Share

KR 2. Ancaman Rivan

Author: Ziya_Khan21
last update publish date: 2026-04-07 23:07:40

"Bagus. Kebencian adalah perasaan yang sangat kuat, Kania. Setidaknya dengan begitu, namaku akan terus ada di kepalamu setiap detik, melekat lebih kuat daripada rasa cinta mana pun yang pernah kamu punya."

"Aku tidak akan menandatanganinya! Lebih baik aku mati!"

"Oh, aku tidak akan membiarkanmu mati secepat itu. Masih banyak malam yang harus kita lewatkan bersama di rumah ini." Rivan melangkah keluar, tetapi suaranya masih menggema tajam di dalam ruangan itu. "Cepat putuskan, Kania. Detik terus berjalan, dan aku tidak tahu seberapa sabar anak buahku di sana memperlakukan Papa-mu yang sudah tua itu."

Pintu tertutup dengan dentuman keras, meninggalkan Kania sendirian dalam keheningan yang menyesakkan. Bau wangi parfum Rivan masih memenuhi udara, merasuk ke dalam pori-porinya, seolah-olah menandai bahwa mulai detik ini, identitasnya telah terhapus.

Kania menatap nanar ke arah dokumen itu. Jemarinya meraih pinggiran selimut, mencoba mencari perlindungan yang mustahil didapat. Dia melihat ayahnya di layar monitor itu merintih, dan rasa mual yang luar biasa menghantam perutnya. Dunia luar seakan lenyap, menyisakan dirinya di dalam sangkar emas yang telah dibangun dengan sangat rapi oleh pria yang selama ini dianggapnya bukan siapa-siapa.

Lalu, sebuah ponsel di samping tempat tidur berdenting. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak dikenal.

[Satu lagi, Kania ... periksa laci kecil di bawah tempat tidurmu. Ada sesuatu yang akan membuatmu mengerti bahwa kabur dariku adalah ide yang paling mustahil di alam semesta ini.]

Dengan tangan bergetar, Kania menarik laci tersebut. Di dalamnya, dia tidak menemukan uang atau dokumen. Yang dia temukan adalah puluhan foto dirinya. Foto dirinya saat sedang tidur di apartemennya sendiri, foto saat dia sedang mandi melalui celah jendela yang dia kira tertutup rapat, bahkan foto saat ia sedang menangis di depan makam ibunya, semuanya diambil dari sudut-sudut tersembunyi yang tak pernah dia sadari.

Dan di tumpukan foto paling bawah, ada sebuah foto kecil yang diambil bertahun-tahun lalu. Foto Kania saat berusia lima belas tahun, mengenakan seragam sekolah. Di belakang foto itu, tertulis sebuah kalimat pendek dengan tinta merah yang sudah mengering:

"Selamat datang di rumah, Milikku."

Kania melempar tumpukan foto itu ke atas sprei sutra seolah benda-benda itu adalah bara api yang membakar telapak tangannya. Napasnya tersengal, dadanya sesak oleh rasa mual yang meluap hingga ke kerongkongan.

Dia menatap potret dirinya saat berusia lima belas tahun—polos, tersenyum lebar tanpa beban di depan gerbang sekolah—dan menyadari bahwa selama ini, setiap detik pertumbuhannya telah dikonsumsi oleh sepasang mata yang tak pernah dia ketahui keberadaannya.

"Kamu ... kamu benar-benar iblis," bisik Kania pada udara kosong, air matanya menetes mengenai foto dirinya yang sedang tidur pulas di apartemen lamanya.

Suara langkah sepatu yang mantap kembali bergema di lorong, semakin dekat, hingga pintu kamar itu terbuka pelan tanpa suara ketukan.

Rivan berdiri di sana, masih dengan kemeja hitam yang sama, tetapi kali ini dia membawa sebuah nampan berisi sarapan mewah dan segelas jus jeruk segar. Pemandangan itu begitu kontradiktif dengan kengerian yang baru saja Kania temukan.

"Aku lihat kamu sudah menemukan 'koleksi' kesayanganku," ujar Rivan santai, meletakkan nampan di atas meja kerja di sudut ruangan. Matanya melirik tumpukan foto yang berantakan di atas kasur.

