LOGINBeberapa hari kemudian...Pagi itu di penthouse, suasana terasa lebih santai dari biasanya. Vivian sudah berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Ia mengenakan terusan berwarna nude berbahan brokat yang elegan tapi tidak terlalu mencolok. Rambutnya dibiarkan tergerai rapi.Reynard masuk ke kamar setelah selesai berganti pakaian di ruangan sebelah. Ia memakai kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku. Pria itu berdiri di belakang Vivian dan menatap pantulan istrinya di cermin."Sudah siap?" tanya Reynard.Vivian mengangguk. "Sudah. Apa menurutmu ini terlalu sederhana?""Tidak. Ibu justru lebih suka kalau kau tampil apa adanya. Beliau tidak suka sesuatu yang berlebihan," jawab Reynard sambil memegang bahu Vivian."Aku hanya merasa sedikit gugup. Aku takut mengecewakan ibumu," kata Vivian jujur.Reynard membalikkan tubuh Vivian agar menghadapnya. "Tidak perlu gugup. Ibu sudah sangat menyukaimu sejak pertama kali melihat mu. Sekarang, ayo berangkat. Sopir sudah menunggu di bawah.
Dentingan lift pribadi itu terdengar pelan saat pintu terbuka. Vivian melangkah keluar dengan santai. Karena ini adalah malam keduanya di penthouse, dia tidak lagi melayangkan pandangan kagum pada langit-langit tinggi atau pilar marmer yang megah. Dia berjalan langsung menuju meja konsol eboni, meletakkan tas tangannya yang mungil di sana dengan gerakan yang sangat terbiasa.Gaun merah hati berbahan satin yang ia kenakan tampak mengikuti setiap gerak tubuhnya dengan sempurna. Saat ia berjalan, cahaya lampu kristal memantul di permukaan kain yang mengilap, menciptakan gradasi warna merah yang elegan. Potongan gaun itu benar-benar menonjolkan kulit bahunya yang seputih porselen.Reynard berjalan beberapa langkah di belakangnya. Pria itu sudah melepas jam tangan dan melonggarkan dasinya. Ia memperhatikan bagaimana Vivian merapikan rambut hitamnya di depan cermin besar."Aku sudah meminta koki untuk menyiapkan semuanya di dapur sebelum kita sampai," kata Reynard. Suaranya berat, menggema
"Katakan pada wanita ini, siapa aku," perintah Reynard dingin.Manajer itu menatap Adisty dengan bingung. "Beliau adalah Tuan Muda Reynard, pemilik dari Grup Aryasatya. Mal ini, butik ini, dan hampir sebagian besar gedung di kota ini adalah miliknya."Wajah Adisty seketika berubah menjadi sangat pucat. Dia menatap Reynard dengan tidak percaya. "Pemilik Grup Aryasatya? Tapi... tapi..."Reynard melangkah maju satu langkah, membuat Adisty mundur ketakutan. "Kau bilang Vivian tidak pantas memakai berlian? Kau bilang suamimu, eh maksudku, kakakmu yang dipenjara itu lebih baik dariku?""Sa... saya tidak bermaksud begitu, Tuan," gagap Adisty."Kau juga menghina Rusdi," lanjut Reynard dengan nada yang sangat rendah. "Kau tidak tahu kalau Rusdi dan aku adalah orang yang sama? Aku hanya sedang ingin melihat seberapa busuk hati keluarga kalian."Adisty seolah tersambar petir. Dia hampir saja jatuh pingsan. Pria miskin yang dulu selalu dia injak-injak dan dia hina ternyata adalah salah satu orang
Reynard melangkah masuk ke dalam butik perhiasan dengan sorot mata yang tajam. Di belakangnya, Anton mengikuti dengan langkah yang tertata. Kehadiran Reynard membuat seluruh pelayan di toko itu seketika menunduk hormat.Pandangan Reynard langsung tertuju pada seorang wanita yang duduk di kursi beludru. Vivian. Dia mengenakan gaun merah hati yang sangat pas di tubuhnya. Potongan gaun itu memperlihatkan leher jenjang dan bahunya yang mulus. Kulitnya yang putih tampak kontras dengan warna merah gaun tersebut.Namun, wajah Vivian terlihat gelisah. Dia memegang sebuah kotak perhiasan dengan tangan yang sedikit gemetar."Kenapa belum dibayar?" tanya Reynard. Suaranya berat dan memenuhi ruangan yang sunyi itu.Vivian tersentak. Dia menoleh dan melihat Reynard berdiri di sana dengan aura yang sangat kuat. "Reynard? Kamu sudah selesai rapatnya?"Reynard tidak menjawab. Dia berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan Vivian. Dia mengambil kotak perhiasan itu. Di dalamnya terdapat sebuah kalung
