Home / Romansa / OM CEO, I LOVE YOU! / Bab 7 - Sisi Luka yang menghitam

Share

Bab 7 - Sisi Luka yang menghitam

Author: BabyCaca
last update Last Updated: 2026-01-09 13:00:23

Lala berlari keluar dari restoran dengan air mata yang mulai mengaburkan pandangan. Setiap langkahnya terasa berat, seolah trotoar yang ia injak berubah menjadi rawa yang menghisapnya ke dalam keputusasaan. Ia ingin pergi sejauh mungkin, lari dari kenyataan pahit bahwa dirinya hanyalah debu yang terselip di antara kemegahan Alistair dan keanggunan Elena. Namun, baru beberapa meter menginjak trotoar yang panas, suara bariton yang sangat ia kenali menggelegar, menghentikan detak jantungnya sesaat.

"Mikala! Masuk ke mobil sekarang!" bentak Alistair dari ambang pintu restoran. Suaranya tidak membentak dengan nada peduli, melainkan seperti perintah mutlak seorang tuan kepada bawahannya.

Lala berhenti, bahunya bergetar hebat. Ia hendak membantah, ingin sekali ia berteriak bahwa ia bukan budak yang bisa disuruh-suruh, tapi Leon sudah sigap berdiri di sampingnya dengan wajah cemas yang tertahan. Dengan hati yang hancur berkeping-keping, Lala terpaksa memutar arah. Ia melangkah kembali dan masuk ke dalam mobil Rolls-Royce yang terparkir tepat di depan pintu kaca restoran.

Lala duduk meringkuk di pojok kursi belakang yang gelap, namun pintunya belum ditutup rapat oleh Leon. Melalui celah sempit itu, ia bisa mendengar dan melihat dengan jelas saat Elena melangkah keluar, menyusul Alistair ke trotoar dengan langkah anggun yang seolah mengejek kekacauan perasaan Lala.

Lala menyandarkan kepalanya di kaca jendela yang dingin, matanya menatap nanar ke arah dua orang yang berdiri di luar sana. Dari kejauhan, melalui dinding kaca restoran, Alistair masih berdiri mematung di hadapan Elena. Cahaya matahari yang masuk melalui kaca restoran membuat mereka terlihat sangat serasi seperti sepasang pangeran dan putri dari negeri dongeng yang sedang mengalami konflik romantis yang elegan.

Aku ini apa sih? Cuma bocah yang punya hutang dua miliar. Mau saingan sama Tante Elena? Mimpi kali ya, batin Lala sambil mengusap air matanya kasar menggunakan punggung tangan.

“Jangan bersedih, Nona Lala. Wanita itu hanya masa lalu Tuan Al. Dia telah mengkhianati Tuan demi pria lain yang dianggapnya lebih berkuasa dulu. Jika dia kembali ke hidup Tuan sekarang, saya juga orang pertama yang akan memisahkan mereka,” ucap Leon tiba-tiba. Suaranya pelan, ia melirik Lala melalui spion tengah dengan tatapan iba.

“Huh, dasar Leon sok bijak! Lala mau diam!” kesal Lala kepada Leon. Ia sedang tidak butuh simpati, ia hanya butuh hatinya berhenti berdenyut nyeri.

“Baik, Nona,” ucap Leon singkat, mengerti bahwa saat ini diam adalah emas.

Di luar sana, Elena tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung racun. "Alistair, kenapa kamu repot-repot mengejar gadis kecil ini? Siapa dia sebenarnya? Keponakan jauhmu? Atau anak dari rekan bisnismu yang dititipkan padamu?"

Alistair terdiam sesaat, matanya menatap tajam ke arah mobil tempat Lala berada, lalu kembali menatap Elena dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Dia... dia pembantuku. Mikala," jawab Alistair datar.

Deg. Hati Lala seperti dihantam gada besi yang sangat berat. Mendengar kata "pembantu" keluar dari mulut Alistair di depan wanita sesempurna Elena rasanya seribu kali lebih sakit daripada kenyataan bahwa ia terlilit hutang besar.

"Oh, pembantu?" Elena terkekeh, suara tawanya terdengar sangat merendahkan. "Manis sekali. Tapi Alistair, sepertinya dia perlu diajarkan cara berpakaian yang benar agar tidak memalukan namamu di tempat umum seperti ini. Kau tahu kan, standar kelas kita tidak serendah ini. Seorang Vanderwick tidak seharusnya membawa 'staf' dengan penampilan semrawut seperti itu."

Lala yang tadinya hanya bisa menangis diam-diam, mendadak merasakan amarah yang meledak di dadanya. Rasa sedihnya menguap, berganti dengan keberanian yang nekat. Ia keluar lagi dari mobil, berdiri tegak menantang Elena tepat di hadapan Alistair.

"Woi, Tante Cantik! Nggak usah bahas baju deh. Baju aku emang berantakan, tapi setidaknya aku nggak pernah ninggalin orang pas lagi sayang-sayangnya demi pria lain yang lebih kaya! Itu namanya bukan berkelas, Tante, tapi murahan!" semprot Lala dengan suara serak yang bergetar.

Elena tersentak, wajah cantiknya memucat seketika karena rahasia kelamnya dibongkar oleh seorang bocah. Alistair pun mematung, tak menyangka Lala akan menyerang balik sefrontal itu. Kenzo yang sejak tadi menonton dari balik pintu restoran hanya tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya.

"Hahaha! Kak, sepertinya 'pembantumu' ini punya taring yang cukup tajam untuk merobek wajah palsu Elena!" seru Kenzo provokatif.

"Mikala, masuk! Leon, jangan biarkan dia keluar sebelum aku selesai bicara!" bentak Alistair. Kali ini auranya begitu gelap hingga Lala tidak berani membantah lagi. Lala masuk kembali ke mobil dengan perasaan hancur, pintu dibanting tertutup.

Kini hanya tersisa Alistair dan Elena di trotoar. Elena kembali mencoba menahan lengan Alistair, matanya kini berkaca-kaca, memainkan peran sebagai wanita yang teraniaya.

"Alistair, dengarkan aku dulu. Alasan kenapa aku pergi setahun lalu... itu karena aku dipaksa oleh keadaan keluarga. Aku pikir pria itu bisa menyelamatkan bisnis ayahku, tapi aku sadar aku salah. Aku kembali karena aku tahu tidak ada yang bisa mencintaiku sehebat kamu. Pernikahan yang aku rencanakan itu hanya pelarianku karena aku pikir aku bisa melupakanmu, tapi nyatanya aku gagal total," ucap Elena pelan, jemarinya mencoba menyentuh pipi Alistair dengan lembut.

Alistair menepis tangan itu dengan gerakan kasar, seolah kulit Elena adalah api yang menyengat. "Cukup, Elena. Berhenti membual tentang cinta. Kau pergi saat aku sedang berada di titik terendah bisnisku, dan kau memilih pria itu karena kau pikir aku akan hancur. Kau tidak pergi karena terpaksa, kau pergi karena kau serakah."

"Alistair, tapi aku benar-benar mencintaimu sekarang!" tangis Elena pecah.

Alistair menatapnya dengan tatapan yang sangat dingin, hampir membekukan. "Kenapa aku harus peduli pada alasan atau cintamu sekarang? Bagiku, kamu hanyalah sebuah kesalahan fatal yang tidak akan aku ulangi dua kali. Kau ingin aku datang ke pernikahanmu? Baiklah, aku akan datang, tapi hanya untuk melihat bagaimana kau menjual harga dirimu pada pria lain lagi."

"Alistair, tolong..."

"Simpan energimu, Elena. Jangan pernah menghina orang-orang di sekitarku lagi, terutama gadis itu. Urusan kita sudah selesai tiga tahun yang lalu di bawah hujan saat kau mengembalikan cincinku. Jika aku terlihat membencimu sekarang, ketahuilah... rasa sakit seperti inilah caraku untuk menghapusmu sepenuhnya dari kenangan kita. Kebencianku adalah bukti bahwa kau sudah mati di hatiku. Jangan pernah muncul lagi di hadapanku."

Alistair berbalik dengan langkah tegas, meninggalkan Elena yang berdiri kaku di trotoar, menangis tersedu karena harga dirinya baru saja diinjak-injak oleh pria yang dulu sangat memujanya.

Alistair masuk ke mobil Rolls-Royce miliknya yang lain. Di sepanjang perjalanan menuju mansion, ia hanya terdiam. Saat mobilnya berhasil menyusul mobil yang membawa Lala, ia bisa melihat melalui kaca jendela bahwa gadis itu masih diam seribu bahasa.

Alistair masuk ke dalam mobil tempat Lala berada, Alistair melihat Lala masih menyandarkan kepalanya di kaca jendela yang kini berembun karena napasnya. Gadis itu tidak menyambutnya dengan ocehan seperti biasa.

