تسجيل الدخولSialan! Inez ingin aku hamil anak Miko? Benar-benar bejat. Tak kusangka penampilannya yang berkelas sungguh sangat bertolak belakang dengan hatinya yang busuk.
"Kamu sendiri gimana? Kamu berhasil tidur sama Axel?" tanya Miko balik. Mataku langsung membulat sempurna mendengar pertanyaan itu. Sungguh brengsek! Jadi mereka berdua berencana menghancurkan aku dan Axel secara bersamaan? Inez membuang muka dengan raut wajah masam. "Mana bisa! Dia mabuk be"Tenang saja, Kak! Serahkan saja keselamatan Kayla padaku," celoteh Hani seraya merangkul pundakku, lalu mengusap pelan permukaan perutku. "Aku pasti akan menjaga calon keponakan dengan baik!"Axel tersenyum lega dengan kelopak mata yang berkaca-kaca menahan haru. Ia kemudian beralih menatap Pakde Arga yang berdiri tegak di sampingku. "Papa... tolong jaga dan awasi Kayla di kantor, ya? Jangan sampai dia diganggu oleh Lintang atau Bude Salma."Pakde Arga mengulas senyum lebar seraya mengangguk mantap. "Kamu tenang saja, Axel. Papa pasti akan menjaga istri dan calon anakmu dengan sebaik-baiknya. Fokuslah pada proses pengobatan dan kesembuhanmu di sana, ya?"Ia kemudian beralih menatap Beni yang bersiaga di belakang kursi roda Axel. "Beni, jika ada kendala apa pun di sana, segera hubungi saya.""Baik, Pak..." sahut Beni patuh sebelum akhirnya mendorong pelan kursi roda Axel memasuki koridor keberangkatan internasional.Sebulan kemudian..."Hai, Sayang. Lo sudah sampai di kantor?" t
"Kayla... ingat! Lo lagi hamil muda," bisiknya seraya menahan dadaku dengan raut panik dan khawatir.Sambil menyunggingkan seringai menggoda, aku menepis lembut tangan Axel yang menahan tubuhku. "Gue bakal melakukannya dengan pelan dan hati-hati, Xel..."Tanpa menunggu persetujuan darinya, aku langsung meregangkan tubuh, memosisikan diri dengan mantap di atas tubuhnya yang bersandar kaku di kepala ranjang.Sambil menatap lurus manik matanya yang menggelap disapu gelora hasrat bercampur tegang, aku perlahan menundukkan tubuhku. Aku melesakkan sendiri keperkasaannya yang memanas masuk menembus liang kewanitaanku yang sudah terlanjur panas dan basah."Nggghhh! Aahhh...!"Jeritan pasrahku dan erangan berat Axel meledak bersamaan memecah keheningan kamar. Dinding kewanitaanku mencengkeram kepemilikannya teramat ketat, menghadirkan sensasi penyatuan yang padat, penuh, dan memabukkan.Axel menahan napas, otot dadanya naik-turun drastis saat ia merasakan sensasi pekat yang membakar indr
"Kayla!" teriak Axel panik seraya menarik pergelangan tanganku hingga posisi wajah kami berhadapan sangat dekat dengan dentum jantung yang bertabuh tak karuan. "Lo... nggak usah aneh-aneh ya!""Kenapa?" tanyaku dengan satu alis terangkat, disertai gurat seringai nakal yang menggoda.Axel bergeser memalingkan pandangan dengan raut wajah memerah padam menyerupai buah ceri matang. "G-gue malu..."Aku menangkup kedua pipinya, memaksa manik matanya untuk kembali mengunci pandanganku. "Kenapa harus merasa malu, hm?" cecarku sengaja makin memprovokasinya.Kelopak mata Axel bergetar cepat, menatapku pasrah dengan rona merah yang masih menjalar di sekujur wajahnya. "Bagaimana kalau... burung gue nggak bisa terbang dan hinggap di sarang lo lagi?"Deg! Aku terperanjat sejenak dengan mata membulat, sebelum akhirnya spontan terkekeh geli hingga kepalaku mendongak. "Axel... Axel... Kenapa lo tiba-tiba jadi polos gini, sih? Gemesin banget!" godaku sambil mencubit pipinya manja.Axel menggaru
