เข้าสู่ระบบPangeran Alexander gelisah, sudah tiga hari dia berada di rumah Allea. Namun dia belum berhasil membujuknya untuk kembali ke istana. Tidak mungkin dia berlama-lama terus di desa. Semua tanggung jawabnya di istana bisa terbengkalai. Meski sudah ada Yoga yang mengatasinya, tapi rasa cemas tetap saja mengganggu hatinya.Ia berdiri di ambang pintu, memandang hamparan sawah yang mulai menguning. Hatinya resah. Tidak mungkin ia terus berlama-lama di sini. Di istana, banyak keputusan menunggu tanda tangannya. Rapat dewan, laporan pajak, hingga persiapan perjanjian dagang dengan kerajaan tetangga.Pangeran menghela napas panjang.“Yang Mulia terlihat gelisah,” suara Allea terdengar lembut dari belakangnya."Tidak apa-apa,"elaknya, meski jelas sorot matanya berkata sebaliknya.Yang Mulia pun bangkit dari tempat duduknya. "Sudahlah, aku tidak akan memaksamu lagi. Hari ini aku akan kembali ke istana."Suara itu terdengar cukup berat. Allea tersentak kaget mendengarnya. "Baik, akan saya persiapka
Sampai di rumahnya Allea langsung di sambut Ayahnya. "Allea, Ayah tadi ambil ubi di kebun. Ayah juga sudah merebutnya. Kamu berikan ubi rebus ini untuk Pangeran.""Oh, terima kasih Ayah Mertua." Pangeran justru mendahului menjawabnya."I ... iya, Yang Mulia. Sama-sama. Silahkan, mohon maaf kalau di sini makanannya tidak seenak di istana.""Tidak masalah, aku justru senang. Selama di istana aku tidak pernah makan ubi. Mungkin ini akan jadi yang pertama kalinya," jawab Pangeran."Allea, kamu buatkan minuma hangat untuk Pangeran. Ayah akan kembali ke kebun lagi," pamit Ayah Allea membawa cangkul dan caping."Baik Yah," sahut Allea. Ia pun bergegas ke dapur memanaskan air sebentar. Lalu memasukkan beberapa daun teh kering ke dalamnya.Uap tipis mengepul dari cangkir tanah liat yang Allea pegang. Aroma teh hangat menyebar pelan, bercampur dengan wangi kayu bakar yang masih menyala di tungku dapur.Allea melangkah keluar dengan hati-hati. “Silakan, Yang Mulia. Tehnya mungkin tidak semewah
"Pangeran jangan menatapku seperti itu. Aku bukan kue yang bisa di makan," sindir Allea melepaskan pegangannya.Namun justru Pangeran Alexander malah menariknya lebih dekat. Tak peduli beban keranjang di punggungnya berat."Pangeran ... ini jalanan, siapapun bisa melihat kita," peringat Allea lirih."Memangnya kenapa? Bukankah di pasar tadi kamu memanggilku suami. Berarti yang mereka tahu, kamu itu istriku. Aku berhak melakukan apapun terhadapmu," ucap Pangeran mengusap bibir Allea dengan ibu jarinya.Allea langsung terkesiap, dia memberontak hendak bergerak mundur. Namun Pangeran berhasil merengkuh tubuh mungilnya. Tatapannya sejenak terkunci pada kecantikan Allea yang natural, membuat matanya betah lama-lama memandang.Harum tubuh Allea yang aromanya khas bunga, tercium langsung oleh Pangeran Alexander. Gadis ini memang memiliki magnet tersendiri.Terlena sejenak membuat Allea bisa dengan mudah melepaskan dekapan Pangeran Alexander. Tiba-tiba terdengar bunyi kruk kruk dari perut Pa
"Aku haus Allea, kapan kita sampai di pasar?" tanya Pangeran Alexander. "Sebentar lagi, Pangeran sabar dulu."Pangeran Alexander tidak habis pikir apakah rakyatnya kalau beli beras harus sejauh ini. Ke pasar dulu baru dapatkan beras sementara perjalanan untuk beli beras pun tidak dekat. Dalam kondisi perut lapar masih harus di tempuh. Biasanya di istana apa-apa tersedia. Seorang Pangeran tidak perlu susah memikirkan apakah beras istana ada atau tidak. Semua tersaji dengan sempurna.Allea berhenti di sebuah mata air yang kebetulan mengalirkan air di saluran bambu. Dia membuka botol minumannya lalu mengisi dengan air hingga penuh."Silahkan, Pangeran bisa minum ini," kata Allea menyodorkan botol minumannya."Ini air bersih kan?" tanya Yang Mulia ragu. Matanya sedikit menyipit melihat botol minuman itu. Allea langsung menarik paksa botol itu dari tangan Pangeran Alexander."Ya sudah tidak usah di minum kalau Yang Mulia takut keracunan. Saya minum air seperti ini dari kecil hingga sekara