"Mikala," panggil Alistair pelan, memecah keheningan yang menyesakkan.

"Hutang Lala nambah berapa lagi hari ini, Om? Karena udah berani ngatain Tante Elena yang terhormat itu?" tanya Lala tanpa menoleh. Suaranya terdengar sangat serak, menandakan ia sudah terlalu banyak menangis.

Alistair terdiam seribu bahasa. Ada sesuatu yang berdenyut nyeri di dadanya sebuah perasaan asing yang bahkan tidak pernah ia rasakan saat Elena mengkhianatinya dulu. Ia mengulurkan tangan panjangnya, mengusap pelan pipi Lala yang masih terasa lembap dan dingin karena air mata.

"Diamlah. Tidak ada tambahan hutang untuk hari ini," bisik Alistair parau, suaranya melembut secara drastis.

Lala memejamkan matanya, menikmati sentuhan tangan dingin Alistair di pipinya yang terasa seperti oase di tengah padang pasir hatinya yang gersang. Om... kalau Om emang masih sayang Tante Elena, kenapa Om malah bikin aku baper kayak gini? Apa aku cuma jadi obat penenang saat luka lama Om kumat lagi? batin Lala sedih, tenggelam dalam ketidakpastian yang menyakitkan.

BabyCaca

Lala kira dia cuma pembantu, tapi Alistair punya cara sendiri buat buktiin kalau Lala itu lebih dari sekadar staf. Penasaran gimana kelanjutannya? Pantengin terus ya, karena Bab 8 akan update nanti malam jam 7 atau 8 malam! Kira-kira Om Alistair bakal ngapain ya buat nebus kesalahannya tadi? Yuk, ramaikan kolom komentar dan jangan lupa koinnya ya, Author butuh asupan semangat nih! 🔥

| 2
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 110 - Aroma cemburu

    Lala masih berdiri terpaku di anak tangga teras, menatap pria asing yang penampilannya sangat jauh dari kata "rapi" menurut standar lingkungan Vanderwick. Pria itu, dengan tato yang menjalar di lengannya dan gaya rambut belah tengah yang sedikit berantakan, menatap Lala dengan binar mata yang jenaka. Ia tampak menikmati kebingungan di wajah cantik Lala. "Siapa ya? Apa kita pernah bertemu?" tanya Lala dengan ragu. Ingatannya mencoba menyisir setiap wajah yang pernah ia kenal, namun pria di depannya ini terlihat seperti berandalan jalanan yang tampan, sementara ingatan Lala hanya dipenuhi oleh anak-anak panti yang kurus dan berpakaian lusuh. Pria itu terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar berat namun sangat akrab. Ia melangkah satu tahap lebih dekat, mengabaikan Leon yang sudah meletakkan tangannya di balik jas, siap menarik senjata jika pria itu berbuat macam-macam. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah Lala, lalu berbisik dengan nada menggoda yang sangat rendah. "Es kul-kul

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 109 - Anak kecebong

    Pagi itu, Mansion Vanderwick tampak sedikit lebih tenang dari biasanya. Alistair terpaksa harus meninggalkan rumah karena ada rapat dewan direksi yang sangat krusial di kantor pusat—sebuah rapat yang tidak bisa ia tunda lagi meskipun hatinya masih berat meninggalkan Lala yang sedang dalam kondisi hamil muda. Sebelum berangkat, Alistair memberikan instruksi keamanan yang sangat ketat pada Leon dan para pengawal untuk menjaga setiap sudut kediamannya. “Tugas ku sangat banyak butuh sedikit waktu refreshing atau ada kau Si dan Lala,”senyum Intan kepada Sisi. “Saking sering nya bergaul dengan suami ku seperti nya aku sedikit ketularan sifat mengatur nya,”jawab Sisi terkekeh kepada Intan. “Maksud mu?”tanya Intan heran. “Ya aku sering memarahi nya. Karena Lala hamil dia meminta aku segera hamil juga agar ada pewaris Moretti, tapi aku tetap memakan pil kb, aku belum siap jadi ibu aku merasa masih muda. Apa lagi Kenzo itu masih sangat labih,”ucap Sisi memutar bola mata nya dengan malas. “

