LOGINHai guys... sorry. Hari ini othor hanya bisa update 1 bab aja. Sejak kemarin mual parah. Otak gak bisa dipakai buat mikir. Mohon pengertiannya ya... 🙏
"Bye, Xel... Gue akan selalu merindukan lo..." gumamku lirih, melambaikan tangan perlahan sembari membiarkan butiran air mata luruh membasahi pipi, hingga sosok tegapnya benar-benar tertelan oleh kerumunan orang di balik pintu boarding.Aku terdiam cukup lama di tempatku berdiri, membiarkan deru batin dan isak tangisku mereda. Di dalam hati, aku merapalkan doa yang panjang dan tulus. Tuhan... Lindungi suamiku dalam perjalanannya. Semoga segala kerumitan dan masalah di kantornya bisa segera usai, agar kami bisa secepatnya berkumpul kembali dan merajut hari-hari bahagia seperti sedia kala...Tak lama kemudian, sebuah rangkulan hangat mendarat di pundakku. Mama melangkah mendekat, menggandeng jemariku dengan lembut guna menenangkan badai kegalauan yang masih bergemuruh di dadaku."Sudah... Jangan diterusin sedihnya, Kayla," bisik Mama bijak, tersenyum menenangkan. "Axel kan pulang ke negaranya sendiri. Lagian, dia pergi demi menyelamatkan masa depan kalian bertiga. Kalau perusahaan Axel
Mendengar pertanyaanku yang seolah meminta untuk ikut serta, Axel membalas pelukanku dengan hangat. Ia mengusap punggungku perlahan sebelum melontarkan kalimat yang langsung membuat dadaku mencelos."Kalau lo ikut gue, bagaimana dengan nasib fashion show lo?" tanyanya lembut, menatapku meminta kepastian.Seketika, tubuhku menegang. Pertanyaan itu menempatkanku di persimpangan jalan yang sangat sulit. Di satu sisi, batinku meronta-ronta menolak perpisahan; aku tidak ingin sedetik pun berjauhan dengan pria yang baru saja kembali seutuhnya ke sisiku ini. Namun di sisi lain, aku sadar betul tidak bisa begitu saja meninggalkan kota Liberty. Persiapan fashion week yang sudah di depan mata adalah impian terbesar yang selama ini kuimpikan dan kuperjuangkan dengan cucuran keringat. Mengikutinya adalah tiket emas bagi masa depan karierku sebagai desainer.Di antara dua pilihan yang sama-sama menyayat hati itu, aku harus bersikap realistis. Dengan dada sesak dan tenggorokan tercekat, aku terpak
Pandangan mata Mama langsung teralih sepenuhnya ke arah ambang pintu. Sosok Axel yang berdiri tegap sambil mendekap erat tubuh mungil Sira berhasil merusak atensi wanita paruh baya itu seketika. Tanpa ampun, Mama menghempas tubuhku ke samping demi membuka jalan, lalu melangkah cepat menghampiri sang menantu dengan mata berbinar-binar penuh puja."Sira... cucu Mama..." seru Mama girang, langsung mengambil alih posisi Axel.Aku yang tersingkir begitu saja di tengah ruangan hanya bisa terpaku dengan rahang yang nyaris jatuh. Kesal luar biasa, aku menghentakkan sebelah kakiku kuat-kuat ke lantai kayu. Di dalam dada, batin dan perasaanku bergemuruh hebat memprotes keadaan.Ternyata benar ya, apa kata orang-orang di luar sana? Cucu itu rasanya jauh lebih berkilau dan menyilaukan ketimbang anak kandung sendiri. Sekarang, aku benar-benar tidak terlihat berharga lagi. Sira selalu menjadi pusat perhatian dan jauh lebih penting di mata siapapun, bahkan di mata mamaku sendiri."Aduh, cantiknya c
Tanpa kuasa menahan gejolak di dada, aku kembali melompat menerjang ke dalam pelukan Axel. Tangisku pecah sejadi-jadinya, meleleh tanpa sisa di balik dada bidangnya. Aku mencengkeram erat kemejanya, merengek bak anak kecil yang tidak rela mainannya direbut paksa."Gue nggak mau... lusa itu terlalu cepat, Xel!" racauku di sela isakan, sengaja memamerkan sisi manja yang jarang sekali kutunjukkan padanya. "Gimana kalau nanti di sana lo lupa sama gue? Gimana kalau lo sibuk banget sampai nggak ada waktu buat telepon gue dan Sira? Gue nggak mau jauh-jauh dari lo, titik!"Axel terkekeh geli mendengarnya. Alih-alih merasa terbebani, ia justru merengkuh pinggangku semakin erat, membiarkan air mataku membasahi bahunya. Dengan penuh kesabaran dan kedewasaan, ia mengusap punggungku lembut, menyalurkan ketenangan yang luar biasa."Sstt... cup, cup, cup. Sira yang baru lahir aja nggak cengeng kayak gini, Sayang," bisik Axel di telingaku, suaranya terdengar begitu romantis dan menenangkan. "Gue cum
Kalimat terakhir Axel itu berhasil menyedot seluruh kehangatan yang sebelumnya memenuhi rongga dadaku. Seketika, rengkuhan tanganku di lehernya melonggar. Aku melepaskan pelukan itu secara perlahan, lalu mendongak menatap lurus ke dalam manik matanya dengan kecemasan yang merayap naik."Apa yang sebenarnya terjadi, Xel...?" tanyaku dengan suara bergetar.Binar kejenakaan di mata Axel perlahan luntur, menyisakan guratan sendu yang begitu pekat. Ia menghela napas berat, menundukkan kepalanya sejenak sebelum kembali menatapku. "Sejak gue harus menjalani perawatan fisioterapi di Amerika, kondisi manajemen kantor memang jadi kurang stabil," sahutnya lirih. Ia menatap kosong ke sudut ruangan dengan kelopak mata yang kendur. "Papa sudah berusaha mati-matian menyelamatkan setiap kontrak dan masalah di sana, namun hasilnya tetap gagal. Itu juga alasan kenapa dia nggak bisa jenguk gue di sini..."Jantungku seperti dihantam palu tak kasat mata. Seketika itu juga, gelombang rasa bersalah yang
Aku bergeming di balik timbunan kain tebal, sama sekali tidak menghiraukan panggilan Axel yang terus melantun di udara. Suara langkah kakinya yang mendekat di atas lantai kayu membuat dadaku semakin sesak. Kubenamkan wajahku ke dalam lipatan siku, membiarkan butiran air mata luluh lantak membasahi seprai tanpa suara.Kenapa dia tega sekali? batinku meraung pedih. Pria yang tadinya kuperjuangkan mati-matian, pria yang kuharapkan menjadi tempat berlindung paling aman di negeri orang, justru bersiap meninggalkanku sendirian. Setelah kakinya sembuh, setelah dunianya kembali terang, ia dengan entengnya merencanakan kepulangan ke Indrata tanpa memedulikan nasibku dan bayi kami yang baru berusia beberapa hari, serta proyek impian yang masih merentang panjang di depan mata.Merasa diabaikan begitu saja, Axel akhirnya bertindak tegas. Ia tiba-tiba menarik ujung selimut yang menutupi tubuhku dengan paksa.Terpapar cahaya lampu kamar yang temaram, Axel terkesiap melihat keadaan wajahku. Sepas







