Share

77. Petak Umpet

Penulis: Raisaa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-26 11:00:40

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (3)
goodnovel comment avatar
RaHmi
emanglah si elyse ini bikin darah naik liatny...
goodnovel comment avatar
breadenafa
mulai bosan dg ceritanya
goodnovel comment avatar
Rina Damayanti
menjijikkan......!!!!!
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   364. Penjara

    Ia menunduk, suaranya menjadi lebih dalam.“Penjara ini… adalah harga dari kesetiaanku yang salah arah. Dan aku menerimanya.”Ivanka menatap Caius lama.Di satu sisi kereta, ada seseorang yang menerima hukuman sebagai penebusan. Di sisi lain, ada ibu dan anak yang terjerat dalam kebencian karena janji yang dikhianati.Kereta terus bergerak.Meninggalkan dunia yang pernah memanggil mereka bangsawan. Meninggalkan nama besar Duke Levric. Meninggalkan Riaven yang telah mati di altar penggal.Menuju tempat di mana tidak ada gelar. Tidak ada intrik. Hanya dinding batu dan hari-hari panjang tanpa kepastian. Dan di antara jeruji besi itu, tiga cara menghadapi kehancuran terlihat jelas yaitu Caius memilih menerima, Ingrid memilih mengutuk dan Jefrey memilih membenci.Sementara Ivanka… hanya bisa menatap ke depan, bertanya dalam diam apakah penjara akan mengurung tubuh mereka saja atau juga sisa hati yang belum sempat berdamai dengan masa lalu?Gerbang besi itu terbuka perlahan dengan suara pa

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   363. Menghabiskan waktu dengan kutukan

    Kereta kurungan itu melaju perlahan menembus gerbang kota yang dahulu selalu terbuka bagi mereka dengan penuh hormat.Kini gerbang itu menutup di belakang mereka dengan bunyi berat seperti palu yang memakukan masa lalu ke tanah. Roda besi berderit di atas jalan berbatu, menciptakan suara panjang yang menyerupai ratapan. Angin sore menerobos masuk melalui celah-celah jeruji, membawa debu dan aroma kebebasan yang tidak lagi bisa mereka sentuh.Di dalam kereta, duduk mereka yang dulu disebut bangsawan.Count Levric bersandar di dinding besi, wajahnya pucat dan matanya kosong, seakan seluruh sisa kebanggaan telah terkikis bersama pedang algojo yang memenggal putranya. Tidak ada lagi sikap angkuh seorang duke. Yang tersisa hanyalah seorang pria tua yang kehilangan segalanya.Tak jauh darinya, Ingrid istri simpanan Duke Levric memeluk tubuhnya sendiri, jari-jarinya gemetar di balik kain gaun yang kini kusam. Jefrey, putranya, duduk meringkuk di samping sang ibu, menahan tangis yang tak lagi

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   362. Berdiri berdampingan

    Istana terasa berbeda setelah darah tumpah di alun-alun.Lorong-lorong marmer yang biasanya dipenuhi suara langkah para pelayan kini sunyi, hanya gema sepatu Dyall dan Elyse yang terdengar pelan saat mereka berjalan berdampingan menuju ruang dalam. Tirai-tirai tinggi bergoyang perlahan tertiup angin senja, membawa masuk cahaya jingga yang pucat, seolah matahari sendiri enggan menyinari hari yang baru saja menyelesaikan hukuman.Elyse tidak berkata apa-apa sejak mereka meninggalkan balkon eksekusi.Jubah kerajaannya masih terpasang rapi, mahkota kecil di kepalanya masih berkilau, namun bahunya tampak lebih berat dari biasanya. Ia berjalan dengan punggung tegak seperti ratu yang harus dilihat dunia namun di dalam dadanya, langkah-langkah itu terasa seperti menyeret beban yang tak kasatmata.Dyall memperhatikannya dari samping.Ia mengenal perempuan itu terlalu lama untuk tidak menyadari perbedaan kecil: cara Elyse menggenggam ujung jubahnya lebih erat, cara matanya tidak lagi menatap lu

