LOGINLala berlari keluar dari restoran dengan air mata yang mulai mengaburkan pandangan. Setiap langkahnya terasa berat, seolah trotoar yang ia injak berubah menjadi rawa yang menghisapnya ke dalam keputusasaan. Ia ingin pergi sejauh mungkin, lari dari kenyataan pahit bahwa dirinya hanyalah debu yang terselip di antara kemegahan Alistair dan keanggunan Elena. Namun, baru beberapa meter menginjak trotoar yang panas, suara bariton yang sangat ia kenali menggelegar serta menghentikan detak jantungnya sesaat.
"Mikala! Masuk ke mobil sekarang!" bentak Alistair dari ambang pintu restoran. Suaranya tidak membentak dengan nada peduli, melainkan seperti perintah mutlak seorang tuan kepada bawahannya. Lala berhenti dengan bahu yang bergetar hebat. Ia hendak membantah dan ingin sekali berteriak bahwa ia bukan budak yang bisa disuruh-suruh, tapi Leon sudah sigap berdiri di sampingnya dengan wajah cemas yang tertahan. Dengan hati yang hancur berkeping-keping, Lala terpaksa memutar arah. Ia melangkah kembali dan masuk ke dalam mobil Rolls-Royce yang terparkir tepat di depan pintu kaca restoran. Lala duduk meringkuk di pojok kursi belakang yang gelap, namun pintunya belum ditutup rapat oleh Leon. Melalui celah sempit itu, ia bisa mendengar dan melihat dengan jelas saat Elena melangkah keluar untuk menyusul Alistair ke trotoar dengan langkah anggun yang seolah mengejek kekacauan perasaan Lala. Lala menyandarkan kepalanya di kaca jendela yang dingin, matanya menatap nanar ke arah dua orang yang berdiri di luar sana. Dari kejauhan, melalui dinding kaca restoran, Alistair masih berdiri mematung di hadapan Elena. Cahaya matahari yang masuk melalui kaca restoran membuat mereka terlihat sangat serasi yaitu seperti sepasang pangeran dan putri dari negeri dongeng yang sedang mengalami konflik romantis yang elegan. Aku ini apa sih? Cuma bocah yang punya hutang dua miliar. Mau saingan sama Tante Elena? Mimpi kali ya, batin Lala sambil mengusap air matanya kasar menggunakan punggung tangan. “Jangan bersedih, Nona Lala. Wanita itu hanya masa lalu Tuan Al. Dia telah mengkhianati Tuan demi pria lain yang dianggapnya lebih berkuasa dulu. Jika dia kembali ke hidup Tuan sekarang, saya juga orang pertama yang akan memisahkan mereka,” ucap Leon tiba-tiba. Suaranya pelan dan ia melirik Lala melalui spion tengah dengan tatapan iba. “Huh, dasar Leon sok bijak! Lala mau diam!” kesal Lala kepada Leon. Ia sedang tidak butuh simpati karena ia hanya butuh hatinya berhenti berdenyut nyeri. “Baik, Nona,” ucap Leon singkat, mengerti bahwa saat ini diam adalah emas. Di luar sana, Elena tersenyum tipis yakni sebuah senyum yang mengandung racun. "Alistair, kenapa kamu repot-repot mengejar gadis kecil ini? Siapa dia sebenarnya? Keponakan jauhmu? Atau anak dari rekan bisnismu yang dititipkan padamu?" Alistair terdiam sesaat, matanya menatap tajam ke arah mobil tempat Lala berada lalu kembali menatap Elena dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Dia... dia pembantuku. Mikala," jawab Alistair datar. Deg. Hati Lala seperti dihantam gada besi yang sangat berat. Mendengar kata pembantu keluar dari mulut Alistair di depan wanita sesempurna Elena rasanya seribu kali lebih sakit daripada kenyataan bahwa ia terlilit hutang besar. "Oh, pembantu?" Elena terkekeh dan suara tawanya terdengar sangat merendahkan. "Manis sekali. Tapi Alistair, sepertinya dia perlu diajarkan cara berpakaian yang benar agar tidak memalukan namamu di tempat umum seperti ini. Kau tahu kan bahwa standar kelas kita tidak serendah ini. Seorang Vanderwick tidak seharusnya membawa staf dengan penampilan semrawut seperti itu." Lala yang tadinya hanya bisa menangis diam-diam mendadak merasakan amarah yang meledak di dadanya. Rasa sedihnya menguap serta berganti dengan keberanian yang nekat. Ia keluar lagi dari mobil dan berdiri tegak menantang Elena tepat di hadapan Alistair. "Woi, Tante Cantik! Nggak usah bahas baju deh. Baju aku emang berantakan, tapi setidaknya aku nggak pernah ninggalin orang pas lagi