共有

Bab 46

作者: Millanova
last update 公開日: 2026-04-22 22:54:38

Jarum jam di pergelangan tangan Ratih yang ramping sudah menunjuk ke angka setengah satu malam. Hawa dingin khas pinggiran kota terasa semakin menusuk tulang. Setelah perbincangan yang cukup panjang dan membuka banyak tabir rahasia, Kukuh dan Ratih akhirnya berpamitan kepada Eyang Bayu Manikwaja dan Pak Jaka.

Mereka melangkah keluar dari Pendopo Agung menuju pelataran tanah yang hanya diterangi obor. Di sana, mobil sedan mewah keluarga Aji Saka sudah menunggu dengan mesin menyala. Pak Supri ber
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 83

    Kukuh menatap Ratih yang masih tidur di ranjang bambu kuning itu, lalu menoleh kembali ke dua pria di depannya."Saya menerima," katanya. "Tapi ada satu syarat."Dokter Harsha menunggu."Rahasiakan ini dari istri saya. Dari keluarganya juga.""Alasannya?" tanya Dokter Harsha pelan.Kukuh tidak langsung menjawab. Matanya bergerak sebentar ke arah Ratih, ke wajah perempuan itu yang dalam tidurnya masih terlihat lelah, lalu kembali ke Dokter Harsha."Mereka sudah lama tahu saya sebagai orang yang tidak berguna," ucapnya akhirnya. Rahangnya mengeras tipis. "Kalau sekarang tiba-tiba mereka tahu ini mereka akan baik. Mereka akan hormat. Tapi saya tidak mau itu. Saya tidak mau dihormati karena mereka butuh sesuatu dari saya."Dokter Harsha dan Dokter Adhi saling tatap sebentar."Tidak masalah," kata Dokter Adhi. Tangannya menepuk bahu Kukuh ringan, tapi ada bobotnya. "Kami jaga rapat-rapat."Dari arah ranjang, suara erangan pelan memotong ruangan."Di mana... ini di mana...?"Ratih mengerjap

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 82

    Kukuh masih terpaku di depan cermin, jemarinya bergetar saat menyentuh kulit lehernya sendiri. Rasa hangat yang menjalar dari ukiran yang menyala merah itu terasa nyata, seolah ada aliran kehidupan baru yang berdenyut di sana."Dokter... bagaimana bisa? Bagaimana ukiran ini bisa ada di sini tanpa pernah saya sadari?" tanya Kukuh, suaranya nyaris berbisik, matanya tetap terkunci pada pantulan pola rumit di cermin."Itulah bukti yang tak terbantahkan, Nak Kukuh," jawab Dokter Harsha, melangkah mendekat dengan tatapan haru. "Mungkin dulu Wiratama, ayah kandungmu, menanamkan Rajah Getih itu melingkar di lehermu sesaat setelah kau lahir. Itu adalah segel identitas sekaligus pelindung paling murni yang bisa diberikan seorang ayah dalam klan kita."Kukuh terdiam, benaknya berputar cepat menarik kembali ingatan-ingatan masa lalunya. Segala kejadian berbahaya, kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya, hingga kerasnya hidup sebagai cleaning service yang dikhianati ia selalu selamat.Jadi selam

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 81

    Mendengar kesediaan Kukuh, senyum Dokter Harsha mengembang bukan senyum sopan, tapi senyum orang yang baru saja mendapatkan apa yang sejak tadi ia tunggu."Dhi," katanya tanpa menoleh ke anaknya. "Ambilkan pisau emas dan cawannya."Dokter Adhi sudah bergerak sebelum kalimat itu selesai. Ia membuka lemari kaca di sudut ruangan, tangannya tidak meraba-raba ia tahu persis di mana letak benda itu. Sebentar kemudian ia kembali dengan nampan kecil berlapis beludru merah. Di atasnya: pisau bedah yang seluruhnya dari emas, dan sebuah cawan perak berukir yang tampak lebih tua dari lemarinya."Kemarikan tanganmu," ucap Dokter Harsha ke Kukuh.Kukuh mengulurkan tangan kanannya. Jemari Dokter Harsha menyambutnya kokoh, tidak gemetar meski usianya pasti sudah melewati enam puluh. Pria itu merentangkan telapak tangan Kukuh menghadap ke atas, lalu mulai memijat pangkalnya. Tekanannya sangat spesifik, bukan memijat sembarangan. Setiap jari menekan titik yang berbeda, dengan urutan yang jelas sudah di

