/ Romansa / OBSESI sang Berondong HYPER / KR 101. Abian yang Sebenarnya

공유

KR 101. Abian yang Sebenarnya

작가: Ziya_Khan21
last update 게시일: 2026-05-28 17:00:21

Rumah sakit itu sunyi, hanya menyisakan suara detak jantung mekanis dari monitor di samping ranjang Bu Ratih. Cahaya lampu yang temaram menyinari wajah wanita tua itu, membuatnya tampak jauh lebih rapuh daripada beberapa jam yang lalu.

Kania duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Bu Ratih yang dingin dan gemetar. Di ambang pintu, Rivan berdiri mematung. Pria itu tidak masuk sepenuhnya ke dalam ruangan, seolah ia merasa dirinya adalah orang asing di antara kenangan yang sedang ber
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (6)
goodnovel comment avatar
dindaalestari1310
masih blm tau siapa sebenarnya dalang dr semua nya..
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
masih ada dalang lainnya? hhhmmm..
goodnovel comment avatar
kak ros
penasaran,ikut deg2an aku
댓글 더 보기

최신 챕터

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 144. Rumah yang Ditemukan

    Profesor Surya berjalan perlahan menuju pintu ruang reaktor. Tidak ada yang menghentikannya, tidak ada yang memanggil namanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tampak tahu ke mana ia harus melangkah—bukan menuju penemuan, bukan mengejar obsesi, bukan mencari keabadian, melainkan menuju akhir dari segalanya.Di layar utama, angka proses terus bergerak naik:79%80%81%Namun Surya tidak terburu-buru. Langkahnya tenang, meski terasa sangat lelah—persis seperti seseorang yang telah memikul beban terlalu berat selama bertahun-tahun dan akhirnya siap melepaskannya. Sesampainya di depan pintu, ia berhenti dan menoleh perlahan, menatap satu per satu orang yang ada di ruangan: Raka, Armand, Bu Ratih, Rayhan, Kelia, Kania, hingga akhirnya pandangannya berhenti pada Rivan.“Aku menghabiskan seluruh hidupku berusaha mengalahkan kematian,” ucapnya pelan namun terdengar jelas oleh semua orang. “Aku pikir jika aku bisa memahami manusia, aku bisa memperbaiki segalanya.”Sebuah senyum pahit

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 143. Penyelamat

    Seluruh ruang inti seketika menjadi sunyi. Bukan karena bahaya yang mengancam, bukan karena mesin Elysium yang terus berjalan, dan bukan pula karena angka di layar yang terus bertambah—melainkan hanya karena satu pertanyaan sederhana.“Surya, apakah kau masih ingat siapa orang yang pertama kali menyelamatkanmu?”Untuk pertama kalinya malam itu, Profesor Surya tidak langsung menjawab. Ia tidak tersenyum mengejek, tidak memutar kata-kata, dan tidak mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia hanya terdiam. Dan reaksi itu sudah cukup membuat semua orang sadar—pertanyaan itu tepat mengenai sasaran.Angka di layar terus bergerak naik:50%51%52%Namun tidak ada satu pun yang memperhatikannya. Semua pandangan tertuju pada pria tua yang selama ini terlihat tak tergoyahkan dan penuh keyakinan. Kini, untuk pertama kalinya, terlihat sisi rapuh yang tersembunyi di balik wajahnya.“Kau sudah lupa,” kata Bu Ratih dengan nada lembut, persis seperti seorang guru yang sedang menegur muridnya, bukan seperti

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 142. Orang yang Pergi Dulu

    Angka di layar terus bergerak naik tanpa henti:34%35%36%Mesin Elysium berjalan terus, seolah tidak peduli pada ketakutan, kepanikan, atau siapa yang akan kehilangan segalanya—persis seperti obsesi yang selama ini tidak pernah berhenti berkembang.Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Semua orang memikirkan hal yang sama: jika inti sistem harus dihancurkan, maka seseorang harus tetap tinggal di sana. Dan mereka semua tahu siapa yang paling mungkin mengambil keputusan itu.“Kak…” panggil Rivan dengan suara rendah.“Tidak.”Jawaban Raka datang begitu cepat dan tegas, seolah ia sudah tahu apa yang ingin dikatakan adiknya bahkan sebelum kalimat itu keluar.“Aku belum bicara apa-apa.”“Tetap saja tidak.”Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, nada bicara Raka terdengar marah. “Kau tidak akan menjadi orang yang tinggal di sini.”Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Tidak ada yang membantah, karena mereka semua sadar—Raka sudah membaca pikiran Rivan dengan tepat.“Kau s

