Share

Bab 7

Author: Millanova
last update publish date: 2026-04-08 22:59:25

Jam digital di dasbor mobil mewah itu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Di kursi penumpang, Kukuh duduk tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa menyeramkan di luar sana.

Mobil itu berguncang membelah jalan berbatu yang sempit. Hutan pinus di kanan kiri mereka berdiri rapat, menghalangi cahaya bulan hingga semuanya tampak segelap tinta. Hawa dingin yang sangat tidak wajar merembes masuk ke dalam kabin.

Kukuh menoleh ke arah Supri. Wajah sopir tua itu tegang dan pucat pasi. Tangannya mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih . Supri berkeringat dingin, ketakutan setengah mati!

"Pak Supri," panggil Kukuh memecah keheningan. "Bapak tidak takut masuk ke hutan ini sendirian?" .

"Takut itu cuma buat orang yang masih punya pilihan, Le," jawab Supri parau. "Di keluarga Aji Saka, ada hal-hal gaib yang jauh lebih mengerikan daripada mati di tengah hutan!" .

Tepat saat jam berganti menjadi tengah malam, kabut putih setebal kapas turun menggulung jalanan . Di balik kabut itu, berdirilah sebuah rumah megah peninggalan Belanda yang tampak seperti makam raksasa yang sudah lapuk dimakan usia .

Supri memarkir mobil dan memukul lonceng berkarat di depan gerbang tiga kali . Gerbang terbuka, memunculkan seorang penjaga tua berpakaian hitam. Wajah pria itu sepucat mayat, matanya cekung dan mati .

Namun, saat penjaga bernama Ujang itu menatap Kukuh, langkahnya mendadak ragu. Insting gaib tingkat tingginya menjerit peringatan! Siapa pemuda berpenampilan gembel ini? Kenapa aura di sekitarnya terasa sangat menekan?! batin Ujang merinding .

Kukuh mengangkat peti kayu berselimut beludru dari bagasi dan mengekor di belakang Ujang. Saat pintu utama rumah itu dibuka, gelombang udara pekat langsung menghantam wajah.

Busuk sekali! Kukuh nyaris tersedak. Itu adalah bau daging mati, darah kering, dan nanah yang bercampur dengan asap kemenyan yang menyengat .

Supri buru-buru mencengkeram tangan Kukuh. Jangan tunjukkan rasa jijik sedikit pun! isyarat mata Supri melotot panik . Jika mereka membuat sosok di dalam ruangan ini tersinggung, nyawa mereka akan melayang saat itu juga!

Di tengah ruangan, di atas ranjang kayu, duduklah sesosok pria tua dengan kondisi yang mengerikan. Seluruh kulitnya melepuh parah dan membusuk hidup-hidup! Dagingnya menghitam dan meneteskan cairan nanah ke atas seprai .

"Mana barangnya, Pri?" suara pria membusuk itu terdengar seperti parutan besi, penuh kesakitan.

"Ini, Tuan Besar," jawab Supri sambil bersujud gemetar. Ia menyenggol Kukuh untuk maju.

Kukuh melangkah mendekat, mengulurkan kotak beludru itu. Namun, sebuah insiden kecil terjadi. Jari Kukuh tak sengaja menggesek engsel kuningan peti yang berkarat setajam silet .

Sret. Kulit Kukuh tersayat tipis. Setetes darah merah segar meluncur jatuh... dan mendarat tepat di atas luka borok paling parah di tangan pria misterius itu! .

Wajah Kukuh langsung memucat. Ia berpura-pura panik, menjatuhkan lututnya ke lantai. "Ampun, Tuan! Maafkan saya! Saya ceroboh mengotori Anda!" serunya bertingkah layaknya pembantu rendahan yang ketakutan .

Supri menahan napas. Tamatlah riwayat kita! batinnya menjerit ngeri.

Namun, hukuman kematian itu tak kunjung datang . Sebaliknya, terdengar suara napas yang tersentak kaget dari atas ranjang.

Mata pria tua itu terbelalak menatap punggung tangannya. Sebuah keajaiban yang meruntuhkan akal sehat sedang terjadi! Tetesan darah Kukuh itu mendidih kecil, lalu menyebar seperti jaring emas murni! .