"Kenapa kamu melakukan ini?" teriak Kania, suaranya pecah. "Foto-foto ini ... ini kriminal! Kamu menguntitku selama tiga belas tahun? Sejak aku masih sekolah?"

Rivan berjalan perlahan mendekat, dia menarik sebuah kursi dan duduk tepat di samping ranjang, menatap Kania dengan tatapan yang tenang, tetapi mematikan.

"Menguntit adalah kata yang kasar, Sayang. Aku menyebutnya 'menjaga'. Kamu itu ceroboh, Kania. Terlalu percaya pada orang salah, terlalu mudah menyerahkan hatimu pada pria sampah seperti mantan suamimu."

"Itu bukan urusanmu! Itu hidupku!"

"Sekarang itu urusanku. Semuanya tentang kamu adalah urusanku." Rivan mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang mencoba mengelus pipi Kania yang basah, tetapi wanita itu menyentak kepalanya menjauh.

Rivan tidak terlihat marah. Dia justru tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke matanya yang dingin. "Kamu tahu, butuh waktu bertahun-tahun untuk menyusun ini semua. Menghancurkan perusahaan ayahmu tanpa meninggalkan jejak, mengatur agar suamimu bertemu dengan wanita itu di klub malam ... semua itu butuh presisi. Dan semuanya demi momen ini. Momen di mana kamu tidak punya siapa pun lagi untuk dituju kecuali aku."

Kania merasa kepalanya akan pecah. Dunianya baru saja diputarbalikkan dalam hitungan jam. "Jadi benar? Kamu yang menyabotase proyek di pelabuhan itu? Kamu yang membayar wanita jalang itu untuk merayu Bram?"

"Bram tidak butuh banyak godaan untuk berkhianat, Kania. Dia pria lemah. Aku hanya memberinya sedikit dorongan," jawab Rivan tenang. Dia meraih segelas jus jeruk dan menyodorkannya ke arah Kania. "Minum ini. Kamu butuh energi untuk menandatangani dokumen itu."

"Aku tidak akan menandatangani apa pun! Aku akan keluar dari sini, aku akan membawa Papa ke polisi!"

"Polisi?" Rivan tertawa, suara tawa yang kering dan hambar. "Kania, coba pikirkan baik-baik. Semua bukti menunjukkan ayahmu melakukan korupsi besar-besaran. Uang itu mengalir ke rekeningnya, dokumennya sah, dan hanya aku yang bisa menghapus jejak itu. Jika kamu keluar dari pintu ini tanpa tanda tanganku, aku pastikan ayahmu tidak akan selamat dalam seminggu di sel tahanan. Kamu tahu kan, banyak 'kecelakaan' bisa terjadi di penjara?"

Kania mencengkeram erat selimut yang menutupi tubuhnya. Tangannya bergetar hebat. "Kenapa harus begini, Rivan? Jika kamu menginginkanku, kenapa harus menghancurkan segala yang aku cintai?"

Rivan bangkit, dia meletakkan gelasnya dengan denting yang keras di atas nakas, lalu tiba-tiba merangsek naik ke atas ranjang, menindih Kania dengan bobot tubuhnya yang kokoh. Dia mengunci kedua tangan Kania di atas kepala, memaksa wanita itu menatap matanya yang sedalam sumur kegelapan.

"Karena jika kamu masih punya hal lain untuk dicintai, kamu tidak akan pernah menatapku, Kania. Aku ingin menjadi satu-satunya duniamu. Aku ingin kamu butuh aku seperti kamu butuh oksigen. Paham?"

"Kamu sakit ... lepaskan!" Kania meronta, kakinya menendang-nendang di balik selimut, tetapi Rivan terlalu kuat.

"Aku tidak sakit. Aku hanya fokus pada tujuanku." Rivan mendekatkan wajahnya, menghirup aroma leher Kania dengan rakus. "Bau tubuhmu ... aku sudah memimpikan ini sejak pertama kali aku melihatmu di rumah duka itu. Kamu begitu cantik saat menangis. Hancur, tapi sangat indah."

