LOGINPagi hari di Mansion Vanderwick tak pernah sepi dari ketegangan, namun kali ini ada sesuatu yang terasa berbeda di udara. Lala terbangun dengan sisa-sisa aroma parfum maskulin Alistair yang seolah masih tertinggal di indra penciumannya. Ingatan semalam saat pria kaku itu menjadikannya sandaran di tengah aroma alkohol yang menyengat membuat pipi Lala memanas seketika.
Lala menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Ia masih tidak habis pikir, pria yang biasanya sedingin es itu bisa terlihat begitu rapuh. Bayangan Alistair yang berdiri diam di depan gerbang mansion semalam, menemui seorang wanita misterius di balik hujan yang turun samar, terus menghantui pikirannya. Lala ingat bagaimana wanita itu Elena menatap Alistair dengan penuh harap, memintanya datang ke pernikahan yang akan segera digelar. Namun, semua kehangatan dan rasa penasaran itu menguap saat ia tiba di ruang makan pagi ini. Alistair sudah kembali menjadi "Monster" yang kaku di balik koran paginya. "Mikala, buatkan saya kopi lagi. Tidak pakai gula, tidak pakai drama," ucap Alistair tanpa menoleh sedikit pun. Suaranya datar, seolah kejadian emosional semalam hanyalah halusinasinya belaka. Lala mendengus, bibirnya mengerucut kesal sambil mengaduk kopi di dapur dengan gerakan kasar. "Dih, semalam saja manja kayak kucing minta puk-puk, sekarang galaknya kumat lagi. Dasar bunglon!" Alistair tersedak kopi hitamnya. Ia melirik tajam ke arah Lala yang baru saja meletakkan cangkir dengan hentakan kecil. Lala bisa melihat semburat merah tipis di ujung telinga pria itu, sebuah tanda yang jarang sekali terlihat. "Lupakan kejadian semalam. Saya hanya... sangat kelelahan," dalih Alistair, kembali memfokuskan matanya pada berita ekonomi di koran. "Iya, si paling lelah," gumam Lala malas. Ia tahu Alistair sedang berbohong. Pria itu tidak lelah karena pekerjaan, tapi lelah karena hatinya sedang terkoyak oleh selembar kertas undangan berwarna emas yang ia temukan kemarin. "Oh iya, Om. Hari ini Lala mau main ke tempat Sisi kerja, boleh ya? Sebentar saja, Lala kangen!" Melihat mata bulat yang mulai berkaca-kaca itu, pertahanan Alistair runtuh. Ada sesuatu pada diri Lala yang selalu berhasil menembus dinding pertahanannya, bahkan di saat ia sedang dalam suasana hati terburuk sekalipun. "Satu jam. Leon akan mengantarmu. Jangan berani kabur atau hutangmu saya lipat gandakan." Satu jam kemudian, di sebuah restoran bergaya klasik di pusat kota, suasana terasa begitu mencekam. Sisi duduk mematung di meja nomor lima, wajahnya merah padam menahan amarah sekaligus rasa takut yang hebat. Di depannya, Kenzo duduk dengan gaya pongah, menyilangkan kaki sambil menatap Sisi seolah gadis itu adalah mangsa yang paling menarik yang pernah ia temukan. "Tuan Kenzo, tolong... saya mau kerja," cicit Sisi berusaha berdiri, namun cekalan tangan Kenzo di pergelangan tangannya terasa seperti borgol besi. "Aku sudah membayar waktumu hari ini, Kelinci Kecil. Duduk dan diam di depanku," suara Kenzo rendah, namun penuh penekanan yang membuat bulu kuduk Sisi berdiri. "Sisi tidak suka! Hutang Sisi sudah dibayar Om-nya Lala! Kenapa Tuan masih mengganggu?" Sisi berusaha menarik tangannya, namun sia-sia. Kenzo terkekeh tengil, menunjukkan seringai yang sangat menyebalkan. "Karena aku punya uang, aku bebas melakukan apa pun. Termasuk membelimu untuk sekadar duduk di sini." Sisi baru saja akan meledak saat tiba-tiba suara melengking yang sangat ia kenali memecah suasana tegang itu. "SISI! KAMU KENAPA?!" Lala datang bak pahlawan kesiangan. Ia langsung berlari dan menarik Sisi dari kungkungan Kenzo dengan tenaga