Share

Bab 252

Author: Arandiah
last update publish date: 2026-04-14 21:26:26

"Bisnis? Kau pikir aku tertarik dengan bisnis gurem suamimu yang hampir bangkrut itu? Aku punya ribuan perusahaan seperti itu."

Tangan pria itu tiba-tiba bergerak. Ia tidak menyentuh wajah Vivian, melainkan menarik satu helai rambut Vivian yang terurai di bahu. Ia memainkannya perlahan dengan jari-jarinya yang panjang.

"Aku tertarik pada sesuatu yang lebih cantik. Sesuatu yang selama ini hanya disia-siakan oleh pria bodoh seperti Adrian," lanjutnya.

Vivian merasakan sensasi aneh menjalar di tul
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 252

    "Bisnis? Kau pikir aku tertarik dengan bisnis gurem suamimu yang hampir bangkrut itu? Aku punya ribuan perusahaan seperti itu."Tangan pria itu tiba-tiba bergerak. Ia tidak menyentuh wajah Vivian, melainkan menarik satu helai rambut Vivian yang terurai di bahu. Ia memainkannya perlahan dengan jari-jarinya yang panjang."Aku tertarik pada sesuatu yang lebih cantik. Sesuatu yang selama ini hanya disia-siakan oleh pria bodoh seperti Adrian," lanjutnya.Vivian merasakan sensasi aneh menjalar di tulang belakangnya. Rasa takut yang luar biasa bercampur dengan desir aneh yang tak mampu ia jelaskan. Setiap kali jemari pria itu tanpa sengaja menyenggol kulit lehernya, ada aliran listrik yang membuatnya lemas.Pria itu kini berdiri tepat di belakangnya. Ia meletakkan kedua tangannya di pundak Vivian. Tekanannya kuat, sebuah klaim kekuasaan yang nyata."Kau sangat cantik, Vivian. Jauh lebih cantik dari bayanganku," bisik Reynard tepat di telinganya. "Wajar jika Adrian takut kehilanganmu. Tapi, d

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 251

    Lantai ke-55 itu dilingkupi keheningan yang mencekam. Saking senyapnya, Vivian bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdentum liar di balik dada.Karpet tebal yang menyelimuti seluruh ruangan meredam suara langkah kakinya, membuat Vivian merasa seolah-olah sedang berjalan menuju sebuah lubang tanpa dasar.Ruangan itu terlampau luas. Cahaya matahari sore yang menerobos jendela kaca besar terhalang oleh gorden tipis, menciptakan suasana remang yang misterius.Aroma maskulin yang mahal—perpaduan antara aroma kayu cendana dan tembakau halus—menyesaki udara. Aroma itu begitu dominan, hingga Vivian merasa paru-parunya kini penuh dengan kehadiran pria yang bahkan belum ia lihat wajahnya itu.Di tengah ruangan, di balik meja kayu hitam yang kokoh, sebuah kursi kerja bersandaran tinggi tampak memunggungi pintu. Vivian berhenti tepat di tengah ruangan. Ia meremas tas tangan kecilnya hingga jemarinya memucat dan dingin. Keringat tipis mulai membasahi telapak tangannya."Selamat sore, Tua

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 250

    Felicia melipat tangannya. "Bos kami hanya percaya pada hubungan keluarga yang harmonis. Beliau ingin mengenal karakter rekan bisnisnya melalui pasangannya. Ini adalah protokol standar bagi investasi di atas 100 miliar.""Tapi ... dipanggil kapan saja?" tanya Adrian ragu."Uang 500 miliar itu bisa cair dalam dua jam, Tuan Adrian. Anda bisa membayar utang bank Anda yang menumpuk. Perusahaan Anda tidak akan bangkrut," Felicia mencondongkan tubuhnya. "Atau Anda lebih memilih kehilangan semuanya hanya karena cemburu yang tidak berdasar?"Adrian menelan ludah. Ia membayangkan para penagih hutang yang mendatangi kantornya setiap hari. Ia membayangkan rasa malu jika ia harus jatuh miskin.Ia mengambil pulpen di atas meja. Ia tidak bertanya lagi. Ia langsung membubuhkan tanda tangannya di atas materai."Cerdas," gumam Felicia sambil mengambil kembali map itu. "Bos akan menemui Anda sekarang."Pintu geser di ujung ruangan terbuka. Reynard keluar dengan langkah yang sangat berwibawa. Ia mengena

