LOGIN"Lo bener-bener gila," hina Freya telanjur sinis.
Ia melangkah maju dan berdiri tepat di sampingku, menyalakan keran sembari mencuci tangannya. "Seharusnya, Miko nggak pernah memilih wanita sekasar lo!"Ia menyipratkan sisa air di jemarinya yang basah ke dalam wastafel, lalu menarik selembar tisu dari dispenser di dinding sebelum akhirnya kembali menghujani aku dengan tatapan merendahkan."Lo sama sekali nggak pantas buat dia." Ia menggantung kalimatnya sejenak, si"Hah?! Ada apa?! Apa yang sudah terjadi?!" Hani terperanjat kaget dan buru-buru bangkit terduduk seraya mengusap sisa air liur di sudut bibirnya.Aku yang menangkap tingkah konyolnya itu sempat terdiam sambil meliriknya dengan tatapan menjijikkan sebelum kembali teringat dengan keberhasilanku."Gue udah bisa jalan pakai sepatu heels!" teriakku histeris dengan wajah berbinar-binar penuh kemenangan.Mata Hani seketika membulat sempurna. "Benarkah?!"Aku mengangguk mantap dengan senyum merekah lebar. Kami berdua langsung bertos ria dengan kedua tangan, lalu melompat-lompat di atas kasur dengan riang gembira."Yeay!! Akhirnya berhasil!! Kayla gue akhirnya jadi cewek benaran! Yeay!!" teriak Hani histeris diliputi euforia.Aku memaksanya membeku sejenak. "Emang sebelumnya cewek apaan?""Cewek jadi-jadian..." sahutnya sambil mencondongkan wajahnya ke arahku.Kami berdua akhirnya kembali terbahak, lalu kembali melompat-lompat di atas kasur menikmati momentum keberhasilan ini.Puas menikmati e
"Ta-da! Coba lihat! Lo cakep banget kan kalau dipoles make up begini?" Hani memamerkan hasil riasannya dengan raut penuh kebanggaan.Sementara itu, aku justru merasa teramat risih dengan sapuan warna-warni yang kini menempel di kelopak mata, pipi, serta bibirku."Lo bikin muka gue jadi kayak apa, sih, Hani?!" Aku spontan menggosok warna cokelat di kelopak mata yang membuat kelopak mataku terasa berat dan lengket. "Ini ngapain digambar tebal begini, coba?"Belum selesai, aku meraba warna pink menonjol di pipiku. "Trus warna pink menonjol di pipi ini... gue malah kelihatan kayak mau ngelenong!""Astaga! Ngapain lo hapus, sih?!" protes Hani seraya menarik tanganku gemas. "Ini itu gaya make up flawless, Kayla! Dasar akang tomboi lo, ya! Nggak paham seni kecantikan banget!"Aku segera bangkit dari kursi rias dengan gerakan kasar. "Udah, ah! Gue nggak mau pakai yang beginian. Lagian gue juga nggak bisa merias wajah sendiri. Yang ada besok gue malah terlambat datang ke kantor gara-gara sibuk
"Lo belanja sendiri? Gue nggak perlu ikut?" tanyaku pada Hani di balik telepon."Iya... biar gue saja yang belanja. Ngapain juga lo ikut, nanti yang ada malah banyak nolaknya.""Oke deh. Tapi ingat ya, belikan baju yang tertutup!""Udah ah, nggak usah cerewet. Bye... Gue mau langsung berangkat ke mal."Tut! Tut!Panggilan telepon itu diputus begitu saja oleh Hani dari seberang sana."Ihh... dasar ini anak!" gerutuku seraya menatap layar ponsel yang meredup.Sekitar pukul tujuh malam, suara ketukan pintu kamar kos terdengar nyaring. Tepat saat aku memutar gagang pintu, Hani langsung menerobos masuk membawa tumpukan kantong belanjaan dari berbagai merek ternama di kedua tangannya."Bantuin gue... Ini berat banget!" serunya heboh."Astaga, Hani... Lo belanja apa aja, sih?!" Aku buru-buru membantunya mengambil alih separuh kantong belanjaan dari tangannya."Gue belikan lo paket lengkap!" sahutnya s
