공유

Chapter 3

작가: Dewa Amour
last update 게시일: 2025-10-25 09:58:29

"Ada tiga tulang rusuk yang patah, juga pendarahan hebat. Kami sudah atasi semuanya. Namun, dia sudah kehilangan bayinya."

Mendengar penuturan dokter, Alex cuma mengangguk. Matanya tidak luput dari pasien wanita yang sedang terbaring di ruang ICU.

Sambil berdiri di tepi kaca jendela ruangan itu, ia memantau kondisi Elsa.

Alex menemukan gadis itu di antara rerumputan dan tanah berdebu yang tak jauh dari Hotel California. Ceceran kertas berserakan di sekitarnya. Entah siapa gadis itu. Alex cuma ingat, bahwa ia pernah bertemu dengan Elsa di dalam lift.

"Apa sudah hubungi keluarganya?" tanya Alex. Pandangan pria itu tidak berpaling sedetik pun dari Elsa.

Dokter agak sungkan. "Selain berkas laporan medis kandungannya, kami tidak menemukan kartu identitas apapun yang dibawa olehnya."

Alex terdiam. Matanya masih menatap ke arah Elsa. Siapa sebenarnya gadis malang itu? Apa yang terjadi padanya sampai ditemukan dengan kondisi yang parah dan kehilangan bayinya. Apa dia korban perampokan?

"Pihak rumah sakit sudah hubungi polisi. Anda tidak perlu cemas." Dokter bicara lagi pada Alex.

Pria itu tersenyum getir menanggapi, "Untuk apa aku harus mencemaskannya?"

Dokter agak terkejut. Dengan sungkan ia segera menunduk.

"Aku masih ada banyak urusan. Setelah kondisinya pulih, ijinkan dia pulang."

"Baik, Tuan."

Alex melirik satu kali ke arah Elsa sebelum ia melangkah pergi.

Tiga hari Elsa tidak sadarkan diri di rumah sakit. Sementara Landon malah sibuk bermesraan dengan wanita lain. Hingga kabar Elsa pun tiba padanya.

["Nyonya ada di rumah sakit! Dia kehilangan bayinya!"]

Landon tampak jengah saat mendengar berita yang disampaikan oleh asistennya. Melihat pria itu diam saja, wanita berpakaian minim segera mendongak padanya. Landon cuma tersenyum menanggapi.

Persetan dengan Elsa!

Landon tidak peduli. Pria itu kembali melanjutkan aktivitas panasnya dengan wanita bayaran.

***

Hari berikutnya di Pusat Kesehatan Parker.

"Anda sudah dibolehkan meninggalkan rumah sakit, Nona Elsa."

Wanita itu hanya tersenyum pahit menanggapi perkataan seorang perawat. Mereka sedang berkemas-kemas. Pagi ini juga ia sudah diharuskan meninggalkan rumah sakit.

Namun hati Elsa amat sedih dan kecewa. Kemana ia harus pulang? Tak mungkin dirinya bisa diterima di Bungalow Parker lagi setelah apa yang sudah Landon perbuat.

Pria kejam itu memukulinya dengan brutal, sampai-sampai ia kehilangan bayinya dan hampir mati karena pendarahan hebat. Landon benar-benar kejam! Dia telah membunuh anaknya sendiri!

Elsa mendongak ke atas langit-langit. Ia berusaha kuat mesti sudah kehilangan bayinya, dia tak boleh terus bersedih karena kekejaman Landon.

Yang harus ia pikirkan sekarang, ia harus kemana untuk bersembunyi sementara waktu dari Landon. Apakah dia harus kembali ke desanya?

Entah, apakah Paman Xavier masih mau menerimanya atau tidak. Dia sangat bingung.

"Nona Elsa, kenapa Anda murung? Apa masih ada keluhan pada kesehatan Anda?" Perawat bertanya setelah melihat tampang kuyu Elsa.

Hampir dua pekan wanita itu berada di rumah sakit ini. Namun tidak ada seorangpun yang datang menjenguknya. Elsa pasti sangat sedih, karena baru saja kehilangan bayinya.

Namun mereka masih penasaran tentang siapa sebenarnya wanita muda itu. Selain namanya, Elsa tak memberitahu apa pun tentang identitasnya pada pihak rumah sakit.

"Ah, tidak. Aku baik-baik saja, kok! Terima kasih kalian sudah merawat ku dengan telaten," ujar Elsa disertai senyuman yang dipaksakan.

Perawat membalas senyum. Untuk beberapa saat mereka memandangi Elsa. Gadis itu diantar ke sini oleh pemilik rumah sakit, dengan kondisi badan penuh luka dan pendarahan hebat.

