LOGINWhen nineteen-year-old engineering student Sky is scouted by Dream Entertainment, he thinks it’s a scam—until life throws him into financial uncertainty and he decides to take the leap. What starts as a desperate attempt to help his family quickly evolves into something far more complicated: a chance to star in a reality show where contestants pair up and compete for a coveted lead role in a new Boys’ Love (BL) series. Night, a successful but emotionally guarded model, isn’t the type to sign on for flashy reality shows—until he sees Sky’s casting photo and feels something he can’t explain. Against his manager’s advice and his own better judgment, he joins the project, drawn to the boy with the shy smile and uncertain eyes. Thrown into a house with six striking and wildly different contestants, Sky and Night are assigned roommates—others, not each other—and must navigate awkward first impressions, lip-sync battles, late-night conversations, and the growing tension between competition and connection. As the cameras roll and emotions blur, the question that hanging in the air: Is this just a path to fame in the entertainment industry—or is it something real? Is it all just for show?
View More"Lo pikir, dengan berdandan dan berpakaian kayak gitu, gue bakal minat? Sorry, lo itu jauh banget dari Safira! Kalau bukan karena perjodohan konyol ini, mana mau gue sama lo? Cih!"
"Hei, terus kamu pikir aku mau menikah sama kamu? Sama sekali enggak! Aku juga punya impian dan cita-cita yang harusnya aku wujudkan, daripada harus menikah dengan pria yang sama sekali nggak punya hati!" "Ooo, bagus kalau gitu! Ayo, sana! Lo bilang ke bokap lo buat batalin pernikahan konyol ini. Sana bilang! Bilang ke bokap lo, bilang ke bokap gue, kalau pernikahan ini harusnya berakhir bahkan sebelum dimulai!" ucap Axel lantang sembari menuding wajah Elena. Tatapan matanya menyalang, sarat akan kekesalan yang meluap. Sementara Elena seketika terbungkam. "Kenapa? Nggak mau, kan? Nggak berani, kan? Emang dasarnya lo aja yang kegatelan pengen pernikahan ini tetap terjadi. Tapi jangan harap, sampai kapan pun, gue nggak akan pernah sudi ngelihat lo!" sentak Axel. Tanpa menunggu balasan, pria itu berbalik dan pergi begitu saja, meninggalkan Elena sendirian di mini bar rumah mereka. Secangkir cokelat panas kini menjadi satu-satunya teman di sore yang dingin, usai rintik hujan mengguyur ibu kota. Elena duduk merenung. Suara sendok yang beradu pelan dengan dinding gelas menjadi satu-satunya pengisi keheningan di ruangan itu. "Non Elena tidak apa-apa?" tanya seorang wanita paruh baya yang baru dua bulan ini bekerja di rumah mereka. "Ah, ya. Aku nggak apa-apa kok, Bik. Cokelatnya terlalu panas, tadi sedikit kena tanganku." "Aduh, maaf, Non. Biar saya ganti dengan yang baru, ya?" "Ah, nggak usah, Bik. Nggak apa-apa, kok." Kehangatan pun lama-lama akan mendingin jika dibiarkan terlalu lama, batin Elena miris. "Ya sudah, Non. Kalau begitu, saya pamit pulang dulu, ya. Pekerjaan saya sudah selesai semua. Dan... sudah jam lima sore, Non." "Oh iya, Bik. Boleh. Terima kasih banyak ya, Bik," ucap Elena. Wanita paruh baya itu mengangguk sopan, lalu melangkah perlahan ke arah pintu belakang. "Eh, Bik. Tunggu!" Langkah pelayan itu terhenti. "Eh, iya, Non? Ada apa? Apa ada yang masih perlu saya bantu?" "Eum... tidak, Bik. Saya cuma mau berpesan. Tolong... jangan katakan apa pun kepada siapa pun tentang apa yang terjadi hari ini. Saya harap, masalah ini cukup Bik Ida saja yang tahu." "Oooh. Iya, Non. Siap, saya mengerti." "Ya sudah, Bik