LOGINTinju pertama menghantam dada Kukuh.Bukan tinju biasa. Tinju yang dibungkus api. Merah tua. Berdenyut. Panasnya menembus kemeja. Menembus kulit. Menembus tulang rusuk. Kukuh terlempar tiga meter. Punggungnya menghantam tanah hitam dimensi itu. Tanah di bawah punggungnya mendesis. Meleleh.Kukuh bangun. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Luka bakar di dadanya berdenyut. Merah. Dalam. Dagingnya mendesis.Tiga detik kemudian, luka itu menutup.Bukan perlahan. Cepat. Sangat cepat. Ukiran Rajah Getih di seluruh tubuhnya berpendar. Merah tua. Dalam. Dan daging yang terbakar itu tumbuh kembali. Kulit yang hangus itu mengelupas, digantikan oleh kulit baru. Dalam tiga detik, dada Kukuh kembali utuh.Regenerasi."Satu," ucap Bhanu. Suaranya datar. Menghitung. "Kau punya berapa nyawa, Kukuh?"Kukuh tidak menjawab. Mengepalkan tangannya. Dan menyerang.Tinju Kukuh menghantam rahang Bhanu. Keras. Telak. Suara tulang berderak terdengar di seluruh dimensi. Bhanu terdorong satu langkah. Darah menga
"Kuh, jangan."Suara Ratih terdengar dari belakang. Pelan. Bergetar. Tapi tidak berteriak. Tidak memohon. Hanya satu kata yang diucapkan dengan seluruh berat yang bisa ditanggung oleh satu kata.Kukuh tidak menoleh."Mas," suara Manager Pratiwi menyusul. Serak. Lelah. Tapi tetap stabil. "Mas tidak harus melakukannya sendiri."Kukuh tetap tidak menoleh."Kukuh." Kyai Agus. Suaranya berat. Penuh peringatan. "Bhanu sudah menembus dindingku. Rantai Bima tidak bisa menahannya. Pelet Ratih tidak mempan. Kalau kau maju sendiri.....""Aku tahu, Kyai."Kukuh melangkah. Satu langkah. Ke depan. Meninggalkan formasi. Meninggalkan dinding besi yang sudah setengah meleleh. Meninggalkan rantai emas yang sudah patah. Meninggalkan kabut pelet yang sudah menguap.Langkah kedua."Kuh!" Dokter Adhi berteriak dari belakang. "Rajah Geni-nya seratus persen! Api itu akan membakarmu dari dalam!"Kukuh tidak berhenti.Langkah ketiga."KAKAK!" Resti berteriak. Bukan pada Kukuh. Pada Bhanu. Suaranya pecah. Untuk
"Kyai, berapa lama lagi dinding itu bisa bertahan?""Tiga menit. Mungkin empat.""Kita tidak punya empat menit.""Kalau begitu kita buat empat menit."Kyai Agus Sapto Joyo mengertakkan giginya. Tongkat besi di tangannya bergetar. Urat di lengannya menonjol. Ukiran Rajah Wesi di kulitnya berpendar lebih terang, menahan gelombang api Bhanu yang terus menghantam dinding besi cair di depan mereka.Tapi dinding itu retak.Satu retakan. Dua retakan. Tiga. Merambat seperti jaring laba-laba di permukaan baja. Dan dari celah retakan itu, api merah tua merembes masuk. Menetes. Membakar tanah hitam di bawah kaki mereka."KYAI!" teriak Bima dari sisi kanan. "Dindingmu bocor!""Aku tahu!" Kyai Agus menggeser tongkatnya. Menambal retakan dengan energi baru. Tapi setiap kali ia menambal satu retakan, dua retakan baru muncul di tempat lain. "Api ini berbeda! Ini bukan api biasa! Ini api yang sama dengan.....""Dengan yang membunuh nenekku," potong Resti dari belakang. Suaranya datar. Tapi tangannya g
Puluhan praktisi bayaran di belakang Bhanu bergerak. Menyerang. Bukan dengan api. Dengan senjata. Golok. Tombak. Keris yang sudah diinfus dengan energi Rajah Geni. Mereka menyebar. Mengepung."KYAI!" teriak Kukuh.Kyai Agus Sapto Joyo sudah bergerak sebelum Kukuh menyelesaikan teriakannya. Pria paruh baya itu menancapkan tongkat besinya ke tanah. Dan dari tongkat itu, dinding besi cair muncul. Melebar. Membentang. Membentuk perisai raksasa di depan mereka semua.Gelombang api Bhanu menghantam dinding besi itu.BOOM.Suara ledakan menggema di seluruh dimensi. Tanah hitam di bawah kaki mereka bergetar. Dinding besi itu berderak. Retak. Tapi tidak hancur."Rajah Wesi menahan!" teriak Kyai Agus. Tangannya mencengkeram tongkatnya. Urat di lengannya menonjol. Ukiran besi cair di kulitnya berpendar. "Tapi tidak bisa lama! Api Bhanu terlalu panas!""BIMA!" Kukuh menoleh ke kanan.Bima Kanaka Kencana sudah bergerak. Tidak menyerang. Tidak menahan api. Bima berlari ke arah kelompok praktisi bay
