Se connecterCengkeraman dingin di pergelangan tanganku membuat darahku serasa berhenti mengalir. Refleks, aku menjatuhkan pita ukur dan menyentakkan tanganku ke belakang dengan napas memburu, spontan terdorong mundur dua langkah."M-maaf... aku tidak bermaksud melakukan itu," cicitku panik, berusaha menetralkan raut wajahku yang memucat.James tidak langsung menjawab. Ia bergemiring di tempatnya, menatapku lurus-lurus dengan ekspresi datar yang begitu sulit diartikan. Detik berikutnya, sebelum aku sempat mengambil jarak lebih jauh, tangannya yang kekar berhembus cepat menyambar pergelangan tanganku kembali, lalu secara spontan menariknya hingga telapak tanganku menempel pas di atas kulit perutnya yang tegap dan bidang."Ah!" pekikku kaget dengan mata membulat sempurna.Sensasi hangat dan keras dari otot perutnya langsung menyengat telapak tanganku, membuatku tersentak bagai tersengat listrik."Lanjutkan saja pekerjaanmu," cetus James dingin.Aku sempat membeku selama beberapa detik seolah terhi
"Kamu sudah lama menjadi desainer?" James membuka percakapan dengan nada yang terdengar sok akrab di telingaku. "Baru saja, kok," jawabku dingin tanpa sedikit pun mengalihkan fokus jemariku yang sibuk merapikan lipatan kerah di lehernya."Orang Asia?" tanyanya lagi, tak menyerah.Gerakan tanganku terhenti sejenak. Aku mendongak, menatap paras bertulang tegas itu dengan dahi berkerut heran sebelum menanggapi singkat, "Iya.""Pantas saja cantik," sahutnya santai, menyelipkan cengiran tipis yang terasa begitu menggelikan di mataku.Deg!Darahku serasa mendidih. Refleks, aku melangkah mundur dua pijakan menjauhi posisinya, melempar jarak yang cukup aman. Pembicaraan pria asing ini sudah jelas-jelas menyeberangi batas profesionalitas dan menjurus ke arah yang sama sekali tidak benar."Aku sudah punya suami dan baru saja melahirkan seorang bayi," tegasku penuh nada peringatan. Tidak ada celah, sekecil apa pun, yang akan kubiarkan terbuka untuk pria ini.Namun, bukannya merasa bersalah atau
Aku sempat tercengang sejenak, mematungi paras pria di hadapanku yang begitu mirip dengan Axel. Namun, sadar bahwa tatapanku mulai tidak sopan, aku buru-buru menyambut uluran tangannya sambil tersenyum canggung."H-hai... Benar, aku Kayla," balasku sedikit terbata.James mengumbar senyum manis yang kelewat hangat—terlalu ramah untuk ukuran seseorang yang baru pertama kali bertatap muka denganku."Cantik. Sesuai dugaanku," celetuknya santai dengan nada penuh pesona.Senyum profesional di wajahku seketika menguap. Aku terpaku, darahku seolah berhenti mengalir. Siapa yang sebenarnya sedang dipuji pria ini? Tidak mungkin dia sedang mengomentari diriku, kan? Kami kan baru saja saling menyapa!"Maaf, maksudnya?" tanyaku penuh selidik, mengernyitkan kening.Tanpa beban, James langsung mengalihkan pandangannya menuju deretan gantungan busana rancanganku yang terpajang rapi di sudut ruangan."Desain busanamu. Keren dan cantik," ralatnya santai seraya menunjuk ke arah manekin, lalu melangkah sa
"Bye, Xel... Gue akan selalu merindukan lo..." gumamku lirih, melambaikan tangan perlahan sembari membiarkan butiran air mata luruh membasahi pipi, hingga sosok tegapnya benar-benar tertelan oleh kerumunan orang di balik pintu boarding.Aku terdiam cukup lama di tempatku berdiri, membiarkan deru batin dan isak tangisku mereda. Di dalam hati, aku merapalkan doa yang panjang dan tulus. Tuhan... Lindungi suamiku dalam perjalanannya. Semoga segala kerumitan dan masalah di kantornya bisa segera usai, agar kami bisa secepatnya berkumpul kembali dan merajut hari-hari bahagia seperti sedia kala...Tak lama kemudian, sebuah rangkulan hangat mendarat di pundakku. Mama melangkah mendekat, menggandeng jemariku dengan lembut guna menenangkan badai kegalauan yang masih bergemuruh di dadaku."Sudah... Jangan diterusin sedihnya, Kayla," bisik Mama bijak, tersenyum menenangkan. "Axel kan pulang ke negaranya sendiri. Lagian, dia pergi demi menyelamatkan masa depan kalian bertiga. Kalau perusahaan Axel
Mendengar pertanyaanku yang seolah meminta untuk ikut serta, Axel membalas pelukanku dengan hangat. Ia mengusap punggungku perlahan sebelum melontarkan kalimat yang langsung membuat dadaku mencelos."Kalau lo ikut gue, bagaimana dengan nasib fashion show lo?" tanyanya lembut, menatapku meminta kepastian.Seketika, tubuhku menegang. Pertanyaan itu menempatkanku di persimpangan jalan yang sangat sulit. Di satu sisi, batinku meronta-ronta menolak perpisahan; aku tidak ingin sedetik pun berjauhan dengan pria yang baru saja kembali seutuhnya ke sisiku ini. Namun di sisi lain, aku sadar betul tidak bisa begitu saja meninggalkan kota Liberty. Persiapan fashion week yang sudah di depan mata adalah impian terbesar yang selama ini kuimpikan dan kuperjuangkan dengan cucuran keringat. Mengikutinya adalah tiket emas bagi masa depan karierku sebagai desainer.Di antara dua pilihan yang sama-sama menyayat hati itu, aku harus bersikap realistis. Dengan dada sesak dan tenggorokan tercekat, aku terpak
Pandangan mata Mama langsung teralih sepenuhnya ke arah ambang pintu. Sosok Axel yang berdiri tegap sambil mendekap erat tubuh mungil Sira berhasil merusak atensi wanita paruh baya itu seketika. Tanpa ampun, Mama menghempas tubuhku ke samping demi membuka jalan, lalu melangkah cepat menghampiri sang menantu dengan mata berbinar-binar penuh puja."Sira... cucu Mama..." seru Mama girang, langsung mengambil alih posisi Axel.Aku yang tersingkir begitu saja di tengah ruangan hanya bisa terpaku dengan rahang yang nyaris jatuh. Kesal luar biasa, aku menghentakkan sebelah kakiku kuat-kuat ke lantai kayu. Di dalam dada, batin dan perasaanku bergemuruh hebat memprotes keadaan.Ternyata benar ya, apa kata orang-orang di luar sana? Cucu itu rasanya jauh lebih berkilau dan menyilaukan ketimbang anak kandung sendiri. Sekarang, aku benar-benar tidak terlihat berharga lagi. Sira selalu menjadi pusat perhatian dan jauh lebih penting di mata siapapun, bahkan di mata mamaku sendiri."Aduh, cantiknya c