Di mana pun darah Kukuh itu merambat, nanah langsung menguap! Daging yang tadinya membusuk dan menghitam perlahan merapat dengan cepat. Jaringan kulit baru tumbuh sehat menutupi luka terbuka itu! . Darah pemuda cleaning service itu bukan mengotorinya, darah itu menyembuhkannya!.

Pria tua itu mengangkat tangannya yang kini mulus dengan tubuh bergetar hebat. Air mata deras membasahi pipinya yang hancur .

"Tujuh puluh lima tahun..." bisiknya dengan suara bergetar penuh syukur. Ia merosot sujud di atas ranjangnya. "Akhirnya... kutukan neraka ini bisa hancur!" .

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   OFF hingga tanggal 17

    Untuk pembaca saya, update akan OFF hingga tanggal 17 dan akan di update lagi di tanggal 18 Terimakasih.

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 252

    Jumat pagi menjelang akhir pekan, kediaman utama Keluarga Cokro sudah sibuk sejak matahari baru saja terbit. Arisan Keluarga Besar yang diadakan setiap dua tahun sekali ini bukanlah sekadar ajang silaturahmi, melainkan medan pamer kekayaan dan unjuk gigi bagi seluruh cabang silsilah keluarga konglomerat tersebut.Berbagai mobil mewah mulai berbaris memasuki pelataran rumah. Para kerabat jauh, paman, bibi, hingga sepupu-sepupu Ratih yang menetap di luar kota mulai berdatangan untuk menginap.Kukuh, yang menyadari posisinya di mata keluarga besar, memilih mengenakan kemeja rapi yang sederhana. Ia berdiri di dekat pilar garasi bersama Pak Supri, membantu mengarahkan barang bawaan para tamu agar tidak menghalangi jalan.Tak lama kemudian, sebuah sportscar Eropa berwarna merah menyala dengan suara mesin yang memekakkan telinga memasuki pelataran. Pintu mobil terbuka ke atas. Dari kursi penumpang, turunlah Clarissa sepupu Ratih dari cabang keluarga kedua yang terkenal paling suka mencari pe

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 251

    Malam harinya, setelah hiruk-pikuk aktivitas siang yang melelahkan, Kukuh menepati janjinya kepada Pak Supri. Berbekal pakaian kasualnya yang sederhana, Kukuh menemani sopir paruh baya itu menyusuri keramaian Pasar Loak.Lampu-lampu bohlam kuning yang temaram menerangi deretan lapak yang digelar di atas terpal plastik. Udara malam dipenuhi oleh aroma debu, karat, dan suara musik dangdut dari radio usang para pedagang. Pak Supri tampak sangat antusias, matanya berbinar-binar saat ia berjongkok di salah satu lapak untuk menawar sebuah radio kayu antik peninggalan era 80-an."Kuh, kamu lihat-lihat saja dulu di sekitar sini. Bapak mau adu tawar sama pedagang ini, kayaknya radionya masih bisa bunyi!" seru Pak Supri tanpa menoleh, terlalu fokus pada barang buruannya."Siap, Pak. Saya muter di dekat-dekat sini saja," balas Kukuh santai.Kukuh melangkah pelan meninggalkan Pak Supri. Tangannya masuk ke dalam saku jaket. Di tengah tumpukan barang rongsokan dan barang antik palsu yang membanjiri

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 250

    "Cokro sialaaann...!" umpat Aryo dengan suara parau. Tinjunya menghantam lantai karpet dengan keras, tidak memedulikan sisa darah di sudut bibirnya. "Dari mana dapatnya dia pelindung sehebat itu?! Bahkan seluruh harta kekayaan Keluarga Cokro tidak akan pernah cukup untuk menyewa dan menundukkan orang semacam ini!"Ratna yang masih berdiri gemetar di dekat meja kerjanya menautkan alis. Wajah cantiknya memancarkan kebingungan yang amat sangat."Maksudnya gimana, Pak Aryo?" tanya Ratna ragu-ragu. Selama ini, ia mengira urusan gaib hanya sekadar tentang membayar dukun mahal untuk menyingkirkan saingan bisnis. Ia tidak paham seberapa dalam jurang yang sedang mereka tatap saat ini.Aryo menelan ludah, mencoba mengatur napasnya yang masih terasa perih akibat organ dalamnya yang sempat bergejolak. Ia menatap Ratna dengan pandangan yang sangat kelam."Nona Ratna, dengarkan saya baik-baik," ucap Aryo dengan nada berat dan serius. "Keluarga Ratih ternyata sudah memiliki tameng pelindung paling m

