Inicio / Romansa / OBSESI sang Berondong HYPER / Chapter 26 Kembali Lari

Compartir

Chapter 26 Kembali Lari

Autor: Ziya_Khan21
last update Fecha de publicación: 2026-04-24 08:00:45

Malam di pulau itu berakhir dengan kekacauan yang tak sempat diselesaikan.

Helikopter yang meraung di langit bukan sekadar ancaman, itu adalah sinyal mundur.

Rivan tidak menunggu hingga pasukan lain mendarat. Dalam hitungan menit, dia menyeret Kania keluar dari vila, melewati lorong bawah tanah yang selama ini tersembunyi, menuju landasan rahasia di sisi timur pulau.

Ledakan kecil terdengar dari kejauhan saat sistem pertahanan terakhir diaktifkan. Bukan u
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (6)
goodnovel comment avatar
kak ros
nggk tenang banget hidup Kania
goodnovel comment avatar
kak ros
Rivan mau bawa Kania kmn??? Rivan pengen tak hihhhhh
goodnovel comment avatar
Disava lasmawati
kasian kalian nggak tenang banget hidupnya ...
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 144. Rumah yang Ditemukan

    Profesor Surya berjalan perlahan menuju pintu ruang reaktor. Tidak ada yang menghentikannya, tidak ada yang memanggil namanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tampak tahu ke mana ia harus melangkah—bukan menuju penemuan, bukan mengejar obsesi, bukan mencari keabadian, melainkan menuju akhir dari segalanya.Di layar utama, angka proses terus bergerak naik:79%80%81%Namun Surya tidak terburu-buru. Langkahnya tenang, meski terasa sangat lelah—persis seperti seseorang yang telah memikul beban terlalu berat selama bertahun-tahun dan akhirnya siap melepaskannya. Sesampainya di depan pintu, ia berhenti dan menoleh perlahan, menatap satu per satu orang yang ada di ruangan: Raka, Armand, Bu Ratih, Rayhan, Kelia, Kania, hingga akhirnya pandangannya berhenti pada Rivan.“Aku menghabiskan seluruh hidupku berusaha mengalahkan kematian,” ucapnya pelan namun terdengar jelas oleh semua orang. “Aku pikir jika aku bisa memahami manusia, aku bisa memperbaiki segalanya.”Sebuah senyum pahit

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 143. Penyelamat

    Seluruh ruang inti seketika menjadi sunyi. Bukan karena bahaya yang mengancam, bukan karena mesin Elysium yang terus berjalan, dan bukan pula karena angka di layar yang terus bertambah—melainkan hanya karena satu pertanyaan sederhana.“Surya, apakah kau masih ingat siapa orang yang pertama kali menyelamatkanmu?”Untuk pertama kalinya malam itu, Profesor Surya tidak langsung menjawab. Ia tidak tersenyum mengejek, tidak memutar kata-kata, dan tidak mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia hanya terdiam. Dan reaksi itu sudah cukup membuat semua orang sadar—pertanyaan itu tepat mengenai sasaran.Angka di layar terus bergerak naik:50%51%52%Namun tidak ada satu pun yang memperhatikannya. Semua pandangan tertuju pada pria tua yang selama ini terlihat tak tergoyahkan dan penuh keyakinan. Kini, untuk pertama kalinya, terlihat sisi rapuh yang tersembunyi di balik wajahnya.“Kau sudah lupa,” kata Bu Ratih dengan nada lembut, persis seperti seorang guru yang sedang menegur muridnya, bukan seperti

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 142. Orang yang Pergi Dulu

    Angka di layar terus bergerak naik tanpa henti:34%35%36%Mesin Elysium berjalan terus, seolah tidak peduli pada ketakutan, kepanikan, atau siapa yang akan kehilangan segalanya—persis seperti obsesi yang selama ini tidak pernah berhenti berkembang.Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Semua orang memikirkan hal yang sama: jika inti sistem harus dihancurkan, maka seseorang harus tetap tinggal di sana. Dan mereka semua tahu siapa yang paling mungkin mengambil keputusan itu.“Kak…” panggil Rivan dengan suara rendah.“Tidak.”Jawaban Raka datang begitu cepat dan tegas, seolah ia sudah tahu apa yang ingin dikatakan adiknya bahkan sebelum kalimat itu keluar.“Aku belum bicara apa-apa.”“Tetap saja tidak.”Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, nada bicara Raka terdengar marah. “Kau tidak akan menjadi orang yang tinggal di sini.”Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Tidak ada yang membantah, karena mereka semua sadar—Raka sudah membaca pikiran Rivan dengan tepat.“Kau s

