Beranda / Romansa / OM CEO, I LOVE YOU! / Bab 6 - Bayang bayang masa lalu

Share

Bab 6 - Bayang bayang masa lalu

Penulis: BabyCaca
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-08 17:15:05

Pagi hari di Mansion Vanderwick tak pernah sepi dari ketegangan, namun kali ini ada sesuatu yang terasa berbeda di udara. Lala terbangun dengan sisa-sisa aroma parfum maskulin Alistair yang seolah masih tertinggal di indra penciumannya. Ingatan semalam saat pria kaku itu menjadikannya sandaran di tengah aroma alkohol yang menyengat membuat pipi Lala memanas seketika.

Lala menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Ia masih tidak habis pikir, pria yang biasanya sedingin es itu bisa terlihat begitu rapuh. Bayangan Alistair yang berdiri diam di depan gerbang mansion semalam, menemui seorang wanita misterius di balik hujan yang turun samar, terus menghantui pikirannya. Lala ingat bagaimana wanita itu Elena menatap Alistair dengan penuh harap, memintanya datang ke pernikahan yang akan segera digelar.

Namun, semua kehangatan dan rasa penasaran itu menguap saat ia tiba di ruang makan pagi ini. Alistair sudah kembali menjadi "Monster" yang kaku di balik koran paginya.

"Mikala, buatkan saya kopi lagi. Tidak pakai gula, tidak pakai drama," ucap Alistair tanpa menoleh sedikit pun. Suaranya datar, seolah kejadian emosional semalam hanyalah halusinasinya belaka.

Lala mendengus, bibirnya mengerucut kesal sambil mengaduk kopi di dapur dengan gerakan kasar. "Dih, semalam saja manja kayak kucing minta puk-puk, sekarang galaknya kumat lagi. Dasar bunglon!"

Alistair tersedak kopi hitamnya. Ia melirik tajam ke arah Lala yang baru saja meletakkan cangkir dengan hentakan kecil. Lala bisa melihat semburat merah tipis di ujung telinga pria itu, sebuah tanda yang jarang sekali terlihat.

"Lupakan kejadian semalam. Saya hanya... sangat kelelahan," dalih Alistair, kembali memfokuskan matanya pada berita ekonomi di koran.

"Iya, si paling lelah," gumam Lala malas. Ia tahu Alistair sedang berbohong. Pria itu tidak lelah karena pekerjaan, tapi lelah karena hatinya sedang terkoyak oleh selembar kertas undangan berwarna emas yang ia temukan kemarin. "Oh iya, Om. Hari ini Lala mau main ke tempat Sisi kerja, boleh ya? Sebentar saja, Lala kangen!"

Melihat mata bulat yang mulai berkaca-kaca itu, pertahanan Alistair runtuh. Ada sesuatu pada diri Lala yang selalu berhasil menembus dinding pertahanannya, bahkan di saat ia sedang dalam suasana hati terburuk sekalipun. "Satu jam. Leon akan mengantarmu. Jangan berani kabur atau hutangmu saya lipat gandakan."

Satu jam kemudian, di sebuah restoran bergaya klasik di pusat kota, suasana terasa begitu mencekam. Sisi duduk mematung di meja nomor lima, wajahnya merah padam menahan amarah sekaligus rasa takut yang hebat. Di depannya, Kenzo duduk dengan gaya pongah, menyilangkan kaki sambil menatap Sisi seolah gadis itu adalah mangsa yang paling menarik yang pernah ia temukan.

"Tuan Kenzo, tolong... saya mau kerja," cicit Sisi berusaha berdiri, namun cekalan tangan Kenzo di pergelangan tangannya terasa seperti borgol besi.

"Aku sudah membayar waktumu hari ini, Kelinci Kecil. Duduk dan diam di depanku," suara Kenzo rendah, namun penuh penekanan yang membuat bulu kuduk Sisi berdiri.

"Sisi tidak suka! Hutang Sisi sudah dibayar Om-nya Lala! Kenapa Tuan masih mengganggu?" Sisi berusaha menarik tangannya, namun sia-sia.

Kenzo terkekeh tengil, menunjukkan seringai yang sangat menyebalkan. "Karena aku punya uang, aku bebas melakukan apa pun. Termasuk membelimu untuk sekadar duduk di sini."

Sisi baru saja akan meledak saat tiba-tiba suara melengking yang sangat ia kenali memecah suasana tegang itu.

"SISI! KAMU KENAPA?!"

