MasukSetelah kejadian dapur yang hampir meledak itu, Alistair benar-benar melarang Lala menyentuh area dapur sendirian. Pagi ini, Lala punya tugas baru sebagai "Pembantu Pribadi": Membereskan meja kerja Alistair di ruang perpustakaan pribadi yang biasanya sangat terlarang dimasuki siapapun.
"Ingat Mikala, jangan pindahkan posisi satu kertas pun. Cukup bersihkan debunya saja," peringat Alistair sebelum berangkat ke kantor. "Iya, iya, Om Galak! Bawel banget sih, lagian siapa juga yang mau baca kertas tulisan cacing gitu," gerutu Lala sambil membawa kemoceng bulu ayam. “Kenapa sih apa-apa kalau nyuruh harus marah duluan. Emosional banget, apa ga takut keriput ya?”gumam Lala kesal kepada diri nya sendiri. “Tor minitor ketua, asik. Kondisi lagi gacor ketua, asik. My trip my Adventure stop sudah jangan ko atur, kau bukan lagi donatur sekarang, lupa nama tapi masih ingat rasa ahay.”goyang Lala sambil bekerja dan bernyanyi aneh. Saat sedang asyik membersihkan rak buku, mata Lala tertuju pada sebuah laci meja yang sedikit terbuka. Karena sifat dasarnya yang sangat penasaran, Lala menarik laci itu. Di dalamnya terdapat sebuah foto lama dan sebuah undangan pernikahan mewah bertinta emas. Lala mengambil foto itu. Di sana terlihat Alistair yang tampak sedikit lebih muda dan... tersenyum. Dia sedang merangkul seorang wanita cantik bergaun putih. "Wah, ternyata si Om bisa senyum juga? Kirain otot mukanya udah kaku permanen," gumam Lala. Tapi kemudian dia melihat undangan di sampingnya. Nama wanitanya sama dengan yang di foto: Elena. Tiba-tiba pintu perpustakaan terbuka. Alistair berdiri di sana karena ada berkas yang tertinggal. Wajahnya langsung mengeras saat melihat foto itu ada di tangan Lala. “Siapa yang mengizinkanmu menyentuh itu?!" suara Alistair terdengar sangat dingin, lebih menyeramkan daripada saat dapurnya terbakar. Lala tersentak, hampir menjatuhkan foto itu. "Ma-maaf Om, tadi lacinya terbuka, Lala cuma mau tutup—" Alistair merebut foto itu dengan kasar. "Keluar!Jangan pernah masuk ke sini lagi tanpa Leon!" Lala berlari keluar dengan perasaan sedih yang tidak bisa dia jelaskan. Kenapa ya? Padahal aku cuma lihat foto, tapi kenapa hati aku rasanya sesek aja lihat Om semarah itu? “Ah kenapa aku semarah ini? Hanya karena kau Elena. Hanya karena kau,”kesal Alistair mengusap wajah nya kasar. “Tuan anda baik-baik saja? Kenapa nona Lala seperti menangis keluar dari ruangan anda?”tanya Leon bingung kepada Alistair. “Lupakan saja bocah itu, dia selalu membawa masalah. Bukan membayar hutang malah menambah, jangan ganggu aku Leon. Bawa kan minuman,”perintah Alistair duduk di sofa dan menjatuhkan diri nya. “Baik tuan,”angguk Leon pelan. Lala menghabiskan sisa harinya dengan perasaan tidak karuan. Dia mencoba menyibukkan diri dengan membantu pelayan lain menyiram bunga di taman belakang, namun pikirannya tetap tertuju pada tatapan terluka Alistair tadi. Ada rasa bersalah yang mengganjal di dadanya. Dia sadar, laci itu mungkin adalah kotak pandora yang berisi luka paling dalam bagi pria itu. Sore harinya, Lala duduk melamun di pinggir kolam renang. Biasanya dia akan sibuk menjahili Leon atau mengomentari mahalnya harga tanaman di mansion ini, tapi kali ini dia bungkam. "Nona Lala tidak makan?" tanya Leon menghampirinya. "Nanti aja Leon, Lala belum lapar. Om Alistair... belum pulang?" Leon menggeleng pelan. "Tuan sepertinya akan pulang larut. Jika Tuan sedang dalam suasana hati seperti tadi, biasanya beliau akan pergi ke bar atau hanya diam di kantor sampai pagi." Lala menunduk, memainkan air kolam dengan ujung kakinya. "Leon, siapa Elena?" Pertanyaan itu membuat Leon terdiam cukup lama. "Seseorang dari masa lalu Tuan yang seharusnya tidak pernah Nona sentuh. Sebaiknya Nona segera istirahat, besok suasana hati Tuan mungkin sudah lebih baik." Lala hanya bisa mengangguk lesu mendengar jawaban Leon yang menggantung. Dia melangkah menuju kamarnya, namun matanya sempat melirik pintu perpustakaan yang kini tertutup rapat. Ada rasa sesak yang aneh; bukan karena dimarahi, tapi karena melihat celah luka di balik topeng sombong Alistair. Lala merebahkan diri di tempat tidur mewah itu, menatap langit-langit kamar sambil memikirkan betapa mahalnya harga sebuah kenangan bagi orang kaya seperti Om Galak itu. “Ternyata uang dua miliar pun nggak bisa beli kebahagiaan ya, Om?" bisiknya pada