LOGINMalam itu di sebuah bar elit tempat para pejabat membuang uang mereka di meja kasino. Di sudut ruangan dengan pencahaan yang remang, tampak Landon yang sedang minum-minum ditemani oleh seorang wanita berpakaian seksi.
Wanita tidak tahu malu itu duduk di pangkuannya dengan bangga. Sesekali ia tersenyum saat Landon menyentuh pipinya dengan ciuman. Sementara permainan kasino masih terus berlangsung. "Tuan Muda!" Ernes datang dengan tergopoh-gopoh. Dia membawa dua orang boduguard untuk menyeret Landon dari meja judi. Pria itu memakinya habis-habisan, karena telah mengganggu kesenangannya malam ini. "Bos memanggil Anda sekarang juga," bisik Ernes. Tangannya memegangi lengan Landon yang terus berontak. Seketika Landon terdiam. Mereka pun segera membawa pria itu keluar dari bar. Orang-orang memandangi kepergian mereka. "Kau sudah menikah, benar begitu?" Sambil berdiri di tepi garis jendela yang menampilkan situasi kota di malam hari, Alex bicara kepada Landon. Sekitar lima belas menit sang putra tiba di ruangannya. Mendengar pertanyaan sang ayah, Landon berpaling muka. "Jadi, kau menyeretku malam-malam cuma untuk menanyakan hal yang tidak penting?" ujarnya seraya menyalakan api rokoknya. Alex mengepalkan tangannya mendengar perkataan Landon. "Tidak penting katamu?" Landon cuma melirik usai mengembuskan asap putih ke udara. Ia lantas sibuk lagi dengan batang rokoknya, tak mengendahkan perkataan sang ayah sama sekali. Alex jadi kesal. Maka ia maju ke depan Landon. Kini mereka berdiri saling berhadapan tepat di bawah lampu kristal besar, di dalam ruangan yang dipenuhi dinding kaca, dengan interior bergaya Eropa klasik, mereka terpisah karena amarah. "Kau menganggap hal besar itu tidaklah penting? Bahkan kau telah menikah tanpa memberitahuku. Apa kau sudah benar-benar memutuskan hubungan denganku?" Alex bertanya dengan tatapan yang tajam dan nafas yang memburu menahan emosi. Setelah malam pesta peresmian CEO Landon di Hotel California satu pekan yang lalu, mereka baru bertatap muka lagi. Kematian Veronica menyisakan luka mendalam di hati Alex. Ia memutuskan pergi meninggalkan kota dan menitipkan Landon yang baru berusia sepuluh tahun bersama kakeknya. Alex pikir setelah menyandang banyak gelar, Landon akan mumpuni memimpin perusahaan, tapi nyatanya sang putra bisanya cuma menghabiskan banyak uang di meja judi dan hobi main perempuan. Perusahaan mengalami rugi besar-besaran sepanjang tahun. Alex menahan emosi yang telah ia kubur selama bertahun-tahun di Romania. Sekarang Landon menariknya kembali ke kekacauan ini. Mendengar pertanyaan sang ayah, Landon tersenyum remeh. "Orang yang gagal dalam pernikahannya, mana pantas bicara soal pentingnya sebuah pernikahan." Alex terkesiap mendengarnya. Nafasnya tiba-tiba tercekat di tenggorokan, dadanya terasa amat sesak, tangannya mengepal kuat. Apa yang anak itu katakan? Apa Landon sedang menaburkan garam di atas luka yang hampir mengering? "Apa maksudmu?" Ia berusaha tenang dan menatap Landon dengan tegas. Landon memiringkan kepala dengan mimik merendahkan. "Apa aku harus ceritakan lagi kisah menyedihkan Keluarga Parker?" Alex terdiam. Semua persendiannya terasa mati. Ucapan Landon bagai ujung tombak yang amat tajam, yang menghujam langsung ke jantungnya. Anak itu tidak tahu apa-apa tentang kandasnya pernikahan dia dan Veronica, juga alasan kematiannya yang tragis. Tidak sepantasnya Landon bicara begitu. Namun Alex juga tak ingin membahas masa lalu yang hanya membuatnya sakit hati. Melihat sang ayah hanya bergeming, Landon