Lala datang bak pahlawan kesiangan. Ia langsung berlari dan menarik Sisi dari kungkungan Kenzo dengan tenaga yang tak terduga. "Woi, Om Tatoan! Jangan ganggu sahabatku! Dia mau cari duit halal, bukan mau jadi peliharaan Om!"

Kenzo mendongak, matanya yang tajam bertemu dengan tatapan berani Lala. Ia mendengus remeh, sama sekali tidak merasa terancam oleh keberadaan bocah di depannya. "Wah, bocah berisik milik Alistair datang. Beritahu tuanmu, aku hanya sedang 'menjaga' hartaku agar tidak lecet."

"Harta apaan! Sisi itu manusia, bukan barang!" balas Lala tak mau kalah, ia berkacak pinggang di depan Kenzo yang jauh lebih tinggi.

Ketegangan itu memuncak saat sebuah Rolls-Royce hitam berhenti tepat di depan pintu kaca restoran. Alistair Vanderwick turun dengan aura intimidasi yang begitu kuat, membuat para pelanggan lain refleks menundukkan kepala. Ia langsung berjalan masuk dan berdiri di samping Lala, melindungi gadis itu seperti benteng yang tak tergoyahkan.

"Kenzo, jangan membuat keributan di wilayahku," ucap Alistair dingin, matanya menatap tajam ke arah sepupunya itu.

Kenzo berdiri, menantang kakak sepupunya itu dengan senyum miring yang provokatif. "Kenapa? Apa aku mengganggu 'mainan' kecilmu, Kak? Dia terlalu berisik untuk ukuran seorang pembantu."

"Dia bukan mainan. Dia tanggung jawabku," balas Alistair tegas, menarik Lala ke belakang punggungnya.

Lala sempat merasa jantungnya berhenti berdetak. Kata-kata "tanggung jawabku" bergema di kepalanya, membuatnya merasa sangat dihargai. Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa detik sebelum akhirnya hancur berkeping-keping.

Seorang wanita cantik dengan gaun elegan masuk ke restoran. Langkah kakinya terdengar anggun di atas lantai marmer, aroma parfum mahalnya yang elegan langsung mendominasi ruangan. Wajah itu... wajah yang sama dengan wanita yang semalam memohon di depan gerbang mansion.

"Alistair? Kamu di sini?" Suara itu lembut, sangat dewasa, dan penuh dengan emosi yang sulit dijelaskan.

Lala merasakan tubuh Alistair menegang seketika. Genggaman tangan pria itu di lengan Lala mengeras, nafasnya mendadak berat dan tidak beraturan.

"Elena?" gumam Alistair pelan.

Ada nada yang tak pernah Lala dengar sebelumnya keluar dari mulut Alistair. Itu bukan nada kemarahan, bukan juga kedinginan. Itu adalah campuran antara keterkejutan, luka mendalam, dan sisa-sisa kerinduan yang belum tuntas terselesaikan oleh waktu.

Lala menatap wanita itu dari balik punggung Alistair. Elena begitu sempurna, tampak seperti dewi yang turun ke bumi dengan keanggunan yang alami. Lalu Lala menatap dirinya sendiri hanya seorang bocah dengan kuncir kuda yang berantakan dan baju yang tidak ada harganya jika dibandingkan dengan gaun Elena.

Ia melihat cara Alistair menatap Elena. Tatapan itu begitu dalam, begitu intens, seolah seluruh dunia hanya berisi mereka berdua. Tatapan yang selama ini Lala dambakan, namun tidak pernah ia dapatkan.

Detik itu juga, ada rasa nyeri yang menghujam ulu hati Lala, lebih perih daripada saat ia dimarahi Alistair. Ia merasa sangat kecil di sana, seolah keberadaannya di samping Alistair barusan hanyalah sebuah kekeliruan besar. Ia merasa seperti debu di antara dua berlian yang sedang beradu sinar.

Jadi ini alasan Om Galak sampai mabuk semalam? Dia cantik sekali... pantas aku cuma dianggap bocah pengganggu, batin Lala sedih. Perlahan, Lala melepaskan pegangannya pada jas mahal Alistair. Ia mundur satu langkah, lalu dua langkah, memberikan jarak yang cukup luas. Ia sadar, di panggung ini, dirinya bukanlah pemeran utama.

Elena tersenyum tipis, menatap Alistair dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu secepat ini setelah pembicaraan singkat kita di depan gerbang semalam. Alistair... apa kau sudah memikirkan permintaanku? Aku sangat berharap kau bisa datang. Kehadiranmu sangat berarti bagiku, lebih dari siapa pun."

