LOGINRaymond dengan penuh amarah merobek surat itu sampai seperti gula pasir yang menumpuk ditanah, merasa tak puas Liora menginjak potongan kertas hingga menyatu dengan tanah.
Walau pun Arion marah dengan L tetap saja dia merasa kasian pada surat tak bersalah yang di hancurkan dengan cukup mengerikan oleh kedua teman barunya.
Setelah merasa cukup puas, mereka kembali kedalam gua mengganti pakaian dan melanjutkan perjalanan keluar dari hutan kematian.
"Hutan Kematian, mengapa L menyebut Hutan yang damai ini Hutan Kematian?, bukankah aneh."
"Kau benar, mungkin agar terdengar keren bukankah begitu rion?"
"Hm..., menurutku Liora benar hutan ini aneh."
"Tapi apa yang aneh?"
Raymond dan Liora menatap Arion menunggu jawaban nya, dengan tangan didagunya Arion menatap mereka berdua dengan serius.
"Hewan dan Pohonnya mungkin?"
"Tidak mungkin, tapi apa kalian sadar kalau Hutan disini beda dengan hutan disisi lain gua?"
"Kau benar."
Perjalanan terus berlanjut, hari semakin gelap udara menjadi lebih dingin, setelah seharian berjalan mereka sepakat untuk istirahat sejenak.
Kebetulan didekat mereka ada pohon yang cukup besar, mereka duduk dibawah pohon itu.
"Aku meresa ada yang memperhatikan ku sedari tadi, perasaanku tak enak."
Mereka terlalu lelah untuk memperhatikan perkataan Liora, mungkin karena cuaca malam yang cerah dan tubuh mereka yang terlalu lelah rasa ngantuk menguasai mereka hingga tertidur lelap.
Cabang- cabang pohon yang dari tenang, perlahan mulai melilit tubuh Raymond, Liora dan Arion yang tertidur.
Pepohonan dihutan mulai tumbuh besar, semakin banyak cabang pohon yang meliliti tubuh mereka dan semakin kencang pula mililitannya. Membuat mereka sulit bernapas.
•••••
Nafasnya memakin sesak, dengan cepat Arion meraih pedang dipinggang nya dan memotong batang pohon yang melilitnya, tak lupa dia memotong batang pohon yang melilit Liora dan Raymond.
Mereka berlari, tapi tak secepat kemarin. Tubuh mereka terlalu lelah akibat pertarungan kemarin malam, batang pohon yang tadi Arion potong mulai tumbuh kembali.
Pohon- pohon di sekeliling mereka mulai menyerang, situasi mulai membuat mereka terdesak.
"Sial, jika terus seperti ini kita akan mati! Liora Arion bersiaplah untuk bertarung."
Segera mereka bersiaga di posisi masing- masing, dengan pedang ditangan nya Arion menyerbu menyerang monster pohon, dia juga memotong pohon- pohon kecil yang ada didekat nya.
Asap hitam keluar dari pohon- pohon mati, Asap tersebut perlahan mengarah kepada Raymond dan menghantam nya dengan keras.
Dia terjatuh, Raymond berteriak kesakitan, rasanya seolah seribu pedang menusuk jantung nya.
Situasi semakin tak terkendali, mereka tak punya waktu untuk menghawatirkan Raymond. Serangan monster pohon semakin sengit dan ganas.
Malam penuh darah terus berlanjut, mau sebanyak apapun mereka menyerang, monster pohon terus tumbuh semakin kuat dan mereka sudah sangat kelelahan.
Teriakan Raymond sesekali terdengar disela - sela pertarungan, sebanyak apapun mereka memotong dan memukul batang pohon akan tumbuh lagi dan semakin kuat.
"Ugh... hah.. hah.... sial apa apaan asap ini, begitu menyakitkan dan terus menerua memaksa masuk kedalam tubuh ku ugh..." Raymond terlahan berdiri tubuh nya gemetaran.
Pemandangan didepan nya tak begitu baik, Liora sudah kelelahan dan Arion berusaha menjaga tubuh nya tetap stabil.
Mereka berdua sudah diambing batas, pakaian mereka penuh dengan darah, mereka terluka parah.
