LOGINPintu mobil ditutup dari dalam. Elsa cukup terkejut dibuatnya. Diam-diam matanya melirik ke arah pria yang kini duduk di sampingnya.
Dia Alex Parker, pria dingin yang memberikan sapu tangan di dalam lift, juga orang yang menolongnya dari ambang kematian. Elsa sungguh tak percaya, jika benang takdir mempertemukan dia dengan ayah mertua sebegitu uniknya. Kendati demikian, Elsa sangat bersyukur karena dipertemukan dengan Alex. Hanya saja dia sangat malu karena ayah mertua harus melihatnya dalam kondisi amat menyedihkan begini. Alex sungguh sangat baik mesti terlihat dingin dan kaku. Pria itu sudah mengirim Xavier untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit sampai sembuh, juga memberikan banyak uang pada Deborah dan Tracy, meski sebenarnya mereka tak pantas dikasihani. Kini Elsa sangat lega meski harus meninggalkan desa dan Paman Xavier. Dia berharap sang paman segera pulih dari sakitnya. "Kau pasti sangat terkejut. Aku minta maaf karena tidak mengenalmu sebelumnya," ujar Alex. Bau mint dari nafasnya mendominasi aroma maskulin parfum mewah yang tercium samar dari tubuhnya. Elsa bergetar, "Hm, engga pa-pa. Saya yang mestinya minta maaf kepada Anda, Tuan Parker! Saya keterlaluan ya? Sampai-sampai tidak mengenali Anda," sesalnya dengan penuh rasa canggung dan pipi yang merah menahan malu. Elsa segera menunduk saat manik-manik biru Alex melirik ke arahnya. Alex tersenyum tipis. Elsa sangat muda dan polos. Landon sungguh bodoh telah menyia-nyiakan berlian langka seperti ini. "Hm, Elsa. Apa kau ingin menemui Landon?" Setelah hening cukup lama, Alex berkata lagi. Mercedes hitam yang mereka tumpangi mulai meninggalkan pedesaan, beralih menuju ke terowongan. Elsa melirik ke arah Alex. Dilihatnya pria itu yang tampak tenang-tenang saja. Alex tampak melihat ke arah luar mobil, bukan menatap padanya. Namun kenapa jantung Elsa terus berdebar-debar. Cara Alex memeluknya, semua itu masih memenuhi otak Elsa. Dia tak pernah dipeluk oleh seorang pria seperti itu, kecuali oleh ayahnya dahulu. Pelukan Alex sangat hangat dan memberi rasa aman dan nyaman pada Elsa. Ia merasa seperti telah menemukan sosok ayah lagi, tappi mengapa debaran ini terasa sangat berbeda dari rasa aman? Ada rasa bersalah yang mengganggu karena pria ini adalah ayah Landon. "Elsa, kenapa diam?" Tatapan Alex yang tiba-tiba membidik wajah Elsa sontak membuat gadis itu jadi gugup. Elsa buru-buru berpaling, dia jadi gugup. Melihat sikap polos gadis itu, Alex tersenyum tipis. Diam-diam dia juga memperhatikan Elsa. Entah kenapa dia merasakan emosi yang luar biasa saat melihat gadis itu. Apa ini hanya rasa simpati biasa saja? Ia pun tidak faham dengan perasaannya. "Hm, bagaimana aku mau menemui Landon, bahkan dia hanya menganggap aku sampah. Ya, aku memang tidak pantas untuknya yang sempurna. Aku sangat malu karena sudah membuatnya menyesal menikahi ku," lirih Elsa. Alex segera menoleh ke arah gadis itu. Elsa menunduk seraya mengusap kedua pipinya. Mungkin dia malu jika terus menangis di depan ayah mertua. Namun melihatnya yang begitu, Alex sangat prihatin, tapi dia berusaha bersikap biasa saja di depan Elsa. "Landon kehilangan ibunya saat masih kanak-kanak. Oleh karena itu ia tumbuh dengan pribadi yang keras dan semaunya. Aku harap kau tidak meninggalkan dia. Namun untuk sementara waktu, aku akan memintamu untuk tidak menemuinya. Biarkan aku yang urus Landon," putus Alex. Elsa cuma mengangguk. Ia lantas memilih untuk melihat pemandangan