yang tak terduga. "Woi, Om Tatoan! Jangan ganggu sahabatku! Dia mau cari duit halal, bukan mau jadi peliharaan Om!" Kenzo mendongak, matanya yang tajam bertemu dengan tatapan berani Lala. Ia mendengus remeh, sama sekali tidak merasa terancam oleh keberadaan bocah di depannya. "Wah, bocah berisik milik Alistair datang. Beritahu tuanmu, aku hanya sedang 'menjaga' hartaku agar tidak lecet." "Harta apaan! Sisi itu manusia, bukan barang!" balas Lala tak mau kalah, ia berkacak pinggang di depan Kenzo yang jauh lebih tinggi. Ketegangan itu memuncak saat sebuah Rolls-Royce hitam berhenti tepat di depan pintu kaca restoran. Alistair Vanderwick turun dengan aura intimidasi yang begitu kuat, membuat para pelanggan lain refleks menundukkan kepala. Ia langsung berjalan masuk dan berdiri di samping Lala, melindungi gadis itu seperti benteng yang tak tergoyahkan. "Kenzo, jangan membuat keributan di wilayahku," ucap Alistair dingin, matanya menatap tajam ke arah sepupunya itu. Kenzo berdiri, menantang kakak sepupunya itu dengan senyum miring yang provokatif. "Kenapa? Apa aku mengganggu 'mainan' kecilmu, Kak? Dia terlalu berisik untuk ukuran seorang pembantu." "Dia bukan mainan. Dia tanggung jawabku," balas Alistair tegas, menarik Lala ke belakang punggungnya. Lala sempat merasa jantungnya berhenti berdetak. Kata-kata "tanggung jawabku" bergema di kepalanya, membuatnya merasa sangat dihargai. Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa detik sebelum akhirnya hancur berkeping-keping. Seorang wanita cantik dengan gaun elegan masuk ke restoran. Langkah kakinya terdengar anggun di atas lantai marmer, aroma parfum mahalnya yang elegan langsung mendominasi ruangan. Wajah itu... wajah yang sama dengan wanita yang semalam memohon di depan gerbang mansion. "Alistair? Kamu di sini?" Suara itu lembut, sangat dewasa, dan penuh dengan emosi yang sulit dijelaskan. Lala merasakan tubuh Alistair menegang seketika. Genggaman tangan pria itu di lengan Lala mengeras, nafasnya mendadak berat dan tidak beraturan. "Elena?" gumam Alistair pelan. Ada nada yang tak pernah Lala dengar sebelumnya keluar dari mulut Alistair. Itu bukan nada kemarahan, bukan juga kedinginan. Itu adalah campuran antara keterkejutan, luka mendalam, dan sisa-sisa kerinduan yang belum tuntas terselesaikan oleh waktu. Lala menatap wanita itu dari balik punggung Alistair. Elena begitu sempurna, tampak seperti dewi yang turun ke bumi dengan keanggunan yang alami. Lalu Lala menatap dirinya sendiri hanya seorang bocah dengan kuncir kuda yang berantakan dan baju yang tidak ada harganya jika dibandingkan dengan gaun Elena. Ia melihat cara Alistair menatap Elena. Tatapan itu begitu dalam, begitu intens, seolah seluruh dunia hanya berisi mereka berdua. Tatapan yang selama ini Lala dambakan, namun tidak pernah ia dapatkan. Detik itu juga, ada rasa nyeri yang menghujam ulu hati Lala, lebih perih daripada saat ia dimarahi Alistair. Ia merasa sangat kecil di sana, seolah keberadaannya di samping Alistair barusan hanyalah sebuah kekeliruan besar. Ia merasa seperti debu di antara dua berlian yang sedang beradu sinar. Jadi ini alasan Om Galak sampai mabuk semalam? Dia cantik sekali... pantas aku cuma dianggap bocah pengganggu, batin Lala sedih. Perlahan, Lala melepaskan pegangannya pada jas mahal Alistair. Ia mundur satu langkah, lalu dua langkah, memberikan jarak yang cukup luas. Ia sadar, di panggung ini, dirinya bukanlah pemeran utama. Elena tersenyum tipis, menatap Alistair dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu secepat ini setelah pembicaraan singkat kita di depan gerbang