INICIAR SESIÓNSuara Mama di luar terdengar hening sejenak. Mungkinkah... Mama akhirnya luluh oleh jurus tangisan drama Lintang?Tak berselang lama, pintu kamarku terdorong terbuka. Mama masuk terburu-buru dengan raut wajah panik yang heboh."Kayla... Di luar ada Lintang. Dia menangis terisak-isak memohon agar diberikan maaf olehmu," bisiknya dengan napas tersengal-sengal.Aku mencebikkan bibir seraya memalingkan wajah sejenak. "Mama akhirnya luluh juga, nih, sama Lintang?"Mama menggaruk tengkuknya yang tak gatal dengan wajah frustrasi. "Ya... bagaimana, dong? Dia sampai berlutut sambil bersimpuh dan menangis minta dipertemukan sama kamu."Aku mengembuskan napas kasar, lalu kembali menggoreskan pensil ke atas buku sketsa dengan santai. "Kayak nggak tahu drama Lintang aja, Ma."Wajah Mama seketika berubah terkejut. Ia mencondongkan tubuhnya seraya memicingkan mata curiga. "Jadi... maksudmu Lintang tidak benar-benar menyesali perbuatannya?" bisiknya.Aku menggeleng pelan.Mama kembali menegak
"Axel... tolong. Pikirin kesehatan lo di sana..." pintaku dengan mata berkaca-kaca menahan leleh bening yang hampir jatuh. "Di sini banyak orang yang menjaga gue. Sementara lo di sana hanya sama Beni...""Meski lo dikelilingi banyak orang yang menjaga, tapi kenyataannya nggak ada satu orang pun yang becus melindungi lo dari kejahatan Lintang!" potong Axel dengan intonasi tajam dan menusuk.Mendengar kalimat Axel, mataku seketika membelalak lebar. "D-dari mana lo tahu?!""Karena nggak ada satu orang pun di kantor yang berani menyentuh lo selain Lintang dan mamanya," ucapnya dengan suara dingin yang membekukan udara.Sedetik kemudian, raut wajah Axel di balik layar ponsel berubah menjadi redup dan sendu—sarat akan rasa keputusasaan serta penderitaan batin atas keterbatasan fisiknya. "Beritahu gue... bagaimana kondisi calon bayi kita yang sebenarnya?" tanyanya lirih.Aku tidak langsung sanggup menjawab. Jemariku meremas kuat kain selimut rumah sakit yang kaku, mengumpulkan sisa keb
"Dia dokter di rumah sakit ini, Axel..." jelasku merasa sangat canggung dan tak enak hati.Tommy hanya menghela napas panjang, bersikap tak acuh dengan reaksi panik dan emosional Axel. Dengan santai dan profesional, ia memasang manset tensimeter di lenganku seraya menekan titik denyut nadi untuk memeriksa tekanan darahku."Eh! Lo jangan coba-coba mengambil kesempatan buat menyentuh istri gue, ya!" teriak Axel di seberang sana dengan nada murka dan kecemburuan yang membara.Tommy seketika terperanjat, matanya membelalak menatap wajah Axel di balik layar ponsel. "Istri?!""Ya! Kayla istri gue!"Astaga! Aku benar-benar tidak sanggup membendung keposesifan Axel!Tommy beralih menatapku dengan kening berkerut dalam. "Kayla... suami kamu... Axel?!"Aku seketika menyunggingkan senyum garing seraya memasang raut polos. "Iya, Kak... Aku dan Axel sudah resmi menikah."Tommy menegakkan tubuhnya seraya mengembuskan napas panjang. Tatapannya kembali mengunci sosok Axel di layar ponsel."Ja
"Maaf... siapa ya, Dok? Saya... sama sekali tidak ingat," ucapku jujur setelah sempat memutar otak selama beberapa saat.Sang dokter muda itu tersenyum tipis, lalu mengamati lembaran rekam medis di tangannya. "Kayla Maharani?" Ia kembali mendongak menatapku dengan binar mata ramah. "Benar, ingatanku tidak salah. Kamu... adalah Kayla, sepupu Axel, kan?"Aku mengangkat kedua alis seraya berhitung dalam hati. Dari mana dokter ini tahu kalau aku sepupu Axel?"I-iya..." sahutku ragu.Pria berjas putih itu tersenyum makin lebar seraya menarik kursi dan duduk di samping brankarku. "Ternyata beneran kamu! Aku Tommy, teman kuliah Axel dulu di kampus."Aku masih bungkam, mengernyitkan dahi karena benar-benar samar dan tidak bisa mengingat sosok pria di hadapanku ini."Waktu kamu masih SMA dulu, kita pernah beberapa kali bertemu di rumah Axel. Aku juga pernah ikut mengantar Axel menjemputmu di sekolah," jelasnya mencoba memancing ingatanku."Tommy..." Aku berusaha melempar ingatanku jauh
"Xel, sorry... Gue..." Suaraku tercekat di tenggorokan, terasa amat berat untuk mengutarakan kenyataan yang sebenarnya.Beruntung, Pakde Arga dengan sigap mengambil alih ponsel dari tanganku dan berbicara langsung pada Axel."Axel... Semua ini salah Papa yang tidak bisa menjaga dan melindungi Kayla dengan baik," jelas Pakde Arga dengan raut wajah panik yang ditahan. Ia menghela napas sejenak sebelum melanjutkan, "Kayla memang sedang dirawat di rumah sakit saat ini. Tapi kondisinya stabil dan akan segera pulih. Kamu tidak perlu khawatir berlebihan dan fokuslah pada proses penyembuhanmu di sana, oke?""Papa... sebenarnya ada apa dengan Kayla?!" suara Axel terdengar kian tertekan dan menuntut kepastian dari balik telepon.Pakde Arga mengencangkan cengkeramannya pada ponsel, berusaha mengontrol intonasi suaranya. "Axel, percayalah pada Papa. Kayla pasti akan baik-baik saja dan Papa yang akan membereskan semua permasalahan di sini. Jadi... kembalilah jalani terapimu dengan tenang, oke
"Ma... Mama kenapa malah bilang lagi sama aku, sih..." bisikku sangat pelan, nyaris tak bersuara.Mama menjauhkan ponsel dari telinganya, lalu menunduk balas berbisik dengan raut penuh rasa bersalah. "Mama keceplosan, Sayang. Maafkan Mama..."Aku meremas ujung sprei rumah sakit seraya memutar otak, mencari cara paling masuk akal untuk mengelabui ketajaman intuisi Axel.Aku perlahan merebahkan tubuh lebih rendah agar pendar latar belakang ruang perawatan rumah sakit yang dipenuhi peralatan medis tidak tertangkap kamera ponsel, sebelum akhirnya mengambil alih ponsel itu dari genggaman Mama."Hai, Sayang..." sapaku pada Axel di layar ponsel diiringi senyum lebar yang dipaksakan."Hai... Lo lagi ngapain aja? Gue telepon bolak-balik dari tadi kenapa nggak diangkat?""G-gue..." Kalimatku terhenti sejenak, bola mataku melirik cemas ke kiri dan kanan. "Gue sibuk, Xel. Tadi gue lagi fokus nyelesain sketsa desain. Lagipula... bukankah di Amerika tadi udah larut. Lo harusnya udah istirahat







