara duduk di dekat jendela bersama Adrian yang juga sedang menatap kedatangannya. Bella tersenyum melihat kedua sahabatnya itu dan segera menghampiri meja mereka. Begitu Bella duduk, Chiara langsung memanggil pelayan restoran, dan mereka pun memesan makanan terlebih dahulu.Sembari menunggu pesanan datang, Chiara memperhatikan penampilan Bella dengan saksama. Temannya ini sangat jarang merias wajah untuk agenda kasual. Penampilan Bella saat ini justru terlihat sangat rapi dan menonjol, seolah-olah ia akan bertemu dengan seorang tamu khusus.Chiara yang penasaran langsung bertanya, "Kau ada acara khusus hari ini?"Bella menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak ada. Setelah membagikan hadiah nanti, aku hanya berencana untuk jalan-jalan santai di taman kota."Pelayan kemudian mengantarkan makanan mereka. Sambil menikmati sarapan, ketiganya mulai membicarakan

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 177 Persiapan.

    Keesokan harinya, Luina mengetuk pintu kamar Bella untuk membangunkan majikannya seperti biasa. Namun, begitu pintu kamar dibuka, pemandangan di dalam kamar sukses membuat pelayan muda itu terperanjat. Bella ternyata sudah bangun. Dan yang lebih mengejutkan, kamar tidur Bella kini tampak sangat berantakan.Di atas ranjang besarnya, menggunung sejumlah gaun dan pakaian aneka warna. Sementara itu, sang pemilik kamar sedang sibuk mengobrak-abrik isi lemari pakaiannya. Bella mengambil satu gaun, membawanya ke hadapan cermin seukuran badan, lalu mencocokkannya ke tubuh dengan raut wajah yang tampak tidak puas. Luina benar-benar tidak paham apa yang sedang dilakukan oleh Nona Mudanya sepagi ini."Nona, apakah Anda ada acara spesial hari ini?" tanya Luina sembari melangkah masuk dengan ragu.Bella menoleh dengan ekspresi bingung, lalu tampak berpikir sejenak. "Aku tidak ada acara spesial. Hanya kunjungan rutin ke posko anak-anak dan membagikan hadiah bersama Adrian dan Chiara."Luina mengang

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 176 Kunjungan.

    Pertarungan di dalam ruang pertemuan itu akhirnya berakhir dengan kemenangan telak Shin Vitali. Dua puluh lima pemimpin kelompok bawah yang mencoba keberuntungan untuk melukainya kini tumbang tak berdaya. Sebagian besar pingsan dengan tulang retak, sementara sisanya merintih kesakitan di atas lantai dan meja yang hancur berantakan.Tidak ada sorakan kemenangan di dalam ruangan itu. Suasana justru digantikan oleh keheningan yang mencekam akibat rasa ketakutan yang luar biasa dari para pemimpin kelompok lain. Meskipun faksi-faksi atas tidak ikut memprovokasi atau menyerang Shin, mereka tetap merasa sangat terintimidasi oleh keganasan bertarung tangan kosong yang baru saja diperlihatkan oleh pria itu."Luar biasa... bagaimana bisa dia bergerak secepat itu?" bisik salah satu bos mafia di barisan belakang dengan wajah pucat.Betapa kuat dan menakutkannya sosok Shin ini. Bahkan setelah melewati pertarungan panjang yang menguras energi dan penuh hantaman kekuatan fisik, Shin sama sekali tida

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 116 Tidak ada hubungan.

    Steve melihat interaksi Bella dan Luca yang tampak cukup dekat. Ia pun mulai merasa penasaran akan hubungan keduanya. Bahkan, senyum Bella saat berbicara dengan Luca terasa berbeda dibandingkan saat berbicara dengannya. Entah kenapa, perasaan cemburu itu muncul begitu saja, membuatnya tanpa sadar m

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 115 Bertemu lagi.

    Bella hendak mendekati Luca, tetapi ia ingat bahwa dirinya sedang bekerja. Ia kemudian mengambil ponsel dan mengirim pesan. Ponsel Luca berdenting dua kali.Bella: Kamu sudah pulang? Bukankah seharusnya kamu pulang lusa? Bella: Apa yang kamu lakukan di sini?Luca meliriknya sekilas, lalu tersenyum

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 114 Tiba-tiba datang.

    Bella mengangguk mengerti.“Ini pertama kalinya saya melihat Anda, dan Alan terlihat senang Anda menjemputnya,” ucapnya.Elia berkata dengan nada sedih, “sebelumnya saya memang tidak banyak bertemu dengan Alan, tapi sekarang... saya bahkan ingin terus melihat cucu saya.”“Saya senang mendengarnya.

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 113 Bertemu Nyonya Elia.

    Dalam perjalanan pulang, Giovanni DeLuca mendengarkan perkataan Roger Lombardi.“Oleh-oleh yang diberikan Tuan Barna memang berasal dari keluarganya yang berkunjung beberapa hari yang lalu. Tapi apa tujuannya memberikan barang ini, kami tidak tahu,” ujar Roger.Giovanni terdiam sejenak, lalu berkat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status