semalam. Alistair... apa kau sudah memikirkan permintaanku? Aku sangat berharap kau bisa datang. Kehadiranmu sangat berarti bagiku, lebih dari siapa pun." Alistair terdiam. Wajahnya kembali datar, namun sorot matanya yang bergetar tidak bisa berbohong. Ia melirik sekilas ke arah Lala yang sudah menjauh, lalu kembali menatap Elena dengan tatapan dingin yang dipaksakan. "Kenapa aku harus datang ke tempat yang hanya akan membuka luka lama, Elena?" suara Alistair terdengar berat. "Karena kau satu-satunya orang yang pernah membuatku mengerti arti cinta sejati, bahkan jika akhirnya aku memilih jalan yang berbeda," sahut Elena lembut, mulai melangkah mendekat ke arah Alistair. Lala yang mendengar itu merasa sesak napas. Ia tidak sanggup lagi berdiri di sana menyaksikan drama masa lalu yang begitu menyakitkan. Tanpa pamit, Lala berbalik dan berlari keluar restoran, mengabaikan teriakan Sisi yang memanggil namanya. Alistair hendak mengejar Lala, namun tangan Elena dengan cepat menahan lengannya. "Biarkan dia, Alistair. Kita perlu bicara. Ini tentang alasan kenapa aku pergi dan kenapa aku kembali."Halo teman-teman jangan lupa tinggalkan saran yang menurut kalian bisa membantu perkembangan cerita ini terimakasih~
Di sebuah kapel pribadi milik keluarga besar Vanderwick, suasana terasa intim namun sangat mewah. Hanya ada keluarga inti di sana. Laurent Vanderwick (Mommy Alistair) duduk di barisan depan dengan anggun, di samping adiknya, Timoty Moretti (ayah Kenzo), dan istrinya, Megan Moretti. Alistair berdiri di depan altar dengan jas hitam custom-made yang membuatnya terlihat sangat gagah namun dingin. Di sampingnya, Lala berdiri dengan gaun putih sederhana namun cantik. Sisi, yang hadir bersama Kenzo, tidak bisa menahan air matanya. Begitu janji suci diucapkan, Sisi langsung berlari memeluk Lala dengan erat. "Lala... aku nggak nyangka kamu nikah secepat ini..." tangis Sisi pecah. Lala, yang juga menangis sesenggukan, justru membalas dengan ucapan yang membuat suasana haru itu buyar. "Sisi... huhuhu, aku menikah duluan ya! Tapi syukurlah suamiku kaya dan tampan walaupun menyebalkan!" bisik Lala yang terdengar sampai ke telinga keluarga. "Tenang aja Si, kalau aku nggak betah, aku akan berce
“MOMMY?!" Alistair terlonjak duduk, kepalanya terasa dihantam gada besi karena hangover yang luar biasa. Dia melihat ibunya berdiri dengan wajah yang sudah memerah padam, hampir meledak. Lala refleks menarik selimut sampai ke dagu, tapi sialnya, gerakan itu justru makin memperlihatkan tanda merah keunguan yang bertebaran di leher dan tulang selangkanya. “Tuan Leon... tolong Lala," cicit Lala dengan wajah pucat, menatap Leon yang sekarang sudah menutup matanya dengan tangan, tidak kuat melihat pemandangan "berdosa" itu. Nyonya besar Vanderwick melangkah maju, sepatunya berbunyi nyaring di lantai apartemen. "Alistair! Kau menghilang seminggu hanya untuk menyekap seorang gadis di bawah umur di sini?! Kau tahu ini bisa menghancurkan reputasi keluarga kita?!" “Mom, ini tidak seperti yang Mommy lihat. Aku hanya—" Alistair melirik ke sampingnya, melihat Lala yang berantakan, dan ingatannya tentang semalam mulai kembali secara samar. Rasa bersalah langsung menghujam jantungnya. “Kalian