Diketahui, Elsa yang sedang hamil muda kondisinya sangat lemah dan mengalami stres berat. Akibat kekerasan fisik yang dialaminya, kandungan Elsa yang baru berusia dua bulan tak bisa lagi diselamatkan.

"Baiklah, semuanya! Aku akan segera pulang. Trims atas bantuannya!" Elsa membungkuk pada dokter dan perawat yang mengantar dia sampai ke lobi. Setelahnya dia segera pergi.

Saat Elsa sedang menunggu mobil taksi, tiba-tiba saja dua orang petugas polisi menghampirinya. Gadis itu dibuat terkejut.

"Jadi, kau tak mau beritahu siapa yang sudah memukulimu malam itu?"

Polisi tampan bernama Noah bertanya dengan tatapan tegas kepada Elsa. Selama Elsa di rumah sakit, Noah sering datang untuk melihat kondisinya. Juga menyelidiki kasus kekerasan yang dialami oleh wanita muda bertubuh mungil itu.

Elsa cuma mengangguk kecil. Wajahnya dipalingkan dari tatapan Noah. Dia tahu, jika tidak mudah membohongi seorang petugas kepolisian. Dan Noah sudah membuat dia bingung.

Pelaku sebenarnya adalah Landon, suaminya sendiri. Dia tidak mungkin mengatakan itu kepada Noah.

Sementara Noah tidak puas dengan jawaban Elsa. Dia tahu jika gadis itu sedang sembunyikan sesuatu. Namun dia pun tak bisa terus mendesak Elsa. Akhirnya ia membiarkan Elsa masuk ke mobil taksi.

Brak!

Alex yang sedang menerima telepon dari rekan bisnisnya di luar kota, dibuat sangat terkejut saat seorang tamu melempar sebuah dokumen ke depan mejanya.

Panggilan pun segera diakhiri, mata Alex mengincar wajah pria yang kini berdiri di hadapannya. Pria itu tersenyum sinis menanggapi.

"Bajingan kau, Alex! Bukankah kita sudah sepakat mau menjadi besan? Kenapa kau malah menikahkan putramu dengan gadis lain? Apa kau sedang menghina kami, hah?!"

David Wilson, pria itu tampak sangat marah. Hingga para bodyguard yang berdiri di depan pintu nyaris saja mengeluarkan pistol mereka untuk menembaknya yang bersikap kurang ajar kepada pimpinan perusahaan.

Melihat kawan lama yang datang sambil membawa emosi, Alex segera meraih dokumen yang David lemparkan ke mejanya. Ia membaca semua itu dengan teliti.

Dokumen itu berisi surat keterangan dari catatan sipil. Dalam surat itu dijelaskan jika Landon sudah menikah lima bulan yang lalu. Setelah membacanya Alex sangat terkejut.

"David, aku bahkan tidak tahu hal ini," ujarnya seraya menatap pada pria di seberang meja.

David menatap dengan mata berapi-api. Kemudian ia berkata dengan keras. "Jangan pura-pura tak tahu apa-apa! Adela bisa loncat dari balkon kamarnya jika tahu hal ini! apa kau mau melihat foto mayat putriku muncul di surat kabar?!"

Alex menggeleng. "Aku tidak tahu, David. Tapi kau tahu Landon tidak pernah membuat keputusan tanpa melawan keinginanku. Aku akan selesaikan kekacauan ini," terangnya.

David cuma buang muka. Dia kesal karena merasa dipermainkan oleh Alex.

"Rebeca, panggil Ernes ke ruangan saya sekarang!"

Setelah David meninggalkan kantornya, Alex segera meminta asisten datang ke ruangannya. Ini sungguh gila! Bisa-bisanya Landon menikah tanpa memberitahunya. David bisa menuntut mereka atas hal memalukan ini.

"Bos memanggilku?"

"Cepat kemari."

Ernes segera berjalan menuju pada Alex. Sang presiden direktur tampak sedang berdiri di tepi garis jendela ruangan. Wajahnya kelihatan dingin, dengan gelas wine di genggaman.

Dengan sungkan-sungkan Ernes membungkuk lalu berdiri dengan jarak sekitar dua meter dari tempat Alex berdiri. Manik-manik biru Alex yang menggelap mengincar wajah pria itu.

"Aku butuh tahu kebenarannya, Ernes. Di lingkungan Parker tidak ada laporan tanpa campur tanganku. Jadi, kenapa kau bersekongkol dengan Landon dan mendukung aksi gilanya itu?"

Mendengar ucapan Alex, Ernes gemetaran. "Hm, anu, Bos ...," katanya dengan gugup.

"Katakan, kapan dan di mana Landon menikah? Serta, siapa gadis yang telah dia nikahi?" Alex bicara dengan suara yang bergetar dan tegas.