Rasa sakit ditubuhnya perlahan menghilang mungkin karena Raymond tidak lagi menolak asap hitam memasuki tubuhnya.
Tubuhnya semakin riang dan penuh kekuatan seperti ada sesuatu yang baru lahir didalam dirinya, seperti sihir yang sering paman sebutkan dan tak pernah Raymond percayai.
"Kau tau Ray? Saat mana bahan penting menciptakan sihir memasuki tubuh kita, rasanya akan tubuh kita sangat ringan dan penuh kekuatan seperti terlahir kembali."
"Cih... mengapa aku jadi mengingat omong kosong Paman."
Raymond memejamkan mata meningat ocehan Paman nya tentang sihir, dia merasa kalau omong kosong yang selalu tidak dia percayai akan berguna saat ini.
"Ray, Ray apa kamu mau tau gimana cara melalukan sihir?"
"Gak."
"Pertama - tama kau harus mengucapkan matra karena bagi kebanyakan penyihir mengucapkan matra itu sangat penting tapi aku bisa menggunakan sihir tanpa matra, kau tau kenapa? Karena aku jenius!"
Raymond menatap Paman nya seolah mengatakan 'kau menjengkelkan', merasa malu karena nya paman melanjutkan kembali ocehan tak pentingnya.
"Ekm... kedua yang harus kau lakukan adalah memusatkan fikiran mu dan mengumpulkan mana yang ada disekeliling pada satu titik, Lebih mudah mengumpulkan nya ditelapak tangan mu."
"Ya ada banyak hal lain yang harus diperhatikan juga sih tapi aku yakin kamu bisa mengatasinya, karena kau juga jenius seperti ku."
"Hah... tak ada pilihan lain selain percaya pada ocehan tak berguna paman." Raymond mulai melakukan apa yang Paman perna sebutkan.
Tentu saja tidak semudah itu mengendalikan mana lebih sulit dari yang Raymond pikirkan, seringkali asap hitam atau mana berbenturan dan menghilang.
Refleks, mereka bertiga menoleh ke arah sumber suara. Di sana, seorang anak berusia enam tahun berlari kencang menerobos kerumunan, berusaha menghindari kejaran pria bertubuh besar.Dengan napas yang berburu tak beraturan, anak itu mendekap erat sepotong roti di dadanya. Sesekali ia melirik ke belakang, memastikan jarak antara dirinya dengan sang pengejar.“Ketangkap kau, bocah nakal!” teriak pria itu geram. Ia menyambar lengan si anak dengan kasar, hingga kulit mungil itu memerah seketika.“Lepaskan! Lepaskan aku!” Anak itu meronta hebat, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman sangar tersebut.“Hah... hah... Terima kasih, Tuan, sudah menangkap pencuri ini,” ucap pemilik roti dengan napas tersengal-sengal saat tiba di lokasi.Raymond dan kedua temannya saling pandang, lalu mendekati kerumunan agar bisa melihat lebih jelas.“Anak itu mencuri roti lagi. Sudah berapa kali dalam sebulan ini?” bisik salah satu warga.“Sejak dia datang ke sini, hampir setiap minggu ada saja barang
Waktu berlalu dengan cepat, sudah satu minggu Raymond datang kedunia ini. Dalam satu minggu ini tidak ada yang istimewah. Hari-hari nya diisi oleh pertengaran dengan Liora atau Arion. Bahkan sesekali Madam Sami dan Sion akan mampir kemari hanya untuk mengecek keadaan kami dan menagih hutang atas patung yang mereka pecahkan waktu itu. Dan sepertinya kali ini pun Madam Sami datang dengan alasan yang sama.Saat ini Raymond, Liora dan Arion tengah menghadapi keadaan kritis.“Jadi kapan kalian akan membayar uang untuk rumah dan patung yang kalian pecahkan?”Raymond memalingkan wajah saat Madam Sami memandangnya, begitu pun dengan Arion dan Liora. Tidak ada yang berani berbicara. Raymond menghela napas, memberanikan diri menatap Madam Sami.“Kami tidak memiliki uang.”Madam Sami terdiam sejenak lalu menyerap kembali tehnya sembari berkata,“Aku tau.”“Jadi kami tidak bisa membayarnya sekarang.”&ld
