Beranda / Romansa / OBSESI TUAN STERLING / Bab 113: Infinite Ecstasy

Share

Bab 113: Infinite Ecstasy

Penulis: Sena
last update Tanggal publikasi: 2026-03-10 14:15:57

Lampu kristal di kamar utama sudah dipadamkan, menyisakan cahaya remang dari lampu tidur yang menyapu permukaan kulit Vera yang kini bersimbah peluh. Suasana di dalam kamar itu terasa begitu pekat oleh aroma maskulin Kaelan yang bercampur dengan wangi tubuh Vera yang memabukkan. Belum ada tanda-tanda kelelahan dari pria itu, meski mereka sudah melewati ronde-ronde yang melelahkan di lorong tadi.

Vera kini berada dalam posisi menungging di atas tempat tidur king size yang berantakan. Sprei sutra
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 139: Terlalu Berisik di Bawah

    Suasana kamar yang tadinya sudah panas kini berubah menjadi liar. Suara kulit yang beradu—PLOK! PLOK!—terdengar ritmis dan berat, mengiringi setiap hantaman Kaelan yang semakin dalam dan tanpa ampun.Vera mencengkeram sprei hingga buku jarinya memutih, tubuhnya terombang-ambing di bawah kuasa suaminya.“Ah... Kaelan, aku mohon... stop... ah!” rintih Vera, suaranya parau, matanya berair karena stimulasi yang sudah melewati batas pertahanannya.Kaelan tidak berhenti. Ia justru membungkuk, menumpu berat tubuhnya dengan lengan yang kokoh, lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher Vera. Ia menghisap kulit sensitif di sana, meninggalkan tanda kepemilikan yang panas.“Tidak akan, Baby,” bisik Kaelan dengan suara bass yang menggetarkan dada Vera. “Kita baru saja mulai.”“Ah... ah... ah!” Vera akhirnya memejamkan mata, melepaskan sisa-sisa perlawanannya. Tubuhnya melunak, membiarkan Kaelan melakukan apa pun yang pria itu inginkan. Namun, bukannya diam pasrah, gairah Vera justru tersulut lebih b

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 138: Amore mio (Cintaku)

    Kaelan tidak lagi menunda. Dengan satu tangan mencengkeram kuat panggul Vera dan tangan lainnya menekan punggung istrinya ke matras, ia memajukan tubuhnya. Dalam satu dorongan yang dalam dan mantap, ia mengisi kekosongan yang sejak tadi menyiksa Vera. "Nghhh—Aah! Kaelan!" Vera memekik, kepalanya mendongak dengan mata terpejam rapat. Sensasi penuh yang tiba-tiba itu terasa seperti sengatan listrik yang merambat ke seluruh sarafnya. Rasanya begitu padat, panas, dan menuntut. Kaelan tidak langsung bergerak. Ia membiarkan tubuh Vera beradaptasi dengan ukurannya, sementara ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Vera, menghirup aroma keringat dan gairah yang menguar dari kulit istrinya. "Sempit sekali... kamu menjepitku terlalu kuat, Sayang," geram Kaelan, suaranya parau dan bergetar tepat di telinga Vera. Vera tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya bisa merintih, jemarinya mencengkeram sprei hingga kuku-kukunya memutih. Tubuhnya bergetar hebat. "Lebih... Kaelan... jangan berhenti di

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 137: Godaan

    Mata Vera terbuka perlahan. Kamar itu hanya diterangi cahaya lampu tidur yang redup, menciptakan bayangan panjang di dinding. Ia mengangkat tangannya ke udara, memainkan jemarinya seolah sedang merajut kegelapan, sebelum akhirnya pikirannya beralih pada pria yang mendengkur halus di sampingnya. Vera menyibakkan selimut sutra itu tanpa suara. Di bawah remang lampu, tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun terlihat berkilau. Ia menoleh pada Kaelan yang hanya mengenakan boxer hitam, tampak begitu tenang dalam tidurnya. "Malam, Sayang," bisik Vera parau. Ia bergerak lincah, naik ke atas perut Kaelan yang keras. Jemarinya yang lentur menyelinap masuk ke balik karet celana suaminya, langsung menemukan kejantanan Kaelan yang masih terlelap. "Emm... aku mau kamu bangun sekarang," bisiknya lagi, menatap wajah tampan Kaelan yang masih menutup mata. Vera membalikkan tubuhnya, membelakangi wajah Kaelan hingga posisinya kini berlawanan. Dengan gerakan berani, ia menarik milik suaminy

