LOGINSuasana di dalam kamar rawat kembali tenggelam dalam keheningan, namun kali ini kesunyian itu terasa jauh lebih berat dan menyesakkan. Surat yang ditinggalkan Bu Ratih masih tergenggam erat di tangan Rivan, kertas tua di dalamnya bahkan sedikit berkerut karena cengkeraman tangannya yang makin mengencang menahan gejolak batin.Di sisi lain, Kania masih berdiri mematung di tempat. Pandangannya terpaku pada satu kalimat terakhir yang tertulis jelas di atas kertas itu:“Jangan percaya segala kata yang diucapkan Armand. Karena di malam kejadian itu, ia tidak datang sendirian.”Sebuah kalimat yang terlihat sederhana, namun cukup untuk mengguncang dan memutarbalikkan segala kebenaran yang baru saja mereka ketahui dan yakini.“Apa maksud kalimat itu sebenarnya?” bisik Kania pelan, hampir terdengar seperti ia sedang bertanya pada dirinya sendiri.Tak ada seorang pun yang menjawab. Bukan karena mereka tak tahu, melainkan karena tak ada satu pun di antara mereka yang memiliki jawabannya. Atau mu
Seluruh ruangan seketika membeku, benar‑benar tak bergerak sedikitpun. Tak ada yang bicara, tak ada yang mengubah posisi, karena kalimat terakhir yang keluar dari mulut Kelia masih tergantung tajam di udara:“Bu Ratih hilang.”Kania langsung berdiri dengan gerakan yang terlalu cepat, sampai‑sampai kursi di belakangnya bergeser dan menimbulkan bunyi keras memecah keheningan.“Apa maksudmu bilang dia hilang?” suaranya pecah. Untuk pertama kalinya sejak segala kebenaran mulai terungkap, rasa takut kembali menguasai hatinya sepenuhnya. Bu Ratih bukan sekadar saksi peristiwa, bukan sekadar pengurus panti asuhan—wanita tua itu adalah satu‑satunya orang yang masih menjadi jembatan penghubung antara dirinya dan masa lalu yang sebenarnya. Dan kini, orang yang paling berharga itu lenyap begitu saja.“Kelia,” suara Rivan terdengar rendah dan mengandung bahaya, “jelaskan semuanya.”“Seluruh kamera pengawas di rumah sakit mati selama sembilan menit, dan sistem listrik cadangan pun gagal menyala sa
Ruangan kecil itu terasa semakin sempit dan pengap. Tidak ada yang berbicara, tidak ada yang bergerak. Satu-satunya hal yang terdengar hanyalah tarikan napas berat dari orang-orang yang berada di dalam sana. Dan di tengah keheningan itu, satu pertanyaan masih menggantung tajam di udara:"Kalau begitu... kenapa kamu pergi?"Tatapan Kania tak bergeser sedikit pun. Sudah terlalu banyak kebohongan, terlalu banyak rahasia yang disembunyikan darinya. Kali ini, ia tak akan beranjak sebelum mendengar jawaban yang sebenarnya.Armand Hardian memejamkan mata dalam waktu yang terasa begitu lama, seolah sedang berusaha mengumpulkan keberanian yang selama sepuluh tahun terakhir tak pernah berhasil ia miliki."Aku tidak pergi karena aku menginginkannya," akhirnya kata itu keluar. Suaranya pelan dan parau.Namun hati Kania tak lagi mudah percaya seperti dulu. "Tetap saja, Papa pergi. Tetap saja, Papa meninggalkanku sendirian di sana," bisiknya, dan matanya mulai terasa panas menahan tangis."Aku tahu
Ruangan kerja itu mendadak terasa begitu sempit dan pengap. Tidak ada yang berbicara, tidak ada yang bergerak. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah gemuruh hujan di luar jendela, dan detak jarum jam tua yang bergema pelan dari sudut ruangan.Kania masih terpaku menatap lembaran dokumen di tangannya. Jari-jemarinya mulai terasa dingin, namun matanya tak beralih, terus membaca baris yang sama berulang kali. Seolah ia berharap tulisan itu akan berubah, seolah berharap nama di sana hanyalah kekeliruan administrasi, seolah berharap semua ini hanyalah mimpi buruk yang akan segera lenyap.Namun semuanya tetap sama.PENGAJU OBSERVASI AWALARMAND HARDIANNama ayahnya. Nama yang selama bertahun-tahun ia cari, rindukan, tangisi, dan tanyakan ke mana-mana. Kini berdiri tepat di hadapannya dalam wujud yang paling menyakitkan."Kania..." panggil Rivan pelan, namun wanita itu tak juga bergerak, matanya masih terkunci pada kertas tua itu. "Kania."Sekali lagi ia dipanggil, namun tak ada jawaba
Lorong rumah sakit itu mendadak terasa jauh lebih dingin. Tidak ada yang bicara, tidak ada yang bergerak. Semua tatapan tertuju pada layar tablet di tangan Rivan, terkunci pada sebuah foto lama yang kusam.Foto Kania saat berusia lima belas tahun.Di sana, ia masih mengenakan seragam Lentera Harapan. Ia masih tersenyum—sebuah senyum polos dari seorang gadis yang belum tahu bahwa hidupnya sedang dicatat, diamati, dan dijadikan bagian dari eksperimen yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri.Namun, yang membuat bulu kuduk meremang adalah kalimat yang tertulis tepat di bawah foto itu:"Luna akhirnya pulang."Kania merasakan tenggorokannya mengering seketika. Ia belum merasa takut sepenuhnya; ia lebih merasa seperti seseorang yang baru saja menyadari bahwa pemangsa yang selama ini mengintainya di kegelapan, kini telah berhenti bersembunyi."Rekamannya asli?" suara Rivan terdengar rendah dan sangat dingin.Kelia mengangguk mantap. "Asli, Bos.""Kapan diambil?""Tiga puluh satu menit yang
Hujan masih terus mengguyur Kyoto, namun kini tidak ada seorang pun di dalam ruangan itu yang benar-benar memperhatikannya. Seluruh atensi mereka tersedot oleh satu nama yang baru saja muncul—nama yang sanggup mengubah segalanya dalam sekejap.Profesor Surya Mahendra.Ruangan rawat yang semula terasa hangat mendadak berubah menjadi dingin dan mencekam. Kania memang belum pernah mendengar nama itu sebelumnya, namun melihat bagaimana Bu Ratih menangis terisak, bagaimana tubuh Rivan membeku seketika, dan bagaimana Kelia langsung bertindak menghubungi timnya tanpa diperintah, ia tahu satu hal: nama itu bukan nama biasa."Dia... masih hidup?" suara Kania terdengar kecil, hampir seperti bisikan.Bu Ratih memejamkan mata dalam waktu yang lama, lalu mengangguk pelan. "Saya pikir dia sudah mati," bisiknya lirih. "Kami semua mengira begitu. Tapi kalau dia bisa muncul sekarang... itu berarti dia memang tidak pernah benar-benar berhenti."Hening kembali melanda. Rivan berdiri di dekat jendela den