Ida boleh pulang sekarang." "Baik, Non." Rumah megah itu kini kembali sunyi. Seperti biasa, Elena akan sendirian sampai tengah malam tiba. Sejak dua bulan lalu, sejak perjodohan yang diatur oleh orang tua mereka, hidupnya berubah total. Ia yang biasanya bebas bekerja dan bersenang-senang, kini bagai burung di dalam sangkar emas. Bahkan, sangkar yang sengaja dibiarkan kelaparan. Dua bulan baginya terasa seperti seabad. Terjebak bersama seorang lelaki yang sebelumnya hanya pernah ia lihat lewat pertemuan singkat. Mungkin lelaki itu terlihat baik bagi orang lain. Namun di matanya, Axel tak lebih dari seorang musuh yang selalu menganggapnya sebagai penghalang cinta. "Jadi, sampai kapan kamu mau bertahan sama dia, Axel? Aku harus sabar kayak gimana lagi? Dua bulan, loh. Dua bulan! Kamu pikir aku nggak tersiksa?" ucap seorang wanita berambut curly dengan nada menuntut. Mereka sedang berada di sebuah bar, tempat yang biasa mereka jadikan basecamp untuk nongkrong. "Iya, sabar dulu dong, Sayang. Aku janji, setelah aku ceraiin dia, aku akan langsung nikahin kamu." "Ck. Tapi kapan, Axel? Ini udah dua bulan! Hubungan kita jadi nggak bebas. Kita harus ketemu diam-diam, sembunyi-sembunyi. Aku nggak bisa nemuin kamu dengan leluasa, bahkan main ke rumah kamu aja aku nggak boleh!" "Iya, Sayang... iya. Sabar, ya," bujuk Axel sembari membelai lembut rambut Safira. "Atau jangan-jangan... kamu mulai punya perasaan ya sama cewek itu? Atau mungkin, kalian sudaaah—" "Enggak lah, Sa! Nggak ada kayak gitu, sumpah!" "Bohong! Nggak mungkin kalian tinggal satu atap tapi nggak ngelakuin apa-apa. Nggak mungkin!" "Sumpah, Sa. Aku nggak menyentuh dia sedikit pun!" "Bohong. Jahat kamu, Axel!" Safira menepis tangan Axel dengan kasar. Ia langsung bangkit berdiri dan melangkah pergi begitu saja. "Safira!!! Safira, tunggu aku dong!" "Nggak! Jangan sentuh aku dan jangan temui aku lagi sebelum kamu ceraiin dia! Aku kasih waktu dua hari!" "Sa... Sa!!! Arghh!!!!" Axel menggeram frustrasi. Kepalanya nyaris pecah karena Safira pergi begitu saja akibat salah paham dan mengira dirinya telah menyentuh Elena. "Syiittt!!!!" Suara denting gelas dan dentuman musik bass rendah memenuhi ruangan. Lampu bar yang tadinya temaram kini terasa semakin menggelap, menyisakan sorotan neon merah yang menyeruak di antara kepulan asap rokok tipis. Axel merosot di kursi, menunduk dalam-dalam sambil mencengkeram kuat gelas wiski di tangannya. "Dua hari..." gumam Axel pelan, menertawakan nasibnya sendiri. "Dia pikir semua ini semudah itu." Ia menenggak habis minumannya dalam satu tegukan, membiarkan panas alkohol membakar tenggorokannya. Namun, rasa terbakar itu tetap tidak cukup untuk meluruhkan ego dan gengsi yang menumpuk di kepalanya. "Gue harus berhadapan sama Papa Ares, Om Theo... dan seluruh fasilitas gue. Kekayaan, bahkan warisan bakal didepak dari nama gue kalau sampai gue menceraikan perempuan itu. Arghhhh!!! Menyusahkan!" Sementara itu… Rumah besar itu tampak seperti museum. megah, luas, namun mati. Lampu ruang tengah yang disetel temaram hanya menyisakan pantulan warna emas hangat di atas lantai marmer. Tidak ada tawa. Tidak ada percakapan. Hanya ada ketukan halus dari ujung pensil yang menyentuh permukaan kertas. Elena duduk bersila di atas sofa panjang ruang kerjanya. Rambutnya hanya diikat asal-asalan, dibalut T-shirt oversized dan sweater tebal yang menggantung longgar di bahu kecilnya. Di depannya, terbentang puluhan sketsa gaun dengan berlapis kain, siluet mewah, dan permainan ruffles yang anggun. Di sudut meja, sebuah mug