Kemarahan sang pimpinan perusahaan bisa membakar seluruh San Alexandria jika Ernes tetap memilih diam.

Ernes masih tampak gugup di sela-sela rasa takut yang bisa membunuhnya saat ini juga. "Sa-Salvador Barat! Tuan Muda menikah dengan gadis dari desa kecil di sana! Saya pun sempat mengingatkan dia, tapi ..."

Alex mengangkat satu tangannya. Seketika Ernes pun berhenti bicara. Sang asisten segera menunduk, takut.

"Panggil Landon ke hadapanku sore ini juga!" perintah Alex.

Ernes mengangguk. "Baik, Bos."

Alex masih bergeming di tempat selepas kepergian Ernes.

Landon, anak itu tak pernah berubah. Hubungannya dengan sang putra tidak begitu baik sejak Veronica meninggal. Landon terus memusuhinya. Bahkan menganggap jika kematian ibunya karena kesalahan Alex.

Sejak itu Landon tak pernah mengunjunginya. Menurut Ernes, putranya mulai kecanduan minuman dan obat-obatan. Bahkan Landon suka memesan wanita penghibur secara acak.

Alex pikir hidup Landon sudah hancur sejak kematian Veronica. Olehnya ia pun berpikir untuk mencarikan gadis yang baik untuk Landon.

Hubungannya dan David sangat dekat. Alex pikir dia bisa menikahkan Landon dengan putri bungsu David yang bernama Adela.

Namun apa yang sudah terjadi di luar rencananya. Landon ternyata sudah menikah diam-diam. Dia harus cari tahu, siapa gadis yang sudah Landon nikahi itu.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • OBSESI TERLARANG : Sentuh Aku, Ayah Mertua    Chapter 210

    ROMA, ITALIA – DUA PULUH TAHUN KEMUDIANRoma adalah kota yang tak pernah benar-benar tidur. Di balik kemegahan arsitektur kunonya, detak jantung kota ini digerakkan oleh dua elemen yang saling melengkapi: bisnis legal yang dikuasai oleh Alex Parker dan dunia bawah yang berada dalam genggaman besi Camila Palmer. Pasangan ini telah menjadi legenda hidup; Alex sang penguasa ekonomi Eropa, dan Camila sang Lady Mafia yang memastikan tak ada satu pun bayang-bayang yang bergerak tanpa izinnya.Hari ini, 20 November 2046, Roma bersiap untuk sebuah perayaan besar. Dave Alen Parker, putra mahkota Group Miracle, genap berusia 23 tahun. Dave adalah sebuah misteri yang hidup. Sejak usia lima tahun, demi melindunginya dari daftar panjang musuh keluarga, Alex dan Camila mengirimnya ke asrama rahasia di Pulau Sisilia. Publik hanya mengenal namanya, namun tak pernah melihat wajahnya. Ia adalah "Hantu" dari klan Parker—pewaris berdarah biru yang dididik dalam kerasnya disiplin militer dan kecerdasan

  • OBSESI TERLARANG : Sentuh Aku, Ayah Mertua    Chapter 209

    Matahari merayap menuju puncaknya, namun hawa dingin tetap menyelimuti San Alexandria. Daun-daun maple kemerahan gugur satu per satu, menari ditiup angin sebelum mendarat di atas tanah merah yang masih basah. Di sana, di dalam peti mati mahoni yang mewah, Elsa Wilson terbaring dengan kedamaian abadi. Ia mengenakan gaun hitam sutra yang elegan, jemarinya yang pucat ditautkan di atas perut, menggenggam buket mawar putih yang kontras dengan kegelapan di sekelilingnya. Matanya terpejam rapat, sebuah tidur panjang yang tak akan terusik oleh intrik dunia lagi. Alex Parker berdiri mematung. Saat peti itu perlahan turun ke liang lahat, kekuatannya runtuh. Sang penguasa yang biasanya tegak itu jatuh lemas di tepi lubang, menyadari bahwa ini adalah kali terakhir ia bisa menatap wajah wanita yang telah memberikan segalanya untuknya. Di sampingnya, Marquez Wilson mencengkeram gundukan tanah dengan tangan kosong, isak tangisnya pecah meratapi kepergian adik satu-satunya. Jesica berdiri di

