Mag-log inSedangkan Marco di seberang sana diam-diam mendengus. Jangan kira ia tidak tahu pemikiran Bianchi. Pria tua ini pasti akan mengorbankan dirinya dan kelompok Black Serpent ketika situasi sudah di ujung tanduk. Sudah kehilangan jabatan dan kekayaan masih saja sombong, apakah dia pikir dirinya adalah penjahat yang tanpa otak? Situasi sudah seperti ini, dirinya juga sudah pasti menjadi target buronan kelompok Red Line.'Ck! Mengingat penjahat kecil itu, apakah mungkin rencana ini juga ada campur tangan darinya? Tidak heran pasukan keamanan Kota Whitesand tahu bisnis rahasia miliknya yang tersembunyi...' Marco terus bergulat dengan pikirannya, mencurigai adanya keterlibatan Shin Vitali."Marco, sekarang aku sedang dalam perjalanan keluar kota. Kita bertemu di Kota Blackstone," suara Bianchi kembali menarik kesadaran Marco.Saat ini yang paling penting bagi Marco adalah menyingkirkan Bianchi. Ia harus segera memotong dahan yang sudah terkena api agar pohon besar miliknya tidak ikut terbakar
Siang itu di Kota Whitesand, sebuah ledakan berita terkait salah satu pejabat tinggi pemerintahan membuat seluruh kota geger seketika. Salah seorang reporter dari sebuah media terkenal bersama kameramennya meliput iring-iringan besar mobil pasukan keamanan kota yang ternyata menggeledah sebuah tempat panti asuhan milik Bianchi Vittorio. Dalam laporannya yang sangat bersemangat, ia menceritakan awal ia mengikuti iring-iringan itu dan hampir saja terseret dalam baku tembak antara personel pasukan keamanan kota dengan para penjaga di panti asuhan Vittorio Foundation.Untungnya, pasukan keamanan kota menyadari ada warga sipil dan terutama karena profesinya sebagai reporter, dia langsung dilindungi dan bahkan membantunya mencari posisi yang tepat dan aman untuk mengambil rekaman."Para penonton pasti bertanya-tanya, kenapa para penjaga panti asuhan ini melawan pasukan keamanan kota? Pertama-tama, saya ingin menyampaikan kekecewaan saya terhadap Ketua Dewan Kota terhormat Bianchi Vittorio,
Suster di seberang telepon menjelaskan dengan nada gemetar bahwa Chiara, staf departemen perpajakan, beserta anggota pasukan keamanan kota baru saja dilarikan ke ruang gawat darurat.Dalam perjalanan kembali ke markas pasukan keamanan kota, rombongan enam mobil yang ditumpangi Chiara, pasukan keamanan kota dan staff departemen perpajakan beserta dua mobil yang membawa barang bukti dari perusahaan makanan instan Bianchi mengalami kecelakaan yang sangat parah. Saat iring-iringan itu melewati jalanan yang di salah satu sisinya terdapat aliran sungai besar, sebuah mobil dari arah berlawanan tiba-tiba hilang kendali. Mobil paling depan dalam rombongan menabrak kendaraan tersebut hingga menyebabkan kecelakaan beruntun yang tidak terelakkan.Hantaman keras itu memang tidak sampai menyebabkan adanya korban jiwa, namun korban luka-luka berjatuhan. Kondisi terparah dialami oleh mobil pembawa barang bukti yang terperosok dan jatuh tenggelam ke dalam sungai. Karena air sungai cukup dalam, bagian
Di kediaman DeLuca, Bella sedang duduk tidak tenang dengan diliputi perasaan yang waswas dan khawatir. Ruang keluarga yang luas itu terasa sunyi, namun isi kepala Bella dipenuhi oleh kecemasan yang kian memuncak. Baru saja ia menerima panggilan darurat dari paman Sergio, yang membawa kabar buruk mengenai situasi di kantor pemerintahan pusat.Sergio memberitahu bahwa ayahnya, Giovanni DeLuca, baru saja dijatuhi hukuman dinonaktifkan sementara dari jabatannya sebagai Walikota Whitesand. Penonaktifan itu dipicu oleh tuduhan berat yang dilayangkan oleh Bianchi Vittorio di depan sidang dewan, yang menuduh Giovanni melakukan manipulasi dana dan menjalin kolusi rahasia dengan kelompok mafia Blackstone.Namun, karena di saat yang bersamaan Bianchi sendiri juga sedang menghadapi serangan balik berupa tuduhan penggelapan pajak dari Departemen Perpajakan, serta berkas tuduhannya terhadap Giovanni masih dinilai belum memiliki bukti yang sah, dewan senior akhirnya menjatuhkan vonis hukum yang sama
