LOGINEctor mengernyit. “Apa maksudmu?”
Elyse menoleh padanya. “Dalam permainan kekuasaan,” katanya pelan, “yang lemah diperas. Yang kuat… dijatuhkan.”
Count Leclair terdiam.
“Jika terjadi sesuatu yang besar,” lanjut Elyse, “sebuah tuduhan, konflik, atau skandal yang perlu tumbal agar semua pihak lain tetap aman siapa yang lebih pantas dikorbankan daripada keluarga besar yang bisa menanggungnya?”
Ector membuka mulut, lalu menutupnya lagi. “Itu terlalu jauh,” katanya akhirnya. “Kau berpikir terlalu buruk.”
“Tidak, Aku hanya berpikir terlalu jujur.” Ia menatap ayah dan ibunya. “Jika aku menikah dengan Duke Levric,” katan
Elyse merasa cukup tenang duduk di pangkuan Dyall, dipeluk erat seperti ini. Tubuhnya bersandar sepenuhnya padanya, seolah tak ada lagi alasan untuk waspada atau menahan diri.“Masih kesal?” tanya Dyall pelan.Elyse menggeleng, lalu justru memeluknya lebih manja. Dyall bisa merasakannya, cara Elyse mendekat, cara lengannya melingkar tanpa ragu. Biasanya, dalam posisi seperti ini, Elyse masih terlihat malu-malu, canggung seakan takut salah. Namun sekarang tidak. Ada kelembutan yang jauh lebih jujur.“Aku hanya sedikit kesal,” gumam Elyse, “karena anda memberiku jus anggur, bukan wine.”Dyall tersenyum kecil, lalu menunduk mencium pundak Elyse dengan lembut. “Yang penting sama-sama dari anggu
Elyse keluar dari ruangan itu dengan langkah yang nyaris goyah.Begitu pintu tertutup di belakangnya, seluruh ketegangan yang sejak tadi ia tahan runtuh seketika. Dadanya terasa sesak, seolah napasnya baru benar-benar kembali setelah ia menjauh dari Oscar Noctair.Tangannya dingin, telapak tangannya lembap oleh keringat gugup. Ia sadar betul, Oscar bukan Dyall.Walaupun mudah dibaca namun tidak bisa ditebak. Namun justru karena itu, ia jauh lebih berbahaya daripada Levric mana pun.Sulit… batinnya. Sulit ditebak, sulit diyakinkan, dan sulit dilawan.Viscount tidak mengantarnya keluar. Elyse pun memilih pintu belakang kastil jalur sunyi yang jarang dilewati tamu. Udara sore menyambutnya, sedikit dingin, sedikit lembap. Ia baru saja menarik na
Untuk sesaat, ruangan itu terasa sunyi yang berat, seperti udara sebelum hujan besar. Oscar tidak tersenyum. Tidak pula terkejut. Ia hanya memiringkan kepala sedikit, menatap Elyse dengan ketertarikan yang kini jauh lebih tajam.“Pernyataan yang berani,” katanya akhirnya, suaranya rendah. “Terlebih dari seorang wanita yang dunia kenal sebagai calon Duchess Levric.”Elyse tidak berkedip. “Itu versi dunia dan bukan versi saya.”Oscar berjalan perlahan, langkahnya tenang, mengitari meja hingga berdiri tepat di depannya. Ia berhenti cukup dekat dan cukup untuk membuat orang lain gentar. Namun Elyse tidak mundur.“Menjadi ratu,” lanjut Oscar pelan, “bukan soal mahkota. Itu soal darah, dukungan, dan—” matanya m
Udara di sekitar mereka terasa menegang.Elyse menunduk sejenak. Di benaknya terlintas wajah Dyall tatapan merahnya, pelukannya yang tadi pagi begitu nyata, tangannya yang menyentuh perutnya dengan kelembutan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia adalah istri Kaisar. Fakta itu tak bisa ia sangkal, tak bisa ia lepaskan begitu saja.Namun di balik semua itu, ada dirinya sendiri, perempuan yang lelah dijadikan pion, yang melihat keluarganya runtuh, yang menyaksikan kebusukan politik menggerogoti banyak hal tanpa ada yang benar-benar berani menghentikannya.Elyse mengangkat kepalanya. Tatapannya kini jernih, tenang, dan penuh tekad.“Aku tidak datang sebagai pihak siapa pun,” katanya akhirnya. “Bukan karena aku berdiri dipihak Kaisar saat ini dan bukan
“Apa saja yang dikatakan Viona pada Anda?”Nada suaranya tenang, namun justru ketenangan itu yang membuat udara di sekitar mereka terasa menegang. Viona, yang berdiri sedikit di belakang Viscount Katris, refleks mengangkat kepala. Bibirnya terbuka, seolah ingin menjelaskan atau mungkin membela diri.Namun sebelum satu kata pun keluar, Elyse mengangkat tangannya.Gerakan itu tidak kasar. Tidak juga terburu-buru. Hanya satu isyarat sederhana, namun cukup untuk membuat Viona terdiam sepenuhnya. Elyse tidak menoleh. Tatapannya tetap terkunci pada Viscount, seolah dunia di sekelilingnya sudah tidak lagi penting.Viscount memperhatikan itu semua dengan saksama. Ia menghela napas perlahan, lalu menggeleng.“Viona tidak mengat
Ucapan Elyse menggantung lama di udara, seperti membuka kembali luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh.Semua orang terdiam, bukan karena tidak ingin bicara, melainkan karena ingatan itu datang terlalu jelas.Saat di mana dua keluarga besar itu pernah berdiri di sisi yang sama, mereka memiliki hubungan kerja sama antara keluarga Leclair dan Katris dibangun dengan harapan, ambisi, dan janji keuntungan besar.Dan saat di mana semuanya runtuh.Kebangkrutan bisnis Count Leclair datang lebih dulu, disusul kehancuran bisnis Viscount Katris. Sejak hari itu, tudingan saling dilemparkan, kepercayaan berubah menjadi kebencian, dan hubungan yang dulu erat terpecah oleh rasa bersalah yang tak pernah benar-benar diakui.Padahal… Orang yang mendo







