LOGINIvanka pergi tanpa menoleh kembali, meninggalkan udara yang terasa lebih dingin dari sebelumnya. Elyse tidak lagi memedulikannya. Ancaman Ivanka hanyalah suara bising yang penting sekarang adalah apa yang tersembunyi di balik tumpukan kertas ini.
Elyse menarik dokumen yang tadi disinggung Ivanka, membukanya perlahan. Matanya menyapu baris demi baris dengan cermat. Di sana tergambar jelas dua kubu besar yang selama ini menjadi fondasi rapuh kekaisaran.
Faksi kaisar.
Isinya adalah mereka yang secara terang-terangan mendukung Dyall, keluarga lama yang tidak terlalu menonjol namanya, namun setia. Ujung tombaknya adalah keluarga Eoghan, keluarga ibu kandung Dyall. Mereka tidak banyak bicara, tidak banyak bergerak, tetapi berdiri tepat di belakang takhta.
Dan yang kedua faksi lama.
Elyse menoleh padanya, lalu kembali menatap paviliun itu sekali lagi sebelum akhirnya mengangguk pelan.Ia tahu Pan benar.Namun saat ia berbalik meninggalkan jendela kecil itu, satu hal menjadi jelas di benaknya di Kastil Levric, tidak ada kebetulan. Dan apa pun yang bergerak di balik paviliun itu, cepat atau lambat… akan berhubungan dengannya.Elyse menarik napas pelan.Ia tidak perlu khawatir. Setidaknya, tidak sekarang.Apa yang ia lihat memang aneh, namun bukan sesuatu yang menuntut jawaban segera. Seperti yang Pan katakan, terburu-buru hanya akan membuatnya ceroboh. Lagipula, Elyse akan terus datang ke kastil ini karena ia bukan tamu yang singgah sekali lalu pergi.Cepat atau lambat
Elyse lalu berbalik, memberi isyarat kecil pada Marco. Pintu kereta dibuka.Tanpa menoleh lagi, Elyse naik ke dalam kereta. Roda-roda besi segera bergerak, meninggalkan Ivanka berdiri sendiri di halaman mansion, dengan amarah, kecurigaan, dan rumor yang belum memiliki bentuk.Di dalam kereta, Elyse menyandarkan punggungnya, menutup mata sesaat.Di Kastil Levric, Elyse tidak menyangka langkahnya akan berhenti di depan sebuah pintu tinggi berukir lambang keluarga. Pintu itu jarang dibuka, ia tahu itu dari naluri seorang yang sudah lama tinggal di rumah bangsawan. Namun pagi itu, nyonya Levric sendiri yang mendorongnya terbuka.“Masuklah,” ucapnya tenang.Elyse melangkah masuk dan seketika ia terdiam.
Elyse berjalan ke tepi ranjang, duduk perlahan. Gaunnya berdesir saat ia menarik napas dan menjatuhkan diri setengah berbaring. “Lagipula,” lanjutnya pelan, “aku hanya bertanya. Itu bukan ajakan aneh.”Ia menutup wajahnya dengan satu tangan. “Dia yang menggoda,” gumamnya cepat, seolah ingin membela diri. “Jelas-jelas dia.”Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Elyse membuka tangan itu, menatap langit-langit, lalu tertawa kecil tawa pendek yang lebih mirip keluhan.“Dasar menyebalkan,” katanya lirih, namun sudut bibirnya terangkat tanpa bisa dicegah.Di luar sana, Dyall mungkin sedang sibuk mengurus urusannya. Namun Elyse yakin akan satu hal, pria itu tahu persis apa yang ia lakukan.
Elyse dan Dyall sempat berhenti sejenak ketika tatapan Ivanka kembali tertuju ke arah mereka. Mata Ivanka berkilat aneh, terlalu basah, terlalu liar dan baru saat angin danau berembus lebih dekat, Elyse menyadari sesuatu yang membuat dadanya menegang.Aroma alkohol.Tipis, tapi jelas. Tidak mungkin salah.Ivanka berdiri tidak stabil, tubuhnya sedikit miring, seolah tanah di bawah kakinya bergeser pelan. Tatapannya menembus mereka, namun fokusnya goyah, seperti berusaha mencengkeram sesuatu yang terus lolos.Dyall menundukkan suara. “Dia mabuk.”Elyse tidak menjawab. Ada perasaan aneh di dadanya namu bukan simpati, bukan pula kemenangan. Hanya kesadaran pahit bahwa sesuatu sedang retak, dan Ivanka berdiri tepat di atas pecahanny
Jawaban Elyse menggantung di udara lebih lama dari yang seharusnya.Tak ada yang langsung menanggapi. Tak ada sanggahan, tak ada pujian. Namun Elyse bisa merasakannya sesuatu telah bergeser. Pandangan tuan Levric padanya tidak lagi sama seperti sebelumnya. Bukan lagi sekadar menilai calon menantu, melainkan menimbang sebuah aset.Sampai makan malam berakhir, tidak ada satu pun yang membuka suara. Sendok dan garpu bergerak dalam keheningan yang rapi, terlalu rapi untuk terasa nyaman. Elyse menyelesaikan makanannya dengan sikap yang sama tenangnya seperti saat ia berbicara tadi, seolah ia tidak baru saja mengubah cara keluarga Levric memandang dirinya.Ketika mereka berdiri dari meja, Jester mendekatinya dengan senyum tipis yang dibuat-buat.“Minum teh sebentar sebelum pulang?&rd
Elyse mematung sempurna.Kata-kata itu tidak terdengar seperti lelucon. Tidak ada kesan dramatis berlebihan hanya pernyataan sederhana, jujur, dan terlalu tenang untuk dianggap main-main.“Mati?” ulang Elyse pelan.Ivanka menghela napas pendek, seolah percakapan itu telah menyentuh batas yang tidak boleh dilewati.“Sudahlah, Elyse. Aku harus pergi.”Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik. Langkahnya cepat, terlalu cepat untuk seseorang yang biasanya selalu menjaga wibawa. Pintu tertutup di belakangnya, meninggalkan keheningan yang terasa jauh lebih berat daripada suara apa pun.Elyse tetap berdiri di tempatnya, menatap pintu yang sudah tertutup rapat itu.







