LOGINJam digital di dasbor mobil mewah itu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Di kursi penumpang, Kukuh duduk tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa menyeramkan di luar sana.
Mobil itu berguncang membelah jalan berbatu yang sempit. Hutan pinus di kanan kiri mereka berdiri rapat, menghalangi cahaya bulan hingga semuanya tampak segelap tinta. Hawa dingin yang sangat tidak wajar merembes masuk ke dalam kabin.
Kukuh menoleh ke arah Supri. Wajah sopir tua itu tegang dan pucat pasi. Tangannya mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih . Supri berkeringat dingin, ketakutan setengah mati!
"Pak Supri," panggil Kukuh memecah keheningan. "Bapak tidak takut masuk ke hutan ini sendirian?" .
"Takut itu cuma buat orang yang masih punya pilihan, Le," jawab Supri parau. "Di keluarga Aji Saka, ada hal-hal gaib yang jauh lebih mengerikan daripada mati di tengah hutan!" .
Tepat saat jam berganti menjadi tengah malam, kabut putih setebal kapas turun menggulung jalanan . Di balik kabut itu, berdirilah sebuah rumah megah peninggalan Belanda yang tampak seperti makam raksasa yang sudah lapuk dimakan usia .
Supri memarkir mobil dan memukul lonceng berkarat di depan gerbang tiga kali . Gerbang terbuka, memunculkan seorang penjaga tua berpakaian hitam. Wajah pria itu sepucat mayat, matanya cekung dan mati .
Namun, saat penjaga bernama Ujang itu menatap Kukuh, langkahnya mendadak ragu. Insting gaib tingkat tingginya menjerit peringatan! Siapa pemuda berpenampilan gembel ini? Kenapa aura di sekitarnya terasa sangat menekan?! batin Ujang merinding .
Kukuh mengangkat peti kayu berselimut beludru dari bagasi dan mengekor di belakang Ujang. Saat pintu utama rumah itu dibuka, gelombang udara pekat langsung menghantam wajah.
Busuk sekali! Kukuh nyaris tersedak. Itu adalah bau daging mati, darah kering, dan nanah yang bercampur dengan asap kemenyan yang menyengat .
Supri buru-buru mencengkeram tangan Kukuh. Jangan tunjukkan rasa jijik sedikit pun! isyarat mata Supri melotot panik . Jika mereka membuat sosok di dalam ruangan ini tersinggung, nyawa mereka akan melayang saat itu juga!
Di tengah ruangan, di atas ranjang kayu, duduklah sesosok pria tua dengan kondisi yang mengerikan. Seluruh kulitnya melepuh parah dan membusuk hidup-hidup! Dagingnya menghitam dan meneteskan cairan nanah ke atas seprai .
"Mana barangnya, Pri?" suara pria membusuk itu terdengar seperti parutan besi, penuh kesakitan.
"Ini, Tuan Besar," jawab Supri sambil bersujud gemetar. Ia menyenggol Kukuh untuk maju.
Kukuh melangkah mendekat, mengulurkan kotak beludru itu. Namun, sebuah insiden kecil terjadi. Jari Kukuh tak sengaja menggesek engsel kuningan peti yang berkarat setajam silet .
Sret. Kulit Kukuh tersayat tipis. Setetes darah merah segar meluncur jatuh... dan mendarat tepat di atas luka borok paling parah di tangan pria misterius itu! .
Wajah Kukuh langsung memucat. Ia berpura-pura panik, menjatuhkan lututnya ke lantai. "Ampun, Tuan! Maafkan saya! Saya ceroboh mengotori Anda!" serunya bertingkah layaknya pembantu rendahan yang ketakutan .
Supri menahan napas. Tamatlah riwayat kita! batinnya menjerit ngeri.
Namun, hukuman kematian itu tak kunjung datang . Sebaliknya, terdengar suara napas yang tersentak kaget dari atas ranjang.
Mata pria tua itu terbelalak menatap punggung tangannya. Sebuah keajaiban yang meruntuhkan akal sehat sedang terjadi! Tetesan darah Kukuh itu mendidih kecil, lalu menyebar seperti jaring emas murni! .
Di mana pun darah Kukuh itu merambat, nanah langsung menguap! Daging yang tadinya membusuk dan menghitam perlahan merapat dengan cepat. Jaringan kulit baru tumbuh sehat menutupi luka terbuka itu! . Darah pemuda cleaning service itu bukan mengotorinya, darah itu menyembuhkannya!.