berisi cokelat panas telah mendingin sempurna. Uapnya sudah lama hilang, sama seperti semangat yang pernah membumbung di hatinya sebelum dua bulan yang lalu. "Gaun pernikahan..." gumamnya lirih, menekan ujung pensil pada garis lengkung pinggang sketsanya. "Yang ini lebih cocok untuk orang yang menikah karena cinta... bukan karena perjodohan." Ia menghentikan gerakan tangannya. Pikirannya melayang jauh. Sore tadi, Axel menghinanya tanpa ampun. Sebenarnya bukan hanya sore tadi, tapi setiap kali mereka berpapasan atau tak sengaja bersenggolan. Kalimat-kalimat tajam itu terngiang di kepalanya seperti kaset rusak yang terus berputar. ‘Lo pikir gue minat?’ ‘Jauh dari Safira!’ ‘Jangan harap gue bakal ngelihat lo!’ Elena mengembuskan napas berat. Jemarinya membeku tepat ketika sketsa detail kain brokat itu hampir selesai. "Elena... kamu bodoh," bisiknya pada diri sendiri dengan nada sedingin es. "Kamu bisa pergi kapan pun kamu mau. Tapi kenapa kamu tetap bertahan di sini? Untuk siapa? Untuk apa?" Ia menunduk lagi, memaksakan jemarinya kembali menari di atas kertas. Sebuah coretan baru tercipta. Namun, kali ini bukan lagi gaun pernikahan putih yang suci. Di atas kertas itu kini tergambar sebuah gaun pesta hitam pekat dengan potongan punggung rendah, dipercantik detail renda yang rumit di bagian bahu. Lebih berani. Lebih dewasa. Dan... tampak lebih menyakitkan. "Elena Wardhana," gumamnya, nyaris menyerupai bisikan angin. "Kalau kamu tidak bisa mengubah keadaan... setidaknya, kamu harus bisa mengubah dirimu sendiri." Kepalanya terasa penuh, namun coretan sketsanya justru terlihat semakin tajam dan tegas. Di luar, rintik hujan kembali turun membasahi bumi. Jakarta perlahan tenggelam dalam simfoni gemercik air, hingga tiba-tiba... Bruuukkk! "Astaga! Suara apa itu?" Elena tersentak. Ia segera membereskan peralatan menggambarnya dan berlari ke arah sumber suara. Ia yakin barusan mendengar suara benda berat—atau seseorang—yang jatuh tepat di luar pintu rumahnya. Langkahnya sempat ragu. Rasa takut perlahan merayap, khawatir jika ada orang berniat jahat di luar sana. Elena melirik jam dinding besar yang menggantung di ruang tengah. Jarum jam menunjukkan pukul 10 malam. Tidak biasanya Axel pulang secepat ini. Pria itu biasanya baru menginjakkan kaki di rumah paling cepat jam dua belas malam, atau bahkan tidak pulang sama sekali. Kecuali jika orang tua mereka datang berkunjung, baru Axel akan menampakkan diri sekitar jam sebelas malam. Dengan waswas, Elena mengintip sedikit dari celah jendela. Di sana, lamat-lamat ia melihat sesosok tubuh kolaps, terkapar tepat di depan pintu. Tanpa berpikir panjang lagi, Elena langsung memutar kunci dan membuka pintu lebar-lebar. "Ya ampun, Axel!!!" Elena menghambur mendekat, berjongkok di sebelah tubuh pria itu untuk memastikan keadaannya. "Axel... kamu mabuk?"After finishing the modeling workshop, the contestants were driven back to the villa. The sun had already dipped past the horizon, leaving a mellow orange glow that reflected on the car windows. The air was heavy with exhaustion—but also quiet buzzes of excitement.Aston and Kim, who had been dramatically vocal during the workshop, groaned in unison as they stepped into the van.“Finally, we get to enjoy this giant house for ourselves,” Aston announced, stretching his arms like he had just returned from war.Kim nodded. “Yeah, we can hog the kitchen and hot tub without feeling guilty.”But their tone betrayed them. Underneath the dramatic sighs and exaggerated stretches was something else—a subtle disappointment. Neither of them had ma
