INICIAR SESIÓNAllea menatap wajah yang selama ini menjadi tempatnya bersandar. Wajah yang selalu ada, dalam susah maupun senang."Kamu tidak sedang meninggalkan Ayah," lanjutnya. "Kamu sedang berjalan menuju masa depanmu."Air mata Allea semakin deras. Ia langsung memeluk Ayahnya erat."Allea takut, Yah... takut tidak bisa melihat Ayah setiap hari... takut Ayah sendirian. Siapa yang akan merawat Ayah kalau Ayah sakit?" ucap Allea di penuhi rasa kecemasan.Sang Ayah tersenyum tipis, mencoba menenangkan, meski hatinya sendiri terasa perih melihat putrinya dalam kegundahan.Namun sebelum ia sempat menjawab, suara tenang terdengar dari belakang.Allea menoleh. Pangeran Alexander melangkah mendekat dengan sorot mata yang lembut namun penuh keyakinan."Kamu tidak perlu takut Allea. Nanti aku akan kirimkan beberapa pelayan istana yang akan setia merawat Ayahmu di sini," kata Pangeran menimpali.Pangeran mengangguk pasti. "Mereka adalah orang-orang terpercaya. Aku tidak akan membiarkan Ayahmu sendirian."S
Pangeran Alexander gelisah, sudah tiga hari dia berada di rumah Allea. Namun dia belum berhasil membujuknya untuk kembali ke istana. Tidak mungkin dia berlama-lama terus di desa. Semua tanggung jawabnya di istana bisa terbengkalai. Meski sudah ada Yoga yang mengatasinya, tapi rasa cemas tetap saja mengganggu hatinya.Ia berdiri di ambang pintu, memandang hamparan sawah yang mulai menguning. Hatinya resah. Tidak mungkin ia terus berlama-lama di sini. Di istana, banyak keputusan menunggu tanda tangannya. Rapat dewan, laporan pajak, hingga persiapan perjanjian dagang dengan kerajaan tetangga.Pangeran menghela napas panjang.“Yang Mulia terlihat gelisah,” suara Allea terdengar lembut dari belakangnya."Tidak apa-apa,"elaknya, meski jelas sorot matanya berkata sebaliknya.Yang Mulia pun bangkit dari tempat duduknya. "Sudahlah, aku tidak akan memaksamu lagi. Hari ini aku akan kembali ke istana."Suara itu terdengar cukup berat. Allea tersentak kaget mendengarnya. "Baik, akan saya persiapka
Sampai di rumahnya Allea langsung di sambut Ayahnya. "Allea, Ayah tadi ambil ubi di kebun. Ayah juga sudah merebutnya. Kamu berikan ubi rebus ini untuk Pangeran.""Oh, terima kasih Ayah Mertua." Pangeran justru mendahului menjawabnya."I ... iya, Yang Mulia. Sama-sama. Silahkan, mohon maaf kalau di sini makanannya tidak seenak di istana.""Tidak masalah, aku justru senang. Selama di istana aku tidak pernah makan ubi. Mungkin ini akan jadi yang pertama kalinya," jawab Pangeran."Allea, kamu buatkan minuma hangat untuk Pangeran. Ayah akan kembali ke kebun lagi," pamit Ayah Allea membawa cangkul dan caping."Baik Yah," sahut Allea. Ia pun bergegas ke dapur memanaskan air sebentar. Lalu memasukkan beberapa daun teh kering ke dalamnya.Uap tipis mengepul dari cangkir tanah liat yang Allea pegang. Aroma teh hangat menyebar pelan, bercampur dengan wangi kayu bakar yang masih menyala di tungku dapur.Allea melangkah keluar dengan hati-hati. “Silakan, Yang Mulia. Tehnya mungkin tidak semewah
"Pangeran jangan menatapku seperti itu. Aku bukan kue yang bisa di makan," sindir Allea melepaskan pegangannya.Namun justru Pangeran Alexander malah menariknya lebih dekat. Tak peduli beban keranjang di punggungnya berat."Pangeran ... ini jalanan, siapapun bisa melihat kita," peringat Allea lirih."Memangnya kenapa? Bukankah di pasar tadi kamu memanggilku suami. Berarti yang mereka tahu, kamu itu istriku. Aku berhak melakukan apapun terhadapmu," ucap Pangeran mengusap bibir Allea dengan ibu jarinya.Allea langsung terkesiap, dia memberontak hendak bergerak mundur. Namun Pangeran berhasil merengkuh tubuh mungilnya. Tatapannya sejenak terkunci pada kecantikan Allea yang natural, membuat matanya betah lama-lama memandang.Harum tubuh Allea yang aromanya khas bunga, tercium langsung oleh Pangeran Alexander. Gadis ini memang memiliki magnet tersendiri.Terlena sejenak membuat Allea bisa dengan mudah melepaskan dekapan Pangeran Alexander. Tiba-tiba terdengar bunyi kruk kruk dari perut Pa
