Share

Chapter 50

Author: Arandiah
last update Last Updated: 2026-01-12 22:59:15
Mobil Reynard menjauh dan hilang di ujung jalan. Adrian berdiri kaku di teras. Dia tidak berteriak. Dia cuma mengepal tangannya kuat-kuat sampai buku jarinya memutih. Dia menahan marah dan takut setengah mati.

Dia berbalik melihat pintu rumahnya. Rusak parah. Kuncinya jebol karena ditendang keras, bukan dicongkel maling biasa. Ini kerjaan orang profesional.

Adrian masuk. Langkahnya berat. Matanya awas melihat sekeliling yang gelap gulita. Kakinya menginjak pecahan kaca vas bunga tapi dia tidak peduli. Sofa kulit mahalnya terbalik. Lukisan robek. Masa bodoh dengan harta benda.

Pikirannya cuma satu. Di mana Vivian?

Dia lari naik tangga. Di lantai atas baunya beda. Bau keringat laki-laki, rokok murah, dan alkohol tumpah. Pintu kamar utama terbuka sedikit.

Adrian mendorong pintu pelan-pelan. Cahaya bulan masuk menerangi kamar. Kasur hancur disayat pisau. Baju-baju di lemari ditarik keluar semua ke lantai.

"Vivian?" panggilnya. Suaranya rendah tapi tegas.

Ada suara gesekan di pojok k
Arandiah

sedang revisi

| Like
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Chapter 51

    Mobil sedan hitam itu meluncur mulus membelah jalanan malam yang sepi. Di dalam kabin yang kedap suara, Reynard menyetir dengan santai. Tangan kanannya yang terbalut perban diletakkan di atas paha. Sesekali rasa perih menyengat dari luka goresan itu, tapi Reynard justru menikmatinya. Luka ini adalah tanda mata dari perpisahan yang manis.Dia melirik ke kursi penumpang. Tas ransel kusam berisi seluruh kekayaan Adrian tergeletak di sana.Reynard tertawa pelan. Tawanya terdengar jahat.Adrian si pengusaha sukses. Adrian si suami teladan. Pria itu begitu bangga dengan rumah mewahnya dan pagar tingginya. Dia pikir tembok tebal bisa melindungi miliknya. Dia tidak sadar kalau musuhnya sudah ada di dalam pagar setiap hari, memotong rumput halamannya, menyiram bunganya, dan meniduri istrinya.Selama enam bulan ini, Reynard menikmati peran terbaik dalam hidupnya. Menjadi Rusdi, si tukang kebun bisu yang kotor dan bau tanah.Reynard teringat aroma gudang peralatan di belakang rumah Adrian. Tempa

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Chapter 50

    Mobil Reynard menjauh dan hilang di ujung jalan. Adrian berdiri kaku di teras. Dia tidak berteriak. Dia cuma mengepal tangannya kuat-kuat sampai buku jarinya memutih. Dia menahan marah dan takut setengah mati. Dia berbalik melihat pintu rumahnya. Rusak parah. Kuncinya jebol karena ditendang keras, bukan dicongkel maling biasa. Ini kerjaan orang profesional. Adrian masuk. Langkahnya berat. Matanya awas melihat sekeliling yang gelap gulita. Kakinya menginjak pecahan kaca vas bunga tapi dia tidak peduli. Sofa kulit mahalnya terbalik. Lukisan robek. Masa bodoh dengan harta benda. Pikirannya cuma satu. Di mana Vivian? Dia lari naik tangga. Di lantai atas baunya beda. Bau keringat laki-laki, rokok murah, dan alkohol tumpah. Pintu kamar utama terbuka sedikit. Adrian mendorong pintu pelan-pelan. Cahaya bulan masuk menerangi kamar. Kasur hancur disayat pisau. Baju-baju di lemari ditarik keluar semua ke lantai. "Vivian?" panggilnya. Suaranya rendah tapi tegas. Ada suara gesekan di pojok k