Reynard mendengus tidak suka. "Pria itu benar-benar tidak berguna. Berani-beraninya dia membatasi gaya hidup Vivian seperti itu. Dia memperlakukan wanita seperti Vivian seperti seorang pelayan yang harus melapor setiap kali membeli garam."Reynard kembali membuka ponselnya dan mengetik pesan singkat untuk Felicia.[Apa yang kalian lakukan di sana? Kenapa tagihannya sangat menyedihkan? Apakah kalian hanya membeli makanan ringan?]Sambil menunggu balasan, Reynard berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah jalanan Jakarta yang macet. Dia membayangkan Vivian yang berdiri ragu di depan toko-toko mewah. Dia tahu Vivian sangat mengerti kualitas barang, dia tahu mana berlian yang asli dan mana yang tidak, karena dia memang lahir dari keluarga kaya. Namun, tangannya pasti gemetar setiap kali harus memberikan kartu itu ke kasir.Ponselnya berbunyi lagi. Balasan dari Felicia masuk.[Nyonya hampir menangis saat melihat harga gaun tujuh puluh juta, Tuan. Dia bilang dia bisa
Reynard duduk di kursi kebesaran di ujung meja panjang ruang rapat itu. Di depannya, sepuluh direktur divisi sedang berkeringat dingin. Salah satu dari mereka sedang berdiri di depan layar besar, mencoba menjelaskan grafik keuntungan kuartal ketiga yang menurut Reynard sangat membosankan.Suara proyektor yang berdengung halus dan langkah kaki asistennya, Anton, yang masuk membawa kopi baru adalah satu-satunya selingan di ruangan kedap suara itu. Reynard tidak benar-benar mendengarkan. Matanya menatap tajam ke arah layar, tapi pikirannya tertuju pada satu orang.Vivian.Dia membayangkan wanita itu sekarang sedang berada di dalam pusat perbelanjaan bersama Felicia. Dia tahu Vivian pasti merasa sangat ragu-ragu membawa kartu hitam miliknya. Meskipun Vivian terlahir dari keluarga yang sangat mampu dan terbiasa dengan kemewahan sejak kecil, trauma dari pernikahan sebelumnya telah merusak kepercayaan dirinya.Mantan suaminya dulu adalah pria yang sangat pelit. Meskipun pria itu kaya, dia
Matahari semakin tinggi dan sinarnya mulai terasa menyengat di kulit. Suara deru mesin mobil mewah Tuan Adrian yang perlahan menjauh dari gerbang depan menjadi tanda bahwa pemilik rumah tersebut sudah berangkat ke kantor.Rusdi menghela napas panjang sambil menyeka keringat di lehernya dengan handu
Perlahan Rusdi melepaskan pelukannya dari tubuh Hana, meskipun sebenarnya dia masih betah berlama-lama menempel pada kehangatan gadis itu. Tapi akal sehatnya mengingatkan kalau dia punya satu tugas penting yang harus diselesaikan demi menutupi kebohongannya pada Nyonya Vivian."Han," ucap Rusdi sam
Rusdi membereskan kotak perkakasnya dengan santai. Misi pura-pura memperbaiki pipanya sudah selesai. Walaupun tadi ada kejadian baju Hana basah kuyup, setidaknya alasan Rusdi ke Nyonya Vivian jadi masuk akal.Setelah memastikan keran tertutup rapat dan area itu bersih, Rusdi berjalan menuju bale-ba
"Soal yang semalam itu ...." Hana menggigit bibir bawahnya, wajahnya makin merah padam. "Hana mau bilang makasih lagi. Tadi pagi Hana belum sempet bilang bener-bener karena takut.""Makasih buat apa?" tanya Rusdi pura-pura tidak tahu, padahal hatinya sudah berdebar."Makasih udah bikin Hana ngerasa