“Lala semoga kau berhasil,”gumam Sisi. Di meja bar restoran steak itu, Sisi menatap nanar punggung Lala yang semakin menjauh meninggalkan restoran. Bahu sahabatnya itu terlihat bergetar, dan Sisi tahu Lala sedang menahan tangis. "Apakah kau sangat khawatir dengan temanmu itu?" Suara berat Kenzo memecah lamunan Sisi. Pria itu menyesap minumannya dengan tenang, seolah drama yang baru saja terjadi hanya tontonan hiburan baginya. Sisi menoleh dengan tatapan tajam. "Tentu saja! Dia sahabatku. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Om Galak itu? Kenapa dia berubah jadi menyeramkan setelah melihat foto itu?" Kenzo terkekeh tipis, matanya menatap botol alkohol di depannya. "Elena... dia adalah cinta pertama Alistair. Tidak akan pernah ada siapapun yang bisa menggantikan kedudukannya di hati Alistair. Sekalipun itu temanmu, Baby." Hati Sisi mencelos mendengarnya. "Lalu kenapa Om itu terus membuat Lala terjebak di hidupnya? Lala bisa saja jatuh cinta dan menyakiti dirinya sendiri karena pera
Keesokan hari nya… “Om Lala gamau ya, kalau gara gara ini hutang Lala nambah!”kesal Lala kepada Alistair. “Apa kau setakut itu juga hutang mu bertambah?”heran Alistair kepada Lala saat ini di atas mobil. “Tentu Om! Untuk apa memperkaya orang yang sudah kaya, dunia ini benar benar tidak adil kan!”kesal Lala kepada Alistair. Pria itu tidak menjawab sama sekali dan hanya menatap kembali tablet nya dengan datar tanpa mempedulikan ocehan nya Lala dari tadi. “Tuan kita sudah sampai,”ucap Leon kepada Alistair. “Ikut aku.”ajak Alistair. Alistair membawa Lala ke sebuah butik mewah. Di sana, Lala di-makeover habis-habisan. “Selamat datang tuan Vanderwick. Sudah lama tidak berkunjung ah, anda datang dengan pacar baru anda ya, sepertinya lebih muda dari nona Elana,”ujar wanita itu tersenyum ramah. “Jangan sebut nama wanita itu! Atau Lala akan gigit kakak!”teriak Lala dengan kesal tapi lucu. “Ah nona, maafkan saya. Apa anda cemburu? Maafkan atas kelancangan saya, tenang saja. Saya akan
Malam itu, Mansion Vanderwick terasa sangat sunyi. Di dalam kamarnya, Lala sedang duduk meringkuk di atas tempat tidur sambil menempelkan ponsel ke telinganya. "Si... aku nggak tahan di sini. Aku mau kabur aja ke Kamboja!" rengek Lala di telepon. Di seberang sana, terdengar suara langkah kaki Sisi yang sedang berjalan pulang kerja. "Loh, kenapa lagi, La? Om CEO itu gigit kamu?" "Bukan gigit lagi, Si! Dia itu keterlaluan. Masa di depan Tante Elena yang cantik kayak bidadari itu, dia bilang aku cuma pembantu! Sakit tau, Si. Mana baju aku dibilang lusuh lagi," keluh Lala sambil mengerucutkan bibirnya. "Sabar, La. Tapi... kamu beneran nggak ada rasa sedikit pun sama Om itu?" tanya Sisi iseng. Lala terdiam sejenak, wajahnya mendadak panas. "Ya... kalau ditanya fisik sih, dia emang perfect banget, Si. Hidungnya mancung kayak perosotan TK, badannya tinggi tegap, kalau pakai jas udah kayak model majalah internasional. Matanya itu loh... kalau lagi natap dalam suka bikin jantung aku mau c
Lala berlari keluar dari restoran dengan air mata yang mulai mengaburkan pandangan. Setiap langkahnya terasa berat, seolah trotoar yang ia injak berubah menjadi rawa yang menghisapnya ke dalam keputusasaan. Ia ingin pergi sejauh mungkin, lari dari kenyataan pahit bahwa dirinya hanyalah debu yang terselip di antara kemegahan Alistair dan keanggunan Elena. Namun, baru beberapa meter menginjak trotoar yang panas, suara bariton yang sangat ia kenali menggelegar, menghentikan detak jantungnya sesaat. "Mikala! Masuk ke mobil sekarang!" bentak Alistair dari ambang pintu restoran. Suaranya tidak membentak dengan nada peduli, melainkan seperti perintah mutlak seorang tuan kepada bawahannya. Lala berhenti, bahunya bergetar hebat. Ia hendak membantah, ingin sekali ia berteriak bahwa ia bukan budak yang bisa disuruh-suruh, tapi Leon sudah sigap berdiri di sampingnya dengan wajah cemas yang tertahan. Dengan hati yang hancur berkeping-keping, Lala terpaksa memutar arah. Ia melangkah kembali dan