kembali menyunggingkan senyuman. Ia lantas mundur dari hadapan Alex. Namun sebelum dia mencapai pintu, langkahnya dihentikan. "Kakek menulis dalam wasiatnya, jika aku harus menikah barulah boleh menerima wewenang perusahaan. Makanya aku menikahi gadis bodoh dari desa. Tentang siapa gadis itu, kau tak perlu tahu." Usai menyampaikan hal itu, Landon segera melenggang pergi meninggalkan sang ayah yang masih mematung di posisi. Asap rokok masih tercium di seluruh ruangan selepas kepergian Landon. Di tengah ruangan dan di bawah sinar lampu kristal yang menggantung tepat di atas kepala, Alex berdiri memandangi punggung sang putra melewati ambang pintu. Siapa gadis yang sudah Landon nikahi? Dia harus mencari tahu hal itu. Jika tidak, hubungannya dengan David akan memburuk. Parahnya lagi, kemitraan dua perusahaan pun bisa berantakan. "Bos memanggil saya?" Satu jam setelah Landon mengemudikan sport car miliknya meninggalkan perusahaan, Ernes memasuki ruang kerja Alex. Sang asisten tampak gugup. "Ernes, antar aku menemui istri Landon." Mendengarnya Ernes amat terkejut. Matanya terangkat ke punggung lebar seorang pria yang kini berdiri di hadapannya. Saat tubuh tinggi kekar dalam balutan kemeja putih yang lengannya dilipat sampai ke siku itu memutar, ia segera membungkuk. Suara guntur bersahutan menyambar jendela kaca ruangan. Wajah Alex terlihat dingin saat terkena kilat petir. Ernes tak berani menatapnya karena hawa takut. Situasi ini amat mencekam, saat alam pun menolak atas apa yang terjadi di balik rahasia kelam Keluarga Park ke *** Provinsi Salvador Barat pukul sembilan pagi. "Apa katamu? Kau mau ke rumah sakit?! Kau pikir biaya rumah sakit itu murah, hah?! Daripada kau mimpi mau ke rumah sakit, lebih baik kau menabung untuk biaya pemakaman mu saja!" Prang! "Uhuk! Uhuk!" "Mati saja kau! Aku muak denganmu!" Suara gaduh itu terdengar dari pintu rumah yang terbuka. Rumah kecil yang berada di tepi jalan berbatu menuju bukit. Kawanan domba yang sedang mencari rumput di padang tandus terkejut saat barang-barang dapur dilempar ke luar pintu. Namun para tetangga di balik jendela hanya melirik sekilas, sudah terbiasa dengan drama sarapan pagi keluarga Xavier. Tak lama kemudian tampak seorang gadis yang sedang berjalan menyusuri tanah berbatu. Rumah yang pintunya terbuka yang ia tuju. Elsa tersenyum lega karena sudah hampir tiba di rumah Paman Xavier. Setelah menikah dengan Landon lima bulan yang lalu, ia meninggalkan desa. Elsa sangat senang karena Landon memberi cukup uang untuk pengobatan Paman Xavier yang sakit paru-paru. Ia berharap saat ini kondisi sang paman jauh lebih sehat. Sehingga ia tidak sungkan menceritakan nasib pernikahannya dengan Landon. "Mati saja kau sana!" Prang! Sebuah piring kaleng menggelinding keluar dari pintu rumah dan berhenti saat menabrak tungkai jenjang seorang gadis. Elsa tercengang. Dia buru-buru melepaskan tas besar yang dibawa, lantas menerobos masuk. "Uhuk! Uhuk!" "Sudah tua merepotkan saja kerjanya!" Di dalam rumah sedang terjadi pertengkaran sengit. Deborah yang sedang marah-marah pada Xavier yang sedang terbaring di atas dipan tua. Sementara di bangku kayu dekat jendela tampak seorang gadis yang sedang makan camilan sambil menonton. Elsa geleng-geleng. Bergegas ia menghampiri mereka. "Bibi, tolong jangan marahi Paman! Aku bawa uang jika itu yang Bibi butuhkan, tapi tolong jangan marah-marah lagi! Paman Xavier sedang sakit!" Sambil merentangkan kedua tangannya, Elsa melindungi Xavier dari Deborah yang hendak menyeret pria tak berdaya