공유

OBSESI sang Berondong HYPER
OBSESI sang Berondong HYPER
작가: Ziya_Khan21

KR 1. Pemuda Gila!

작가: Ziya_Khan21
last update 게시일: 2026-04-07 23:02:13

Rasa dingin itu merayap perlahan dari ujung kaki, menelusuri betis, hingga berhenti tepat di perut bawah yang terasa kosong. Kania tersentak, kelopak matanya yang terasa seberat timah dipaksa terbuka. 

Cahaya lampu gantung kristal yang temaram di atas sana membuat kepalanya langsung berdenyut nyeri, seolah-olah ada ribuan jarum yang sengaja ditancapkan di pelipisnya secara bersamaan. Dia mencoba menggerakkan lengannya, tetapi tekstur kain yang bersentuhan dengan kulitnya terasa asing. Terlalu halus, terlalu mahal, dan di balik selimut sutra berwarna abu-abu arang itu, Kania menyadari satu hal yang membuat darahnya mendadak membeku, dia benar-benar terbaring tanpa sehelai benang pun .

"Oh, astaga ... tidak, tidak, tidak …."

"Kamu sudah bangun?"

Suara itu rendah, berat, dan datang dari sudut ruangan yang gelap. Kania merentangkan selimut setinggi mungkin, menutupi dadanya yang naik-turun dengan cepat. 

Di sana, di sebuah kursi kulit bergaya industrial, seorang pria duduk dengan santai sambil menyesap cairan amber dari gelas kristal. Rivan Aryawiguna. Mata pria itu, yang hanya berusia dua puluh tiga tahun, tetapi menyimpan tatapan predator tua, terkunci tepat pada manik mata Kania.

"Rivan? Apa yang ... kenapa aku ada di sini? Di mana pakaianku?" tanya Kania, suaranya parau dan bergetar hebat.

"Sudah dihancurkan. Kamu tidak butuh pakaian lama yang baunya penuh alkohol murahan dan keringat penyesalan itu lagi," jawab Rivan enteng, dia bangkit berdiri, memperlihatkan bahu kokoh di balik kemeja hitam yang kancing atasnya sengaja dilepas.

"Kamu bercanda, kan? Aku mau pulang. Sekarang!"

"Pulang ke mana, Kania? Ke apartemen sempit yang barusan disita bank pagi ini? Atau ke rumah mantan suamimu yang sekarang sedang sibuk mengurus perceraian keduanya?"

Kania mematung. Kepalanya semakin pening, memori semalam berkelebat seperti film rusak yang diputar cepat. Hujan lebat, dentuman musik di bar. Wajah mantan suaminya yang terlihat memuakkan saat berselingkuh. Lalu ... wangi parfum ini. Wangi musk dan kayu cendana yang tajam.

"Apa yang kamu lakukan semalam?" tanya Kania lirih, air mata mulai menggenang.

"Apa yang tidak kita lakukan, maksudmu? Kamu menangis di bahuku, memohon agar aku menghapus semua memori burukmu. Dan sebagai laki-laki yang sopan, aku hanya mengabulkan permintaanmu dengan sangat, sangat mendalam.” Rivan berjalan mendekat, setiap langkah sepatunya di lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangan Kania.

"Kamu menjebakku. Aku tahu ini salah satu permainan gila kamu!"

"Menjebak? Kamu sendiri yang datang ke kantorku kemarin sore, gemetar ketakutan karena utang ayahmu menumpuk. Ingat?"

"Tapi bukan berarti aku setuju untuk tidur dengannya ... denganmu!"

"Sayangnya, tubuhmu bicara hal yang berbeda, Kania. Tanda merah di lehermu itu bukan bekas gigitan nyamuk." Rivan berhenti tepat di pinggir tempat tidur, membungkuk hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Kania yang pucat. "Dan omong-omong, kamu memanggil namaku berkali-kali. Jauh lebih sering daripada kamu memanggil nama pengecut yang pernah jadi suamimu itu."

"Berhenti ... aku mohon, berhenti."

"Kenapa berhenti sekarang saat permainan baru saja dimulai? Aku sudah membeli seluruh hidupmu dari para penagih utang itu, Kania. Sekarang, setiap helai rambutmu adalah investasiku."

"Kamu gila. Aku bisa lapor polisi! Ini penculikan, ini pemerkosaan!" teriak Kania histeris.

Rivan justru tertawa. Tawa pendek yang terdengar sangat meremehkan. Dia meletakkan gelasnya di nakas, lalu dengan gerakan kilat, tangannya mencengkeram rahang Kania, memaksa wanita itu untuk terus menatapnya.

