登入Degup. Dunia Kania seakan berhenti berputar selama sepersekian detik. Angin malam Kyoto yang dingin menusuk hingga ke tulang saat tubuhnya ditarik paksa mundur ke area taman belakang yang gelap gulita. Jemarinya refleks bergerak melawan, berusaha keras melepaskan cengkeraman tangan yang mengunci pergelangan tangannya sekuat baja. "Kania!" Suara Rivan terdengar kembali. Lebih dekat kali ini. Lebih tajam, lebih berbahaya—penuh dengan nada ancaman yang tidak main-main. Namun, sosok di belakang Kania bergerak jauh lebih cepat. "Kamu masih terlalu gampang lengah," bisikan dingin itu kembali merayap di telinganya. Terlalu dekat. Terlalu familiar. Dan sekarang, Kania mengenali suara itu dengan sangat jelas. Abian. Tubuh Kania langsung menegang kaku. "Bukan cara yang bagus untuk menyapa seseorang, Abian," suaranya keluar l
Hujan di Kyoto turun semakin deras. Suara air yang menghantam atap kayu rumah tua itu menciptakan irama yang biasanya menenangkan, namun malam ini, suara itu terasa seperti ancaman yang mengepung.Satu nama telah merusak segalanya: Abian.Dan yang lebih buruk, dia ada di kota yang sama.Kania berdiri mematung di dekat jendela ruang tengah. Tangannya menggenggam ujung sweater abu-abu yang dikenakannya dengan sangat erat, seolah kain itu adalah satu-satunya pegangan yang bisa membuatnya tetap berpijak di bumi.Di belakangnya, Rivan masih berdiri mematung di dekat meja. Ponsel satelit sudah mati, namun ketegangan di udara belum juga surut. Tidak akan surut dalam waktu dekat.“Kelia yakin?” suara Kania akhirnya memecah keheningan, terdengar sedikit bergetar.Rivan terdiam beberapa detik sebelum menjawab pendek, “Iya.”“Sumbernya?”“Tim pengawas di lapangan.”“Dia melihatnya sendiri?”Tatapan Rivan turun ke lantai. “Kania.”“Aku cuma tanya, Riv.”“Kamu panik.”Degup. Kania langsung mengemb
Suasana dapur yang beberapa detik lalu terasa hangat, mendadak berubah.Sunyi. Terlalu sunyi.Kania melihat dengan jelas bagaimana ekspresi Rivan berubah tepat setelah membaca pesan singkat itu. Perubahannya tidak drastis, hanya sedikit, namun sekarang Kania sudah terlalu mengenal pria itu untuk bisa menangkap sinyal bahayanya. Rahangnya mengeras, tatapannya menajam, dan bahunya sedikit menegang.Abian. Lagi."Kamu mau memberitahuku sendiri, atau aku harus merebut ponselmu dulu?" suara Kania memecah keheningan yang menyesakkan itu.Rivan langsung mengunci layar ponselnya—terlalu cepat. "Kamu lapar, Kania. Makanlah dulu.""Aku lapar, tapi aku juga tidak bodoh, Rivan."Sunyi menyelimuti mereka kembali. Tatapan mereka bertemu, dan dalam beberapa detik kebisuan itu, Kania sudah cukup mengerti. Ada sesuatu yang salah. Sangat salah."Riv.""Hm.""Jangan bohong padaku," suara Kania memelan, namun cukup kuat untuk membuat Rivan akhirnya mengembuskan napas panjang.Itu pemandangan yang jarang
Pagi di Kyoto datang bersama aroma teh hangat dan sisa suara hujan yang belum benar-benar pergi.Kania terbangun lebih dulu. Langit di luar jendela masih abu-abu pucat. Taman belakang rumah terlihat basah; daun maple merah berguguran pelan di atas batuan taman yang mengilap karena sisa air semalam.Sunyi. Terlalu sunyi. Dan anehnya, Kania langsung merasakan ada yang berbeda. Tangannya bergerak refleks meraba sisi tempat tidur di sampingnya.Kosong.Degup. Rasa tidak nyaman yang kecil namun tajam langsung muncul di dadanya. Bodoh, maki Kania dalam hati. Baru beberapa minggu lalu dia akan bersyukur jika bangun dan tidak melihat Rivan di dekatnya. Sekarang? Dia justru mencarinya seolah kehilangan arah.“Kamu benar-benar sudah rusak, Kania,” gumamnya pelan pada diri sendiri.Dia turun dari tempat tidur, mengenakan sweater abu-abu kebesaran yang semalam dipinjamkan Rivan. Ujung lengan bajunya yang kepanjangan kembali menutupi jemarinya. Dan lagi-lagi, detail kecil itu mengingatkannya pada
Hujan masih terus membasahi bumi Kyoto malam itu. Rintiknya terdengar lembut saat menghantam atap kayu dan dedaunan maple di taman belakang, menciptakan simfoni alam yang menenangkan. Udara dingin perlahan mulai merayap masuk memenuhi kamar, namun ia tak cukup kuat untuk mengusir kehangatan yang tercipta di antara Kania dan Rivan. Mereka masih berdiri sangat dekat. Dahi saling menempel, napas yang bercampur, dan tatapan Rivan yang masih terkunci rapat pada wajah Kania—seolah pria itu takut wanita di hadapannya akan menghilang begitu saja jika ia berkedip terlalu lama. “Kau diam lagi,” bisik Rivan rendah. Kania mengembuskan napas pelan, berusaha mengurai rasa sesak di dadanya. “Aku capek… jantungku selalu berdegup kencang setiap kali sedekat ini denganmu.” Senyum kecil langsung terbit di bibir Rivan. Senyum yang terlihat terlalu puas. “Itu bukan salahku.” “Kau literally adal
Kyoto menyambut mereka dengan hujan.Bukan hujan deras yang menggelegar, melainkan rintik tipis yang turun perlahan di antara remang lampu jalan kota tua itu. Udara dingin langsung menusuk kulit Kania begitu ia melangkah turun dari mobil hitam yang membawa mereka dari pelabuhan pribadi menuju kediaman keluarga Aryawiguna.Rumah itu berdiri jauh dari hiruk-pikuk pusat kota. Tersembunyi di balik deretan pohon maple yang rimbun dan pagar kayu tinggi khas arsitektur Jepang. Bangunannya besar, namun tidak mencolok, justru terlihat terlalu tenang. Terlalu sunyi.Dan anehnya, Kania langsung mengerti kenapa Rivan memilih tempat ini.“Tidak ada yang tahu rumah ini masih berpenghuni,” suara Rivan terdengar rendah di sampingnya.Kania menoleh sedikit. Pria itu masih mengenakan mantel hitam panjang dengan rambut yang sedikit basah terkena tempias hujan. Tatapannya bergerak cepat, mengawasi setiap sudut sekitar bahkan saat ia membuka pintu rumah. Selalu waspada. Selalu bersiap seolah dunia bisa ka