di luar, mengabaikan Alex yang diam-diam sedang memperhatikannya. Sinar jingga tampak menggantung di antara permukaan air laut, sementara bayangan tebing-tebing terlihat condong ke barat, menandakan hari mulai petang. Perjalanan masih amat jauh menuju kota, hawa ngantuk menyerang Elsa saat mobil memasuki terowongan yang gelap. Dengan malu-malu dia tak henti menguap. "Tidurlah jika mengantuk, perjalanan masih jauh," ujar Alex yang sontak membuat Elsa terkejut. Gadis itu cuma menoleh ke arahnya. Alex tampak acuh-acuh saja sambil sibuk dengan aktivitas ponsel. Elsa yang sudah tak tahan akan rasa kantuknya segera bersandar ke sisi pintu mobil. Alex melirik ke arah gadis itu. Sepertinya Elsa sudah tertidur. Ia pun kembali sibuk dengan aktivitas ponselnya. Namun Alex dibuat terkejut saat kepala Elsa tiba-tiba berpindah ke bahunya. Ia melirik ke arah gadis itu. Sepertinya Elsa mengigau. Alex membiarkannya bersandar. Malam nyaris menemukan pagi saat Mercedes hitam memasuki sebuah gedung apartemen mewah di pusat kota. Griya Tawang di atas gedung merupakan tempat tinggal Alex selama ia berada di San Alexandria. Sejak ayahnya tiada, Alex tidak lagi pulang ke Bungalow Parker, kini bangunan mewah itu hanya ditempati oleh Landon dan dua puluh pelayanan. Dia memilih tinggal di penthouse. "Bos, apa saya perlu membangunkan Nona Elsa?" Ernes menoleh ke belakang di mana Alex duduk berdampingan dengan Elsa. Alex menggeleng. "Biar aku saja." Ernes manggut-manggut. Ia lantas segera keluar dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Alex. Ernes pikir Alex akan membangunkan Elsa, nyatanya dia salah. Alex keluar dari mobil seraya menggendong Elsa yang masih tertidur pulas. Ernes amat terkejut melihatnya, namun ia segera menunduk saat mata Alex melirik. Di lobi gedung tampak sepi. Alex yang berjalan sambil menggendong Elsa cukup menyita perhatian orang-orang yang tersisa di sekitar. Namun Alex tidak peduli, dia tetap menggendong Elsa menuju penthouse. Ernes buru-buru membuka pintu saat Alex membawa Elsa menuju ke sebuah kamar. Mereka sudah tiba di penthouse. Alex merebahkan tubuh mungil Elsa ke tengah-tengah ranjang dengan hati-hati. Ia lantas menoleh ke arah Ernes. "Kau boleh pergi." Ernes segera membungkuk lalu meninggalkan kamar. Sementara Alex segera menarik selimut guna menutupi sebagian tubuh Elsa. Sepertinya gadis itu amat kelelahan karena perjalanan yang jauh. Alex mencondongkan tubuhnya ke depan Elsa, ia meraih kacamata tebal itu dengan hati-hati lalu menyimpannya di meja samping ranjang. Sebelum ia pergi, Alex menoleh ke arah Elsa. Dia tertegun sesaat melihat gadis itu yang tanpa kacamatanya. Elsa terlihat amat cantik saat sedang tidur, bukan hanya polos, tapi ada sesuatu yang menarik, murni. Sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat dengan cara ini. Jantung Alex berdesir, sebuah debaran yang jauh berbeda dari kecemasan kebapakan. *** Di ruang tamu Ernes masih berdiri menunggu perintah Alex selanjutnya. Hingga saat terdengar suara pintu yang ditarik ke luar, Ernes segera menoleh. "Temui Landon esok pagi, katakan jika aku ingin bertemu dengannya di kantor." Ernes membungkuk menerima perintah Alex. "Baik, Bos." Ia segera pergi. Fuuh ... Alex menarik nafas panjang. Ia segera menjatuhkan diri ke sofa, duduk sambil membuka simpul dasinya. Matanya tertuju pada mini bar yang berada di sudut ruangan. Sepertinya segelas sampanye akan membuatnya jauh lebih segar, pikir Alex. Dengan malas-malasan