itu. Mendengar uang yang disebutkan oleh Elsa, Deborah dan putrinya terpengarah. "Apa? Kau bawa uang?" tanya Deborah dengan wajah tak sabar. Sementara putrinya yang bernama Tracy turut menatap penuh rasa antusias kepada Elsa. Dengan gugup dan air mata yang membendung di mata, Elsa segera merogoh ke tas kecilnya. "Ini, ambilah uang ini," ujar Elsa seraya menyodorkan semua uang kertas yang cukup dibawanya ke depan Deborah dan Tracy. Dengan cepat Deborah langsung menyambar uang itu. Saat dia dan putrinya sibuk menghitungnya, Elsa bergegas menghampiri Xavier. "Paman, ayo kita berobat ke rumah sakit. Kau harus sehat lagi!" rintih Elsa dalam tangisnya. Xavier masih terbaring di tengah dipan. Ia melihat Elsa yang tampak baik-baik saja. Ia berharap anak angkat sudah bahagia atas pernikahannya. "Di mana suamimu? Apa kau datang seorang diri?" Xavier berkata dengan nafas yang tersenggal. Mata cekungnya melirik ke arah pintu rumah yang masih terbuka. Elsa tersenyum pahit. Dia bingung harus mengatakan apa kepada Paman Xavier. Nyatanya dia kabur ke Salvador untuk menghindar dari Landon.ROMA, ITALIA – DUA PULUH TAHUN KEMUDIANRoma adalah kota yang tak pernah benar-benar tidur. Di balik kemegahan arsitektur kunonya, detak jantung kota ini digerakkan oleh dua elemen yang saling melengkapi: bisnis legal yang dikuasai oleh Alex Parker dan dunia bawah yang berada dalam genggaman besi Camila Palmer. Pasangan ini telah menjadi legenda hidup; Alex sang penguasa ekonomi Eropa, dan Camila sang Lady Mafia yang memastikan tak ada satu pun bayang-bayang yang bergerak tanpa izinnya.Hari ini, 20 November 2046, Roma bersiap untuk sebuah perayaan besar. Dave Alen Parker, putra mahkota Group Miracle, genap berusia 23 tahun. Dave adalah sebuah misteri yang hidup. Sejak usia lima tahun, demi melindunginya dari daftar panjang musuh keluarga, Alex dan Camila mengirimnya ke asrama rahasia di Pulau Sisilia. Publik hanya mengenal namanya, namun tak pernah melihat wajahnya. Ia adalah "Hantu" dari klan Parker—pewaris berdarah biru yang dididik dalam kerasnya disiplin militer dan kecerdasan
Matahari merayap menuju puncaknya, namun hawa dingin tetap menyelimuti San Alexandria. Daun-daun maple kemerahan gugur satu per satu, menari ditiup angin sebelum mendarat di atas tanah merah yang masih basah. Di sana, di dalam peti mati mahoni yang mewah, Elsa Wilson terbaring dengan kedamaian abadi. Ia mengenakan gaun hitam sutra yang elegan, jemarinya yang pucat ditautkan di atas perut, menggenggam buket mawar putih yang kontras dengan kegelapan di sekelilingnya. Matanya terpejam rapat, sebuah tidur panjang yang tak akan terusik oleh intrik dunia lagi. Alex Parker berdiri mematung. Saat peti itu perlahan turun ke liang lahat, kekuatannya runtuh. Sang penguasa yang biasanya tegak itu jatuh lemas di tepi lubang, menyadari bahwa ini adalah kali terakhir ia bisa menatap wajah wanita yang telah memberikan segalanya untuknya. Di sampingnya, Marquez Wilson mencengkeram gundukan tanah dengan tangan kosong, isak tangisnya pecah meratapi kepergian adik satu-satunya. Jesica berdiri di