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 141. Pengganti

    Tidak ada yang langsung memahami makna kalimat itu, namun reaksi Raka sudah cukup menjelaskan segalanya. Pria itu tampak seolah baru mendengar mimpi buruk yang selama ini berusaha keras ia cegah.“Aku tidak pernah mencari penerus. Aku hanya mencari pengganti.”“Rayhan!” panggil Raka dengan nada tegang. “Matikan sistemnya sekarang!”“Sedang kucoba.”Rayhan segera berlari ke panel utama, jemarinya bergerak cepat menelusuri layar dan memasukkan rangkaian kode. Namun hanya dalam hitungan detik, ekspresinya berubah menjadi gelisah.“Tidak bisa. Dia sudah mengunci semuanya dari inti sistem.”Darah seketika terasa dingin di sekujur tubuh mereka.“Apa yang sedang dipindahkan?” tanya Rivan.Suaranya terdengar tenang, bahkan tidak ada nada panik di dalamnya—justru itulah yang membuat suasana terasa semakin berat, karena jelas ia sedang memaksakan diri untuk tetap berpikir jernih.Profesor Surya menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. “Akhirnya kau mengajukan pertanyaan yang tepat.”Raka melangk

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 140. Mencari Pengganti

    Tidak ada yang menjawab, tidak ada yang bergerak. Kalimat Profesor Surya bukan sekadar pertanyaan, melainkan sebuah ancaman yang menyentuh inti rahasia terbesar.“Bagaimana kalau aku jelaskan mengapa hanya Rivan yang bisa bertahan hidup, sementara semua subjek lain meninggal atau hancur?”Dan untuk pertama kalinya, Kania melihat sesuatu yang baru—ketakutan yang terlihat jelas di wajah Raka, bukan karena bahaya yang mengancam dirinya sendiri, melainkan karena apa yang akan diungkapkan tentang Rivan.“Diam.”Suara Raka terdengar sangat dingin dan tegas.Surya hanya tersenyum tipis, namun kali ini senyum itu tidak sampai ke matanya. Ia tahu persis bahwa ia baru saja menyentuh luka yang selama ini ditutup rapat oleh semua orang.“Kau takut?” gumamnya sambil menatap Raka.“Aku tidak takut, aku hanya muak melihat permainanmu,” jawab Raka cepat.“Kalau begitu, mengapa selama ini kau tidak pernah menceritakannya padanya?”Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku. Surya benar—Raka tahu kebe

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 139. Sang Penyelamat

    Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang bersuara. Kalimat terakhir yang diucapkan Armand menggantung di udara, terasa begitu berat dan sulit untuk diterima. “Ceritakan padanya siapa yang sebenarnya menyelamatkannya pada malam kebakaran itu.” Semua pandangan langsung tertuju pada Raka—Kania, Rayhan, Kelia, bahkan Rivan sendiri. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di ruang inti, Raka terlihat seperti seseorang yang ingin menghindari menjawab sebuah pertanyaan. “Kak…” Suara Rivan terdengar pelan, namun cukup untuk membuat suasana menjadi semakin sunyi. “Apa maksudnya?” Raka memejamkan matanya lama, seolah sedang kembali menelusuri kenangan malam yang telah menghantuinya selama sepuluh tahun: malam yang dipenuhi asap tebal, kobaran api, suara jeritan, dan sebuah pilihan berat yang seharusnya tidak dipikul oleh siapa pun. “Kak?” panggil Rivan lagi, kali ini nadanya terdengar lebih dalam dan menyimpan luka. Akhirnya Raka membuka matanya dan mengembuskan napas panjang. “Orang

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 29 Fakta Masa Lalu

    Rasa nyeri itu tak kunjung hilang. Bahkan tak sekadar menetap, rasa sakit itu makin merasuk ke dalam tulang, seolah ada makhluk hidup yang bergerak-gerak pelan di balik lapisan kulit Kania. Napasnya terengah-engah, tubuhnya masih terjebak rapat dalam dekapan Rivan.

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 14. Kembali pada Rivan

    "Bukan chip-nya yang membunuhku …," bisik Kania tersedak darah. "Ingatan itu ... ingatan itu memiliki pemicu kimiawi. Dia memberiku penawar selama sepuluh tahun lewat makananku ... sekarang, tanpa dosis itu, tubuhku mengalami penolakan terhadap kenyataan.""Apa? Maksudmu dia menaruh

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 13. Ancama Rivan

    "Tekan monitornya! Kecepatannya melebihi batas toleransi otak!" Mayor Sarah berteriak sembari mencengkeram besi sandaran tandu. Suaranya nyaris tenggelam oleh deru baling-baling helikopter yang membelah kegelapan langit malam."Tanda-tanda vitalnya tidak stabil, Mayor! Gelombang otaknya

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 7 Telepon Misterius

    Rivan membungkam bibir Kania dengan ciuman yang kasar dan menuntut, menekan tubuh wanita itu ke atas meja yang dipenuhi dokumen penting perusahaan. Tiba-tiba, suara dering ponsel yang kencang memecah suasana. Bukan ponsel Kania, melainkan ponsel pribadi Rivan di saku jas

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status