"Kaget, kan, Mbak? Awalnya saya juga nggak nyangka loh... kalau Pak Axel orangnya ternyata bisa seperti itu," imbuhku sengaja memprovokasi dan menyudutkan Axel.Namun, sang HRD justru melirikku sinis dari atas hingga ke bawah."Saya pikir... yang tadinya merayu itu justru Mbak Kayla," ucapnya dengan nada bernada meremehkan. "Jujur saja ya, Mbak. Pak Axel yang saya tahu itu selalu bersikap dingin dan berjarak dengan orang asing. Jadi... tidak mungkin kan beliau bertindak mesum pada Mbak Kayla yang hanya seorang petugas cleaning service?"Astaga... meremehkan sekali ini cewek! Emang bener sih Axel nggak tertarik padaku saat menjadi Surti. Wanita ini sama saja dengan Axel. Sukanya meremehkan kasta rendah.Aku akhirnya tertawa garing, memilih untuk menghentikan saja provokasi yang sia-sia ini. "Iya juga, sih, Mbak..." Lalu, mendadak aku meraih jemarinya di atas meja seraya memohon pasrah. "Tapi tolong, Mbak... Saya sebenarnya tidak mau dijadikan asisten pribadi Pak Axel. Saya mohon, tolo
"Gila lo, ya!" teriakku seraya mendorong kuat dada Axel hingga tubuh tingginya sedikit limbung. "Kalau lo berani jadiin gue budak nafsu lo, gue potong burung gagak lo itu!"Axel spontan menutupi area selangkangannya dengan kedua tangan. Matanya membelalak lebar menatapku dengan mulut menganga kaget. "Hah?! Ini kan aset paling berharga gue! Kalau lo potong, gimana nasib sangkarnya nanti?"Ia melirik ke arah bagian bawah tubuhku seraya menyunggingkan seringai menyebalkan. "Sangkar lo... bisa lapuk ntar karena kelamaan gak dihinggapi burung..."Ih, sialan banget memang si tikus got ini!"Emangnya yang punya burung gagak cuma lo doang?" Aku meliriknya sinis sebelum akhirnya membuang muka gusar. "Masih banyak burung lain yang antre mau menempati sangkar gue...""Apa?!" Axel refleks mencengkeram kedua bahuku, lalu memaksa wajahku untuk mendongak menatapnya. "Lo... jangan coba-coba berniat mengundang burung lain buat nempati sangkar itu, ya!""Ihh... emangnya lo siapa, hah?" sangkalku seraya
Aku dan Axel sama-sama terperanjat dengan mata membelalak lebar. "PERGI KALIAN SEMUA DARI SINI!!!" teriak Pak De Arga dengan wajah merah padam bagai bara api dan kedua tangan yang mengepal hebat. Aku dan Axel saling berpandangan sejenak, sebelum akhirnya pria itu menggenggam jemariku erat-erat lalu menarikku berlari sekencang mungkin dari tempat itu. Di sepanjang lorong menuju tangga darurat, para karyawan yang melintas sibuk menatap kami yang berlarian dengan mata membulat. Bisik-bisik heboh mereka terdengar riuh dan jelas di telinga. "Eh, ada apa tuh? Kenapa mereka berlarian begitu?" "Wah... manis sekali melihat mereka." "Lucu banget, mirip adegan di film romantis remaja!" Aku dan Axel sempat saling melempar tatapan, lalu menyunggingkan senyum geli bersamaan sambil terus memacu langkah menuju tangga darurat. "Xel... karyawan Lo ngeliatin kita..." ucapku sambil terus berlari dengan napas tersengal-sengal. "Nggak usah pedulikan mereka..." Kami menaiki anak tangga satu per sat