After getting to know Night more during the dinner, Sky returned to his room visibly lighter. His usual cautious aura had softened. His mind kept replaying their conversation—about how Night had no siblings, how he started modeling when he was seventeen, and how he only spoke when he truly wanted someone to listen.Night was so different from Sky, yet there was something about him that pulled Sky in—something that made him want to know more.When he opened the door, he found Aron and Kim sitting on the carpeted floor, playing a mobile game. It looked like the two had also grown closer during dinner."Someone's glowing," Aron said as Sky dropped down onto the bed, trying not to smile."He's not denying it," Kim added, glancing up from his phone for a second be
After the last pair wrapped up their shoot, the instructors clapped their hands and thanked the contestants.“That’s it for today’s workshop!” one of them announced. “You all did great. Now go rest up while we wait for the votes result. We’ll announce the results after sunset!”The staff brought out trays of snacks and drinks to the waiting area. Most of the guys still had makeup on—just slightly faded from the shoot—but no one cared. After the tension of the photoshoot, even small cookies felt like luxury.Those who had skipped lunch earlier were now hovering near the snack trays like bees around honey.Aron grabbed two soft buns from the tray, stuffing one into his mouth before holding the other out toward Sky. &ldq
Sky woke up feeling disoriented.Last night, he could barely sleep, his heart still fluttering from the anonymous letter. Aron had teased him a bit about his dreamy expression but didn't pry. Somehow, Sky felt like Aron already knew who it was from.For a moment, he forgot where he was. The unfamiliar ceiling reminded him—he was at the Dream Entertainment workshop, a mix of reality show chaos and career-defining opportunity. The memory of the previous day's events rushed in all at once.He sat up, glanced at the room's soft, stylish decor, and blinked at the figure still sleeping soundly on the other bed. Right. He was sharing a room with Aron.It was only 7 AM, but Sky was already freshened up. The crisp suburban air called to him, so he stepped out onto the balco
After the meeting at Dream Entertainment, Sky didn’t hear anything from them. No follow-up email. No phone call. Nothing.For a while, he even started to wonder if the entire thing had been just a dream—some bizarre fever-dream brought on by sleep deprivation and too much instant coffee.But the tr
On paper, Night had it all.With sculpted features that seemed carved by a Renaissance artist, piercing eyes that captured the camera like a magnet, and a physique honed by discipline and time, he was every photographer’s dream. Fashion campaigns, magazine covers, runway shows—Night had done them a
Before his days were packed with events, shoots, and fan meetings, Sky was just an ordinary university student living with his parents and two younger sisters in a medium-sized house. Life was simple. He went to classes, worked in the mechanical engineering workshop, did his assignments, and came h
The black automatic sedan sat motionless in the gridlocked traffic, its sleek frame gleaming under the fading afternoon sun. Inside, the air was still, save for the quiet hum of the engine and the soft murmur of city life beyond the tinted windows. Two young men occupied the front seats — both stri






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews