Teilen

Chapter 6

last update Veröffentlichungsdatum: 05.11.2025 19:15:35

Pintu mobil ditutup dari dalam. Elsa cukup terkejut dibuatnya. Diam-diam matanya melirik ke arah pria yang kini duduk di sampingnya.

Dia Alex Parker, pria dingin yang memberikan sapu tangan di dalam lift, juga orang yang menolongnya dari ambang kematian. Elsa sungguh tak percaya, jika benang takdir mempertemukan dia dengan ayah mertua sebegitu uniknya.

Kendati demikian, Elsa sangat bersyukur karena dipertemukan dengan Alex. Hanya saja dia sangat malu karena ayah mertua harus melihatnya dalam kondisi amat menyedihkan begini.

Alex sungguh sangat baik mesti terlihat dingin dan kaku. Pria itu sudah mengirim Xavier untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit sampai sembuh, juga memberikan banyak uang pada Deborah dan Tracy, meski sebenarnya mereka tak pantas dikasihani.

Kini Elsa sangat lega meski harus meninggalkan desa dan Paman Xavier. Dia berharap sang paman segera pulih dari sakitnya.

"Kau pasti sangat terkejut. Aku minta maaf karena tidak mengenalmu sebelumnya," ujar Alex. Bau mint dari nafasnya mendominasi aroma maskulin parfum mewah yang tercium samar dari tubuhnya.

Elsa bergetar, "Hm, engga pa-pa. Saya yang mestinya minta maaf kepada Anda, Tuan Parker! Saya keterlaluan ya? Sampai-sampai tidak mengenali Anda," sesalnya dengan penuh rasa canggung dan pipi yang merah menahan malu. Elsa segera menunduk saat manik-manik biru Alex melirik ke arahnya.

Alex tersenyum tipis. Elsa sangat muda dan polos. Landon sungguh bodoh telah menyia-nyiakan berlian langka seperti ini.

"Hm, Elsa. Apa kau ingin menemui Landon?" Setelah hening cukup lama, Alex berkata lagi.

Mercedes hitam yang mereka tumpangi mulai meninggalkan pedesaan, beralih menuju ke terowongan.

Elsa melirik ke arah Alex. Dilihatnya pria itu yang tampak tenang-tenang saja. Alex tampak melihat ke arah luar mobil, bukan menatap padanya. Namun kenapa jantung Elsa terus berdebar-debar.

Cara Alex memeluknya, semua itu masih memenuhi otak Elsa. Dia tak pernah dipeluk oleh seorang pria seperti itu, kecuali oleh ayahnya dahulu.

Pelukan Alex sangat hangat dan memberi rasa aman dan nyaman pada Elsa. Ia merasa seperti telah menemukan sosok ayah lagi, tappi mengapa debaran ini terasa sangat berbeda dari rasa aman? Ada rasa bersalah yang mengganggu karena pria ini adalah ayah Landon.

"Elsa, kenapa diam?"

Tatapan Alex yang tiba-tiba membidik wajah Elsa sontak membuat gadis itu jadi gugup. Elsa buru-buru berpaling, dia jadi gugup.

Melihat sikap polos gadis itu, Alex tersenyum tipis. Diam-diam dia juga memperhatikan Elsa.

Entah kenapa dia merasakan emosi yang luar biasa saat melihat gadis itu. Apa ini hanya rasa simpati biasa saja? Ia pun tidak faham dengan perasaannya.

"Hm, bagaimana aku mau menemui Landon, bahkan dia hanya menganggap aku sampah. Ya, aku memang tidak pantas untuknya yang sempurna. Aku sangat malu karena sudah membuatnya menyesal menikahi ku," lirih Elsa.

Alex segera menoleh ke arah gadis itu. Elsa menunduk seraya mengusap kedua pipinya. Mungkin dia malu jika terus menangis di depan ayah mertua. Namun melihatnya yang begitu, Alex sangat prihatin, tapi dia berusaha bersikap biasa saja di depan Elsa.

"Landon kehilangan ibunya saat masih kanak-kanak. Oleh karena itu ia tumbuh dengan pribadi yang keras dan semaunya. Aku harap kau tidak meninggalkan dia. Namun untuk sementara waktu, aku akan memintamu untuk tidak menemuinya. Biarkan aku yang urus Landon," putus Alex.

Elsa cuma mengangguk. Ia lantas memilih untuk melihat pemandangan di luar, mengabaikan Alex yang diam-diam sedang memperhatikannya.

Sinar jingga tampak menggantung di antara permukaan air laut, sementara bayangan tebing-tebing terlihat condong ke barat, menandakan hari mulai petang.

Perjalanan masih amat jauh menuju kota, hawa ngantuk menyerang Elsa saat mobil memasuki terowongan yang gelap. Dengan malu-malu dia tak henti menguap.

"Tidurlah jika mengantuk, perjalanan masih jauh," ujar Alex yang sontak membuat Elsa terkejut.

Gadis itu cuma menoleh ke arahnya. Alex tampak acuh-acuh saja sambil sibuk dengan aktivitas ponsel. Elsa yang sudah tak tahan akan rasa kantuknya segera bersandar ke sisi pintu mobil.

Alex melirik ke arah gadis itu. Sepertinya Elsa sudah tertidur. Ia pun kembali sibuk dengan aktivitas ponselnya.

Namun Alex dibuat terkejut saat kepala Elsa tiba-tiba berpindah ke bahunya. Ia melirik ke arah gadis itu. Sepertinya Elsa mengigau. Alex membiarkannya bersandar.

Malam nyaris menemukan pagi saat Mercedes hitam memasuki sebuah gedung apartemen mewah di pusat kota. Griya Tawang di atas gedung merupakan tempat tinggal Alex selama ia berada di San Alexandria.

Sejak ayahnya tiada, Alex tidak lagi pulang ke Bungalow Parker, kini bangunan mewah itu hanya ditempati oleh Landon dan dua puluh pelayanan. Dia memilih tinggal di penthouse.

"Bos, apa saya perlu membangunkan Nona Elsa?" Ernes menoleh ke belakang di mana Alex duduk berdampingan dengan Elsa.

Alex menggeleng. "Biar aku saja."

Ernes manggut-manggut. Ia lantas segera keluar dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Alex. Ernes pikir Alex akan membangunkan Elsa, nyatanya dia salah.

Alex keluar dari mobil seraya menggendong Elsa yang masih tertidur pulas. Ernes amat terkejut melihatnya, namun ia segera menunduk saat mata Alex melirik.

Di lobi gedung tampak sepi. Alex yang berjalan sambil menggendong Elsa cukup menyita perhatian orang-orang yang tersisa di sekitar. Namun Alex tidak peduli, dia tetap menggendong Elsa menuju penthouse.

Ernes buru-buru membuka pintu saat Alex membawa Elsa menuju ke sebuah kamar. Mereka sudah tiba di penthouse.

Alex merebahkan tubuh mungil Elsa ke tengah-tengah ranjang dengan hati-hati. Ia lantas menoleh ke arah Ernes.

"Kau boleh pergi."

Ernes segera membungkuk lalu meninggalkan kamar. Sementara Alex segera menarik selimut guna menutupi sebagian tubuh Elsa.

Sepertinya gadis itu amat kelelahan karena perjalanan yang jauh. Alex mencondongkan tubuhnya ke depan Elsa, ia meraih kacamata tebal itu dengan hati-hati lalu menyimpannya di meja samping ranjang.

Sebelum ia pergi, Alex menoleh ke arah Elsa. Dia tertegun sesaat melihat gadis itu yang tanpa kacamatanya. Elsa terlihat amat cantik saat sedang tidur, bukan hanya polos, tapi ada sesuatu yang menarik, murni.

Sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat dengan cara ini. Jantung Alex berdesir, sebuah debaran yang jauh berbeda dari kecemasan kebapakan.

***

Di ruang tamu Ernes masih berdiri menunggu perintah Alex selanjutnya. Hingga saat terdengar suara pintu yang ditarik ke luar, Ernes segera menoleh.

"Temui Landon esok pagi, katakan jika aku ingin bertemu dengannya di kantor."

Ernes membungkuk menerima perintah Alex. "Baik, Bos." Ia segera pergi.

Fuuh ...

Alex menarik nafas panjang. Ia segera menjatuhkan diri ke sofa, duduk sambil membuka simpul dasinya. Matanya tertuju pada mini bar yang berada di sudut ruangan.

Sepertinya segelas sampanye akan membuatnya jauh lebih segar, pikir Alex.

Dengan malas-malasan pria itu bangkit. Kursi kecil ditariknya dari bawah meja, Alex segera duduk. Sebotol minuman ia raih lalu dituangkan ke dalam gelas.

Hari ini benar-benar melelahkan!

Sambil menikmati segelas sampanye, Alex termenung. Kilasan masa lalu tiba-tiba kembali melintas di benaknya. Tangisan dan rintihan Veronica sebelum wanita itu melompat dari balkon, juga tangisan Landon kecil ketika melihat ibunya bunuh diri, semuanya terlihat begitu nyata.

Dadanya terasa sesak melalui semua kenangan pahit itu, Alex memejamkan matanya, lalu menarik nafas dan berusaha tenang. Kepalanya menggeleng, kemudian menenggak minumannya lagi.

Semua sudah hilang. Tapi kini, di kamarnya, ada Elsa. Gadis yang menjadi korban kekejaman putranya, gadis yang entah mengapa membuat jiwanya yang dingin terasa hangat kembali.

Alex merasa ada hal aneh yang sedang terjadi padanya. Rasa ingin melindungi Elsa dan memberinya rasa aman. Apa ini perasaan yang wajar terhadap istri putranya?

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • OBSESI TERLARANG : Sentuh Aku, Ayah Mertua    Chapter 210

    ROMA, ITALIA – DUA PULUH TAHUN KEMUDIANRoma adalah kota yang tak pernah benar-benar tidur. Di balik kemegahan arsitektur kunonya, detak jantung kota ini digerakkan oleh dua elemen yang saling melengkapi: bisnis legal yang dikuasai oleh Alex Parker dan dunia bawah yang berada dalam genggaman besi Camila Palmer. Pasangan ini telah menjadi legenda hidup; Alex sang penguasa ekonomi Eropa, dan Camila sang Lady Mafia yang memastikan tak ada satu pun bayang-bayang yang bergerak tanpa izinnya.Hari ini, 20 November 2046, Roma bersiap untuk sebuah perayaan besar. Dave Alen Parker, putra mahkota Group Miracle, genap berusia 23 tahun. Dave adalah sebuah misteri yang hidup. Sejak usia lima tahun, demi melindunginya dari daftar panjang musuh keluarga, Alex dan Camila mengirimnya ke asrama rahasia di Pulau Sisilia. Publik hanya mengenal namanya, namun tak pernah melihat wajahnya. Ia adalah "Hantu" dari klan Parker—pewaris berdarah biru yang dididik dalam kerasnya disiplin militer dan kecerdasan

  • OBSESI TERLARANG : Sentuh Aku, Ayah Mertua    Chapter 209

    Matahari merayap menuju puncaknya, namun hawa dingin tetap menyelimuti San Alexandria. Daun-daun maple kemerahan gugur satu per satu, menari ditiup angin sebelum mendarat di atas tanah merah yang masih basah. Di sana, di dalam peti mati mahoni yang mewah, Elsa Wilson terbaring dengan kedamaian abadi. Ia mengenakan gaun hitam sutra yang elegan, jemarinya yang pucat ditautkan di atas perut, menggenggam buket mawar putih yang kontras dengan kegelapan di sekelilingnya. Matanya terpejam rapat, sebuah tidur panjang yang tak akan terusik oleh intrik dunia lagi. Alex Parker berdiri mematung. Saat peti itu perlahan turun ke liang lahat, kekuatannya runtuh. Sang penguasa yang biasanya tegak itu jatuh lemas di tepi lubang, menyadari bahwa ini adalah kali terakhir ia bisa menatap wajah wanita yang telah memberikan segalanya untuknya. Di sampingnya, Marquez Wilson mencengkeram gundukan tanah dengan tangan kosong, isak tangisnya pecah meratapi kepergian adik satu-satunya. Jesica berdiri di

  • OBSESI TERLARANG : Sentuh Aku, Ayah Mertua    Chapter 208

    Cahaya keemasan musim gugur menyusup melalui celah gorden sutra di Villa Parker yang terisolasi. Pagi itu terasa seperti sepotong surga yang dicuri dari tumpukan tragedi. Elsa Wilson terbangun perlahan, matanya tertuju pada sosok pria yang kini menjadi pusat semestanya: Alex Parker. Dalam remang cahaya subuh, Alex masih terlelap, wajahnya yang biasanya keras dan penuh otoritas kini tampak tenang, hampir rapuh. Mereka berbaring polos di bawah selimut putih tebal yang sama, berbagi kehangatan yang meluruhkan semua ingatan tentang peluru dan air mata. Saat Elsa hendak bangkit, sebuah tangan yang kuat namun lembut mencekal lengannya. Elsa tersentak kecil, hanya untuk menemukan manik mata Alex yang sudah terbuka, menatapnya dengan binar kerinduan. "Selamat pagi, Istriku," bisik Alex dengan suara serak khas bangun tidur. Elsa tersenyum, kembali merebahkan kepalanya di bantal. "Selamat pagi, Walikota." Alex menarik Elsa mendekat, lalu dengan gerakan penuh kekaguman, ia menempelkan

  • OBSESI TERLARANG : Sentuh Aku, Ayah Mertua    Chapter 207

    San Alexandria terbangun dengan sinar matahari yang membelai permukaan kota, seolah tak pernah terjadi pertumpahan darah di atas aspalnya. Berita penembakan sang Walikota, Alex Parker, telah menguap begitu saja; sebuah kasus yang ditutup rapat di bawah kekuasaan mutlak, menyisakan misteri yang hanya diketahui oleh mereka yang hidup di balik bayang-bayang. Di depan gerbang Bungalow Wilson yang megah, Marquez Wilson berdiri dengan bahu yang tampak kaku. Ia menatap bangunan yang pernah menjadi simbol kejayaan keluarganya. Kini, rumah itu terasa seperti makam besar bagi kenangan. Di telinganya, seolah masih bergema tawa manja Elsa saat bercerita tentang debut baletnya, dan suara berat David yang tertawa puas sambil merangkul bahunya. Semua itu kini hanyalah abu yang tertiup angin. Marquez mengusap sebutir air mata yang mengalir di pipinya—sebuah kelemahan langka bagi sang pewaris Wilson. Jesica mendekat, meremas bahunya dengan lembut untuk memberikan kekuatan yang ia sendiri pun h

  • OBSESI TERLARANG : Sentuh Aku, Ayah Mertua    Chapter 206

    Langit San Alexandria seolah terbungkus kain kafan kelabu. Mendung menggantung rendah, menahan tetesan air mata langit saat kerumunan orang berpakaian serba hitam berkumpul di tanah basah Pemakaman Keluarga Wilson. Hari ini, sang taipan Eropa yang disegani, David Wilson, diantarkan ke peristirahatan terakhirnya. Ia dimakamkan tepat di samping pusara mendiang istrinya, Liliana, meninggalkan kemegahan dunia demi keabadian yang sunyi. Marquez Wilson berdiri di tepi liang lahat dengan rahang mengeras. Tangannya mengepal kuat hingga kuku-kukunya memutih. Saat peti jenazah sang ayah perlahan diturunkan, bayangan kematian David yang tragis terus berputar di kepalanya. "Ayah, aku tidak akan membiarkanmu mati sia-sia," bisik Marquez dalam kegelapan batinnya. "Aku berjanji, esok atau lusa, Alex Parker pun akan dimakamkan tepat di sampingmu." Agak jauh dari sana, di balik kaca gelap mobil Mercedes hitam yang terparkir di bawah pohon besar, Elsa Wilson menyaksikan segalanya. Ia tidak beran

  • OBSESI TERLARANG : Sentuh Aku, Ayah Mertua    Chapter 205

    Pagi itu, San Alexandria seolah mencuci dirinya sendiri. Sisa hujan semalam meninggalkan genangan air yang memantulkan sinar jingga matahari terbit, menciptakan mozaik keemasan di pelataran rumah sakit. Di dalam ruang perawatan intensif, Alex Parker perlahan membuka matanya. Indra penciumannya langsung menangkap aroma lembut vanilla blossom yang familiar—aroma yang selalu ia dambakan dalam mimpinya. Di samping ranjangnya, sesosok wanita berdiri menatapnya dengan binar mata yang redup namun penuh kasih. Elsa. Ia mengenakan dress selutut warna biru muda bermotif bunga Lily dengan tali tipis yang memperlihatkan bahunya yang ringkih. Rambut cokelatnya digerai bebas, membingkai wajahnya yang tampak sembab dan pucat, namun bibirnya berusaha mengukir senyuman termanis yang pernah Alex lihat. "Elsa... apakah ini benar-benar kau?" bisik Alex parau, suaranya nyaris hilang ditelan efek sisa obat bius. Tangan hangat Elsa menyentuh punggung tangan Alex, memberikan kepastian yang nyata. "Ini

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status