LOGIN"Nah, karena tim finansial yang paling terdampak oleh krisis ini, saya ingin Ibu Kania sebagai kepala manajer finansial kita memberikan laporan singkatnya. Kania, silakan!" Pak Baskoro menunjuk dengan penuh bangga.Kania menelan ludah. Dia dipaksa berdiri di bawah sorotan lampu dan tatapan predator suaminya sendiri. Tubuhnya terasa berat saat dia berjalan ke arah layar proyektor, melewati kursi Rivan yang hanya berjarak beberapa senti darinya. Aroma parfum musk dan kayu cendana yang dia hafal benar itu kembali menyerang indra penciumannya, memicu kilasan memori tentang malam-malam penuh paksaan di vila kemarin."Baik ... selamat pagi, Pak Rivan. Saya ... saya akan memaparkan kondisi terakhir keuangan kami." Suara Kania sedikit bergetar, tetapi dia mencoba menjaga suaranya tetap formal.Selama sepuluh menit Kania bicara, Rivan tidak memperhatikan angka-angka di layar sama sekali. Matanya terus menjelajahi wajah Kania, tangannya
Pemberkatan itu berjalan seperti pemakaman yang tenang. Kania tidak mendengarkan satu kata pun dari janji pernikahan yang diucapkan si pendeta. Pikirannya kosong. Dia merasa seperti roh yang melayang di atas tubuhnya sendiri, melihat seorang wanita malang yang sedang dipaksa masuk ke dalam jerat neraka yang dihiasi bunga-bunga manis."Rivan Aryawiguna, bersediakah engkau menerima Kania Hardian sebagai ….""Aku menerima. Sejak lama. Sampai dia mati di tanganku," potong Rivan sebelum pendeta selesai bicara. Matanya tidak beralih sedikit pun dari wajah Kania."Dan Anda, Kania Hardian ... bersediakah …."Kania bungkam. Dia melirik ke arah monitor di pojok ruangan yang menyiarkan secara langsung ayahnya yang kini sudah berdiri di depan pintu keluar sebuah fasilitas penahanan, menunggu satu panggilan dari Rivan untuk bisa melangkah bebas."Kania ... bicaralah," bisik Rivan, suaranya kali ini lembut, tetapi ujung ibu jarinya menekan urat nadi di pergelangan tangan Kania dengan kuat. Peringa
"Nona Kania? Ini saya, Mira. Tuan Rivan meminta saya membawakan gaun Anda."Suara itu bukan suara Rivan. Itu suara wanita paruh baya yang terdengar datar, tanpa emosi sama sekali. Kania menarik napas panjang, mencoba menstabilkan degup jantungnya. Dia meraih jubah mandi tebal dari gantungan emas dan memakainya secepat kilat, lalu membuka pintu sedikit saja."Aku tidak butuh gaun. Aku butuh baju pribadiku! Di mana tas yang aku bawa semalam?" Kania menyalak, matanya menatap tajam ke arah wanita bernama Mira itu.Mira tetap diam, hanya mengulurkan sebuah kotak besar berwarna putih mutiara dengan logo perancang busana yang harganya mungkin bisa membeli satu rumah sederhana. "Tas Anda sudah tidak ada, Nona. Tuan memerintahkan untuk memusnahkan semua benda yang tidak beraroma rumah ini.""Memusnahkan? Dia gila! Isinya dompetku, ponselku, identitasku!""Anda tidak akan butuh itu di sini, Nona. Silakan dipakai. Tuan sudah menunggu di lantai bawah. Kita punya waktu tiga puluh menit.""Aku tida
Rivan melepaskan satu tangan Kania, jarinya kini menelusuri garis bibir Kania yang bergetar. "Semalam ... kamu tidak berhenti menciumku. Kamu memintaku untuk tidak pernah meninggalkanmu. Kamu lupa?""Aku ... aku mabuk! Kamu menjebakku dengan minuman itu!""Kamu memang mabuk, tapi tubuhmu tidak berbohong. Kamu sangat merespons sentuhanku, Kania. Jauh lebih liar daripada bayanganku," bisik Rivan tepat di bibir Kania, hingga napas hangatnya yang beraroma kopi dan mint terasa langsung di kulit Kania."Hentikan ... tolong hentikan ….""Aku akan berhenti menyakiti Papa jika kamu mulai bersikap manis. Ambil pena itu, Kania. Jadilah milikku secara hukum, maka dunia akan ada di genggamanmu. Tidak akan ada lagi penagih utang, tidak ada lagi pengkhianatan."Rivan menarik diri sedikit, memberikan ruang bagi Kania untuk bernapas. Dia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah ponsel milik Kania yang sudah dia sita. Dia menyalakannya dan memperlihatkan sebuah pesan suara yang baru masuk."Denga
"Bagus. Kebencian adalah perasaan yang sangat kuat, Kania. Setidaknya dengan begitu, namaku akan terus ada di kepalamu setiap detik, melekat lebih kuat daripada rasa cinta mana pun yang pernah kamu punya.""Aku tidak akan menandatanganinya! Lebih baik aku mati!""Oh, aku tidak akan membiarkanmu mati secepat itu. Masih banyak malam yang harus kita lewatkan bersama di rumah ini." Rivan melangkah keluar, tetapi suaranya masih menggema tajam di dalam ruangan itu. "Cepat putuskan, Kania. Detik terus berjalan, dan aku tidak tahu seberapa sabar anak buahku di sana memperlakukan Papa-mu yang sudah tua itu."Pintu tertutup dengan dentuman keras, meninggalkan Kania sendirian dalam keheningan yang menyesakkan. Bau wangi parfum Rivan masih memenuhi udara, merasuk ke dalam pori-porinya, seolah-olah menandai bahwa mulai detik ini, identitasnya telah terhapus.Kania menatap nanar ke arah dokumen itu. Jemarinya meraih pinggiran selimut, mencoba mencari perlindungan yang mustahil didapat. Dia melihat
Rasa dingin itu merayap perlahan dari ujung kaki, menelusuri betis, hingga berhenti tepat di perut bawah yang terasa kosong. Kania tersentak, kelopak matanya yang terasa seberat timah dipaksa terbuka. Cahaya lampu gantung kristal yang temaram di atas sana membuat kepalanya langsung berdenyut nyeri, seolah-olah ada ribuan jarum yang sengaja ditancapkan di pelipisnya secara bersamaan. Dia mencoba menggerakkan lengannya, tetapi tekstur kain yang bersentuhan dengan kulitnya terasa asing. Terlalu halus, terlalu mahal, dan di balik selimut sutra berwarna abu-abu arang itu, Kania menyadari satu hal yang membuat darahnya mendadak membeku, dia benar-benar terbaring tanpa sehelai benang pun ."Oh, astaga ... tidak, tidak, tidak ….""Kamu sudah bangun?"Suara itu rendah, berat, dan datang dari sudut ruangan yang gelap. Kania merentangkan selimut setinggi mungkin, menutupi dadanya yang naik-turun dengan cepat. Di sana, di sebuah kursi kulit bergaya industrial, seorang pria duduk dengan santai s







