LOGINPandangan mata Mama langsung teralih sepenuhnya ke arah ambang pintu. Sosok Axel yang berdiri tegap sambil mendekap erat tubuh mungil Sira berhasil merusak atensi wanita paruh baya itu seketika. Tanpa ampun, Mama menghempas tubuhku ke samping demi membuka jalan, lalu melangkah cepat menghampiri sang menantu dengan mata berbinar-binar penuh puja."Sira... cucu Mama..." seru Mama girang, langsung mengambil alih posisi Axel.Aku yang tersingkir begitu saja di tengah ruangan hanya bisa terpaku dengan rahang yang nyaris jatuh. Kesal luar biasa, aku menghentakkan sebelah kakiku kuat-kuat ke lantai kayu. Di dalam dada, batin dan perasaanku bergemuruh hebat memprotes keadaan.Ternyata benar ya, apa kata orang-orang di luar sana? Cucu itu rasanya jauh lebih berkilau dan menyilaukan ketimbang anak kandung sendiri. Sekarang, aku benar-benar tidak terlihat berharga lagi. Sira selalu menjadi pusat perhatian dan jauh lebih penting di mata siapapun, bahkan di mata mamaku sendiri."Aduh, cantiknya c
Tanpa kuasa menahan gejolak di dada, aku kembali melompat menerjang ke dalam pelukan Axel. Tangisku pecah sejadi-jadinya, meleleh tanpa sisa di balik dada bidangnya. Aku mencengkeram erat kemejanya, merengek bak anak kecil yang tidak rela mainannya direbut paksa."Gue nggak mau... lusa itu terlalu cepat, Xel!" racauku di sela isakan, sengaja memamerkan sisi manja yang jarang sekali kutunjukkan padanya. "Gimana kalau nanti di sana lo lupa sama gue? Gimana kalau lo sibuk banget sampai nggak ada waktu buat telepon gue dan Sira? Gue nggak mau jauh-jauh dari lo, titik!"Axel terkekeh geli mendengarnya. Alih-alih merasa terbebani, ia justru merengkuh pinggangku semakin erat, membiarkan air mataku membasahi bahunya. Dengan penuh kesabaran dan kedewasaan, ia mengusap punggungku lembut, menyalurkan ketenangan yang luar biasa."Sstt... cup, cup, cup. Sira yang baru lahir aja nggak cengeng kayak gini, Sayang," bisik Axel di telingaku, suaranya terdengar begitu romantis dan menenangkan. "Gue cum
Kalimat terakhir Axel itu berhasil menyedot seluruh kehangatan yang sebelumnya memenuhi rongga dadaku. Seketika, rengkuhan tanganku di lehernya melonggar. Aku melepaskan pelukan itu secara perlahan, lalu mendongak menatap lurus ke dalam manik matanya dengan kecemasan yang merayap naik."Apa yang sebenarnya terjadi, Xel...?" tanyaku dengan suara bergetar.Binar kejenakaan di mata Axel perlahan luntur, menyisakan guratan sendu yang begitu pekat. Ia menghela napas berat, menundukkan kepalanya sejenak sebelum kembali menatapku. "Sejak gue harus menjalani perawatan fisioterapi di Amerika, kondisi manajemen kantor memang jadi kurang stabil," sahutnya lirih. Ia menatap kosong ke sudut ruangan dengan kelopak mata yang kendur. "Papa sudah berusaha mati-matian menyelamatkan setiap kontrak dan masalah di sana, namun hasilnya tetap gagal. Itu juga alasan kenapa dia nggak bisa jenguk gue di sini..."Jantungku seperti dihantam palu tak kasat mata. Seketika itu juga, gelombang rasa bersalah yang
Aku bergeming di balik timbunan kain tebal, sama sekali tidak menghiraukan panggilan Axel yang terus melantun di udara. Suara langkah kakinya yang mendekat di atas lantai kayu membuat dadaku semakin sesak. Kubenamkan wajahku ke dalam lipatan siku, membiarkan butiran air mata luluh lantak membasahi seprai tanpa suara.Kenapa dia tega sekali? batinku meraung pedih. Pria yang tadinya kuperjuangkan mati-matian, pria yang kuharapkan menjadi tempat berlindung paling aman di negeri orang, justru bersiap meninggalkanku sendirian. Setelah kakinya sembuh, setelah dunianya kembali terang, ia dengan entengnya merencanakan kepulangan ke Indrata tanpa memedulikan nasibku dan bayi kami yang baru berusia beberapa hari, serta proyek impian yang masih merentang panjang di depan mata.Merasa diabaikan begitu saja, Axel akhirnya bertindak tegas. Ia tiba-tiba menarik ujung selimut yang menutupi tubuhku dengan paksa.Terpapar cahaya lampu kamar yang temaram, Axel terkesiap melihat keadaan wajahku. Sepas
"Xel... maksud lo apa? Lo mau ninggalin gue di sini?" tanyaku dengan nada suara yang bergetar hebat, terselip rasa shock yang teramat sangat hingga membuat udara di tenggorokan seolah tercekat.Axel sontak menoleh, raut wajahnya mendadak berubah salah tingkah. Ia melirik sekilas ke arah Tuan Xin dan Xin Yi yang duduk di sofa tepat di depan kami. Mungkin ia merasa tidak enak jika harus berdebat masalah pribadi di hadapan tamu terhormat."Ntar gue jelasin sama lo ya, Kay..." jawab Axel singkat dengan suara tertahan, mencoba menenangkanku lewat tatapan matanya.Namun, kalimat penenang itu justru bagaikan bensin yang disiramkan ke atas bara api. Di dalam dadaku, batin dan perasaanku seketika berkecamuk hebat, meronta dalam kepedihan yang luar biasa. Jadi begitu? Setelah dia sembuh total, setelah kakinya kembali normal dan bisa berlari, dia bisa dengan mudahnya memutuskan untuk pulang ke Indrata?Kekecewaan pekat menghantam batinku tanpa ampun. Aku merasa Axel adalah pria paling egois di
"Maafkan saya, Xin Shenyi," ujar Axel terkekeh pelan, melangkah maju menyambut sang tabib tua dengan sebelah tangan mendekap Sira erat. "Semua terjadi begitu cepat. Kami bahkan sempat panik luar biasa waktu ketuban Kayla pecah mendadak di ruang fisioterapi."Xin Shenyi tersenyum ramah, mengangguk maklum. Namun sebelum sempat membalas, Xin Yi—yang berdiri anggun di belakang ayahnya—langkahnya maju menghampiri Axel. Wanita berbalut gaun elegan itu melayangkan tatapan manja, bibirnya mengerucut sebal."Axel... apa kau mau bermusuhan denganku, huh?" tegur Xin Yi dengan nada centil, sengaja melangkah terlalu dekat ke sisi Axel. "Kau sudah janji mau mengabari saat semuanya beres, tapi kau malah melupakanku begitu saja setelah jadi ayah."Melihat gestur manja itu, darahku mendadak mendidih. Rasa cemburu yang tadinya tidur seketika meroket membakar dada. Tanpa sadar, aku beranjak dari sofa, melangkah cepat dan langsung merapatkan diri ke sisi kiri Axel, memamerkan gestur kepemilikan yang mutl