Alistair terdiam. Wajahnya kembali datar, namun sorot matanya yang bergetar tidak bisa berbohong. Ia melirik sekilas ke arah Lala yang sudah menjauh, lalu kembali menatap Elena dengan tatapan dingin yang dipaksakan.

"Kenapa aku harus datang ke tempat yang hanya akan membuka luka lama, Elena?" suara Alistair terdengar berat.

"Karena kau satu-satunya orang yang pernah membuatku mengerti arti cinta sejati, bahkan jika akhirnya aku memilih jalan yang berbeda," sahut Elena lembut, mulai melangkah mendekat ke arah Alistair.

Lala yang mendengar itu merasa sesak napas. Ia tidak sanggup lagi berdiri di sana menyaksikan drama masa lalu yang begitu menyakitkan. Tanpa pamit, Lala berbalik dan berlari keluar restoran, mengabaikan teriakan Sisi yang memanggil namanya.

Alistair hendak mengejar Lala, namun tangan Elena dengan cepat menahan lengannya. "Biarkan dia, Alistair. Kita perlu bicara. Ini tentang alasan kenapa aku pergi dan kenapa aku kembali."

BabyCaca

Halo teman-teman jangan lupa tinggalkan saran yang menurut kalian bisa membantu perkembangan cerita ini terimakasih~

| 1
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 116 - Pelayan Vanderwick

    Senin pagi yang seharusnya menjadi hari yang sibuk bagi para pria berkuasa di Jakarta, mendadak berubah menjadi hari paling "melelahkan" dalam sejarah hidup Alistair, Kenzo, dan Elvin. Semua itu bermula saat Lala terbangun dengan raut wajah murung. Ia menolak sarapan mewah buatan koki mansion dan hanya mau duduk diam di teras belakang sambil menatap kolam renang dengan pandangan kosong. "Sayang, ada apa? Mau makan sesuatu yang lain? Atau mau beli pulau lagi hari ini?" tanya Alistair panik, berlutut di depan kursi Lala. Lala menghela napas panjang, mengusap perutnya yang sudah memasuki usia dua bulan. "Lala tidak mau pulau, Bub. Lala cuma merasa... rumah ini terlalu kaku. Lala ingin hari ini kita semua berkumpul, tapi Lala bosan dilayani pelayan berseragam." Alistair mengernyit. "Lalu?" "Lala mau Bub, Kak Kenzo, dan Dokter Elvin jadi pelayan pribadi Lala hari ini. Pakai celemek, bawa nampan, dan tidak boleh ada yang membantah. Ada Sisi dan Intan juga yang akan jadi juri," ucap Lala

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 115 - Es dawet

    Minggu pagi di Mansion Vanderwick biasanya diawali dengan aroma kopi mahal dan ketenangan yang elegan. Namun, semenjak Lala hamil dua bulan, aturan main di rumah itu berubah total. Pagi ini, udara Jakarta sedang tidak bersahabat—panas terik sudah menyengat sejak pukul sembilan pagi, membuat siapa pun ingin berendam di dalam kolam es. Lala duduk di sofa ruang tengah, terus-menerus mengipasi wajahnya dengan majalah. "Bub... panas sekali. Lala merasa seperti sedang di dalam oven," keluh Lala dengan bibir mengerucut. Alistair yang sedang memeriksa laporan keuangan di tabletnya langsung menoleh. Ia segera menaikkan suhu AC hingga maksimal. "Sudah dingin, Sayang. Masih merasa panas?" Lala menggeleng. "Bukan panas kulitnya, tapi panas dalamnya. Lala mau sesuatu yang dingin, yang manis, yang ada santannya... Oh! Lala mau es dawet ayu yang di pinggir jalan dekat gerbang komplek, Bub! Yang bapak-bapaknya pakai pikulan kayu itu!" Alistair memijat pelipisnya. Lagi-lagi permintaan yang sangat