pria itu bangkit. Kursi kecil ditariknya dari bawah meja, Alex segera duduk. Sebotol minuman ia raih lalu dituangkan ke dalam gelas. Hari ini benar-benar melelahkan! Sambil menikmati segelas sampanye, Alex termenung. Kilasan masa lalu tiba-tiba kembali melintas di benaknya. Tangisan dan rintihan Veronica sebelum wanita itu melompat dari balkon, juga tangisan Landon kecil ketika melihat ibunya bunuh diri, semuanya terlihat begitu nyata. Dadanya terasa sesak melalui semua kenangan pahit itu, Alex memejamkan matanya, lalu menarik nafas dan berusaha tenang. Kepalanya menggeleng, kemudian menenggak minumannya lagi. Semua sudah hilang. Tapi kini, di kamarnya, ada Elsa. Gadis yang menjadi korban kekejaman putranya, gadis yang entah mengapa membuat jiwanya yang dingin terasa hangat kembali. Alex merasa ada hal aneh yang sedang terjadi padanya. Rasa ingin melindungi Elsa dan memberinya rasa aman. Apa ini perasaan yang wajar terhadap istri putranya?Udara di dalam kastil itu berbau lumut dan busuknya dendam lama. Alex tersentak bangun saat seember air es menghantam wajahnya, meresap ke dalam pori-pori dan memaksa paru-parunya meraup oksigen. Kepalanya berdenyut hebat. Lewat sisa-sisa air yang menetes dari bulu matanya, ia melihat bayangan yang seharusnya sudah membusuk di bawah tanah."Bagaimana, enak tidurnya?" Suara itu berat, serak, dan penuh racun.Alex mengerjap. Fokusnya terkunci pada pria yang berdiri di depannya. Jantungnya seolah berhenti berdetak. "Kau?"Juanito Dolores?"Bukankah kau sudah mati dua puluh tahun lalu?" Suara Alex parau, nyaris habis di tenggorokan.Juanito melangkah maju. Bayangannya jatuh menimpa wajah Alex yang pucat. Ia membungkuk, membiarkan aroma cerutu dan kematian tercium jelas saat berbisik tepat di telinga Alex, "Kejutan.""Bajingan! Apa maumu?!" Alex meronta, membuat kursi kayunya berderit memprotes beban.Juanito tidak menjawab dengan kata-kata. Ia berjalan mengelilingi Alex seperti predator
Ruangan itu sunyi, hanya ada desis oksigen dan bunyi monitor jantung yang memutus keheningan dengan irama yang menyakitkan. Elsa terbaring di sana, pucat seputih kain kafan. David, pria yang biasanya tegak dan ditakuti, kini tampak ringkih saat duduk di tepi ranjang. Ia menyentuh jemari Elsa yang dingin—tangan yang seharusnya ia genggam selama dua puluh tahun ini, namun malah ia biarkan disiksa di tangan Landon Parker. Air mata David jatuh, membasahi punggung tangan putrinya."Ayah menukarmu dengan bayi haram itu, Elsa ... Ayah membiarkanmu masuk ke neraka yang kusebut pernikahan," bisiknya dengan suara pecah. "Tapi Ayah berjanji, Nak. Setelah ini, siapa pun yang pernah menyentuhmu akan memohon untuk mati."Sementara itu, Landon sedang menyusun rencana besar untuk menghabisi Alex. Selama sang ayah koma, ia sudah memindahkan semua dokumen perusahaan dan warisan atas namanya. Alex tak dibutuhkan lagi."Tuan Parker menghilang dari rumah sakit."Prang!Gelas kristal berisi anggur itu han
CRV hitam itu membelah kabut, merayap masuk ke gerbang kastil tua yang berdiri angkuh di tepi tebing. Begitu mesin mati, dua pengawal berpakaian serba hitam—anjing penjaga Jhon—menyambut David dengan tatapan dingin.David keluar, asap cerutu mengepul dari sela bibirnya, menyatu dengan udara gunung yang menggigit. Dari balik tepi fedora hitamnya, matanya memindai bangunan batu yang tampak seperti makam raksasa itu. "Tempat yang menjijikkan," gumamnya. Demi membalas dendam pada Alex, David rela mengotori tangannya di sarang bandit ini."Selamat datang, Tuan Wilson!" suara Jhon menggema dari balkon.David tak bergeming. "Jangan banyak bicara. Mana gadis itu?"Jhon terkekeh, lalu memberi isyarat. Dua anak buahnya menyeret sesosok tubuh yang terkulai lemas. Saat cahaya lampu temaram mengenai wajah gadis itu, jantung David seolah berhenti berdetak. Dunia di sekitarnya mendadak senyap.Liliana?Wajah itu... garis rahang itu... Elsa tampak seperti hantu mendiang istrinya yang bangkit dari ku