Sang kapten tentara rahasia tidak mengindahkan pertanyaan itu. Ia melayangkan kode gerakan tangan agar anggota timnya yang lain segera bergerak memeriksa dan menggeledah seluruh isi ruangan tersebut."Kalian tidak boleh menyentuh barang-barang itu!" tiba-tiba suara si gadis berkacamata kembali naik, nada suaranya dipenuhi kepanikan yang berlebihan saat melihat lemari arsipnya didekati.Melihat tawanan ini akan memprotes dan berteriak lagi, tentara rahasia di belakangnya dengan sigap mengambil selembar sapu tangan kain yang tergeletak di atas meja kerja, lalu menyumpal mulut si gadis tanpa ampun. Dengan cekatan, ia menarik kedua tangan perempuan itu ke belakang dan mengikatnya erat menggunakan tali."Lebih baik kamu duduk manis dan diam saja di sini," ucap tentara rahasia itu sembari mendudukkan paksa si gadis berkacamata di kursi kerjanya, tidak lupa mengikat tubuhnya ke sandaran kursi agar ia tidak memiliki celah untuk melarikan diri.Setelah memastikan tawanan mereka tidak membuat k
Kelima personel tentara rahasia itu seketika tercengang menyaksikan apa yang baru saja terjadi di hadapan mereka. Dinding rak buku itu bergeser lambat tanpa menimbulkan derit yang berarti. Keempat bawahan sang kapten langsung menatap pemimpin mereka dengan tatapan takjub, lalu secara serempak mengangkat jempol untuknya."Wah, Kapten! Anda benar-benar hebat! Bagaimana Anda bisa langsung tahu bahwa buku itu adalah tuas penarik mekanismenya?" bisik salah satu tentara rahasia dengan mata berbinar kagum.Sang kapten yang sebenarnya hanya asal menarik buku, buru-buru menguasai ekspresi wajahnya. Ia memasang wajah santai dan biasa saja demi menjaga wibawanya. "Tentu saja karena aku sangat teliti. Aku memperhatikan setiap jengkal bagian yang paling mencurigakan saat pertama kali menyisir ruangan ini. Sudah kubilang jangan banyak bicara dan tetap fokus. Ayo, kita masuk."Keempat bawahannya menelan bulat-bulat penjelasan sang kapten. Mereka mempercayai setiap kata pemimpinnya tanpa ragu, sehing
Alarm jam 04.30 pagi di handphone Adrian berbunyi, getaran di atas meja membuat suaranya lebih nyaring. Adrian membuka matanya dan meregangkan tubuhnya yang kaku. Tangannya meraih handphone untuk mematikan alarm, dahinya sedikit mengernyit, langsung teringat dengan pasien di kamar Bella.'Semalaman
Kakek Ruggero dari tempat duduknya pun melihatnya tadi. Ini pertama kalinya sejak ia membawa Shin waktu kecil, senyum yang terlihat manusiawi itu muncul. Meski sekilas tapi nyata. Sebuah kilatan singkat, bukan kejam, bukan sinis, melainkan hangat.'Apa itu benar? Atau aku hanya mulai terlalu tua hi
Pintu kamar Bella terbuka tanpa suara, seorang pria tinggi dengan pakaian acak-acakan penuh darah muncul dibaliknya. Pencahayaan minim tidak membuatnya sulit melihat keseluruhan ruangan itu.'Ini tidak seperti rumah Walikota,' pikirnya.Rumah walikota yang berada di pusat kota tentu sangat besar da
Bella keluar dari kamar mandi dan melihat Adrian sibuk di dapur. Rambutnya tergerai masih setengah basah, matanya menatap senang pada Adrian yang datang membawakan makanan untuknya. Kebetulan Bella lapar, dia tidak perlu masak."Aku tadi buat minestrone, kamu pasti belum makan malam, makanlah." Adr