  • OBSESI TERLARANG : Sentuh Aku, Ayah Mertua    Chapter 208

    Cahaya keemasan musim gugur menyusup melalui celah gorden sutra di Villa Parker yang terisolasi. Pagi itu terasa seperti sepotong surga yang dicuri dari tumpukan tragedi. Elsa Wilson terbangun perlahan, matanya tertuju pada sosok pria yang kini menjadi pusat semestanya: Alex Parker. Dalam remang cahaya subuh, Alex masih terlelap, wajahnya yang biasanya keras dan penuh otoritas kini tampak tenang, hampir rapuh. Mereka berbaring polos di bawah selimut putih tebal yang sama, berbagi kehangatan yang meluruhkan semua ingatan tentang peluru dan air mata. Saat Elsa hendak bangkit, sebuah tangan yang kuat namun lembut mencekal lengannya. Elsa tersentak kecil, hanya untuk menemukan manik mata Alex yang sudah terbuka, menatapnya dengan binar kerinduan. "Selamat pagi, Istriku," bisik Alex dengan suara serak khas bangun tidur. Elsa tersenyum, kembali merebahkan kepalanya di bantal. "Selamat pagi, Walikota." Alex menarik Elsa mendekat, lalu dengan gerakan penuh kekaguman, ia menempelkan

  • OBSESI TERLARANG : Sentuh Aku, Ayah Mertua    Chapter 207

    San Alexandria terbangun dengan sinar matahari yang membelai permukaan kota, seolah tak pernah terjadi pertumpahan darah di atas aspalnya. Berita penembakan sang Walikota, Alex Parker, telah menguap begitu saja; sebuah kasus yang ditutup rapat di bawah kekuasaan mutlak, menyisakan misteri yang hanya diketahui oleh mereka yang hidup di balik bayang-bayang. Di depan gerbang Bungalow Wilson yang megah, Marquez Wilson berdiri dengan bahu yang tampak kaku. Ia menatap bangunan yang pernah menjadi simbol kejayaan keluarganya. Kini, rumah itu terasa seperti makam besar bagi kenangan. Di telinganya, seolah masih bergema tawa manja Elsa saat bercerita tentang debut baletnya, dan suara berat David yang tertawa puas sambil merangkul bahunya. Semua itu kini hanyalah abu yang tertiup angin. Marquez mengusap sebutir air mata yang mengalir di pipinya—sebuah kelemahan langka bagi sang pewaris Wilson. Jesica mendekat, meremas bahunya dengan lembut untuk memberikan kekuatan yang ia sendiri pun h

  • OBSESI TERLARANG : Sentuh Aku, Ayah Mertua    Chapter 206

    Langit San Alexandria seolah terbungkus kain kafan kelabu. Mendung menggantung rendah, menahan tetesan air mata langit saat kerumunan orang berpakaian serba hitam berkumpul di tanah basah Pemakaman Keluarga Wilson. Hari ini, sang taipan Eropa yang disegani, David Wilson, diantarkan ke peristirahatan terakhirnya. Ia dimakamkan tepat di samping pusara mendiang istrinya, Liliana, meninggalkan kemegahan dunia demi keabadian yang sunyi. Marquez Wilson berdiri di tepi liang lahat dengan rahang mengeras. Tangannya mengepal kuat hingga kuku-kukunya memutih. Saat peti jenazah sang ayah perlahan diturunkan, bayangan kematian David yang tragis terus berputar di kepalanya. "Ayah, aku tidak akan membiarkanmu mati sia-sia," bisik Marquez dalam kegelapan batinnya. "Aku berjanji, esok atau lusa, Alex Parker pun akan dimakamkan tepat di sampingmu." Agak jauh dari sana, di balik kaca gelap mobil Mercedes hitam yang terparkir di bawah pohon besar, Elsa Wilson menyaksikan segalanya. Ia tidak beran

  • OBSESI TERLARANG : Sentuh Aku, Ayah Mertua    Chapter 205

    Pagi itu, San Alexandria seolah mencuci dirinya sendiri. Sisa hujan semalam meninggalkan genangan air yang memantulkan sinar jingga matahari terbit, menciptakan mozaik keemasan di pelataran rumah sakit. Di dalam ruang perawatan intensif, Alex Parker perlahan membuka matanya. Indra penciumannya langsung menangkap aroma lembut vanilla blossom yang familiar—aroma yang selalu ia dambakan dalam mimpinya. Di samping ranjangnya, sesosok wanita berdiri menatapnya dengan binar mata yang redup namun penuh kasih. Elsa. Ia mengenakan dress selutut warna biru muda bermotif bunga Lily dengan tali tipis yang memperlihatkan bahunya yang ringkih. Rambut cokelatnya digerai bebas, membingkai wajahnya yang tampak sembab dan pucat, namun bibirnya berusaha mengukir senyuman termanis yang pernah Alex lihat. "Elsa... apakah ini benar-benar kau?" bisik Alex parau, suaranya nyaris hilang ditelan efek sisa obat bius. Tangan hangat Elsa menyentuh punggung tangan Alex, memberikan kepastian yang nyata. "Ini

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status