Pria tua itu mengangkat tangannya yang kini mulus dengan tubuh bergetar hebat. Air mata deras membasahi pipinya yang hancur .
"Tujuh puluh lima tahun..." bisiknya dengan suara bergetar penuh syukur. Ia merosot sujud di atas ranjangnya. "Akhirnya... kutukan neraka ini bisa hancur!" .
"Kopi Dokter sudah mulai dingin," tegur Kukuh dengan nada sopan namun memecah keheningan. Ia meletakkan setumpuk kertas HVS yang penuh dengan coretan tinta di atas meja aluminium yang sedingin es."Otak saya sedang panas, jadi kopi dingin justru lebih pas, Kuh," balas Dokter Harsha tanpa menoleh. Pria berjas putih panjang itu masih menunduk, sebelah matanya fokus mengintip ke dalam lensa mikroskop elektron, sementara tangannya dengan lincah memutar tombol kalibrasi. Ruangan laboratorium rahasia di Lantai 41 itu terasa sangat sunyi, hanya diisi oleh dengung mesin penyaring udara dan bunyi bip pelan dari monitor medis.Kukuh menarik sebuah kursi besi dan duduk berseberangan dengan meja kerja sang dokter. "Saya sudah berhasil memecahkan teka-teki dari buku kertas merang yang saya beli di angkot waktu itu, Dok."Mendengar itu, pergerakan tangan Dokter Harsha langsung terhenti. Ia menegakkan punggungnya, melepas kacamata pelindung, dan menatap Kukuh dengan sorot mata yang mendadak tajam. R
"Halo, Pak Wahyu. Ini Kukuh.""T-Tuan Kukuh! Selamat pagi, Tuan! Astaga, sebuah kehormatan Anda menelepon saya langsung. Ada perintah apa yang bisa saya kerjakan untuk Anda hari ini?" Suara Manajer Operasional PT Sumber Wangi itu terdengar bergetar dan sedikit terengah-engah di seberang telepon, seolah ia langsung berdiri tegap saat melihat nama Kukuh di layar ponselnya."Saya butuh bantuan dari jalur perusahaan," ucap Kukuh tenang, sambil berjalan menyusuri trotoar sibuk ibukota menuju gedung menjulang Perpustakaan Nasional. "Saya harus masuk ke Ruang Arsip Terbatas di Perpusnas siang ini. Tapi, birokrasi mereka terlalu kaku untuk mahasiswa biasa. Saya ingin Anda menggunakan nama PT Sumber Wangi sebagai dalih riset pengembangan bahan baku kosmetik tradisional untuk memberikan saya akses VIP ke sana.""S-siap, Tuan Kukuh! Saya akan hubungi direktur humas kementerian sekarang juga. Kebetulan perusahaan kita baru saja menyumbang dana CSR besar-besaran untuk pelestarian budaya. Akses And
"Buku apa itu, Kuh? Baunya apek sekali, nyengat sampai ke hidung."Ratih mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk, menatap heran ke arah Kukuh yang tengah duduk bersila di atas karpet tebal kamar utama Mansion Cokro. Di pangkuan pemuda itu, tergeletak sebuah buku kuno bersampul kulit kusam yang tampak rapuh dimakan zaman."Oh, ini? Cuma buku tua, Tih," jawab Kukuh santai. Jari besarnya membelai sampul buku itu dengan sangat hati-hati agar tidak membuat kertasnya hancur. "Aku membelinya dari seorang kakek-kakek berpakaian lusuh waktu aku naik angkot beberapa minggu lalu. Waktu itu kakek tersebut memegang buku ini, dan entah kenapa, perasaanku sangat kuat menyuruhku untuk membelinya. Kakek itu juga bilang kalau ini bukan buku sembarangan.""Hati-hati lho, Kuh. Kejadian mengerikan di Randu Alas kemarin masih bikin aku sering merinding kalau malam," pesan Ratih sambil bergidik pelan, teringat kembali pada wajah kanibal para konglomerat itu. Gadis itu lalu naik ke atas ranjang dan
"Lihat baik-baik, gembel. Hari ini aku akan tunjukkan pada kalian bagaimana cara orang-orang dari kasta atas bermain."Max menyeringai lebar sambil melipat kedua tangannya di dada. Pemuda berambut klimis itu sengaja berdiri menghalangi jalan Kukuh dan Farhan tepat di dekat karpet merah stan pameran PT Sumber Wangi. Di belakang Max, tiga orang temannya terkekeh meremehkan, berlagak seperti pengawal pribadi sang pangeran kampus."Bentar lagi Pak Wahyu datang untuk meninjau penutupan stan pameran ini," lanjut Max dengan suara lantang, sengaja membesarkan volumenya untuk menarik perhatian puluhan mahasiswa yang berlalu-lalang di sekitar lapangan. "Aku sudah menelepon ayahku tadi malam. Hari ini, aku akan langsung meminta formulir magang jalur VIP dari Pak Wahyu. Kalian berdua cukup jadi penonton saja di pinggir sana, dan belajarlah menerima nasib sebagai orang miskin."Farhan menunduk dalam, tangannya meremas tali tas ranselnya dengan erat. Wajahnya memerah karena malu dijadikan tontonan.