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 249

    Pagi harinya, halaman belakang kediaman Adrian masih diselimuti embun. Reynard, yang kini dikenal sebagai Rusdi, berdiri di tengah taman.Ia mengenakan kaus oblong berwarna abu-abu yang sudah menipis di bagian bahu. Topi jeraminya yang compang-camping menutupi sebagian wajahnya.Ia memegang gunting rumput besar. Suara gesekan besi yang tajam memecah keheningan pagi.Sret. Sret.Reynard bekerja dengan ritme yang stabil. Matanya tidak tertuju pada rumput, melainkan pada pantulan kaca lantai dua kamar utama Adrian. Ia melihat bayangan Adrian yang sedang tergesa-gesa memakai dasi.Pintu kaca teras terbuka. Adrian keluar dengan napas pendek. Wajahnya terlihat berantakan. Kantung matanya hitam karena kurang tidur dan efek sakit perut semalaman."Rusdi! Berhenti dulu!" teriak Adrian.Reynard meletakkan guntingnya. Ia membungkuk dalam. Punggungnya ia tekuk hingga terlihat seperti pria yang tidak punya harga diri."Iya, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Reynard. Suaranya ia buat sedikit p

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 248

    "Kamu pikir saya bodoh, Adrian? Aryasatya Group itu raksasa. Mereka tidak akan mau bekerjasama dengan perusahaan kecil yang mau bangkrut seperti milikmu!""Saya punya koneksi, Pak! Percayalah!" suara Adrian terdengar putus asa.Tok... Tok...Reynard masuk dengan kepala menunduk. Ia meletakkan nampan di meja kaca. "Ini kopi hitamnya, Tuan-tuan."Ia menaruh cangkir yang sudah diberi "bumbu" tepat di depan Adrian. Adrian langsung mengambil cangkir itu tanpa melihat, lalu meminumnya dengan rakus untuk meredakan rasa pening di kepalanya."Keluar sana! Jangan menguping!" usir Adrian."Iya, Tuan. Maaf," jawab Reynard sambil berjalan mundur.Baru saja Reynard sampai di pintu, ponsel di atas meja bergetar. Sebuah nomor kantor pusat muncul di layar. Adrian melihatnya dan matanya langsung melotot."Lihat! Ini telepon dari Aryasatya Group!" kata Adrian pada Hendra dengan nada sombong. Ia segera mengangkatnya dan menyalakan speaker. "Halo, selamat pagi. Dengan Adrian di sini."Suara Felicia terden

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 247

    "Kamu asalnya dari mana?" tanya Hendra lagi."Dari desa di Jawa Tengah, Tuan. Jauh di gunung. Saya merantau cari makan ke sini," kata Reynard. Dia memainkan ujung handuknya. "Tuan mau kopi juga? Tuan Adrian baru saja minta dibuatkan kopi pahit."Hendra membuang muka. Dia terlihat jijik melihat handuk kotor di leher Reynard."Tidak perlu. Saya tidak punya banyak waktu," kata Hendra.Hendra menatap Adrian kembali."Kita bicara di dalam saja, Adrian. Saya tidak suka bicara bisnis di taman begini," kata Hendra."Tentu, silakan masuk, Pak Hendra. Maaf rumah agak berantakan," kata Adrian menjilat.Adrian menoleh ke arah Reynard sebelum masuk."Rusdi! Cepat buat kopi dan antar ke ruang tamu sekarang! Jangan lama-lama!" bentak Adrian."Inggih, Tuan. Siap," jawab Reynard.Reynard melihat mereka masuk ke rumah. Pintu kaca tertutup. Saat itu juga, wajah bodoh Reynard hilang. Matanya menjadi tajam dan dingin.Dia berdiri tegak. Otot punggungnya yang tadi ditekuk kini merenggang. Dia berjalan ke k

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 155

    Rusdi menelan ludah. Sentuhan tangan Adisty di pahanya terasa seperti sengatan listrik yang panas. Dia berusaha tenang tapi jantungnya berdegup sangat kencang karena posisi mereka terlalu dekat di dapur yang sempit itu.Adisty tersenyum miring melihat kegugupan Rusdi. Dia sengaja menggesekkan tanga

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 145

    Rusdi tidak menunggu lebih lama lagi. Dia segera membuka celananya dan memposisikan dirinya di depan Vivian yang sudah sangat tidak sabar. Meja kayu di bawah mereka berderit pelan saat Rusdi mulai melakukan penetrasi dengan satu sentakan yang cukup dalam."Ahhh! Pelan sedikit, Rus... tapi jangan be

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 134

    Rusdi berdiri kaku di tempatnya. Matanya nanar melihat Siti yang masih terduduk di lantai semen dingin itu. Daster kuning Siti yang tipis dan agak belel itu tersingkap berantakan, memperlihatkan paha putihnya yang tebal dan mulus tanpa malu-malu.Siti meringis pelan sambil memegangi pinggang bagian

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 132

    Malam semakin larut dan suasana di dalam kamar rawat kelas tiga itu terasa sangat sunyi. Hanya terdengar suara dengkur halus dari pasien lain dan detak jam dinding yang seolah berpacu dengan detak jantung Rusdi. Ibu Sumi sudah tertidur lelap setelah meminum obatnya, sementara Rusdi masih duduk terj

    last updateLast Updated : 2026-03-29
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status