LOGINAxel semakin menarik pinggangku hingga tubuh kami menempel rapat. Ujung alisnya terangkat, jelas sekali saat ini dia sedang menikmati momen menggodaku."Kayla... kalian..." Suara syok Hani terdengar bergetar di depan kami.Aku spontan menarik tanganku dari bibir Axel, lalu dengan sekuat tenaga melepaskan diri dari rangkulan posesifnya."H-Hani... Gue... ikut Axel sebentar, ya," ujarku sambil menyeringai garing. Kedua tanganku saling bertaut gugup di belakang punggung.Hani meneliti sikapku dan Axel secara bergantian dengan mata menyipit. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Oke deh..." jawabnya lambat, lalu berjalan pergi dengan wajah yang dipenuhi kebingungan.Begitu Hani menjauh, Axel tanpa permisi kembali merangkul pundakku, memaksaku untuk mengikuti langkah panjangnya. Dan sialnya, sesampainya di koridor dekat ruang ganti basket, kami tanpa sengaja berpapasan dengan Miko yang sedang berjalan dari arah berlawanan.
Di tengah lapangan, dengan jersi basket yang basah oleh keringat, Axel yang namanya diteriakkan itu sedang mendribel bola dengan senyum miringnya yang menyebalkan.Dengan gerakan lincah, ia melewati lawan begitu saja sambil mendribel bola. Ia mengangkat bola begitu ada yang ingin merebut, lalu menembak ke keranjang dari jarak jauh.Srek!Bola memutar sesaat di bibir keranjang, membuat mata penonton seketika membeku dengan napas tertahan. Beberapa detik kemudian...Wush! Bola itu masuk dan jatuh tepat melewati ring.Priiit!Poin bertambah dan tim Axel dinyatakan menang."Huu..." Suara sorak-sorai yang diiringi tepuk tangan meriah menggema di seluruh lapangan. Mahasiswi yang menonton langsung histeris, bangkit dari kursi sambil meneriaki nama Axel.Dengan penuh kesombongan, Axel mengangguk bangga sambil melempar kecupan jauh pada setiap gadis yang memujanya. Ia berputar, melemparkan senyum maut ke setiap tribun. Hingga tanpa sengaja, pandangannya bertabrakan denganku yang hanya membek
Beruntung dari ujung lorong banyak mahasiswa yang berjalan datang. "Aku malu, lah. Di sini banyak orang," kelitku sambil menatap barisan mahasiswa yang semakin mendekat.Miko menoleh ke arah mereka sejenak. Ia menggigit bibir bawahnya, lalu menatapku kembali dengan senyum tipis yang manis. "Maaf ya, Key. Aku terkadang sulit menahan diri kalau sedang berdua sama kamu.""Emh. Nggak apa-apa."Para mahasiswa yang datang langsung masuk ke dalam kelas. Beberapa mahasiswi menyempatkan diri untuk menyapa Miko yang pernah mengisi kelas untuk mereka."Kak Miko...""Iya..." balas Miko ramah. Namun tiba-tiba, pandangannya tertahan pada seorang gadis yang baru saja berbelok di koridor.Freya. Dia adalah teman sekelasku. Cantik, lembut, dan sangat feminin. Gadis itu hanya tersenyum tipis pada Miko sambil sedikit menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat yang sopan.Dalam waktu yang sama, Miko pun membalas senyum itu-jauh lebih ramah dan lama dari biasanya. Entah kenapa, melihat interaksi itu, ada
Axel semakin mendekatkan wajahnya hingga bibir kami hampir bersentuhan. Bersama dengan itu, suara riuh dari mahasiswa di kantin kembali menyeruak."Hhuuu...""Mereka berantem atau mau mesraan, sih?"Tidak. Axel tidak mungkin benar-benar menciumku di depan orang banyak, kan? Jika itu terjadi, habislah rahasia kami.Aku tahu Axel juga tidak menginginkan perjodohan ini. Dia juga mempunyai banyak pacar cantik di kampus. Menciumku di muka umum hanya akan membuat hubungan rahasia kami terendus.Tapi, bagaimana jika dia nekat? Bukankah dia memang terkenal bajingan? Dan parahnya, jantungku berdetak kian kacau.Aku rasa mencium sepupunya sendiri di depan banyak mahasiswa justru akan semakin mengonfirmasi keplayboyannya. Toh, masih banyak cewek yang mengejarnya meski tahu pria brengsek ini kerap bergonta-ganti pasangan.Merasa akan kalah dan menanggung malu dari tantangan ini, aku akhirnya memundurkan wajah tepat saat jarak bibir kami tersisa beberapa milimeter."Axel!" teriak Siska sambil berj
"Lo sengaja bikin masalah?!" teriakku, semakin tak terkendali.Axel yang sudah berganti pakaian basket melangkah mendekati kami bersama pasukannya. Seluruh mata mahasiswa yang ada di kantin itu sontak saling berbisik sambil menonton pertengkaran anjing dan kucing yang sudah biasa terjadi di antara kami. Ini bukan pertama kalinya. Seluruh isi kampus tahu kami adalah saudara sepupu yang kerap bertengkar di mana pun.Miko langsung berdiri menghampiriku. Ia merangkul pundakku protektif sambil berbisik lembut, "Kayla... sudah. Nggak perlu diladenin."Axel dan pasukan basketnya itu sontak tertawa singkat sambil membuang muka, terlihat muak melihat perlakuan lembut Miko padaku.Aku meraih tas ransel di kursi dengan gerakan kasar, lalu melangkah keluar dari kantin melewati Axel yang diikuti oleh Miko di belakangku."Pacar itu jagain, bukan jadi kacung," sindir Axel. Suaranya terdengar begitu jelas dan menusuk di telingaku.Aku dan Miko seketika menghentikan langkah, lalu berbalik men
Otakku berputar cepat mencari alasan agar Miko tidak menaruh curiga."Kamu kayak nggak kenal Axel aja. Biasalah... dia minta aku jaga rahasia soal cewek-ceweknya," kelitku sambil menipiskan bibir bawah, berharap Miko tidak menyadari kebohongan yang baru saja kubuat.Aku bergegas kembali menggandeng tangannya untuk memutus rasa penasarannya lebih jauh. "Udah yuk, kita ke kantin. Bentar lagi aku ada kelas."Miko mengangguk sambil tersenyum tipis. Kami akhirnya melanjutkan perjalanan menuju kantin meski dadaku masih dipenuhi keresahan karena perintah Axel yang tiba-tiba.Di kantin yang sudah dipenuhi banyak mahasiswa, Miko dengan sigap mencarikanku tempat duduk seperti kebiasaannya. Sebelum membiarkanku duduk, ia mengeluarkan sapu tangan pribadi dari sakunya untuk mengelap kursi dan meja di hadapanku.Princess treatment. Dia tahu betul aku tidak suka debu karena alergi. Dan perhatian-perhatian kecil seperti inilah yang membuatku bertahan untuk tetap berada di sampingnya selama dua