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 136: Foto Keluarganya

    Keheningan di taman belakang terasa begitu canggung. Vera menyesap kopinya perlahan, sementara ujung sepatu hak tingginya mengetuk-ngetuk ujung sepatunya yang lain dengan irama yang konstan—sebuah tanda bahwa dia sedang tidak nyaman. Thomas hanya diam, lidahnya terasa kelu. Dia tahu ini adalah momen langka, tapi dia terlalu bodoh untuk menemukan kata-kata yang tepat."Vera, bagaimana kalau Ayah membelikanmu beberapa baju di mal? Kamu bisa memilihnya sendiri nanti," tawar Thomas hati-hati.Vera mengulum bibir bawahnya. Ada keraguan sejenak, namun akhirnya dia mengangguk pelan. Setuju.Senyum Thomas merekah lebar, sesuatu yang jarang terlihat di wajah tuanya. "Kalau begitu, Ayah akan berganti baju dulu. Kamu tunggu di dalam, ya?"Vera mengangguk lagi, membiarkan ayahnya melangkah masuk ke dalam rumah. Sendiri di taman, Vera meraih kaleng pakan ikan di dekatnya. Dia menabur butiran-butiran itu ke kolam, memperhatikan ikan-ikan yang berebut makanan dengan rakus."Aku tunggu di dalam saja,

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 135: Boneka Masa Lalu

    Tepat pukul tujuh pagi, Alora turun menapaki tangga Manor dengan langkah ringan. Wajahnya ceria, seolah mendung kemarin sore telah menguap tanpa bekas. Putri tunggal Sterling itu memang hampir tidak pernah terlihat muram. Siapa pun yang melihatnya akan maklum; dia adalah permata yang dimanjakan oleh kekayaan dan kasih sayang Kaelan yang tak bersyarat."Mau makannn!" teriak Alora riang sambil menarik kursi di meja makan.Kaelan langsung menyambutnya dengan senyum lebar, memotongkan sosis untuk piring putrinya. Sementara itu, Vera hanya duduk diam, menyesap kopinya dengan wajah cuek—ekspresi yang sering disalahartikan sebagai ketidakpedulian, padahal itu hanyalah benteng pertahanan yang ia bangun bertahun-tahun."Mama, aku hari ini mau main sama Papa," lapor Alora di sela kunyahannya.Vera meletakkan garpunya, mengerutkan kening. "Terus, Mama sama siapa?""Mama cari cowok lain aja," jawab Alora polos, seolah menyarankan menu sarapan tambahan."Loh, enak saja! Mama tidak boleh seperti it

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 134: Perdebatan Kecil

    Tepat pukul tiga sore, gerbang sekolah terbuka. Gelombang anak-anak keluar dengan kebisingan yang kontras dengan ketenangan Alora yang berjalan di barisan paling depan. Langkah kecilnya mendadak cepat saat matanya menangkap siluet mobil putih yang sangat ia kenali. Bukan Aiden. Pria itu masih terjebak melakukan riset di sebuah pulau terpencil. “Kakek!” Alora berlari seketika pintu mobil itu terbuka. “Alora…” Thomas keluar, langsung mengangkat cucunya dengan binar mata bahagia. Menatap Alora baginya seperti melihat Vera kecil kembali ke pelukannya—sebelum segalanya hancur berantakan. “Kakek bawa apa untuk Alora?” tanya gadis kecil itu antusias. “Kakek bawa bonek—” “Tidak sekarang, Alora.” Suara dingin itu memotong kalimat Thomas. Vera muncul entah dari mana, berdiri dengan tatapan yang sanggup membekukan udara di sekitarnya. Thomas menghela napas berat; ia tahu persis betapa besarnya kebencian yang masih tersimpan di mata putrinya. “Alora, turun,” perintah Vera mutlak. Thomas

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status