kegelapan. Dia tidak bisa tidur, hatinya tidak tenang sebelum memastikan keadaan pria yang sudah menjadi "bos" sekaligus pusat dunianya belakangan ini. Malam Hari di Mansion. Alistair pulang sangat larut. Dia tidak langsung masuk ke kamar, melainkan duduk di teras belakang sambil menenggak minuman keras. Bayangan Elena yang akan menikah di Bali bulan depan benar-benar menghancurkan hatinya lagi. Lala yang belum tidur karena merasa bersalah, diam-diam mendekat membawa segelas air putih dan obat sakit kepala. "Om... ini diminum dulu," ucap Lala pelan, berdiri di samping kursi Alistair. Alistair mendongak. Matanya merah, bukan karena marah, tapi karena lelah menahan sakit hati. Dia menatap Lala lama, lalu tiba-tiba menarik tangan Lala sampai gadis itu duduk di pangkuannya. Lala mematung. Jantungnya berdebar kencang. "Om... Om mabuk ya?" Alistair tidak menjawab. Dia hanya menyandarkan kepalanya di pundak kecil Lala, menghirup aroma sabun stroberi yang biasa Lala pakai. "Tetap di sini sebentar saja, Mikala. Jangan banyak bicara," bisik Alistair parau. Lala yang biasanya tidak bisa diam, mendadak membisu. Dia ragu-ragu, tapi akhirnya tangannya bergerak mengelus rambut Alistair dengan lembut. "Iya Om... Lala di sini. Om jangan sedih ya, nanti jeleknya nambah," bisik Lala asal, tapi sukses membuat Alistair mengembuskan napas panjang yang terasa hangat di leher Lala. “Kenapa kau begitu berisik, bahkan di saat seperti ini," gumam Alistair pelan, tangannya tanpa sadar melingkar di pinggang Lala, memeluknya lebih erat seolah Lala adalah satu-satunya pegangan yang ia miliki di tengah badai hatinya. Lala terdiam, merasakan detak jantung Alistair yang beradu dengan detak jantungnya sendiri. Untuk pertama kalinya, Lala tidak merasa sedang bersama seorang CEO yang sombong, melainkan bersama seorang pria yang kesepian. Namun, ketenangan itu terusik saat ponsel Alistair di atas meja bergetar hebat. Sebuah pesan singkat masuk, menampilkan nama yang membuat Alistair seketika menegangkan tubuhnya. “Alistair, aku di depan gerbang. Bisakah kita bicara sebentar sebelum aku pergi ke Bali?” Lala melirik layar ponsel itu, dan matanya membelalak saat membaca nama pengirimnya: Elena. Alistair melepaskan pelukannya pada Lala dengan kasar, wajahnya kembali dingin dan kaku. Ia berdiri tanpa berkata apa-apa, meninggalkan Lala yang masih termangu di kursi teras dengan perasaan yang berkecamuk. "Om..." panggil Lala lirih, tapi Alistair sudah melangkah pergi menuju gerbang depan dengan langkah lebar. Lala tahu, malam ini damai yang baru saja ia rasakan akan kembali hancur berkeping-keping.Lala masih berdiri terpaku di anak tangga teras, menatap pria asing yang penampilannya sangat jauh dari kata "rapi" menurut standar lingkungan Vanderwick. Pria itu, dengan tato yang menjalar di lengannya dan gaya rambut belah tengah yang sedikit berantakan, menatap Lala dengan binar mata yang jenaka. Ia tampak menikmati kebingungan di wajah cantik Lala. "Siapa ya? Apa kita pernah bertemu?" tanya Lala dengan ragu. Ingatannya mencoba menyisir setiap wajah yang pernah ia kenal, namun pria di depannya ini terlihat seperti berandalan jalanan yang tampan, sementara ingatan Lala hanya dipenuhi oleh anak-anak panti yang kurus dan berpakaian lusuh. Pria itu terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar berat namun sangat akrab. Ia melangkah satu tahap lebih dekat, mengabaikan Leon yang sudah meletakkan tangannya di balik jas, siap menarik senjata jika pria itu berbuat macam-macam. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah Lala, lalu berbisik dengan nada menggoda yang sangat rendah. "Es kul-kul
Pagi itu, Mansion Vanderwick tampak sedikit lebih tenang dari biasanya. Alistair terpaksa harus meninggalkan rumah karena ada rapat dewan direksi yang sangat krusial di kantor pusat—sebuah rapat yang tidak bisa ia tunda lagi meskipun hatinya masih berat meninggalkan Lala yang sedang dalam kondisi hamil muda. Sebelum berangkat, Alistair memberikan instruksi keamanan yang sangat ketat pada Leon dan para pengawal untuk menjaga setiap sudut kediamannya. “Tugas ku sangat banyak butuh sedikit waktu refreshing atau ada kau Si dan Lala,”senyum Intan kepada Sisi. “Saking sering nya bergaul dengan suami ku seperti nya aku sedikit ketularan sifat mengatur nya,”jawab Sisi terkekeh kepada Intan. “Maksud mu?”tanya Intan heran. “Ya aku sering memarahi nya. Karena Lala hamil dia meminta aku segera hamil juga agar ada pewaris Moretti, tapi aku tetap memakan pil kb, aku belum siap jadi ibu aku merasa masih muda. Apa lagi Kenzo itu masih sangat labih,”ucap Sisi memutar bola mata nya dengan malas. “