Cahaya keemasan musim gugur menyusup melalui celah gorden sutra di Villa Parker yang terisolasi. Pagi itu terasa seperti sepotong surga yang dicuri dari tumpukan tragedi. Elsa Wilson terbangun perlahan, matanya tertuju pada sosok pria yang kini menjadi pusat semestanya: Alex Parker. Dalam remang cahaya subuh, Alex masih terlelap, wajahnya yang biasanya keras dan penuh otoritas kini tampak tenang, hampir rapuh. Mereka berbaring polos di bawah selimut putih tebal yang sama, berbagi kehangatan yang meluruhkan semua ingatan tentang peluru dan air mata. Saat Elsa hendak bangkit, sebuah tangan yang kuat namun lembut mencekal lengannya. Elsa tersentak kecil, hanya untuk menemukan manik mata Alex yang sudah terbuka, menatapnya dengan binar kerinduan. "Selamat pagi, Istriku," bisik Alex dengan suara serak khas bangun tidur. Elsa tersenyum, kembali merebahkan kepalanya di bantal. "Selamat pagi, Walikota." Alex menarik Elsa mendekat, lalu dengan gerakan penuh kekaguman, ia menempelkan
San Alexandria terbangun dengan sinar matahari yang membelai permukaan kota, seolah tak pernah terjadi pertumpahan darah di atas aspalnya. Berita penembakan sang Walikota, Alex Parker, telah menguap begitu saja; sebuah kasus yang ditutup rapat di bawah kekuasaan mutlak, menyisakan misteri yang hanya diketahui oleh mereka yang hidup di balik bayang-bayang. Di depan gerbang Bungalow Wilson yang megah, Marquez Wilson berdiri dengan bahu yang tampak kaku. Ia menatap bangunan yang pernah menjadi simbol kejayaan keluarganya. Kini, rumah itu terasa seperti makam besar bagi kenangan. Di telinganya, seolah masih bergema tawa manja Elsa saat bercerita tentang debut baletnya, dan suara berat David yang tertawa puas sambil merangkul bahunya. Semua itu kini hanyalah abu yang tertiup angin. Marquez mengusap sebutir air mata yang mengalir di pipinya—sebuah kelemahan langka bagi sang pewaris Wilson. Jesica mendekat, meremas bahunya dengan lembut untuk memberikan kekuatan yang ia sendiri pun h
Langit San Alexandria seolah terbungkus kain kafan kelabu. Mendung menggantung rendah, menahan tetesan air mata langit saat kerumunan orang berpakaian serba hitam berkumpul di tanah basah Pemakaman Keluarga Wilson. Hari ini, sang taipan Eropa yang disegani, David Wilson, diantarkan ke peristirahatan terakhirnya. Ia dimakamkan tepat di samping pusara mendiang istrinya, Liliana, meninggalkan kemegahan dunia demi keabadian yang sunyi. Marquez Wilson berdiri di tepi liang lahat dengan rahang mengeras. Tangannya mengepal kuat hingga kuku-kukunya memutih. Saat peti jenazah sang ayah perlahan diturunkan, bayangan kematian David yang tragis terus berputar di kepalanya. "Ayah, aku tidak akan membiarkanmu mati sia-sia," bisik Marquez dalam kegelapan batinnya. "Aku berjanji, esok atau lusa, Alex Parker pun akan dimakamkan tepat di sampingmu." Agak jauh dari sana, di balik kaca gelap mobil Mercedes hitam yang terparkir di bawah pohon besar, Elsa Wilson menyaksikan segalanya. Ia tidak beran
Pagi itu, San Alexandria seolah mencuci dirinya sendiri. Sisa hujan semalam meninggalkan genangan air yang memantulkan sinar jingga matahari terbit, menciptakan mozaik keemasan di pelataran rumah sakit. Di dalam ruang perawatan intensif, Alex Parker perlahan membuka matanya. Indra penciumannya langsung menangkap aroma lembut vanilla blossom yang familiar—aroma yang selalu ia dambakan dalam mimpinya. Di samping ranjangnya, sesosok wanita berdiri menatapnya dengan binar mata yang redup namun penuh kasih. Elsa. Ia mengenakan dress selutut warna biru muda bermotif bunga Lily dengan tali tipis yang memperlihatkan bahunya yang ringkih. Rambut cokelatnya digerai bebas, membingkai wajahnya yang tampak sembab dan pucat, namun bibirnya berusaha mengukir senyuman termanis yang pernah Alex lihat. "Elsa... apakah ini benar-benar kau?" bisik Alex parau, suaranya nyaris hilang ditelan efek sisa obat bius. Tangan hangat Elsa menyentuh punggung tangan Alex, memberikan kepastian yang nyata. "Ini