Raymond menatap kagum pada rumah di depannya, dia tidak bisa berkata apa pun pada apa yang dia lihat, begitu pun dengan Liora dan Arion. Dia ingat dengan jelas Madam Sami mengatakan bahwa rumah yang akan kita tinggali adalah rumah yang paling sederhana diantara rumah yang dia miliki. Sekali lagi Raymond mulai bertanya-tanya seberapa kaya Madam Sami. Raymond berjalan menuju rumah itu disusuli Liora dan Arion, rumah 2 lantai penuh dengan hiasan indah disetiap dindingnya, ada juga patung didepan pintu masuk.“Rumah ini bahkan lebih mewah dari rumah Paman.”“Paman? Kamu punya Paman Ray?”“Tentu saja memangnya ada yang tidak punya paman didunia ini? Walaupun tidak punya paman sedarah tapi setidaknya mereka punya orang yang bisa mereka sebut paman kan?”“Tapi aku tidak memilikinya, aku hanya punya Kapten dan profesor.”“Kau yakin Liora? Aku saja memiliki Paman.”Liora terdiam mendengar pe
"Tidak ada yang ingin menjawab? Ku ulangi sekali lagi sedang apa kalian disini?"Sekarang Raymond yakin bahwa suara yang di dengarnya memang suara Madam Sami, diam- diam Raymond melangkah mundur. Setelah dipikir kembali suara berisik Arion dan Liora tidak lagi terdengar Merasa ada yang salah Raymond melirik kesamping dia terteguh menyadari Arion dan Liora sudah tidak ada disana.Suara langkah kaki dari belakang menarik perhatian Raymond, dia memalingkan wajah kebelakang. Di lihatnya Arion dan Liora tengah berlari cukup jauh dari posisinya sekarang.'Sialan'Raymond benar- benar ingin membunuh mereka berdua, tapi itu tidak penting, yang terpenting sekarang adalah melarikan diri. Nenek tua di depannya sangat mengerikan.Entah kenapa Raymond selalu merasa agak takut pada Madam Sami, rasa takut serupa yang terkadang Raymond rasakan saat bersama Paman. Belum sempat Raymond berlari cuku
[Aku tau kau akan menjawab seperti itu, tapi tetap saja aku terkejut mendengar kamu menerima tugas ini]"Aku berhutang budi pada seseorang, anggap saja ini salah satu balasan ku."[......begitu, baiklah aku sangat sibuk sekarang aku tutup dulu. Tolong jaga mereka untuk ku, sampai jumpa Sami]Cahaya dibola itu mulai menghilang, Madam Sami menghela nafas lelah. Dia menyandarkan dirinya kekursi."Apa anda yakin akan mengambil tugas ini Nyonya?"Madam Sami mengalihkan pandangan nya menatap Sian yang sedari tadi ada di sampingnya."Ya, dan juga sudah berapa kali ku bilang jangan bicara formal pada ku.""Maaf tapi saya tidak bisa Nyonya.""Hah.... kau masih saja keras kepala.""Maafkan saya."Madam Sami diam tidak menjawab Sian, Dia tau mau berapa kalipun dia mengatakan bahwa Sian bisa berbicara santai dengannny
"Kita sudah mengalahkan nya Liora." "Monster pohon? Maksud mu Kleine Boom, kalian cukup beruntung bertemu dengan nya." "Beruntung?" "Ya, ada dua cara untuk keluar dari Hutan Kematian. Pertama mengalahkan Penguasa Hutan salah satu makhluk terkuat dibenua ini. Kedua dengan mengalahkan Boom Family." "Boom Family? Maksud mu keluarga Kleine Boom?" "Ya, kerena Hutan Kematian yang didominan oleh Pohon Tentu saja Pohon akan tau jalan keluar. Hanya saja tidak mudah untuk menemukan Boom Family mereka pandai bersembunyi dan mereka cukup kuat." Madam Sami mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya, batu biru yang memancarkan cahaya terang batu yang sangat Raymond kenal. "Bukankah itu inti dari Kleine Boom yang sudah kami kalahkan? Bagaimana itu ada disini?" "Kau yang membawanya bukan pria cantik." "Aku? Tidak, jika dipikir- pikir bagaimana kita bisa berada disini?"