Di Lantai 41 RS Lohitajaya, alarm berbunyi."Mas!" Manager Pratiwi berlari masuk ke ruang rapat. Wajahnya tegang. "Seluruh Jakarta kehilangan listrik. Bukan pemadaman biasa. Energinya tersedot ke satu titik.""Kuningan," ucap Kukuh. Tidak bertanya. Mengetahui."Ya." Pratiwi mengangguk. "Bhanu sudah mulai."Kukuh berdiri. Semua orang di ruangan itu berdiri bersamanya. Kyai Agus. Bima. Resti. Ratih. Dokter Harsha. Dokter Adhi."Dia tidak menyerang kota secara langsung," ucap Kukuh. Suaranya datar. Tenang. Tapi ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang tajam. "Dia menarik energi kota untuk membuka sesuatu. Sebuah arena.""Arena?" tanya Bima."Dimensi pertarungan." Kukuh menatap jendela. Menatap langit Jakarta yang mulai berubah warna. Dari jingga menjadi merah. Dari merah menjadi hitam. "Bhanu tidak mau membunuh orang awam. Dia bukan pembantai. Dia prajurit. Dan prajurit tidak menyerang warga sipil. Dia menyerang lawannya. Di tempat yang sudah disiapkan.""Bagaimana kau tahu?" tanya Kyai Agu
Ruang rapat Lantai 41 tidak pernah terlihat seperti ini.Meja bundar besar di tengah ruangan sudah dikelilingi kursi. Bukan kursi dokter. Bukan kursi perawat. Kursi-kursi yang ditarik dari berbagai sudut rumah sakit. Dan di setiap kursi, duduk seseorang yang tidak pernah duduk bersama di satu ruangan.Kukuh berdiri di ujung meja. Di sampingnya, Ratih. Di belakang mereka, Dokter Harsha dan Dokter Adhi.Pintu terbuka.Kyai Agus Sapto Joyo masuk pertama. Pria paruh baya dengan tubuh tegap dan tangan yang penuh kapalan. Rajah Wesi Gen Dua Puluh Dua. Di lengannya, ukiran besi cair menyala samar di balik lengan baju yang digulung."Kuh," ucap Kyai Agus. Mengangguk. Satu kali. Tidak perlu kata-kata lebih."Kyai." Kukuh mengangguk balik. "Terima kasih sudah datang.""Aku sudah menunggu momen ini selama dua puluh tahun." Kyai Agus duduk. "Rajah Wesi siap."Pintu terbuka lagi.Bima Kanaka Kencana masuk. Kemeja sutra putih sudah diganti dengan kaos hitam sederhana. Tidak ada jam tangan emas. Tid
Jam digital di dasbor mobil mewah itu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Di kursi penumpang, Kukuh duduk tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa menyeramkan di luar sana.Mobil itu berguncang membelah jalan berbatu yang sempit. Hutan pinus di kanan kiri mereka berdiri rapat, mengha
"Bagaimana keputusanmu?"Suara Adiwangsa memecah keheningan ruang direktur yang dingin . Di matanya, pemuda berseragam biru muda di depannya ini tak lebih dari seekor semut yang kebetulan sedang ia butuhkan.Kukuh menunduk menatap pantulan wajahnya sendiri di meja kayu yang mengilap. Pikirannya ber
Kantor pusat Grup Aji Saka menempati lantai empat puluh tujuh. Nama gedungnya saja sudah cukup membuat nyali kaum rendahan ciut sebelum mereka berani melewati pintu putar lobi.Di dalam ruang direktur yang mewah, Adiwangsa berdiri kaku menghadap jendela selebar dinding . Melihat ibu kota Jakarta ya
"Ini kegilaan."Dian mendesis tajam, buku-buku jarinya memutih mencengkeram tepi meja mahoni . Suaranya tidak melengking seperti yang biasa ia gunakan untuk mendominasi rapat keluarga, melainkan serak dan mendidih oleh amarah yang tertahan . "Ayah pasti sudah benar-benar kehilangan akalnya di detik