"Silakan lapor. Tapi sebelum kamu sampai ke kantor polisi, seluruh rekaman CCTV saat kamu menyeret aku masuk ke kamar ini akan tersebar ke setiap relasi bisnis ayahmu. Bayangkan apa yang terjadi pada reputasi keluarga Hardian yang 'terhormat' itu jika mereka tahu putri tunggalnya menjual tubuh pada pemuda lima tahun lebih muda demi beberapa milyar rupiah."

"Aku tidak pernah ... aku tidak mungkin melakukannya …."

"Alkohol punya cara unik untuk mengeluarkan kejujuran, Kania. Kamu mendambakan keamanan. Kamu mendambakan kekuatan. Dan sekarang, aku adalah satu-satunya hal di dunia ini yang memberimu keduanya."

"Kamu bukan penyelamatku, Rivan. Kamu iblis."

"Mungkin. Tapi iblis inilah yang akan membayari biaya rumah sakit ibumu minggu depan. Iblis inilah yang akan memastikan mantan suamimu tidak akan pernah bisa mendapatkan pekerjaan lagi di negara ini."

Kania merasakan paru-parunya mengecil. Dia tidak bisa bernapas. Dia terjepit antara kemarahan yang membakar dan kenyataan pahit bahwa pria di hadapannya ini benar-benar memegang kendali atas hidupnya yang sudah hancur lebur.

"Apa mau kamu? Kenapa harus aku?" tanya Kania dengan suara yang hampir menghilang.

"Kenapa, ya?" Rivan mengusap pipi Kania dengan ibu jarinya, gerakannya lembut, tetapi terasa seperti ancaman maut. "Mungkin karena sejak aku berumur sepuluh tahun, saat melihatmu menangis di pemakaman kakekku, aku sudah memutuskan bahwa tidak ada orang lain yang boleh melihat air matamu kecuali aku."

"Kamu ... kamu sudah memperhatikanku sejak lama?"

"Aku tidak hanya memperhatikanmu, Kania. Aku merancang duniamu. Kamu pikir kebetulan suamimu ketahuan selingkuh di saat yang sama perusahaan ayahmu bangkrut? Tidak, sayang. Aku hanya mempercepat takdir."

Darah Kania serasa berhenti mengalir. Napasnya tercekat di tenggorokan. "Apa kamu bilang? Jadi kamu ... kamu yang menghancurkan pernikahanku? Kamu yang menyabotase proyek ayahku?"

"Aku hanya merapikan jalan setapak supaya kamu tidak punya pilihan lain selain lari ke arahku. Dan lihat sekarang, kamu di sini. Di ranjangku. Persis seperti yang aku bayangkan selama tiga belas tahun terakhir," bisik Rivan tepat di telinga Kania, membuat bulu kuduk wanita itu berdiri ngeri.

"Lepaskan aku! Kamu sakit, Rivan! Kamu sakit jiwa!" Kania mencoba memukul dada Rivan, tetapi dengan mudah pria itu menangkap kedua pergelangan tangannya dan menindihnya ke kasur.

"Aku sakit karena kamu, Kania. Dan kamu adalah satu-satunya obatnya. Jadi, diam dan patuhlah. Itu akan membuat proses adaptasi ini jadi jauh lebih nyaman."

"Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah sudi menjadi milikmu!"

"Benarkah? Coba lihat ke layar di depanmu itu.” Rivan menunjuk ke sebuah monitor besar yang tiba-tiba menyala di dinding depan tempat tidur.

Di layar itu, terlihat sesosok pria yang sangat dikenal Kania—ayahnya—duduk di sebuah ruangan interogasi dengan tangan terborgol. Wajah pria tua itu penuh luka lebam dan ketakutan luar biasa.

"Papa! Apa yang mereka lakukan pada Papa?" jerit Kania, air matanya kini pecah tak tertahankan.

"Itu tergantung padamu, Sayang. Satu tanda tanganmu di dokumen 'kerjasama' yang ada di meja itu, dan Papa-mu akan pulang dalam keadaan utuh sore ini. Kalau tidak ... yah, aku tidak bisa menjamin dia akan keluar dari sana dengan semua jarinya masih lengkap." Rivan melepaskan cengkeramannya, lalu berdiri dengan wajah yang kembali tenang seolah tidak baru saja mengancam nyawa seseorang.

Kania terisak hebat, tubuhnya gemetar di balik selimut sutra yang kini terasa seperti kain kafan. Dia menoleh ke arah meja kecil di dekat jendela, di mana selembar kertas dan sebuah pena emas sudah menunggu dengan sabar.

"Kenapa kamu melakukan ini padaku? Aku tidak pernah menyakitimu …," isak Kania.