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Chapter 49

    "Pulang," jawab Reynard singkat tanpa menoleh. Tangannya memutar kemudi dengan santai, mengarahkan sedan hitam itu membelah jalanan malam Jakarta. "Kau butuh ganti baju, dan kita perlu bicara strategi. Reputasimu sedang di ujung tanduk, Adrian. Kita harus bergerak cepat sebelum media mencium bau busuk penangkapanmu." Adrian mengangguk lemah. "Benar. Benar, Pak. Saya harus pastikan Vivian baik-baik saja." Mobil memasuki kawasan perumahan elite di Pondok Indah. Sepi. Lampu jalan berpendar kuning suram. Saat mobil berbelok ke pelataran rumah Adrian, jantung Adrian seakan berhenti berdetak. Gerbang rumahnya terbuka lebar. Pos satpam kosong. Dan yang paling mengerikan: rumah itu gelap gulita. Tidak ada satu pun lampu yang menyala. "Vivian..." desis Adrian. Bahkan sebelum mobil berhenti sempurna, Adrian sudah melompat keluar. Dia berlari terpincang-pincang menuju pintu utama yang ternyata sudah tidak terkunci—engselnya rusak bekas paksaan. Reynard mematikan mesin. Dia mengambil sebuah

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Chapter 48

    Di Gudang Tua, Kawasan Industri. Mesin motor bebek itu mati. Hening. Rusdi turun menenteng tas belanja lusuh yang dia apit di kaki sejak tadi diangkat dengan hati-hati. Isinya bukan emas, melainkan tumpukan map merah dan dua hard disk enkripsi. Itu adalah nyawa perusahaan Adrian, dokumen rahasia berisi aliran dana gelap yang dibawa "si tukang kebun" saat kekacauan terjadi. Tanpa buang waktu, tas itu dilempar ke bagasi sedan hitam yang terparkir di sudut gelap. Dia bergerak efisien. Kaos dekil penuh getah pohon dilepas. Celana kargo kotor masuk ke tong pembakaran. Identitas "Rusdi" menjadi abu dalam hitungan detik. Ia berganti pakaian kemeja putih licin, jas navy rapi, dan jam tangan seharga satu unit apartemen. Reynard Aryasatya kembali ke wujud aslinya. Dia masuk ke mobil. Ponsel ditempel ke telinga. "Tarik berkas Adrian di Kantor Wilayah. Sekarang." "Tapi Pak, Kapolres bilang..." "Katakan padanya, investasi untuk putrinya di London akan lancar jika Adrian keluar malam ini.

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Chapter 47

    Rusdi tidak membalas pelukan itu. Tangannya menggantung kaku di udara, lalu turun. Tepukan pelan di punggung Vivian. Dua kali. "Nyonya. Baju nanti kotor. Oli." Vivian terisak, tapi melepas pelukan. Aroma parfum Chanel miliknya bertabrakan dengan bau oli gardan di kaos Rusdi. Dia mundur, menyeka mata, lalu meraih gelas anggur di meja. Kosong. "Duduk, Rus." Rusdi menggeleng. Dia mundur selangkah, membungkuk dalam. "Saya di lantai." Dia bersila di karpet, persis di dekat kaki Vivian yang telanjang. Matanya menunduk, tapi ekor matanya memindai ruangan. "Tuan Adrian..." Rusdi berbisik, memancing. "Tadi di garasi tangannya gemetar. Seperti orang dikejar setan." Vivian membanting gelas kosong ke meja. Klang. "Dia memang setan. Sertifikat rumah ibuku digadaikan." Rahang Vivian mengeras. "Kalau bank datang..." "Bukan cuma bank, Nyonya." Rusdi mendongak sedikit. Wajahnya polos, tapi matanya tajam. "Kalau Tuan bangkrut atau ditangkap malam ini, semua akan dijarah. Polisi, debt collector.

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Chapter 46

    Suara sapu lidi yang menggaruk paving block terdengar ritmis, hampir seperti hitungan mundur. Rusdi tidak melihat ke arah pintu rumah, tapi telinganya menangkap setiap pergerakan. Fokus matanya hanya satu, noda lumpur kering yang memanjang di kap mesin sedan hitam itu. Sebuah cacat visual yang sengaja ia tinggalkan. Perangkap sederhana untuk ego laki-laki yang sedang retak.Pintu depan terbuka kasar.Pak Hendra keluar duluan. Langkahnya tegap, tas kerjanya dikepit erat di ketiak—bahasa tubuh orang yang ingin segera pergi dari situasi buruk. Adrian mengekor di belakangnya seperti anjing yang dipukul. Kemejanya kusut, keringat membasahi kerah. Bau asam kepanikan tercium jelas bahkan dari jarak dua meter."Pak Hendra, dengar dulu! Aset gudang itu masih bisa dicairkan!" seru Adrian parau."Itu barang sengketa, Pak Adrian. Bank tidak main judi." Pak Hendra menjawab tanpa menoleh, terus berjalan menuju mobilnya.Adrian tercekat. Napasnya memburu. Dia butuh sasaran tembak, dan matanya langsu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status