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 80

    Mendengar bantahan polos dari Kukuh, senyum di wajah Dokter Harsha tidak memudar, melainkan semakin mengembang. Pria tua yang sarat akan kebijaksanaan itu menatap Kukuh dengan tatapan yang sangat teduh, namun menyimpan ketegasan yang tak terbantahkan."Begini, Nak Kukuh," ucap Dokter Harsha pelan, memecah keheningan di ruang rahasia tersebut. "Bolehkah saya menguji hipotesis saya... bahwa Anda sebenarnya adalah anak kandung dari Wiratama?"Pernyataan frontal itu bagaikan petir di siang bolong. Kukuh langsung kaget. Tubuhnya yang tadinya bersandar santai kini menegang kaku. Otaknya yang cerdas sejenak terhenti, berusaha keras mencerna rentetan kata-kata yang baru saja diucapkan oleh sang dewa medis."Mohon maaf sebelumnya, Dok," jawab Kukuh dengan nada yang sedikit bergetar, berusaha menata kembali logikanya yang berserakan. "Bukannya saya bermaksud menolak kenyataan, tapi bukankah sangat tidak mungkin jika saya adalah anak dari keponakan Anda? Saya sendiri masih memiliki seorang ayah

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 79

    Di atas ranjang bambu kuning itu, Ratih tak lagi merintih. Tarikan napasnya panjang dan damai. Kutukan Areng yang tadi menggurita di bawah kulit lehernya telah lenyap tak berbekas, menyisakan permukaan pualam yang bersih tanpa cacat. Alkimia darah sang dewa medis bekerja dengan kemutlakan yang mengerikan.Melihat istrinya terbebas dari cengkeraman maut, pertahanan Kukuh runtuh. Bukan pertahanan fisiknya, melainkan ketegangan batin yang sejak kemarin mencekik urat lehernya. Ia membuang napas panjang hingga bahu tegapnya melorot turun.Kukuh bangkit dari sofa. Ia melangkah mendekati Dokter Harsha dan Dokter Adhi, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bukan sekadar gestur hormat, melainkan gestur penyerahan diri seorang ksatria."Dokter Harsha, Dokter Adhi," suara Kukuh parau dan bergetar tertahan. "Harta mertua saya tidak akan pernah cukup untuk menebus nyawa yang baru saja Anda selamatkan. Saya tidak punya apa-apa... Tapi jika Anda berdua butuh tenaga, darah, atau nyawa saya... angga

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 78

    Kukuh duduk bersandar kaku di atas sofa jati ukir. Sepasang mata elangnya memicing, mengunci setiap inci pergerakan di depan matanya. Baginya, ini bukan sekadar prosedur medis; ini adalah demonstrasi kekuasaan mutlak dari sang legenda.Tidak ada kemenyan, kembang setaman, atau rapalan mantra berbahasa kawi. Dokter Adhi mendorong sebuah troli stainless steel steril ke sisi ranjang. Namun, isi troli itu jauh dari kata rasional.Berderet ampul kaca membiaskan cahaya remang ruangan. Ada cairan emas kental yang berpendar layaknya fosfor, cairan bening yang mendidih sendiri tanpa sumber panas, dan satu vial kecil berisi cairan merah kehitaman yang pekat.Saat tutup vial merah itu sedikit dilonggarkan, penciuman tajam Kukuh menangkap aromanya. Darahnya berdesir hebat. Bau itu... karat besi basah yang menusuk hidung. Itu bukan obat kimia. Itu darah murni yang telah diproses. Ada resonansi buas yang mendadak bangkit dari dalam pembuluh nadi Kukuh, seolah memanggil entitas di dalam vial tersebu

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status