"Malam ini..." sahut Hani mengambil alih percakapan dengan raut wajah yang sengaja dibuat sengsara secara berlebihan. Ia menunjuk Kak Rayan, lalu berpura-pura terisak seraya merebahkan kepalanya di bahuku. "Dia jahat banget, Kay! Tega-teganya dia cuma menjadikan gue pacar semalam, tapi setelah itu langsung ditinggal terbang ke luar negeri..."Aku mengusap lembut rambutnya seraya mencibir geli, lalu menoleh ke arah Kak Rayan dengan kekehan ringan. "Teganya Kamu, Kak... Kasihan kan Hani dibuat menangis begini.""Itu sebabnya aku tidak mau terburu-buru menyatakan cinta padanya kemarin," jelas Kak Rayan seraya menahan tawa. "Tapi... dia justru nekat mendatangi tempat kosku dan menuntut penjelasan soal alasanku meminjamkan jaket padamu kemarin."Mendengar penjelasan itu, aku mendadak kaget. Aku spontan menegakkan paksa kepala Hani dan menatapnya dengan mata membulat sempurna. "Lo benar-benar nekat melakukan itu, Han?!"Hani menyeringai garing seraya tersipu malu. "Iya... habisnya gue
Aku dan Axel terperanjat kaget, spontan menoleh secara bersamaan ke arah ambang pintu."Oh, sorry! Gue ngganggu ritual kemesraan kalian, ya?" seru Kak Rayan tampak serba salah dan tersenyum canggung.Aku refleks bergegas turun dari pangkuan Axel, berdiri kaku seperti anak kecil yang tertangkap basah berbuat jahat. "Kak... eh, nggak, kok!"Axel justru tersenyum lebar. Raut wajahnya terlihat sangat santai mendapati kehadiran sahabatnya yang tiba-tiba menginterupsi kemesraan kami—sangat kontras dengan sikapnya kemarin yang meledak-ledak diselimuti kecemburuan."Bro... masuklah," pinta Axel ramah.Tepat sebelum Kak Rayan melangkahkan kakinya masuk, sosok Hani tiba-tiba menyusul dari balik punggungnya. Perempuan itu langsung menggandeng lengan Kak Rayan dengan mesra."Kayla!!" teriak Hani histeris dengan wajah berseri-seri penuh bahagia.Wah... ada angin apa ini? Aku mengamati raut wajah mereka berdua yang tampak berbinar terang. Sungguh berbeda 180 derajat dari ketegangan yang terj
"Astaga, Axel... ternyata ini benar-benar surat penahanan mereka!" Aku berseru histeris, tidak dapat menyembunyikan luapan kebahagiaan di hadapan suamiku. "Xel... akhirnya perjuangan dan usaha gue nggak sia-sia!"Axel mengulas senyum lebar yang lega seraya menggenggam erat kedua tanganku dengan telapak tangan yang agak berkeringat."Saya mewakili manajemen memohon maaf yang sebesar-besarnya karena sempat lalai menjaga keselamatan Axel," ucap sang manajer dengan intonasi sarat penyesalan. "Sebagai bentuk tanggung jawab penuh, izinkan klub membiayai seluruh proses pengobatan dan fisioterapi Axel hingga pulih total, serta merujuknya ke rumah sakit spesialis terbaik di luar negeri."Aku dan Axel saling bertatapan cukup lama, sebelum akhirnya suara suamiku memecah keheningan."Kayla... gue sangat ingin sembuh. Gue mau... saat anak kita lahir nanti, gue sudah bisa berdiri tegak, menggendongnya, dan membawanya berlari bermain bersama.""Lo pasti bisa melewati semua ini dan pulih kembali







