LOGINhaloo, maaf update terlalu malam
Matahari siang terasa membakar leher. Rusdi berjalan cepat membelah taman belakang, langsung masuk ke kamar paviliunnya yang sempit. Pintu kayu dia dorong sampai rapat. Klik. Grendel terkunci dua kali.Napasnya memburu. Kemeja lusuh yang basah oleh keringat dia lepas taruh begitu saja, membiarkan dada bidangnya terbuka. Dia berlutut di sebelah ranjang besi yang berderit pelan. Tangannya cekatan merogoh celah papan lantai di bawah kasur, menarik satu ponsel hitam tebal.Panggilan darurat langsung tersambung."Barang sudah sampai ke tangan orangmu, Fel?" suara Rusdi pelan tapi menuntut. Matanya mengintip dari balik tirai jendela yang kusam. Kolam renang masih sepi."Aman. Orang kita sudah pegang flashdisk merah dan surat tanah itu. Kerjamu rapi, Rus," sahut Fel dari seberang. "Tapi ingat, misimu belum selesai.""Aku tahu. Ada perubahan. Aku baru saja bikin kesepakatan dengan Nyonya Vivian."Fel mendengus keras. "Kesepakatan? Kamu ini agen lapangan atau hidung belang? Jangan main main, R
Adrian dan Ferdi tertawa terbahak-bahak sambil melangkah masuk ke dalam rumah mewah itu. Suara pintu depan yang tertutup dengan keras menyisakan sunyi yang menyesakkan di area kolam renang. Rusdi berdiri mematung, mencengkeram selang air sampai jari-jarinya memutih dan gemetar. Amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun. Dia segera mematikan keran air, lalu berjalan cepat menuju dapur belakang dengan langkah yang berat.Dia tahu Vivian pasti lari ke sana untuk menyembunyikan tangisnya. Benar saja, Rusdi menemukan Vivian sedang berdiri menyandarkan tubuhnya ke meja pantry kayu. Nyonya rumah itu tampak sangat hancur dan rapuh. Daster satin ungu yang dia pakai terlihat sangat ketat karena dia sedang membungkuk, memperlihatkan lekuk pinggulnya yang lebar dan bokongnya yang berisi dengan sangat nyata."Nyonya," panggil Rusdi dengan suara rendah yang sedikit parau.Vivian tersentak kaget. Dia segera membalikkan badan dan mencoba mengusap air mata di pipinya yang putih. "Rusdi? Kenapa kamu masuk ke
Udara subuh masih sangat dingin saat sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gerbang belakang. Rusdi yang sudah menunggu di balik pagar segera melangkah keluar dengan waspada.Kaca mobil turun sedikit, memperlihatkan seorang pria bertopi."Mana barangnya?" tanya pria itu tanpa basa-basi.Rusdi mengeluarkan flashdisk merah dari sakunya dan menyerahkannya. "Ini. Pastikan sampai ke tangan Fel sekarang juga.""Ayo masuk ke mobil. Fel sudah siapkan tempat aman buat kamu," ajak si sopir.Rusdi menggeleng pelan. "Bilang sama dia, saya belum bisa pergi. Masih ada urusan yang harus diselesaikan di dalam rumah ini.""Kamu jangan gila, Rus. Kalau Adrian tahu kamu pelakunya, kamu habis.""Saya tahu risikonya. Sudah, jalan sekarang."Mobil itu perlahan melaju pergi. Rusdi menarik napas panjang, lalu kembali menyelinap masuk ke arah paviliun.Sabtu pagi, matahari mulai terasa menyengat di kulit. Rusdi sedang sibuk mencangkul tanah di pojok taman saat Adrian keluar ke paviliun kolam renang bersam
Pintu paviliun tertutup rapat. Rusdi menyandarkan punggungnya di sana sambil mengatur napas yang tersengal. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Jaket hitam yang ia kenakan terasa sangat lembap dan tidak nyaman.Ia merogoh saku celana. Jari tangannya yang masih gemetar menarik keluar sebuah benda kecil berwarna merah. Sebuah flashdisk. Benda itu berkilau tertimpa lampu kamar yang redup.Rusdi segera menuju tempat tidur. Ia mengambil ponsel yang tadi ia sembunyikan di bawah bantal. Layar ponsel itu menunjukkan tiga panggilan tak terjawab dari Fel. Tanpa membuang waktu, Rusdi menekan tombol panggil balik."Halo," suara Fel menyahut dengan cepat di seberang sana."Barangnya sudah ada di tangan saya, Fel," bisik Rusdi."Kamu yakin itu benda yang benar? Jangan sampai kita gagal karena kamu salah ambil barang."Rusdi menatap flashdisk merah itu lekat-lekat. "Sangat yakin. Saya mengambilnya dari laci rahasia di bawah meja jati di ruang kerja Adrian. Bahkan Adrian sangat panik tadi
Garis-garis tipis cahaya bulan menembus celah gorden, menyinari sisa kehangatan Vivian yang masih membekas di dada Rusdi.Namun, kehangatan itu menguap seketika saat Vivian menarik diri. Jemarinya yang gemetar merapikan tali daster satin hitamnya yang sempat melorot. Di bawah temaram lampu, Rusdi bisa melihat napas Vivian yang memburu, dada indahnya yang membusungkan daster tipis itu naik-turun dengan cepat, seolah sedang memompa sisa keberanian yang dia miliki."Rus, dengarkan aku," bisik Vivian. Dia mencengkeram lengan Rusdi, kulitnya yang halus terasa kontras dengan otot Rusdi yang menegang. "Adrian ada di kamar utama. Dia sedang mabuk dan emosi. Aku akan masuk ke sana. Aku akan membuatnya 'sibuk' supaya dia tidak keluar."Rusdi menggeleng keras. "Gila, Vi. Itu bunuh diri. Kalau dia main tangan lagi bagaimana?"Vivian memaksakan senyum getir. Dia mengelus pipi Rusdi dengan telapak tangannya yang licin dan harum. "Hanya ini caranya. Ambil flashdisk merah itu di laci rahasia ruang ke
Suasana kamar tamu makin pengap oleh gairah yang tertahan. Rusdi bisa merasakan deru napas Vivian yang menerpa lehernya."Jawab jujur, Rus. Apa kamu lindungi aku cuma karena aku majikanmu?" tanya Vivian pelan. Matanya yang sayu menatap Rusdi lekat-lekat.Rusdi menggeleng. Tangannya makin erat mendekap pinggul lebar Vivian."Bukan, Vi. Sama sekali bukan karena itu.""Lalu kenapa? Kamu tahu kan Tuan Adrian itu orangnya nekat? Kamu bisa hancur kalau dia tahu kamu ada di sini."Rusdi menatap belahan dada Vivian yang sangat dalam di balik daster satin hitamnya yang melorot. Gumpalan daging yang jumbo dan putih mulus itu tampak naik-turun dengan cepat."Saya tahu risikonya. Saya bisa saja dipecat atau dipenjara oleh Tuan Adrian," jawab Rusdi dengan suara serak."Terus kenapa kamu tetap nekat?""Karena saya nggak tahan lihat wanita seindah kamu disia-siakan. Tuan Adrian punya segalanya, tapi dia nggak punya hati buat jaga kamu."Vivian terdiam sebentar, lalu dia makin merapatkan tubuh montok