sayang-sayangnya demi pria lain yang lebih kaya! Itu namanya bukan berkelas, Tante, tapi murahan!" semprot Lala dengan suara serak yang bergetar. Elena tersentak karena wajah cantiknya memucat seketika sebab rahasia kelamnya dibongkar oleh seorang bocah. Alistair pun mematung serta tak menyangka Lala akan menyerang balik sefrontal itu. Kenzo yang sejak tadi menonton dari balik pintu restoran hanya tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya. "Hahaha! Kak, sepertinya pembantumu ini punya taring yang cukup tajam untuk merobek wajah palsu Elena!" seru Kenzo provokatif. "Mikala, masuk! Leon, jangan biarkan dia keluar sebelum aku selesai bicara!" bentak Alistair. Kali ini auranya begitu gelap hingga Lala tidak berani membantah lagi. Lala masuk kembali ke mobil dengan perasaan hancur dan pintu dibanting tertutup. Kini hanya tersisa Alistair dan Elena di trotoar. Elena kembali mencoba menahan lengan Alistair dengan mata yang kini berkaca-kaca sembari memainkan peran sebagai wanita yang teraniaya. "Alistair, dengarkan aku dulu. Alasan kenapa aku pergi setahun lalu yaitu karena aku dipaksa oleh keadaan keluarga. Aku pikir pria itu bisa menyelamatkan bisnis ayahku, tapi aku sadar aku salah. Aku kembali karena aku tahu tidak ada yang bisa mencintaiku sehebat kamu. Pernikahan yang aku rencanakan itu hanya pelarianku karena aku pikir aku bisa melupakanmu, tapi nyatanya aku gagal total," ucap Elena pelan, jemarinya mencoba menyentuh pipi Alistair dengan lembut. Alistair menepis tangan itu dengan gerakan kasar, seolah kulit Elena adalah api yang menyengat. "Cukup, Elena. Berhenti membual tentang cinta. Kau pergi saat aku sedang berada di titik terendah bisnisku, dan kau memilih pria itu karena kau pikir aku akan hancur. Kau tidak pergi karena terpaksa, kau pergi karena kau serakah." "Alistair, tapi aku benar-benar mencintaimu sekarang!" tangis Elena pecah. Alistair menatapnya dengan tatapan yang sangat dingin dan hampir membekukan. "Kenapa aku harus peduli pada alasan atau cintamu sekarang? Bagiku, kamu hanyalah sebuah kesalahan fatal yang tidak akan aku ulangi dua kali. Kau ingin aku datang ke pernikahanmu? Baiklah, aku akan datang, tapi hanya untuk melihat bagaimana kau menjual harga dirimu pada pria lain lagi." "Alistair, tolong..." "Simpan energimu, Elena. Jangan pernah menghina orang-orang di sekitarku lagi, terutama gadis itu. Urusan kita sudah selesai tiga tahun yang lalu di bawah hujan saat kau mengembalikan cincinku. Jika aku terlihat membencimu sekarang, ketahuilah bahwa rasa sakit seperti inilah caraku untuk menghapusmu sepenuhnya dari kenangan kita. Kebencianku adalah bukti bahwa kau sudah mati di hatiku. Jangan pernah muncul lagi di hadapanku." Alistair berbalik dengan langkah tegas serta meninggalkan Elena yang berdiri kaku di trotoar sembari menangis tersedu karena harga dirinya baru saja diinjak-injak oleh pria yang dulu sangat memujanya. Alistair masuk ke mobil Rolls-Royce miliknya yang lain. Di sepanjang perjalanan menuju mansion, ia hanya terdiam. Saat mobilnya berhasil menyusul mobil yang membawa Lala, ia bisa melihat melalui kaca jendela bahwa gadis itu masih diam seribu bahasa. Alistair masuk ke dalam mobil tempat Lala berada dan Alistair melihat Lala masih menyandarkan kepalanya di kaca jendela yang kini berembun karena napasnya. Gadis itu tidak menyambutnya dengan ocehan seperti biasa. "Mikala," panggil Alistair pelan untuk memecah keheningan yang menyesakkan. "Hutang Lala nambah berapa lagi hari ini, Om? Karena udah berani ngatain Tante Elena yang terhormat itu?" tanya Lala tanpa menoleh. Suaranya terdengar sangat serak yang menandakan ia sudah terlalu banyak menangis. Alistair terdiam seribu bahasa. Ada sesuatu yang berdenyut nyeri di dadanya yaitu sebuah perasaan asing yang bahkan tidak pernah ia rasakan saat Elena mengkhianatinya dulu. Ia mengulurkan tangan panjangnya serta mengusap pelan pipi Lala yang masih terasa lembap dan dingin karena air mata. "Diamlah. Tidak ada tambahan hutang untuk hari