Seminggu telah berlalu sejak kabar kehamilan Lala mengguncang Mansion Vanderwick. Jika biasanya pagi hari di kediaman itu diisi dengan keheningan yang elegan dan aroma kopi mahal, kini suasananya berubah total. Alistair Vanderwick, pria yang bisa menjatuhkan lawan bisnis hanya dengan satu kerutan dahi, kini sedang berlutut di depan kloset dengan wajah yang sangat menyedihkan. "Huekk... huekk..." Alistair membasuh mulutnya, tangannya gemetar menahan tubuhnya sendiri. Benar kata Dokter Elvin, rasa mual itu tidak hilang begitu saja. Alistair justru seolah menjadi "perwakilan" Lala untuk merasakan semua penderitaan fisik di trimester pertama. Lala masuk ke kamar mandi dengan wajah segar bugar, kontras sekali dengan suaminya. "Bub, masih mual? Maaf ya, sepertinya bayinya lebih suka bikin Bub yang olahraga pagi di kamar mandi daripada Lala." Alistair mendongak, menatap istrinya dengan tatapan sayu namun tetap penuh cinta. "Tidak apa-apa, Sayang. Lebih baik aku yang merasakannya daripada
Matahari baru saja naik setinggi galah, menyinari halaman Mansion Vanderwick yang asri. Alistair sedang duduk di teras belakang, menikmati teh chamomile yang disarankan Dokter Elvin untuk meredakan sisa-sisa mualnya. Di sampingnya, Lala sedang asyik memakan potongan buah segar sambil menyandarkan kepalanya di bahu Alistair. Suasana yang begitu damai itu tiba-tiba pecah oleh suara deru mesin Lamborghini yang sengaja digeber kencang di depan lobi. "Siapa lagi kalau bukan si berisik itu," gumam Alistair sambil meletakkan cangkir tehnya dengan helaan napas panjang. Tak butuh waktu lama, suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar mendekat. Kenzo muncul dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya, diikuti oleh Sisi yang tampak membawa beberapa tas belanjaan berlogo merk bayi ternama. Namun, yang membuat Alistair mengerutkan dahi adalah apa yang dibawa oleh dua orang pengawal Kenzo di belakang mereka. Sebuah replika baju zirah abad pertengahan berukuran kecil dan sebuah motor mini b
Lobi rumah sakit pribadi itu terasa begitu sepi dan eksklusif. Di tengah ruangan yang didominasi marmer putih, Mommy Laurent berdiri dengan anggun, meski gurat kecemasan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya yang masih cantik. Begitu melihat Alistair dan Lala keluar dari lorong area kebidanan, ia segera melangkah maju. Langkah Laurent terhenti sejenak. Ia melihat mata Alistair yang memerah—pemandangan yang sangat langka. Ia juga melihat bagaimana tangan besar putranya itu merangkul pinggang Lala dengan sangat protektif, bahkan tangan Alistair yang lain menempel secara intuitif di perut Lala. "Alistair? Bagaimana hasilnya? Kenapa kalian dari area kebidanan?" tanya Laurent dengan suara yang sedikit bergetar. Alistair terdiam sejenak. Ia menatap ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sejak menjabat sebagai CEO, ia memang sudah memaafkan Laurent. Mereka sering makan malam bersama dan Alistair selalu memastikan kebutuhan ibunya terpenuhi. Namun, keakraban mereka masih memiliki bat
Ruang pemeriksaan itu seketika menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara detak jantung janin yang masih terdengar dari mesin USG—sebuah irama kehidupan yang seharusnya membawa sorak-sorai kebahagiaan. Namun, pemandangan di depan mata Lala justru sebaliknya. Alistair, pria yang merupakan simbol kekuatan dan kekuasaan, kini tampak hancur di kursi di samping tempat tidur. Alistair menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Suara isak tangisnya tertahan, namun bahunya yang lebar itu berguncang hebat. Air mata lolos melalui celah jemarinya, membasahi jas mahal yang ia kenakan. Lala yang masih berbaring di tempat tidur pemeriksaan merasa jantungnya mencelos. Kebahagiaan yang baru saja membuncah saat melihat titik kecil di layar tadi seketika menguap, digantikan oleh rasa sesak yang menyesakkan dada. Ia segera duduk dan menyentuh lengan Alistair dengan ragu. "Bub..." suara Lala gemetar, "Kenapa menangis? Apa... apa Bub tidak suka kalau ada bayi di perut Lala?" Lala menatap Alistai