  • OM CEO, I LOVE YOU!   BAB 114 - Kencan tepi pantai

    Akhir pekan telah tiba, membawa suasana yang jauh lebih santai di Mansion Vanderwick. Usia kehamilan Lala kini telah menginjak dua bulan. Sejauh ini, kehidupan Lala benar-benar terjamin aman dan nyaman. Alistair menepati janjinya dengan sangat luar biasa; ia tidak hanya menjaga keselamatan fisik Lala, tetapi juga menjaga kestabilan emosi istrinya yang kadang naik turun karena hormon kehamilan. Pagi itu, udara Jakarta terasa sedikit lebih sejuk. Lala terbangun dengan keinginan yang sangat spesifik. Ia tidak ingin makan nasi uduk jam dua pagi, tidak juga ingin jengkol semur. Kali ini, ia merindukan aroma laut, suara ombak, dan rasa segar dari tangkapan laut yang dibakar langsung di tepi pantai. "Bub..." panggil Lala sambil mengeratkan pelukannya pada pinggang Alistair yang masih terlelap. Alistair yang memang sangat peka dengan gerakan sekecil apa pun dari Lala, langsung membuka matanya. Ia mengecup kening istrinya dengan sayang. "Iya, Sayang? Ada yang sakit? Atau si 'anak kecebong'

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 113 - Konsultasi dadakan

    Siang itu, ruang tamu utama Mansion Vanderwick yang biasanya digunakan untuk menyambut tamu-tamu negara atau kolega bisnis kelas atas, mendadak berubah fungsi menjadi ruang konsultasi medis paling tidak lazim. Elvin, yang baru saja selesai memeriksa tekanan darah Lala, masih duduk di sofa single dengan tas medis yang terbuka di atas meja marmer. Alistair duduk di sofa panjang, merangkul pinggang Lala dengan posesif seolah-olah istrinya itu akan terbang jika tidak dipegangi. Sementara itu, Kenzo dan Sisi duduk di seberang mereka, ditemani Intan yang duduk di kursi kayu antik di sudut, berusaha terlihat tidak mencolok. "Kondisi janin dan rahim Lala sangat kuat," ucap Elvin dengan suara baritonnya yang datar, memecah keheningan ruang tamu yang luas itu. "Meski ada efek kehamilan simpatik yang membuatmu mual, Al, secara fisik Lala sangat sehat." Alistair mengangguk-angguk serius. Ia memperbaiki posisi duduknya, wajahnya tampak sangat berwibawa seolah sedang memimpin rapat merger perusa

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 112 - Para pria posesif

    Suasana di ruang makan Mansion Vanderwick benar-benar berubah menjadi panggung sandiwara yang aneh. Setelah perdebatan panas yang hampir berujung baku hantam, Alistair kini duduk dengan wajah yang ditekuk, namun tangannya tidak sedetik pun lepas dari menggenggam ujung pakaian Lala. Ia tampak seperti singa yang baru saja dijinakkan paksa, namun masih mengeluarkan geraman kecil setiap kali matanya bertemu dengan Rehan. Rehan, pria bertato dengan gaya baggy jeans-nya yang santai, baru saja selesai menghabiskan hidangan penutup. Ia menatap Alistair dengan senyum mengejek. "Kau tahu, Tuan Alistair? Wajah kaku mu itu sebenarnya cukup lucu kalau sedang menahan marah. Kenapa tidak tersenyum sedikit? Adikku bisa stres kalau melihat suaminya terlihat seperti ingin menelan orang hidup-hidup." "Bicara mu jangan sok keren," desis Alistair dengan nada benci yang kental. Rehan hanya tertawa renyah, menyandarkan punggungnya ke kursi mahal itu. "Aku memang keren, kau dengan jas mu itu yang kaku, Tu

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 111 - Siapa Rehan?

    Ketegangan di ruang tamu Mansion Vanderwick mencapai titik didih. Udara seolah membeku di sekitar Alistair. Tatapannya yang tajam terkunci rapat pada Rehan, sementara tangannya mencengkeram pergelangan tangan Lala dengan erat—bukan untuk menyakiti, melainkan sebagai tanda kepemilikan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Rehan, yang sejak tadi duduk santai, kini berdiri dengan gerakan yang tenang namun waspada. Ia tidak tampak terintimidasi oleh aura membunuh yang dipancarkan Alistair. Sebagai pria yang tumbuh di jalanan dan sering berurusan dengan sisi gelap logistik, gertakan adalah makanannya sehari-hari. Namun, ia harus mengakui bahwa pria di depannya ini memiliki jenis intimidasi yang berbeda; sebuah otoritas yang lahir dari kekuasaan tanpa batas. "Aku tanya sekali lagi," suara Alistair merendah, hampir menyerupai geraman yang keluar dari dada bidangnya. "Siapa kau, dan apa urusanmu dengan istriku?" Rehan tersenyum miring, memasukkan kedua tangannya ke saku baggy jeans-nya. "

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status