"Rivan, kumohon ... ini salah," isak Kania.

Sentuhan Rivan di pergelangan tangannya mulai terasa menyakitkan, tetapi ada gelombang panas aneh yang mulai merambat di perutnya, efek dari sisa memori samar semalam yang tidak bisa dia akses sepenuhnya.

"Yang salah adalah membiarkanmu menjadi milik pria lain selama ini."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (13)
goodnovel comment avatar
SumberÃrta
sakit... npd.. psiko.. atau kenapa si rivan ini sebenernya ter obsesi sampai segininya
goodnovel comment avatar
Bintang Ihsan
obsesi rivan terlalu besar , ,
goodnovel comment avatar
Novi M Q
dibilang cinta, tapi kok begini cara mencintai nya yaa
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 110. Merasa Dikhianati

    Suasana di dalam kamar rawat kembali tenggelam dalam keheningan, namun kali ini kesunyian itu terasa jauh lebih berat dan menyesakkan. Surat yang ditinggalkan Bu Ratih masih tergenggam erat di tangan Rivan, kertas tua di dalamnya bahkan sedikit berkerut karena cengkeraman tangannya yang makin mengencang menahan gejolak batin.Di sisi lain, Kania masih berdiri mematung di tempat. Pandangannya terpaku pada satu kalimat terakhir yang tertulis jelas di atas kertas itu:“Jangan percaya segala kata yang diucapkan Armand. Karena di malam kejadian itu, ia tidak datang sendirian.”Sebuah kalimat yang terlihat sederhana, namun cukup untuk mengguncang dan memutarbalikkan segala kebenaran yang baru saja mereka ketahui dan yakini.“Apa maksud kalimat itu sebenarnya?” bisik Kania pelan, hampir terdengar seperti ia sedang bertanya pada dirinya sendiri.Tak ada seorang pun yang menjawab. Bukan karena mereka tak tahu, melainkan karena tak ada satu pun di antara mereka yang memiliki jawabannya. Atau mu

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 109. Pesan Terakhir

    Seluruh ruangan seketika membeku, benar‑benar tak bergerak sedikitpun. Tak ada yang bicara, tak ada yang mengubah posisi, karena kalimat terakhir yang keluar dari mulut Kelia masih tergantung tajam di udara:“Bu Ratih hilang.”Kania langsung berdiri dengan gerakan yang terlalu cepat, sampai‑sampai kursi di belakangnya bergeser dan menimbulkan bunyi keras memecah keheningan.“Apa maksudmu bilang dia hilang?” suaranya pecah. Untuk pertama kalinya sejak segala kebenaran mulai terungkap, rasa takut kembali menguasai hatinya sepenuhnya. Bu Ratih bukan sekadar saksi peristiwa, bukan sekadar pengurus panti asuhan—wanita tua itu adalah satu‑satunya orang yang masih menjadi jembatan penghubung antara dirinya dan masa lalu yang sebenarnya. Dan kini, orang yang paling berharga itu lenyap begitu saja.“Kelia,” suara Rivan terdengar rendah dan mengandung bahaya, “jelaskan semuanya.”“Seluruh kamera pengawas di rumah sakit mati selama sembilan menit, dan sistem listrik cadangan pun gagal menyala sa

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 108. Tidak Semudah Itu

    Ruangan kecil itu terasa semakin sempit dan pengap. Tidak ada yang berbicara, tidak ada yang bergerak. Satu-satunya hal yang terdengar hanyalah tarikan napas berat dari orang-orang yang berada di dalam sana. Dan di tengah keheningan itu, satu pertanyaan masih menggantung tajam di udara:"Kalau begitu... kenapa kamu pergi?"Tatapan Kania tak bergeser sedikit pun. Sudah terlalu banyak kebohongan, terlalu banyak rahasia yang disembunyikan darinya. Kali ini, ia tak akan beranjak sebelum mendengar jawaban yang sebenarnya.Armand Hardian memejamkan mata dalam waktu yang terasa begitu lama, seolah sedang berusaha mengumpulkan keberanian yang selama sepuluh tahun terakhir tak pernah berhasil ia miliki."Aku tidak pergi karena aku menginginkannya," akhirnya kata itu keluar. Suaranya pelan dan parau.Namun hati Kania tak lagi mudah percaya seperti dulu. "Tetap saja, Papa pergi. Tetap saja, Papa meninggalkanku sendirian di sana," bisiknya, dan matanya mulai terasa panas menahan tangis."Aku tahu

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 107. Ini Tidak Mungkin!