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   361. Masa lalu tidak ditutup damai

    Suara itu tidak keras.Namun di tengah keheningan lapangan eksekusi, suara Duke Levric terdengar jelas, menembus udara yang berat dan dipenuhi bau besi serta debu.“Aku memilih kekuasaan… dan kehilangan segalanya.”Kata-kata itu jatuh seperti batu ke dalam dada mereka yang mendengarnya.Jester berdiri kaku.Untuk sesaat, ia merasa kakinya kehilangan kekuatan. Lelaki yang pernah ia anggap sebagai guru, sebagai figur yang hampir menyerupai ayah, kini berlutut di hadapan altar penggal bukan sebagai bangsawan agung, melainkan sebagai seorang pria tua yang kalah oleh ambisinya sendiri.Di sampingnya, Seraphina menutup mulut dengan kedua tangan. Matanya melebar, lalu bergetar. Ia tidak menangis, seolah air mata itu bahkan tidak sanggup keluar menghadapi kenyataan yang terlalu kejam untuk diterima.Levric menghela napas panjang.Tarikan napas itu terdengar seperti napas terakhir dari sebuah masa lalu.Matanya masih tertuju pada Jester dan Seraphina, seakan seluruh dunia telah lenyap, dan yan

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   360. Maaf pertama dan terakhir

    Hari itu, seluruh kekaisaran seakan menahan napas.Tanah lapang di luar ibu kota kembali dibuka setelah lebih dari dua puluh tahun tertutup debu dan rumput liar. Di sanalah, pada masa lalu, hukuman penggal sering dijalankan tempat di mana keadilan dan ketakutan pernah berdiri berdampingan. Bertahun-tahun lamanya, tempat itu dibiarkan sunyi, seolah dunia ingin melupakan darah yang pernah meresap ke tanahnya.Namun pagi itu, altar penggal kembali berdiri.Kayunya baru, tetapi bentuknya sama seperti dulu. Tinggi, kaku, dan tanpa belas kasihan.Tiang bendera berkibar di sekeliling lapangan. Pasukan berdiri berbaris rapi dengan tombak terangkat, membentuk lingkaran besar yang memisahkan rakyat dari panggung eksekusi. Di balik barisan itu, manusia berkumpul seperti lautan bangsawan dengan jubah panjang, rakyat dengan pakaian sederhana, semuanya menyatu dalam satu ketegangan yang sama: menunggu akhir dari Duke Levric dan Riaven.Bisik-bisik mengalir seperti angin.“Hari ini mereka mati…”“Pe

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   359. Memilih disisi ibu

    Alun-alun itu telah kembali sunyi.Debu masih melayang tipis di udara, sisa dari ribuan langkah kaki yang beberapa saat lalu memenuhi tempat itu dengan sorak dan teriakan. Tiang-tiang bendera berdiri tegak, kainnya berkibar pelan diterpa angin sore, seolah belum menyadari bahwa hari penghakiman telah berakhir.Jester belum bergerak dari tempatnya berdiri.Ia seperti patung yang tertinggal di tengah ruang kosong, sementara dunia perlahan melanjutkan hidupnya tanpa menunggunya.Di tempat itulah Ivanka terakhir berdiri. Di tempat itulah rantai besi berbunyi saat tubuh perempuan itu ditarik pergi.Jester menatap tanah yang kini kosong, matanya tidak benar-benar melihat apa pun. Yang ada hanyalah bayangan masa lalu yang muncul satu per satu, tanpa ia undang.Ia melihat Ivanka kecil, berlari di taman istana dengan rambut terurai dan tawa yang terlalu keras untuk seorang putri bangsawan. Ia mendengar suaranya memanggil namanya dengan nada ceroboh, tanpa jarak, tanpa takut pada gelar atau dar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status