"Baiklah, saya rasa pembahasan untuk strategi kuartal ini sudah cukup jelas. Rapat hari ini resmi saya tutup."Ketukan pelan dari pena Adiwangsa pada meja mahoni raksasa itu mengakhiri sesi rapat yang telah berlangsung selama hampir dua jam. Sang CEO bangkit dari kursinya, merapikan kancing jasnya dengan penuh wibawa."Terima kasih atas kerja keras Bapak-Bapak sekalian. Dan sekali lagi, selamat bergabung secara resmi di keluarga besar PT Sumber Wangi, Tuan Kukuh," ucap Pak Darma, salah satu direktur senior, dengan senyum sangat ramah sambil sedikit menundukkan badan.Kukuh membalasnya dengan anggukan pelan dan senyuman yang tak kalah sopan. "Terima kasih kembali, Pak Darma. Saya yang seharusnya banyak belajar dari Anda semua di sini."Suasana ruangan berangsur cair. Para
"Wah, kelihatannya Bapak sangat bersemangat sekali hari ini, Pak Wahyu.""Tentu saja, Pak Darma. Hari ini penentuan tender besar. Kita harus tampil maksimal dan tanpa celah di depan Tuan Adiwangsa," jawab Pak Wahyu sambil terkekeh pelan. Pria paruh baya itu menyandarkan punggungnya ke kursi kulit ruang rapat direksi dengan gaya arogan. Tangannya sibuk membetulkan letak dasi mahalnya.Pak Darma, salah satu direktur di sebelahnya, mengangguk setuju. "Iya, dengar-dengar hari ini Tuan Adiwangsa mau membawa tamu spesial? Katanya sih anggota keluarga untuk diperkenalkan secara resmi.""Ah, paling cuma formalitas," Pak Wahyu mengibaskan tangannya meremehkan. "Yang penting operasional kita terlihat sempurna. Tadi pagi saja saya sudah harus repot turun tangan menertibkan lantai VIP ini. Masa ada OB kusam berani berkeliaran b
"Bagaimana keputusanmu?"Suara Adiwangsa memecah keheningan ruang direktur yang dingin . Di matanya, pemuda berseragam biru muda di depannya ini tak lebih dari seekor semut yang kebetulan sedang ia butuhkan.Kukuh menunduk menatap pantulan wajahnya sendiri di meja kayu yang mengilap. Pikirannya ber
Kantor pusat Grup Aji Saka menempati lantai empat puluh tujuh. Nama gedungnya saja sudah cukup membuat nyali kaum rendahan ciut sebelum mereka berani melewati pintu putar lobi.Di dalam ruang direktur yang mewah, Adiwangsa berdiri kaku menghadap jendela selebar dinding . Melihat ibu kota Jakarta ya
"Ini kegilaan."Dian mendesis tajam, buku-buku jarinya memutih mencengkeram tepi meja mahoni . Suaranya tidak melengking seperti yang biasa ia gunakan untuk mendominasi rapat keluarga, melainkan serak dan mendidih oleh amarah yang tertahan . "Ayah pasti sudah benar-benar kehilangan akalnya di detik
Kres. Kres.Mata gunting rumput itu terus mengunyah dahan tanaman soka. Punggung Kukuh basah oleh keringat . Kontrak gila yang ia tandatangani kemarin kini menjadi kenyataan yang pahit. Di atas kertas triliunan rupiah itu ia adalah suami sang pewaris tahta, namun di atas rumput halaman ini, ia hany