ini," bisik Alistair parau dan suaranya melembut secara drastis. Lala memejamkan matanya sembari menikmati sentuhan tangan dingin Alistair di pipinya yang terasa seperti oase di tengah padang pasir hatinya yang gersang. Om... kalau Om emang masih sayang Tante Elena, kenapa Om malah bikin aku baper seperti ini? Apa aku cuma jadi obat penenang saat luka lama Om kumat lagi? batin Lala sedih serta tenggelam dalam ketidakpastian yang menyakitkan.Lala kira dia cuma pembantu, tapi Alistair punya cara sendiri buat buktiin kalau Lala itu lebih dari sekadar staf. Penasaran gimana kelanjutannya? Pantengin terus ya, karena Bab 8 akan update nanti malam jam 7 atau 8 malam! Kira-kira Om Alistair bakal ngapain ya buat nebus kesalahannya tadi? Yuk, ramaikan kolom komentar dan jangan lupa koinnya ya, Author butuh asupan semangat nih! 🔥
Matahari sore menyiram taman belakang Mansion Vanderwick dengan cahaya keemasan yang hangat, menciptakan siluet megah pada pilar-pilar bangunan yang tetap kokoh berdiri selama belasan tahun. Di sebuah kursi taman kayu jati yang nyaman, Alistair Julian Vanderwick duduk dengan gaya tenangnya yang legendaris. Meski ada beberapa helai uban yang mulai menyelinap di antara rambut hitamnya, aura kepemimpinannya justru semakin matang dan berwibawa. Alistair merangkul bahu Lala, menarik istrinya agar bersandar erat di dada bidangnya yang selalu menjadi pelabuhan ternyaman. Lala, yang masih terlihat sangat cantik dengan kerutan halus di sudut matanya, tersenyum sambil menikmati semilir angin. Ia mengamati bunga-bunga melati yang dulu mereka tanam bersama, kini telah tumbuh rimbun menutupi sebagian area gazebo. "Bub, lihatlah sekeliling kita. Rasanya seperti mimpi melihat mansion ini tetap sehangat dulu," bisik Lala pelan. "Tentu saja hangat, karena duniaku ada di sini, bersamamu, Lala," s
Malam di Mansion Vanderwick terasa berbeda, seolah udara dipenuhi oleh haru yang tertahan di balik kemegahannya. Lampu kristal di ruang tengah memancarkan cahaya temaram, menyinari Alistair dan Lala yang duduk berdampingan di sofa beludru. Besok adalah hari kelulusan jalur akselerasi bagi si kembar, sebuah tanda bahwa masa kanak-kanak mereka telah resmi berakhir. Alistair menatap kosong ke arah layar tabletnya, namun pikirannya melayang jauh pada memori belasan tahun lalu. Ia masih ingat sensasi menggendong Arlo yang merah dan Lyra yang menangis kencang di hari kelahiran mereka. Kini, kedua bayi itu telah berubah menjadi sosok remaja yang cerdas, tangguh, dan siap menaklukkan dunia pendidikan tinggi. "Bub, kenapa melamun? Besok kita harus bangun pagi untuk ke gedung wisuda," tegur Lala lembut sambil mengusap lengan suaminya. "Aku hanya merasa waktu benar-benar pencuri yang ulung, Lala. Rasanya baru kemarin aku membelikan mereka mobil-mobilan," gumam Alistair. "Dan sekarang mer
Malam di Mansion Vanderwick terasa sangat tenang dengan embusan angin sepoi-sepoi yang membawa aroma melati. Alistair Julian Vanderwick berdiri di balkon lantai dua, menyandarkan sikunya di pagar pembatas sembari menyesap kopi pahitnya. Matanya yang tajam tertuju ke bawah, ke arah taman belakang yang diterangi lampu-lampu taman artistik yang hangat Di bawah sana, Arlo dan Lyra sedang duduk di gazebo kaca. Meski waktu sudah menunjukkan jam belajar mandiri, mereka berdua tampak sangat fokus. Arlo terlihat sedang menjelaskan sesuatu pada tabletnya kepada Lyra, sementara sang adik mencatat dengan serius di buku sketsanya. Alistair menyeringai tipis, merasakan kebanggaan yang membuncah di dalam dadanya melihat pemandangan itu. "Masih betah berdiri di sini, Bub? Kopinya sudah dingin lho," suara lembut Lala terdengar dari belakang. Alistair tidak menoleh, ia hanya merentangkan tangan kirinya untuk menarik Lala agar bersandar di sampingnya. "Lihat mereka, Bub. Rasanya baru kemarin aku p