"Kamu menyakitiku setiap kali kamu tersenyum pada pria lain. Kamu menyakitiku setiap kali kamu menganggapku hanya anak kecil tetangga yang tidak berarti. Sekarang, aku akan pastikan kamu hanya akan bernapas jika aku memberimu izin.” Rivan menuangkan gelas kedua, lalu berjalan menuju pintu kamar.

"Aku benci kamu, Rivan. Seumur hidupku, aku akan membencimu!"

Rivan berhenti tepat di ambang pintu, menoleh sedikit dengan seringai yang membuat detak jantung Kania berhenti seketika.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (17)
goodnovel comment avatar
SumberÃrta
ubi rivan waras ngga sihh
goodnovel comment avatar
SumberÃrta
aku kok malah kelupaan ini
goodnovel comment avatar
Bintang Ihsan
rivan melakukannya dengan pemaksaan
댓글 더 보기

최신 챕터

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 144. Rumah yang Ditemukan

    Profesor Surya berjalan perlahan menuju pintu ruang reaktor. Tidak ada yang menghentikannya, tidak ada yang memanggil namanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tampak tahu ke mana ia harus melangkah—bukan menuju penemuan, bukan mengejar obsesi, bukan mencari keabadian, melainkan menuju akhir dari segalanya.Di layar utama, angka proses terus bergerak naik:79%80%81%Namun Surya tidak terburu-buru. Langkahnya tenang, meski terasa sangat lelah—persis seperti seseorang yang telah memikul beban terlalu berat selama bertahun-tahun dan akhirnya siap melepaskannya. Sesampainya di depan pintu, ia berhenti dan menoleh perlahan, menatap satu per satu orang yang ada di ruangan: Raka, Armand, Bu Ratih, Rayhan, Kelia, Kania, hingga akhirnya pandangannya berhenti pada Rivan.“Aku menghabiskan seluruh hidupku berusaha mengalahkan kematian,” ucapnya pelan namun terdengar jelas oleh semua orang. “Aku pikir jika aku bisa memahami manusia, aku bisa memperbaiki segalanya.”Sebuah senyum pahit

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 143. Penyelamat

    Seluruh ruang inti seketika menjadi sunyi. Bukan karena bahaya yang mengancam, bukan karena mesin Elysium yang terus berjalan, dan bukan pula karena angka di layar yang terus bertambah—melainkan hanya karena satu pertanyaan sederhana.“Surya, apakah kau masih ingat siapa orang yang pertama kali menyelamatkanmu?”Untuk pertama kalinya malam itu, Profesor Surya tidak langsung menjawab. Ia tidak tersenyum mengejek, tidak memutar kata-kata, dan tidak mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia hanya terdiam. Dan reaksi itu sudah cukup membuat semua orang sadar—pertanyaan itu tepat mengenai sasaran.Angka di layar terus bergerak naik:50%51%52%Namun tidak ada satu pun yang memperhatikannya. Semua pandangan tertuju pada pria tua yang selama ini terlihat tak tergoyahkan dan penuh keyakinan. Kini, untuk pertama kalinya, terlihat sisi rapuh yang tersembunyi di balik wajahnya.“Kau sudah lupa,” kata Bu Ratih dengan nada lembut, persis seperti seorang guru yang sedang menegur muridnya, bukan seperti

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 142. Orang yang Pergi Dulu

    Angka di layar terus bergerak naik tanpa henti:34%35%36%Mesin Elysium berjalan terus, seolah tidak peduli pada ketakutan, kepanikan, atau siapa yang akan kehilangan segalanya—persis seperti obsesi yang selama ini tidak pernah berhenti berkembang.Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Semua orang memikirkan hal yang sama: jika inti sistem harus dihancurkan, maka seseorang harus tetap tinggal di sana. Dan mereka semua tahu siapa yang paling mungkin mengambil keputusan itu.“Kak…” panggil Rivan dengan suara rendah.“Tidak.”Jawaban Raka datang begitu cepat dan tegas, seolah ia sudah tahu apa yang ingin dikatakan adiknya bahkan sebelum kalimat itu keluar.“Aku belum bicara apa-apa.”“Tetap saja tidak.”Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, nada bicara Raka terdengar marah. “Kau tidak akan menjadi orang yang tinggal di sini.”Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Tidak ada yang membantah, karena mereka semua sadar—Raka sudah membaca pikiran Rivan dengan tepat.“Kau s