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 249

    Sementara itu, di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk pusat perbelanjaan tempat Ratih berada, suasana di dalam ruang kerja pribadi kediaman Ratna mendadak berubah menjadi mencekam.Di dalam ruangan yang tertutup rapat itu, Aryo Lembu Sasmita sedang duduk bersila di atas karpet Persia, mencoba mempertahankan koneksi gaib dari sisa teluh yang ia tanamkan pada serpihan kaca lampu studio. Namun, tepat pada detik ketika Kukuh mengusap luka di lengan Ratih dan menghancurkan energi kotor tersebut, sebuah benturan tenaga tak kasatmata melesat menembus jarak dan ruang.Benturan itu tidak bisa dihindari maupun ditangkis.“Huweekkk...! Huweekkkkk...!”Mata Aryo mendadak terbelalak lebar. Tubuh pria paruh baya itu terlempar ke depan, jatuh berlutut dengan keras. Dari mulutnya, menyembur darah kental berwarna merah kehitaman yang berbau sangat busuk campuran antara anyir darah dan aroma kembang kamboja yang layu. Darah itu menodai karpet mahal di bawahnya.Walaupun serangan jarak jauhnya kepada Rati

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 248

    "Mas, Mas, minggir, Mas! Biarkan kami lewat!" ucap salah satu petugas medis dengan nada panik dan terburu-buru. Ia setengah mendorong bahu Kukuh agar menjauh dari Ratih.Tanpa perlawanan, Kukuh melangkah mundur dengan mulus. Begitu petugas medis itu berlutut di depan Ratih, Kukuh sudah memanfaatkan kekacauan kru dan penonton untuk bergeser perlahan. Bagaikan bayangan yang menyatu dengan kegelapan, ia kembali membaur dengan kerumunan orang-orang di pinggir area syuting, berdiri diam mengamati dari jarak aman.Petugas medis itu seorang pria muda yang tampaknya berasal dari unit gawat darurat RS Lohitajaya langsung membuka kotak P3K-nya dengan cepat. Tangannya sudah siap dengan perban, alkohol, dan obat antiseptik."Maaf, Nona. Biar saya bersihkan lukanya. Tahan sedikit ya," ucap petugas itu sambil meraih lengan kiri Ratih yang masih berlumuran noda darah.Namun, begitu ia menyeka darah tersebut dengan kasa steril, pergerakan tangannya mendadak terhenti. Matanya melebar, menatap lekat-le

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 86

    Pagi harinya, sinar matahari baru saja menembus celah ventilasi kecil di sebuah ruangan sempit di sudut belakang mansion Aji Saka. Ruangan itu dulunya adalah bekas gudang penyimpanan yang disulap seadanya menjadi kamar tidur untuk Kukuh. Dindingnya polos tanpa ornamen, sangat kontras dengan kemewah

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 85

    "Sudah, jangan terlalu penasaran dengan hal seperti itu! Daripada nanti malah membawa petaka kepada dirimu sendiri," ucap Dian sinis, memotong pembicaraan dengan nada tajam yang biasa ia gunakan untuk membungkam orang lain.Kukuh tetap tenang, meski ia bisa merasakan ketegangan yang merambat di uda

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 90

    Mendengar jawaban Kukuh yang bernada menantang, raut wajah sang Kyai seketika mengeras. Matanya berubah memerah, kilat amarah memancar seolah ia sedang menahan hinaan telak dari seorang gembel yang tak tahu diri. Harga dirinya sebagai "orang pintar" langganan konglomerat merasa diinjak-injak."Jang

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 88

    Di dalam lift VVIP yang meluncur turun, Kukuh melirik Pratiwi yang berdiri tegak di sebelahnya.Perempuan itu menatap lurus ke pintu lift yang tertutup sikap tubuhnya profesional, ekspresinya netral. Tetapi ada sesuatu di caranya berdiri di sini, di sebelah Kukuh, yang terasa berbeda dari cara seor

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status