Partager

Bab 45

Auteur: Millanova
last update Date de publication: 2026-04-21 21:44:27

Keheningan di ruangan itu terasa semakin pekat. Suara gemeretak kayu bakar yang dilahap api menjadi satu-satunya sumber suara sebelum Eyang Bayu akhirnya memecah kesunyian. Matanya yang tajam menatap Kukuh dengan penuh selidik.

"Tahu dari mana kamu tentang teluh itu, Le?" tanya Kakek Bayu, nadanya menyiratkan keheranan yang mendalam. "Seingatku, kakek dari kakekku dulu hanya pernah bercerita bahwa ada orang yang terkena Teluh Areng ini, namun keluargaku tidak pernah tahu detailnya seperti apa d
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 201

    DORRR...!!!Suara letusan peluru yang memekakkan telinga memecah keheningan pagi di lereng Gunung Kawi.Timah panas itu melesat cepat dan menghantam tepat di kening Kukuh. Pemuda itu terhuyung ke belakang, lalu ambruk menghantam tanah berdebu."Hahaha! Lihatlah sampah yang mencoba menjadi pahlawan ini!" ejek Pak Rio dengan mata terbelalak bangga, menatap tubuh Kukuh yang terkapar. "Mati mengenaskan hanya dengan satu timah panas! Kalian pikir "Ucapannya terhenti di kerongkongan. Tawa para ajudan itu mendadak mati."A apa... monster apa kau ini?!" jerit ajudan yang menembaknya, kakinya bergetar hebat hingga pistol di tangannya nyaris terjatuh.Dipenuhi amarah murni yang membangkitkan kebuasan purba di dalam nadinya, Kukuh melesat maju bak kilatan bayangan. Tangan pemuda itu merampas pistol dari tangan sang ajudan dengan tenaga yang meremukkan tulang pergelangan tangan pria kekar tersebut.Kukuh memutar moncong pistol baja itu, menempelkannya tepat di pelipisnya sendiri, lalu menarik pe

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 200

    "Loh... Mas... Mas...!"Sebuah tepukan kasar di bahu membuyarkan ketegangan Kukuh. Pemuda itu tersentak dan menoleh ke belakang. Salah satu ajudan Pak Rio yang bertubuh kekar kini sudah berdiri di sampingnya dengan tatapan penuh keheranan bercampur geli."Mas, cepet pakai bajunya, Mas! Di sini dingin sekali, ngapain Sampean lepas baju di tengah acara begini?" tegur ajudan itu sambil menyodorkan kemeja Kukuh yang tergeletak di tanah.Kukuh terkesiap. Wajahnya seketika memerah menahan malu.(Sial! Kenapa ajudan ini bisa melihatku?!) rutuk Kukuh dalam hati. (Oh, bodohnya aku! Dokter Harsha tadi melepaskan sukma raganya menuju dimensi gaib, makanya wujud fisiknya tidak terlihat oleh manusia biasa. Sedangkan aku... aku cuma melepas baju secara fisik supaya auraku tidak terdeteksi oleh lelembut! Jelas saja manusia normal masih bisa melihatku berkeliaran pakai celana dalam!)Otak Kukuh berputar cepat mencari alasan. Ia segera memejamkan mata sejenak, lalu membukanya dengan pandangan linglung

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 199

    (Ke mana Dokter Harsha? Kenapa lama sekali? Sudah hampir setengah jam dia tidak kembali...) batin Kukuh gelisah.Tubuh pemuda itu masih menegang kaku di atas kursinya. Matanya tak lepas dari sosok mengerikan Giman yang sedang berdiri meneteskan liur berbau bangkai tepat di depan wajah Dita. Waktu terasa berjalan sangat lambat, mencekik setiap helaan napasnya.Tiba-tiba, dari arah sudut kanan panggung yang tertutup bayang-bayang gelap, sebuah siluet melangkah maju.Kukuh memicingkan mata, dan napasnya nyaris tercekat karena keheranan. Siluet itu adalah Dokter Harsha. Namun, penampilannya benar-benar berbeda. Pria sepuh itu kini bertelanjang dada, tanpa alas kaki, dan hanya mengenakan celana pendek selutut! Jubah kebesarannya, kemejanya, dan seluruh atribut modernnya telah ia tinggalkan di kegelapan.Kukuh buru-buru menoleh ke kiri dan ke kanan, mengamati reaksi Pak Rio dan para ajudannya.Lagi-lagi, keganjilan absolut terjadi. Pak Rio, Silvi, dan semua orang yang duduk di kursi penonto