    Ruangan kerja itu mendadak terasa begitu sempit dan pengap. Tidak ada yang berbicara, tidak ada yang bergerak. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah gemuruh hujan di luar jendela, dan detak jarum jam tua yang bergema pelan dari sudut ruangan.Kania masih terpaku menatap lembaran dokumen di tangannya. Jari-jemarinya mulai terasa dingin, namun matanya tak beralih, terus membaca baris yang sama berulang kali. Seolah ia berharap tulisan itu akan berubah, seolah berharap nama di sana hanyalah kekeliruan administrasi, seolah berharap semua ini hanyalah mimpi buruk yang akan segera lenyap.Namun semuanya tetap sama.PENGAJU OBSERVASI AWALARMAND HARDIANNama ayahnya. Nama yang selama bertahun-tahun ia cari, rindukan, tangisi, dan tanyakan ke mana-mana. Kini berdiri tepat di hadapannya dalam wujud yang paling menyakitkan."Kania..." panggil Rivan pelan, namun wanita itu tak juga bergerak, matanya masih terkunci pada kertas tua itu. "Kania."Sekali lagi ia dipanggil, namun tak ada jawaba

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 106. Kebenaran yang Langka

    Lorong rumah sakit itu mendadak terasa jauh lebih dingin. Tidak ada yang bicara, tidak ada yang bergerak. Semua tatapan tertuju pada layar tablet di tangan Rivan, terkunci pada sebuah foto lama yang kusam.Foto Kania saat berusia lima belas tahun.Di sana, ia masih mengenakan seragam Lentera Harapan. Ia masih tersenyum—sebuah senyum polos dari seorang gadis yang belum tahu bahwa hidupnya sedang dicatat, diamati, dan dijadikan bagian dari eksperimen yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri.Namun, yang membuat bulu kuduk meremang adalah kalimat yang tertulis tepat di bawah foto itu:"Luna akhirnya pulang."Kania merasakan tenggorokannya mengering seketika. Ia belum merasa takut sepenuhnya; ia lebih merasa seperti seseorang yang baru saja menyadari bahwa pemangsa yang selama ini mengintainya di kegelapan, kini telah berhenti bersembunyi."Rekamannya asli?" suara Rivan terdengar rendah dan sangat dingin.Kelia mengangguk mantap. "Asli, Bos.""Kapan diambil?""Tiga puluh satu menit yang

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 105. Dia Masih Hidup

    Hujan masih terus mengguyur Kyoto, namun kini tidak ada seorang pun di dalam ruangan itu yang benar-benar memperhatikannya. Seluruh atensi mereka tersedot oleh satu nama yang baru saja muncul—nama yang sanggup mengubah segalanya dalam sekejap.Profesor Surya Mahendra.Ruangan rawat yang semula terasa hangat mendadak berubah menjadi dingin dan mencekam. Kania memang belum pernah mendengar nama itu sebelumnya, namun melihat bagaimana Bu Ratih menangis terisak, bagaimana tubuh Rivan membeku seketika, dan bagaimana Kelia langsung bertindak menghubungi timnya tanpa diperintah, ia tahu satu hal: nama itu bukan nama biasa."Dia... masih hidup?" suara Kania terdengar kecil, hampir seperti bisikan.Bu Ratih memejamkan mata dalam waktu yang lama, lalu mengangguk pelan. "Saya pikir dia sudah mati," bisiknya lirih. "Kami semua mengira begitu. Tapi kalau dia bisa muncul sekarang... itu berarti dia memang tidak pernah benar-benar berhenti."Hening kembali melanda. Rivan berdiri di dekat jendela den

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status