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 141. Pengganti

    Tidak ada yang langsung memahami makna kalimat itu, namun reaksi Raka sudah cukup menjelaskan segalanya. Pria itu tampak seolah baru mendengar mimpi buruk yang selama ini berusaha keras ia cegah.“Aku tidak pernah mencari penerus. Aku hanya mencari pengganti.”“Rayhan!” panggil Raka dengan nada tegang. “Matikan sistemnya sekarang!”“Sedang kucoba.”Rayhan segera berlari ke panel utama, jemarinya bergerak cepat menelusuri layar dan memasukkan rangkaian kode. Namun hanya dalam hitungan detik, ekspresinya berubah menjadi gelisah.“Tidak bisa. Dia sudah mengunci semuanya dari inti sistem.”Darah seketika terasa dingin di sekujur tubuh mereka.“Apa yang sedang dipindahkan?” tanya Rivan.Suaranya terdengar tenang, bahkan tidak ada nada panik di dalamnya—justru itulah yang membuat suasana terasa semakin berat, karena jelas ia sedang memaksakan diri untuk tetap berpikir jernih.Profesor Surya menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. “Akhirnya kau mengajukan pertanyaan yang tepat.”Raka melangk

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 140. Mencari Pengganti

    Tidak ada yang menjawab, tidak ada yang bergerak. Kalimat Profesor Surya bukan sekadar pertanyaan, melainkan sebuah ancaman yang menyentuh inti rahasia terbesar.“Bagaimana kalau aku jelaskan mengapa hanya Rivan yang bisa bertahan hidup, sementara semua subjek lain meninggal atau hancur?”Dan untuk pertama kalinya, Kania melihat sesuatu yang baru—ketakutan yang terlihat jelas di wajah Raka, bukan karena bahaya yang mengancam dirinya sendiri, melainkan karena apa yang akan diungkapkan tentang Rivan.“Diam.”Suara Raka terdengar sangat dingin dan tegas.Surya hanya tersenyum tipis, namun kali ini senyum itu tidak sampai ke matanya. Ia tahu persis bahwa ia baru saja menyentuh luka yang selama ini ditutup rapat oleh semua orang.“Kau takut?” gumamnya sambil menatap Raka.“Aku tidak takut, aku hanya muak melihat permainanmu,” jawab Raka cepat.“Kalau begitu, mengapa selama ini kau tidak pernah menceritakannya padanya?”Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku. Surya benar—Raka tahu kebe

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 139. Sang Penyelamat

    Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang bersuara. Kalimat terakhir yang diucapkan Armand menggantung di udara, terasa begitu berat dan sulit untuk diterima. “Ceritakan padanya siapa yang sebenarnya menyelamatkannya pada malam kebakaran itu.” Semua pandangan langsung tertuju pada Raka—Kania, Rayhan, Kelia, bahkan Rivan sendiri. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di ruang inti, Raka terlihat seperti seseorang yang ingin menghindari menjawab sebuah pertanyaan. “Kak…” Suara Rivan terdengar pelan, namun cukup untuk membuat suasana menjadi semakin sunyi. “Apa maksudnya?” Raka memejamkan matanya lama, seolah sedang kembali menelusuri kenangan malam yang telah menghantuinya selama sepuluh tahun: malam yang dipenuhi asap tebal, kobaran api, suara jeritan, dan sebuah pilihan berat yang seharusnya tidak dipikul oleh siapa pun. “Kak?” panggil Rivan lagi, kali ini nadanya terdengar lebih dalam dan menyimpan luka. Akhirnya Raka membuka matanya dan mengembuskan napas panjang. “Orang

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 101. Abian yang Sebenarnya

    Rumah sakit itu sunyi, hanya menyisakan suara detak jantung mekanis dari monitor di samping ranjang Bu Ratih. Cahaya lampu yang temaram menyinari wajah wanita tua itu, membuatnya tampak jauh lebih rapuh daripada beberapa jam yang lalu. Kania duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Bu

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 98. Bertemu Ratih

    Pagi di Kyoto kembali datang bersama rintik hujan. Seolah kota ini ikut menyimpan terlalu banyak rahasia yang tak kunjung selesai. Kania terbangun lebih awal, tetapi kali ini bukan karena mimpi buruk atau potongan ingatan yang menghantam kepalanya. Ia terbangun karena sesuatu yang jauh lebih sede

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 84. Maaf yang Terlambat

    Hujan di Kyoto turun semakin deras, seolah langit sedang ikut berduka. Udara dingin malam menusuk kulit, tetapi tidak ada yang lebih dingin daripada tatapan Kania saat ini.Tatapan yang beberapa jam lalu masih terasa hangat. Penuh ketenangan. Penuh rasa "rumah". Namun sekarang, tatapan itu kosong.

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 72. Ingin Bersamamu

    Tangannya perlahan naik lagi menyentuh pelipis Rivan, tempat bekas luka kecil itu kini sudah berhenti berdarah, hanya menyisakan jejak merah yang samar. “Kau harus lebih hati-hati mulai sekarang,” bisik Kania. “Jangan sembarangan mempertaruhkan nyawamu lagi.” 

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status