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 198

    (Apakah ini perewangan dari Pak Rio? Apakah mereka semua adalah Kolo?) batin Kukuh panik. Keringat dingin membanjiri punggungnya.Ia melirik cepat ke arah Pak Rio. Betapa terkejutnya Kukuh saat melihat konglomerat itu masih duduk dengan santai, memangku putrinya sambil tersenyum menatap panggung yang kosong akibat berhentinya sang dalang. Para ajudannya pun tampak biasa-biasa saja. Rupanya, tabir gaib malam itu begitu tebal hingga hanya Kukuh dan Dokter Harsha yang bisa melihat lautan entitas kelaparan yang sedang menatap rakus ke arah mereka.Di saat nyawa mereka terasa berada di ujung tanduk, dari balik layar kain kafan itu, suara serak Pak Ronggo kembali memecah keheningan dengan lantang."Swuh rep purna sanyata. Kasenandhan ing madyaning wana Dhandhaka, katon remeng-remeng kawuryan megahing raras. Nalika samana, Sang Dewi Sinta, garwanira Raden Permadi utawi Sri Ramawijaya, nembe mriksani sesawangan ingkang asri..."Alunan suluk itu kembali mengudara, diiringi tabuhan gamelan yang

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 197

    Dokter Harsha tidak menoleh sedikit pun. Pria sepuh itu hanya mengangkat tangan kanannya yang keriput, menempelkan jari telunjuk ke bibirnya. Sebuah isyarat mutlak bagi asistennya untuk diam dan membiarkan semuanya terjadi. Kukuh langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat, membiarkan Mata Batin-nya yang mengambil alih penglihatan.(Apakah dia orang desa dari lereng bawah?) batin Kukuh, matanya menyipit saat melihat sesosok pria tiba-tiba berjalan gontai ke arah depan geber (layar panggung) dan duduk bersimpuh di atas tanah basah. (Mungkin dia mendengar alunan gamelan tadi, makanya dia mencari sumber suaranya ke mari. Tapi... tunggu dulu. Kenapa dia tidak menggunakan alas kaki sama sekali di tengah hutan bersuhu sedingin ini?)Belum tuntas keheranan Kukuh, dari balik sela-sela kabut tebal yang menyelimuti pekarangan, muncul lagi dua sosok laki-laki. Penampilan mereka jauh lebih ganjil. Yang satu berambut panjang dan diikat gelung kuno layaknya abdi dalem keraton masa lampau sedangkan yan

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 196

    Nang... ning... nong... neng...Suara gamelan mulai ditabuh memecah keheningan lereng Gunung Kawi. Awalnya pelan, mengalun penuh mistis, lalu perlahan temponya menanjak naik dan semakin kencang. Bayangan gunungan (kayon) dari kulit sapi itu kini menari-nari di atas geber kain kafan, disorot oleh cahaya kuning keemasan dari api blencong yang bergoyang tertiup angin malam.Kukuh yang duduk di barisan penonton merasakan bulu kuduknya meremang."Kuh..." bisik Dokter Harsha tanpa menoleh, matanya tetap menatap lurus ke arah panggung layar putih itu. "Ini sudah dimulai. Kamu harus waspada, dan jangan bingung atau panik dengan apa pun yang kamu lihat nanti.""Baik, Dokter," jawab Kukuh dengan nada mantap, mengumpulkan konsentrasi penuh pada Mata Batin-nya.Di kursi sebelah Dokter Harsha, Pak Rio tampak menyunggingkan senyum lebar. Konglomerat itu terlihat sangat puas dan menikmati alunan gamelan saat Pak Ronggo menancapkan gunungan ke gedebog pisang, menandakan lakon Kidang Kencana resmi dib

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 72

    Kukuh mengangguk pelan. "Bagus."Satu kata itu jatuh seperti palu hakim, menyegel perjanjian tak tertulis di meja plastik tersebut. Ego Adiwangsa dan Dian telah dipaksa berlutut. Tidak ada lagi perdebatan.Adiwangsa dengan tangan gemetar mencabut ponselnya dari kabel pengisi daya warung. Ia menelep

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 71

    Tetesan darah segar dari hidung Nyonya Dian baru saja diusap kasar menggunakan tisu kotor yang ada di atas meja. Udara di dalam warung makan yang sempat mencekik perlahan kembali normal. Namun, keheningan yang tercipta bukanlah keheningan tanda menyerah.Sesaat setelah syok akibat pantulan energiny

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 70

    Tirai plastik kusam yang memisahkan area makan dan dapur warung itu masih bergoyang pelan. Begitu penjaga warung yang terhipnotis itu menghilang ke balik dapur, keheningan di meja plastik bundar itu terasa mencekik. Suara desis minyak panas dan bisingnya klakson bus terminal seakan teredam oleh ket

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 69

    Deru mesin pikap L300 yang kasar perlahan mereda. Mobil bak terbuka yang mengangkut sisa-sisa sayuran dan lima manusia kelelahan itu akhirnya menepi di sebuah area berdebu yang cukup ramai. Setelah dua puluh lima menit membelah jalanan aspal yang bergelombang, mereka berlima tiba di depan salah sat

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status