Mansion Vanderwick sore itu tampak lebih ramai dari biasanya. Gerbang emas terbuka lebar menyambut mobil SUV mewah yang sangat dikenal oleh seluruh penjaga. Alistair berdiri di teras dengan gaya angkuhnya, sementara Arlo berdiri di sampingnya dengan tangan masuk ke saku celana, menunjukkan aura dingin yang identik dengan sang ayah Elvin Fisher turun dari mobil dengan setelan kasual namun tetap rapi, diikuti Intan yang kini terlihat sangat anggun sebagai Nyonya Fisher. Di antara mereka, seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun bernama Leo tampak berlari ceria sambil membawa bola plastik. Pemandangan itu kontras dengan Arlo yang hanya menatap kedatangan mereka dengan pandangan datar dan penuh analisa. "Wah, si Kulkas akhirnya ingat jalan pulang ke mansion ini," ejek Alistair sambil menyeringai lebar. "Aku hanya ingin memastikan kau tidak stres karena menghadapi Arlo yang sepertinya sudah mulai menguasai meja kerjamu, Al," balas Elvin tajam. "Mas Elvin, Tuan Alistair, b
Kantin sekolah menengah internasional itu mendadak sunyi saat seorang siswa kelas dua belas berdiri menghadang jalan Lyra. Pria bernama Rangga itu tampak membawa beberapa lembar kertas dan menatap Lyra dengan senyum meremehkan. Para siswa lain mulai berbisik, menyadari bahwa ada seseorang yang cukup nekat untuk mengusik ketenangan sang ratu sekolah. Lyra berhenti melangkah, ia menatap Rangga dengan pandangan tenang namun tajam yang sangat mematikan. Ia melipat tangan di depan dada, sama sekali tidak menunjukkan rasa takut meski tubuh Rangga jauh lebih besar darinya. Baginya, gertakan semacam ini hanyalah hiburan murahan di tengah jam istirahat yang membosankan. "Ada apa, Kak? Sepertinya Kakak sedang butuh perhatian sampai harus menghalangi jalanku," ucap Lyra dengan nada santai. "Lo pikir karena lo cantik dan kaya, lo bisa seenaknya menolak undangan acara angkatan kami?" tanya Rangga dengan nada menantang. "Aku menolak karena acaranya tidak menarik, sesederhana itu. Kenapa Kak
Pusat perbelanjaan paling mewah di Jakarta tampak berkilau di bawah lampu kristal yang menggantung tinggi. Lala melangkah anggun sambil menggandeng lengan Lyra yang kini sudah hampir setinggi dirinya. Di belakang mereka, lima pengawal berpakaian safari hitam menjaga jarak sepuluh meter dengan sangat ketat. Lyra menyesuaikan letak kacamata hitam di atas kepalanya dengan gaya yang sangat modis. Ia melirik tumpukan kantong belanjaan bermerek yang dibawa oleh dua pengawal di belakang mereka. Senyum tipis terukir di bibirnya yang kemerahan, mewarisi kecantikan Lala namun dengan aura yang jauh lebih berani. "Mom, apa Daddy tidak akan marah kita menghabiskan limit kartu kreditnya dalam dua jam?" tanya Lyra sambil terkekeh. "Kartu itu diberikan memang untuk dihabiskan, Lyra. Kalau tidak habis, Daddy-mu justru akan curiga kita tidak bahagia," jawab Lala santai. "Daddy memang aneh. Dia mencintai kita dengan cara membuang uang seolah itu hanya tumpukan kertas," gumam Lyra sambil menarik
Gedung Vanderwick Corp tampak berdiri kokoh mencakar langit Jakarta di bawah terik matahari pagi yang menyengat. Di dalam lobi yang megah, seluruh karyawan mendadak berdiri tegak dengan wajah yang penuh rasa hormat sekaligus tegang. Pintu lift eksekutif terbuka, menampakkan dua sosok pria berbeda u
Koridor sekolah menengah internasional itu mendadak sunyi saat langkah sepatu pantofel yang dipoles mengkilap beradu dengan lantai marmer. Lyra Aurora Vanderwick berjalan dengan dagu terangkat, menebar senyum manis yang sanggup meluluhkan hati, namun sekaligus membekukan keberanian siapa pun. Di
Lala menatap pemandangan taman dari balik jendela mobil yang melaju tenang. Sinar matahari senja menyinari wajah Arlo yang tertidur pulas di sampingnya dengan sangat damai. Ia teringat masa-masa sulit saat ia harus berjuang sendirian sebagai seorang yatim piatu dulu. Sekarang, segalanya terasa sepe
Pagi itu, suasana di Mansion Vanderwick seharusnya penuh sukacita. Intan baru saja menerima email notifikasi dari Universitas Medika Jakarta. Dengan tangan gemetar, ia membuka pengumuman tersebut di ruang makan yakni disaksikan oleh Lala dan Alistair yang sedang asyik memberikan sarapan untuk si ke







