LOGINRumah sakit itu sunyi, hanya menyisakan suara detak jantung mekanis dari monitor di samping ranjang Bu Ratih. Cahaya lampu yang temaram menyinari wajah wanita tua itu, membuatnya tampak jauh lebih rapuh daripada beberapa jam yang lalu.
Kania duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Bu Ratih yang dingin dan gemetar. Di ambang pintu, Rivan berdiri mematung. Pria itu tidak masuk sepenuhnya ke dalam ruangan, seolah ia merasa dirinya adalah orang asing di antara kenangan yang sedang berProfesor Surya.Ia kembali berbicara. Namun kali ini, suaranya terdengar jauh lebih dekat dan nyata. Seolah ia sedang berada di dalam gedung yang sama, bukan lagi berbicara dari tempat yang jauh.“Aku sudah menunggu kedatangan kalian sejak lama.”Kelia segera menyalakan senter yang ia bawa. Sinar putihnya menyapu seluruh ruangan yang gelap. Dan tepat saat itu, sebuah pintu baja besar di ujung ruangan perlahan terbuka dengan sendirinya.KREEEKKK…Suara gesekan logam yang panjang dan menyeramkan bergema ke seluruh penjuru.Lalu dari balik kegelapan di balik pintu itu, sesosok tubuh mulai terlihat.Seseorang sedang duduk di atas kursi roda. Kepalanya tertunduk, tubuhnya tampak kurus dan lemah, serta rambutnya telah memutih seluruhnya.Napas Kania seolah berhenti seketika. Ia mengenal sosok itu dengan sangat baik.“Bu Ratih!” serunya dengan suara yang sedikit pecah karena kaget dan cemas.Ia hampir berlari mendekat, namun langkahnya terhenti. Sebab kursi roda itu bergerak maju perlahan, s
Tiba-tiba gambar di layar itu memperbesar pandangan secara otomatis. Cukup jelas untuk memperlihatkan separuh wajah orang itu.Dan untuk pertama kalinya dalam kurun waktu sepuluh tahun yang panjang, Rivan melihatnya kembali.Bukan di dalam foto.Bukan dalam bayangan ingatan.Bukan pula dalam mimpi.Melainkan wajah yang selama ini terus hidup di dalam pikirannya.Ia tampak lebih tua.Wajahnya tampak jauh lebih lelah dan keras.Ada sebuah bekas luka panjang yang melintang di pelipis kirinya.Namun itu tetaplah orang yang sama persis. Raka Aryawiguna.Dan tepat sebelum layar itu kembali menjadi gelap, pria itu tiba-tiba menatap lurus ke arah lensa kamera seolah tahu persis di mana mereka berada. Lalu dengan suara berat dan jelas, ia mengucapkan satu kalimat pendek.“Bawa Kania keluar dari tempat itu. Sekarang juga.”Ruangan seketika membeku dan hening total.Kalimat itu bukanlah sapaan rindu.Bukan pertemuan yang mengharukan.Dan bukan pula jawaban yang mereka tunggu-tunggu selama sepulu
Keheningan seketika menyelimuti seluruh penjuru Ruang Observasi Ketiga. Tak ada yang berani bersuara, tak ada yang berani bergerak. Sebab satu nama yang baru saja disebutkan kembali menghantam pikiran mereka dengan dahsyat.Raka.Dan kali ini, nama itu bukan lagi sekadar kenangan yang memudar. Bukan sekadar foto lama di dalam bingkai. Bukan pula sebuah misteri yang tak terjawab.Melainkan sosok yang kemungkinan besar sedang berada di dalam gedung yang sama dengan mereka saat ini.“Apa maksudmu sebenarnya?” tanya Rivan dengan suara rendah yang tajam dan penuh ketegangan.Namun Rayhan seolah tidak mendengarnya. Matanya masih terpaku lekat-lekat pada lampu indikator merah yang terus berkedip di atas papan kendali itu. Ia seolah berharap penglihatannya salah, berharap itu hanya kesalahan teknis atau kerusakan sistem biasa, namun ekspresi wajahnya justru mengatakan sebaliknya.“Ini adalah sistem keamanan model lama,” bisiknya dengan suara tertahan. “Sistem rahasia yang hanya diketahui kala
Ruangan Observasi Ketiga kembali tenggelam dalam kegelapan. Seluruh layar monitor yang tadi menyala terang kini mati seketika, menyisakan keheningan yang terasa jauh lebih berat dan menyesakkan dibandingkan sebelumnya.Tak ada yang berani bergerak. Tak ada yang bersuara. Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Profesor Surya masih terus bergaung dan terngiang di dalam kepala mereka.“Sudah waktunya kita bertemu kembali secara langsung.”Dan bagi Rivan, kalimat itu tidak ditujukan untuk mereka semua. Ia tahu betul—kata-kata itu ditujukan khusus kepadanya. Secara pribadi.“Bos…”Suara Kelia akhirnya memecah keheningan yang mencekam, meski terdengar sangat pelan dan ragu.Namun Rivan tidak menjawab. Tatapannya masih terpaku pada layar yang kini gelap gulita itu. Rahangnya mengeras kuat, dan tangannya terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.Dan untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di tempat ini, Kania merasa sangat khawatir. Ia mengenali benar ekspresi wajah itu. Ekspresi yang han
Seluruh Ruang Observasi Ketiga seketika diterangi cahaya yang menyilaukan. Puluhan layar monitor menyala serentak, semuanya menampilkan wajah yang sama persis. Wajah seorang pria tua yang selama bertahun-tahun hanya hidup dalam potongan ingatan yang kabur, berkas arsip lama, dan mimpi buruk mereka. Kini, pria itu ada tepat di hadapan mereka. Nyata. Hidup. Dan sedang tersenyum. “Selamat pagi.” Suara Profesor Surya Mahendra terdengar bergema memenuhi setiap penjuru ruangan. Nada bicaranya begitu tenang, santai, dan ramah, persis seperti seorang dosen tua yang sedang menyapa murid-murid kesayangannya. Namun justru itulah yang membuat suasana ini terasa jauh lebih mengerikan. Tak ada penyesalan sedikit pun di wajah keriput itu. Tak ada rasa bersalah. Tak ada ketakutan. Seolah puluhan tahun penderitaan, kehilangan, dan air mata yang ditinggalkannya hanyalah catatan kecil yang sama sekali t
Keheningan kembali menyelimuti Ruang Observasi Ketiga. Namun kali ini, keheningan itu bukan lagi tanda kebingungan atau ketakutan, melainkan tanda bahwa sesuatu telah berubah. Sesuatu yang mendasar dan kuat bangkit dari dalam diri Kania.Untuk pertama kalinya sejak segala rahasia masa lalu mulai terkuak, ia tidak lagi merasa seperti anak kecil yang tersesat di dalam labirin gelap. Ia juga tidak lagi merasa hanya sekadar korban yang tak berdaya dan terus-menerus harus mengejar jawaban orang lain.Sebab kini—ia merasa marah.Dan anehnya, kemarahan itulah yang membuat pikirannya menjadi jauh lebih jernih dan tajam daripada sebelumnya."Mereka salah," gumam Kania pelan. Air matanya sudah kering, dan tatapannya kini tertuju lurus pada layar besar di hadapannya. "Mereka salah menilaiku sepenuhnya."Rayhan memperhatikannya dengan lekat. Lama sekali. Lalu perlahan sebuah senyum tipis terukir di wajahnya. Bukan senyum kebahagiaan, melainkan senyum lega milik seseorang yang akhirnya melihat ses