"Elsa, oh tidak!""Jangan pergi dariku, Elsa!"Dua orang perawat yang sedang memeriksa kondisi Alex dibuat terkejut. Pasien mulai siuman? Mereka saling pandang dan segera memanggil dokter.Dua orang dokter laki-laki segera datang dan memeriksa kondisi Alex. Mereka membuat laporan baru atas kemajuannya. Alex mulai sadar dari koma. Ia terus-menerus memanggil nama Elsa.Ernes yang mendapat kabar lewat telepon amat senang mendengarnya. Pria itu segera meninggalkan ruang rapat. Semua orang yang terlibat di ruangan itu saling pandang heran.Sang asisten tak peduli, Ernes bergegas melajukan mobil menuju Farmasi Parker. Alex sudah siuman. Ini kabar besar yanga akan menggemparkan kota."Bagaimana kondisinya?"Ernes dan Rebecca tak sabaran menunggu jawaban para dokter. Mereka baru saja tiba di ruang ICU. Rupanya Alex sudah tak berada di sana. Katanya pihak rumah sakit yang sudah memindahkannya."Tuan Parker baik-baik saja. Kondisinya pun sudah stabil." Dokter menjawab kecemasan Ernes dan Rebecc
"Ayah, mana mungkin kau bertindak begini tanpa bicara padaku. Bahkan, kau membayar para bandit untuk menculik gadis itu. Ini bukan gaya mu,"David yang sedang bicara dengan seseorang lewat panggilan ponselnya dibuat melirik ke arah sumber suara yang menghardiknya. Shit! Marquez sudah tahu rencananya?"Lakukan tugas kalian. Kabari akau kalau sudah tiba di kota." Diturunkan benda pipih dalam genggaman, pria itu memutar tubuhnya sampai menghadap pada pria yang berdiri di belakang.Marquez menatap sang ayah bagai musuh. Ia kesal karena David menyembunyikan rencana besar darinya. Rencana yang melibatkan Elsa Swan--istri Landon Parker.David menyipitkan mata menanggapi tatapan Marquez. Dengan tenang ia berkata, "Aku tidak menyembunyikan apa pun darimu, hanya saja aku belum sempat mengatakannya padamu."Marquez memalingkan wajah, jengah. Ia lantas berjalan mendekat pada sanga ayah. "Jadi benar, kau sudah menculik Elsa?""Bukan menculiknya, hanya menjadikannya sebagai kelemahan Alex," jawab D
Malam itu sangatlah indah bagi adela, karena ia bisa bersama landon sepanjang malam. Sialnya, kini ia harus kembali ke rumah dan berhadapan dengan ayah dan kakak laki-lakinya.Di ruang tengah, david dan marquez sudah menunggu. adela menghela nafas panjang menanggapi tatapan dingin mereka. Bukan hal yang aneh jika mereka memarahinya karena baru pulang setelah dua hari berada dalam pelukan Landon.Dia senang saat bersama dengan Landon, apa masalah dua orang itu? Ayah dan kakaknya selalu saja ikut campur urusannya. Dia sudah berusia 20 tahun. Adela yakin, dia tahu apa yang terbaik dan membuatnya bahagia. Dia tak butuh pendapat siapa pun juga. Tidak ayahnya apalagi Marquez."Apa kalian mau memarahiku karena aku bersama Landon?" Adela berkata dengan ketus. Matanya menatap jengah saat Marquez menatap.David segera bangkit dan menahan Marquez yang hendak memarahi Adela. Ia kini berdiri di antara kedua anaknya. Namun matanya lebih mnegincar wajah Adela."Kali ini aku tak akan memarahimu lagi