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 108 - Misi nasi uduk

    Seminggu telah berlalu sejak kabar kehamilan Lala mengguncang Mansion Vanderwick. Jika biasanya pagi hari di kediaman itu diisi dengan keheningan yang elegan dan aroma kopi mahal, kini suasananya berubah total. Alistair Vanderwick, pria yang bisa menjatuhkan lawan bisnis hanya dengan satu kerutan dahi, kini sedang berlutut di depan kloset dengan wajah yang sangat menyedihkan. "Huekk... huekk..." Alistair membasuh mulutnya, tangannya gemetar menahan tubuhnya sendiri. Benar kata Dokter Elvin, rasa mual itu tidak hilang begitu saja. Alistair justru seolah menjadi "perwakilan" Lala untuk merasakan semua penderitaan fisik di trimester pertama. Lala masuk ke kamar mandi dengan wajah segar bugar, kontras sekali dengan suaminya. "Bub, masih mual? Maaf ya, sepertinya bayinya lebih suka bikin Bub yang olahraga pagi di kamar mandi daripada Lala." Alistair mendongak, menatap istrinya dengan tatapan sayu namun tetap penuh cinta. "Tidak apa-apa, Sayang. Lebih baik aku yang merasakannya daripada

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 107 - Kehebohan sang pemimpin “Black Shadow”

    Matahari baru saja naik setinggi galah, menyinari halaman Mansion Vanderwick yang asri. Alistair sedang duduk di teras belakang, menikmati teh chamomile yang disarankan Dokter Elvin untuk meredakan sisa-sisa mualnya. Di sampingnya, Lala sedang asyik memakan potongan buah segar sambil menyandarkan kepalanya di bahu Alistair. Suasana yang begitu damai itu tiba-tiba pecah oleh suara deru mesin Lamborghini yang sengaja digeber kencang di depan lobi. "Siapa lagi kalau bukan si berisik itu," gumam Alistair sambil meletakkan cangkir tehnya dengan helaan napas panjang. Tak butuh waktu lama, suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar mendekat. Kenzo muncul dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya, diikuti oleh Sisi yang tampak membawa beberapa tas belanjaan berlogo merk bayi ternama. Namun, yang membuat Alistair mengerutkan dahi adalah apa yang dibawa oleh dua orang pengawal Kenzo di belakang mereka. Sebuah replika baju zirah abad pertengahan berukuran kecil dan sebuah motor mini b

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 106 - Berita bahagia

    Lobi rumah sakit pribadi itu terasa begitu sepi dan eksklusif. Di tengah ruangan yang didominasi marmer putih, Mommy Laurent berdiri dengan anggun, meski gurat kecemasan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya yang masih cantik. Begitu melihat Alistair dan Lala keluar dari lorong area kebidanan, ia segera melangkah maju. Langkah Laurent terhenti sejenak. Ia melihat mata Alistair yang memerah—pemandangan yang sangat langka. Ia juga melihat bagaimana tangan besar putranya itu merangkul pinggang Lala dengan sangat protektif, bahkan tangan Alistair yang lain menempel secara intuitif di perut Lala. "Alistair? Bagaimana hasilnya? Kenapa kalian dari area kebidanan?" tanya Laurent dengan suara yang sedikit bergetar. Alistair terdiam sejenak. Ia menatap ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sejak menjabat sebagai CEO, ia memang sudah memaafkan Laurent. Mereka sering makan malam bersama dan Alistair selalu memastikan kebutuhan ibunya terpenuhi. Namun, keakraban mereka masih memiliki bat

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 105 - Alistair Hamil?!

    Ruang pemeriksaan itu seketika menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara detak jantung janin yang masih terdengar dari mesin USG—sebuah irama kehidupan yang seharusnya membawa sorak-sorai kebahagiaan. Namun, pemandangan di depan mata Lala justru sebaliknya. Alistair, pria yang merupakan simbol kekuatan dan kekuasaan, kini tampak hancur di kursi di samping tempat tidur. Alistair menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Suara isak tangisnya tertahan, namun bahunya yang lebar itu berguncang hebat. Air mata lolos melalui celah jemarinya, membasahi jas mahal yang ia kenakan. Lala yang masih berbaring di tempat tidur pemeriksaan merasa jantungnya mencelos. Kebahagiaan yang baru saja membuncah saat melihat titik kecil di layar tadi seketika menguap, digantikan oleh rasa sesak yang menyesakkan dada. Ia segera duduk dan menyentuh lengan Alistair dengan ragu. "Bub..." suara Lala gemetar, "Kenapa menangis? Apa... apa Bub tidak suka kalau ada bayi di perut Lala?" Lala menatap Alistai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status