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 141. Pengganti

    Tidak ada yang langsung memahami makna kalimat itu, namun reaksi Raka sudah cukup menjelaskan segalanya. Pria itu tampak seolah baru mendengar mimpi buruk yang selama ini berusaha keras ia cegah.“Aku tidak pernah mencari penerus. Aku hanya mencari pengganti.”“Rayhan!” panggil Raka dengan nada tegang. “Matikan sistemnya sekarang!”“Sedang kucoba.”Rayhan segera berlari ke panel utama, jemarinya bergerak cepat menelusuri layar dan memasukkan rangkaian kode. Namun hanya dalam hitungan detik, ekspresinya berubah menjadi gelisah.“Tidak bisa. Dia sudah mengunci semuanya dari inti sistem.”Darah seketika terasa dingin di sekujur tubuh mereka.“Apa yang sedang dipindahkan?” tanya Rivan.Suaranya terdengar tenang, bahkan tidak ada nada panik di dalamnya—justru itulah yang membuat suasana terasa semakin berat, karena jelas ia sedang memaksakan diri untuk tetap berpikir jernih.Profesor Surya menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. “Akhirnya kau mengajukan pertanyaan yang tepat.”Raka melangk

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 140. Mencari Pengganti

    Tidak ada yang menjawab, tidak ada yang bergerak. Kalimat Profesor Surya bukan sekadar pertanyaan, melainkan sebuah ancaman yang menyentuh inti rahasia terbesar.“Bagaimana kalau aku jelaskan mengapa hanya Rivan yang bisa bertahan hidup, sementara semua subjek lain meninggal atau hancur?”Dan untuk pertama kalinya, Kania melihat sesuatu yang baru—ketakutan yang terlihat jelas di wajah Raka, bukan karena bahaya yang mengancam dirinya sendiri, melainkan karena apa yang akan diungkapkan tentang Rivan.“Diam.”Suara Raka terdengar sangat dingin dan tegas.Surya hanya tersenyum tipis, namun kali ini senyum itu tidak sampai ke matanya. Ia tahu persis bahwa ia baru saja menyentuh luka yang selama ini ditutup rapat oleh semua orang.“Kau takut?” gumamnya sambil menatap Raka.“Aku tidak takut, aku hanya muak melihat permainanmu,” jawab Raka cepat.“Kalau begitu, mengapa selama ini kau tidak pernah menceritakannya padanya?”Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku. Surya benar—Raka tahu kebe

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 139. Sang Penyelamat

    Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang bersuara. Kalimat terakhir yang diucapkan Armand menggantung di udara, terasa begitu berat dan sulit untuk diterima. “Ceritakan padanya siapa yang sebenarnya menyelamatkannya pada malam kebakaran itu.” Semua pandangan langsung tertuju pada Raka—Kania, Rayhan, Kelia, bahkan Rivan sendiri. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di ruang inti, Raka terlihat seperti seseorang yang ingin menghindari menjawab sebuah pertanyaan. “Kak…” Suara Rivan terdengar pelan, namun cukup untuk membuat suasana menjadi semakin sunyi. “Apa maksudnya?” Raka memejamkan matanya lama, seolah sedang kembali menelusuri kenangan malam yang telah menghantuinya selama sepuluh tahun: malam yang dipenuhi asap tebal, kobaran api, suara jeritan, dan sebuah pilihan berat yang seharusnya tidak dipikul oleh siapa pun. “Kak?” panggil Rivan lagi, kali ini nadanya terdengar lebih dalam dan menyimpan luka. Akhirnya Raka membuka matanya dan mengembuskan napas panjang. “Orang

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 58. Ketakutan Rivan

    Laut mulai tenang menjelang dini hari. Kabut tipis menggantung rendah di atas permukaan air, menyamarkan batas antara langit dan samudera, membuat dunia di sekitar yacht itu terasa jauh dan tidak nyata. Mesin kapal berdengung stabil, sebuah irama monoton yang membawa mereka semakin jauh dari darata

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 36. Mencoba Ingkar

    Bau mesiu masih terasa menyengat di udara. Samar. Namun cukup kuat untuk mengingatkan keduanya bahwa baru beberapa menit yang lalu, nyawa melayang di ruangan ini. Kania belum beranjak dari tempatnya berdiri. Tangannya masih tergenggam erat di lengan Rivan. Seolah ada ketakutan

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 33. Ketergantungan

    Jantung Kania berdebar kencang tak beraturan. Jawaban itu ... tak membuatnya merasa senang. Namun anehnya, jawaban itu tak lagi menimbulkan rasa takut yang mendalam seperti dulu. Dan perubahan perasaan itulah yang justru membuatnya makin gelisah. Kania mena

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 32. Godaan atau Ancaman

    Kesadaran pun menyergap Kania seketika. Dia tersentak mundur selangkah sambil terengah-engah hebat. “Jangan … jangan pernah lakukan hal itu lagi …,” tegurnya, tetapi suaranya kini tak lagi setajam belati seperti dulu. Nada bicaranya terdengar lebih seperti permohonan lemah. Ri

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status