"Aku haus Allea, kapan kita sampai di pasar?" tanya Pangeran Alexander. "Sebentar lagi, Pangeran sabar dulu."Pangeran Alexander tidak habis pikir apakah rakyatnya kalau beli beras harus sejauh ini. Ke pasar dulu baru dapatkan beras sementara perjalanan untuk beli beras pun tidak dekat. Dalam kondisi perut lapar masih harus di tempuh. Biasanya di istana apa-apa tersedia. Seorang Pangeran tidak perlu susah memikirkan apakah beras istana ada atau tidak. Semua tersaji dengan sempurna.Allea berhenti di sebuah mata air yang kebetulan mengalirkan air di saluran bambu. Dia membuka botol minumannya lalu mengisi dengan air hingga penuh."Silahkan, Pangeran bisa minum ini," kata Allea menyodorkan botol minumannya."Ini air bersih kan?" tanya Yang Mulia ragu. Matanya sedikit menyipit melihat botol minuman itu. Allea langsung menarik paksa botol itu dari tangan Pangeran Alexander."Ya sudah tidak usah di minum kalau Yang Mulia takut keracunan. Saya minum air seperti ini dari kecil hingga sekara
Pangeran pagi-pagi bangun hendak menemui Allea. Tapi langkahnya tertahan manakala mendengar Allea tengah berbicara serius pada seseorang. Rupanya yang datang pagi-pagi adalah Ayah Allea. Dari kejauhan Allea tertunduk mendengar ceramah Ayahnya . Yang seolah tidak suka dengan kedatangan Pangeran di rumahnya. Ia takut akan menggoyahkan keputusan Allea untuk menetap di desa."Harusnya, kamu bisa membujuk Pangeran agar segera pulang ke istana. Apa kata tetangga nanti kalau mereka tahu kamu satu rumah dengan pria asing."Allea kemudian mengangkat wajahnya. Dia hendak menjawab perkataan Ayahnya namun tiba-tiba Pangeran Alexander sudah muncul dari belakang. Wajah Allea langsung memucat, ia berpikir mungkinkah Pangeran mendengar semua percakapan antara dirinya dan Ayahnya.Mengetahui wajah Allea tidak biasa serasa melihat hantu. Ayahnya langsung menoleh ke belakang. Dia sedikit sungkan lalu membungkuk memberi hormat pada Pangeran."Selamat pagi Pangeran, mohon maaf kalau Anda istirahat di rum
Setelah seminggu kemudian, Putri Alika di bebaskan dari kurungan. Cahaya matahari yang menyilaukan langsung menerobos masuk, membuat Putri Alika menutup wajahnya dengan tangan. Rambutnya kusut, gaunnya kotor, dan wajahnya pucat setelah tujuh hari terkurung tanpa tahu siang dan malam.Ternyata dia b
"Tolong apa ada orang?" Allea terus berusaha mengetuk pintu. Ia terkunci dari luar, sepertinya penculiknya memang sengaja membuatnya kelelahan. Tanpa persediaan makanan dan air minum membuat Allea lemas. Perutnya yang buncit membuatnya susah berjalan. Tubuh Allea mulai kehilangan tenaga. Tenggoroka
"Yang Mulia ada?" tanya Allea."Ada, silahkan Putri masuk saja," ucap salah seorang Prajurit penjaga."Kok kamu biarkan saja Putri Allea masuk?" tanya prajurit satunya."Ya, pesan Yang Mulia Putri Allea berhak kemana saja di semua sudut istana ini."“Tapi… bukankah beliau belum memiliki gelar resmi
"Hahaha ... aku tidak membayangkan bagaimana nasib perempuan kampung itu di gudang kayu. Rasakan siapa suruh dia merebut posisiku," ucap Putri Alika. Dia yakin sekarang Allea mati lemas si sana. Karena tak ada siapapun yang tahu keberadaannya. Beberapa Dayang sibuk memijat punggung Putri Alika. D