Pangeran pagi-pagi bangun hendak menemui Allea. Tapi langkahnya tertahan manakala mendengar Allea tengah berbicara serius pada seseorang. Rupanya yang datang pagi-pagi adalah Ayah Allea. Dari kejauhan Allea tertunduk mendengar ceramah Ayahnya . Yang seolah tidak suka dengan kedatangan Pangeran di rumahnya. Ia takut akan menggoyahkan keputusan Allea untuk menetap di desa."Harusnya, kamu bisa membujuk Pangeran agar segera pulang ke istana. Apa kata tetangga nanti kalau mereka tahu kamu satu rumah dengan pria asing."Allea kemudian mengangkat wajahnya. Dia hendak menjawab perkataan Ayahnya namun tiba-tiba Pangeran Alexander sudah muncul dari belakang. Wajah Allea langsung memucat, ia berpikir mungkinkah Pangeran mendengar semua percakapan antara dirinya dan Ayahnya.Mengetahui wajah Allea tidak biasa serasa melihat hantu. Ayahnya langsung menoleh ke belakang. Dia sedikit sungkan lalu membungkuk memberi hormat pada Pangeran."Selamat pagi Pangeran, mohon maaf kalau Anda istirahat di rum
"Lumayan enak," komentar Pangeran saat menyantap masakan Allea. Ia masih gengsi mengatakan kalau masakan Allea sangat enak dan pintar memasak. Ia tidak ingin membiarkan Allea besar kepala."Kamu tidak ikut makan?" tanya Yang Mulia."Tidak ... hamba hanya menunggu Pangeran cepat selesai makannya agar hamba bisa cepat tidur," kata Allea.Pangeran Alexander meletakkan sendok nya. Perkataan Allea mengurangi selera makannya. "Apa kau begitu ingin aku pergi dari sini?" "Terus terang iya. Keberadaan Yang Mulia mengganggu ketenanganku. Orang-orang tahunya aku sudah menikah dengan Yang Mulia. Lalu siapa yang akan mau menikah denganku?" ucap Allea."Aku ... aku yang akan menikahimu," jawab Pangeran enteng."Aku tidak mau ... dunia kita jauh berbeda. Aku akan mengalami banyak kesulitan jika tinggal di istana nantinya," kata Allea."Aku akan membantumu, sudah cukup kan. Masalah selesai," jawab Pangeran."Tidak semudah itu. Aku tahu Pangeran menikahiku karena aku ibu anak dari Pangeran. Lagian pu
"Salam Putri Olivia, semua orang bilang Putri Allea sangat beruntung karena hamil anak Pangeran Alexander. Lihatlah, bahan baju yang dia pakai sama dengan punyamu. Allea adalah gadis kampungan yang tidak tahu sopan santun. Tadi saat dia memberi salam pada Ibu Suri jadi bahan tertawaan. Dan sekarang
"Allea memang tokoh yang kejam. Bisa-bisanya dia tidak meminta hadiah pernikahan. Padahal Kak Alex pasti berharap dia memohon-mohon padanya untuk di nikahi," bisik Olivia menyenggol lengan Pangeran Henry sepupunya.Ibu Suri pun geleng-geleng kepala melihat kepergian Allea dan Pangeran Alexander kel
"Kali ini keluarga perdana menteri pasti sangat malu. Mereka bertekad menikahkan Putri Alika dengan Pangeran. Tapi permohonan tersebut justru di tolak," bisik-bisik para tamu yang ada di sana."Iya kelak, tak akan ada yang menikahi Putri Alika karena dia di tolak keluarga Pangeran," imbuh lainnya.
Suasana pesta di istana Ibu Suri tampak meriah. Para putri berlomba-lomba memberikan hadiah terbaiknya demi menarik perhatian Ibu Suri. Mereka berharap bisa menjadi selir atau calon permaisuri Yang Mulia. Putri Alika tampak menawan datang membawa hadiah berupa gelang giok langka. Ia juga menuangka







