เข้าสู่ระบบMalam di pulau itu berakhir dengan kekacauan yang tak sempat diselesaikan.
Helikopter yang meraung di langit bukan sekadar ancaman, itu adalah sinyal mundur.Rivan tidak menunggu hingga pasukan lain mendarat. Dalam hitungan menit, dia menyeret Kania keluar dari vila, melewati lorong bawah tanah yang selama ini tersembunyi, menuju landasan rahasia di sisi timur pulau.Ledakan kecil terdengar dari kejauhan saat sistem pertahanan terakhir diaktifkan. Bukan uRuangan bawah tanah itu mendadak terasa terlalu sunyi. Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang bicara. Hanya suara napas Kania yang mulai pendek dan tidak teratur, menggema di antara dinding beton yang lembap. Tangannya masih mencengkeram map hitam itu, namun jemarinya terasa dingin, hampir mati rasa. NAMA SUBJEK : KANIA HARDIANKODE INTERNAL : LUNA-17 Tatapannya terhenti pada angka itu. Tujuh belas. Bukan lima belas, bukan sepuluh. Angka itu seolah menertawakannya. Dan entah kenapa, sesuatu di dalam dirinya berteriak bahwa ada yang salah. "Kania," suara Rivan terdengar pelan di dekatnya. Pria itu tidak menyentuh, tidak pula memaksa. Mungkin karena saat ini, bahkan seorang Rivan Aryawiguna tidak yakin apa yang harus ia lakukan. "Jangan," bisik Kania lirih. "Aku ingin melihatnya sendiri." Tangannya bergerak gemetar membuka halaman berikutnya. Dokumen medis, grafik perkembangan, catatan psikologis, dan foto—lebih banyak
Lorong bawah tanah itu terasa semakin dingin. Atau mungkin, bukan suhu udara yang berubah, melainkan isi kepala Kania yang mendadak membeku.SUBJEK LUNA — RUANG OBSERVASI UTAMATulisan pudar di dinding tua itu seolah hidup, memaksa masuk dan membongkar sesuatu yang selama ini terkunci terlalu rapat di ingatannya. Napas Kania berubah: pendek, cepat, dan tidak teratur. Untuk pertama kalinya sejak ia melangkah masuk ke tempat ini, ia benar-benar merasa ingin lari sejauh mungkin."Luna..." bisiknya pelan, nyaris tak terdengar.Nama itu lagi. Selalu kembali. Seolah hidupnya sendiri terus memaksanya untuk melihat sesuatu yang selama ini berusaha ia hindari mati-matian."Kania."Tangan hangat itu menyentuh lengannya—pelan dan hati-hati. Rivan ada di sana. "Aku di sini."Biasanya, kalimat sederhana itu sudah cukup untuk menenangkannya. Tapi tidak kali ini."Kania," suara Kelia terdengar lebih pelan sambil menatap layar tablet di tangannya. "Hasil pemindaian dinding..."Semua mata beralih ke a
Lorong bawah tanah itu mendadak terasa lebih sempit, lebih dingin, dan jauh lebih sunyi. Cahaya lampu senter memantul di permukaan besi tua yang dipenuhi karat. Simbol lentera dengan api biru di tengah pintu itu tampak terlalu utuh dibandingkan dinding di sekelilingnya yang sudah hancur, seolah seseorang sengaja menjaganya tetap bersih selama bertahun-tahun. "Kelia," suara Rivan berubah. Dingin dan fokus. "Cek sekeliling." "Baik, Bos." Beberapa orang bergerak cepat, memeriksa sudut lorong, retakan dinding, hingga jalur ventilasi tua. Namun, perhatian Kania tetap tertahan pada pintu besi itu. Dadanya terasa tidak nyaman. Bukan sekadar rasa takut, melainkan sesuatu di dalam dirinya seolah mengenali tempat ini. Dan perasaan "kenal" itu jauh lebih mengerikan daripada rasa asing. "Kania," suara Rivan muncul di dekatnya, pelan. "Aku di sini." Lagi-lagi kalimat sederhana itu. Namu
Pagi datang terlalu cepat. Atau mungkin, Kania memang tidak benar-benar tertidur semalam. Jarum jam menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh dua menit ketika mobil hitam Rivan perlahan meninggalkan kediaman Aryawiguna di Kyoto.Kota itu masih berselimut dingin. Kabut tipis menggantung di jalanan yang masih sepi, sementara deretan bangunan tua perlahan tertinggal di belakang, digantikan oleh pemandangan jalanan yang semakin sunyi, semakin jauh, dan semakin asing. Entah kenapa, setiap kilometer yang mereka tempuh membuat dada Kania terasa semakin berat.Rivan menyetir sendiri. Sejak tiga puluh menit yang lalu, nyaris tidak ada percakapan di antara mereka. Hanya ada deru mesin mobil dan pikiran masing-masing yang berkecamuk. Kania melirik ke samping; pria itu terlihat terlalu tenang dan terlalu diam—sebuah pertanda yang justru membuat Kania tahu bahwa Rivan sedang tidak baik-baik saja."Kamu belum tidur semalam," gumam Kania memecah kesunyian.Tatapan Rivan tetap lurus ke depan. "Hm.""Ja
Malam turun lebih cepat di Kyoto. Hujan yang sempat mereda sejak siang kembali turun tipis, membentuk garis-garis air yang buram di kaca jendela ruang kerja keluarga Aryawiguna. Kania berdiri mematung di dekat rak buku besar. Tangannya masih menggenggam cangkir teh yang mulai kehilangan uap panasnya, namun pikirannya terasa jauh lebih dingin. Ruang bawah tanah di panti asuhan itu—tempat yang selama bertahun-tahun hanya hidup sebagai potongan mimpi buruk yang tak pernah utuh—kini telah ditemukan. "Apa lagi yang dikatakan Kelia?" suara Kania terdengar lebih lirih dari yang ia duga. Rivan berdiri membelakanginya, satu tangannya terbenam di saku celana. Bahunya terlihat jauh lebih tegang dari biasanya. "Mereka baru masuk ke area luar." "Bagaimana kondisinya?" "Rusak parah. Sudah lama ditinggalkan." Sunyi menyergap. "Dan?" pancing Kania. Rivan diam t
Malam di Kyoto terasa terlalu dingin. Atau mungkin, bukan udara yang berubah, melainkan dirinya sendiri. Kania masih duduk mematung di taman belakang rumah keluarga Aryawiguna. Tempat yang beberapa hari lalu terasa begitu tenang dan aman, kini tak lagi memberikan rasa yang sama. Daun maple merah jatuh satu per satu di atas batu taman yang basah, mengikuti irama angin yang bergerak pelan. Namun, pikiran Kania tidak sedamai itu. Pikirannya terlalu bising. Panti. Kebakaran. Papa. Abian. Dan... Rivan. Terutama Rivan. “Aku tetap memilihmu.” Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Menyebalkan. Kalimat itu membuat dadanya sesak karena setelah semua kebohongan dan rahasia yang terungkap, pria itu masih berdiri di tempat yang sama. Masih memilihnya. Dan kenyataan itu justru membuat segalanya terasa semakin sulit bagi Kania. "Kamu bisa masuk angin kalau terus-menerus di sini," suar







