Share

Bab 79

Auteur: Millanova
last update Date de publication: 2026-05-06 20:10:44

Di atas ranjang bambu kuning itu, Ratih tak lagi merintih. Tarikan napasnya panjang dan damai. Kutukan Areng yang tadi menggurita di bawah kulit lehernya telah lenyap tak berbekas, menyisakan permukaan pualam yang bersih tanpa cacat. Alkimia darah sang dewa medis bekerja dengan kemutlakan yang mengerikan.

Melihat istrinya terbebas dari cengkeraman maut, pertahanan Kukuh runtuh. Bukan pertahanan fisiknya, melainkan ketegangan batin yang sejak kemarin mencekik urat lehernya. Ia membuang napas pan
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 80

    Mendengar bantahan polos dari Kukuh, senyum di wajah Dokter Harsha tidak memudar, melainkan semakin mengembang. Pria tua yang sarat akan kebijaksanaan itu menatap Kukuh dengan tatapan yang sangat teduh, namun menyimpan ketegasan yang tak terbantahkan."Begini, Nak Kukuh," ucap Dokter Harsha pelan, memecah keheningan di ruang rahasia tersebut. "Bolehkah saya menguji hipotesis saya... bahwa Anda sebenarnya adalah anak kandung dari Wiratama?"Pernyataan frontal itu bagaikan petir di siang bolong. Kukuh langsung kaget. Tubuhnya yang tadinya bersandar santai kini menegang kaku. Otaknya yang cerdas sejenak terhenti, berusaha keras mencerna rentetan kata-kata yang baru saja diucapkan oleh sang dewa medis."Mohon maaf sebelumnya, Dok," jawab Kukuh dengan nada yang sedikit bergetar, berusaha menata kembali logikanya yang berserakan. "Bukannya saya bermaksud menolak kenyataan, tapi bukankah sangat tidak mungkin jika saya adalah anak dari keponakan Anda? Saya sendiri masih memiliki seorang ayah

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 79

    Di atas ranjang bambu kuning itu, Ratih tak lagi merintih. Tarikan napasnya panjang dan damai. Kutukan Areng yang tadi menggurita di bawah kulit lehernya telah lenyap tak berbekas, menyisakan permukaan pualam yang bersih tanpa cacat. Alkimia darah sang dewa medis bekerja dengan kemutlakan yang mengerikan.Melihat istrinya terbebas dari cengkeraman maut, pertahanan Kukuh runtuh. Bukan pertahanan fisiknya, melainkan ketegangan batin yang sejak kemarin mencekik urat lehernya. Ia membuang napas panjang hingga bahu tegapnya melorot turun.Kukuh bangkit dari sofa. Ia melangkah mendekati Dokter Harsha dan Dokter Adhi, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bukan sekadar gestur hormat, melainkan gestur penyerahan diri seorang ksatria."Dokter Harsha, Dokter Adhi," suara Kukuh parau dan bergetar tertahan. "Harta mertua saya tidak akan pernah cukup untuk menebus nyawa yang baru saja Anda selamatkan. Saya tidak punya apa-apa... Tapi jika Anda berdua butuh tenaga, darah, atau nyawa saya... angga

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 78

    Kukuh duduk bersandar kaku di atas sofa jati ukir. Sepasang mata elangnya memicing, mengunci setiap inci pergerakan di depan matanya. Baginya, ini bukan sekadar prosedur medis; ini adalah demonstrasi kekuasaan mutlak dari sang legenda.Tidak ada kemenyan, kembang setaman, atau rapalan mantra berbahasa kawi. Dokter Adhi mendorong sebuah troli stainless steel steril ke sisi ranjang. Namun, isi troli itu jauh dari kata rasional.Berderet ampul kaca membiaskan cahaya remang ruangan. Ada cairan emas kental yang berpendar layaknya fosfor, cairan bening yang mendidih sendiri tanpa sumber panas, dan satu vial kecil berisi cairan merah kehitaman yang pekat.Saat tutup vial merah itu sedikit dilonggarkan, penciuman tajam Kukuh menangkap aromanya. Darahnya berdesir hebat. Bau itu... karat besi basah yang menusuk hidung. Itu bukan obat kimia. Itu darah murni yang telah diproses. Ada resonansi buas yang mendadak bangkit dari dalam pembuluh nadi Kukuh, seolah memanggil entitas di dalam vial tersebu

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 77

    Di dalam ruang rahasia yang luas itu, Dokter Harsha melangkah perlahan mendekati kursi roda Ratih. Matanya yang setajam elang menelisik sisa-sisa luka melepuh di leher dan lengan wanita cantik tersebut."Sejak kapan Ratih terkena penyakit seperti ini, Nak Kukuh?" tanya Dokter Harsha, suaranya berat dan memancarkan wibawa absolut seorang guru besar."Sudah sejak dua hari yang lalu, Dokter," jawab Kukuh dengan nada hormat yang jarang ia tunjukkan kepada orang lain. "Dan sore tadi... sempat kami bawa ke pelosok Banten, ke tempat tabib kepercayaan ayah mertua saya. Namun itu tidak berakhir baik. Pilihan mereka malah hampir membunuh kita semua di sana."Langkah Dokter Harsha terhenti. Ia memutar tubuhnya, menatap Kukuh dengan alis yang sedikit bertaut."Bagaimana bisa hampir terbunuh? Bukankah tabib itu adalah orang kepercayaan mertuamu sendiri?" tanya Dokter Harsha penasaran, tangannya menyilang di belakang punggung.Kukuh menghela napas pelan, mengingat kembali teror di padang ilalang be

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 76

    Dokter Adhi mengambil alih kemudi kursi roda Ratih, memberi isyarat kepada Kukuh dan mertuanya untuk mengikutinya lebih jauh ke dalam perut lantai 41. Lorong temaram berlapis kayu mahoni itu berujung pada sebuah jalan buntu yang ditutupi oleh sebuah mahakarya yang menggetarkan nyali.Langkah Kukuh terhenti. Sepasang mata elangnya menatap lurus dengan penuh kekaguman sekaligus kewaspadaan.Wah... besar sekali pintu ini? batin Kukuh takjub.Di hadapannya, berdiri kokoh sebuah pintu ganda dari kayu jati solid setinggi empat meter. Permukaan pintu itu tidak rata, melainkan dipenuhi oleh ukiran seekor ular raksasa yang melingkar rumit membentuk angka delapan. Di bagian tengah, tempat di mana kedua daun pintu bertemu, kepala ular ukiran itu menonjol keluar, rahangnya terbuka lebar menggigit sebuah gembok logam hitam bermotif kuno. Hawa magis yang menguar dari pintu itu sangat pekat."Tunggu sebentar," ucap Dokter Adhi pelan.Pria paruh baya itu melangkah menuju sebuah meja kecil beralas kai

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 75

    Kukuh hanya menatap dingin suster yang masih bersimpuh memohon ampun di bawah kakinya, lalu membalasnya dengan sebuah anggukan kecil tanda bahwa ia tidak akan memperpanjang masalah ini.Matanya kemudian langsung beralih menatap Ratih yang berada di dalam gendongannya. Napas istrinya semakin lemah."Cepat bawa aku ke ruangan ayahnya Ibu Pratiwi sekarang," perintah Kukuh dengan nada mutlak tak terbantahkan."B-baik, Tuan! Segera!" ucap suster itu gugup. Ia buru-buru bangkit dengan lutut yang masih gemetar, lalu setengah berlari mengambil sebuah kursi roda otomatis yang terparkir rapi di samping meja resepsionis.Dengan sangat hati-hati, Kukuh membaringkan tubuh Ratih ke atas kursi roda tersebut. Suster itu langsung mengambil alih kemudi dari belakang. "Mari, ikuti saya, Tuan."Melihat perubahan situasi yang sangat drastis itu, Nyonya Dian dan Adiwangsa yang masih berdiri terpaku seketika tersadar. Mereka langsung bergegas melangkah menyusul Kukuh dan suster tersebut dari belakang."Loh,

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status