LOGINMalam semakin larut dan Algarrel baru saja tiba di markas Darknez setelah menghadiri pertemuan keluarganya bersama keluarga Alvaughan bahkan hingga saat ini Algarrel masih di kuasai amarah yang sejak tadi di tahannya
"Lo dari mana Rel?" Tanya Lucas saat melihat kehadiran Algarrel, saat ini seperti biasanya mereka sedang berada di ruang tengah Markas untuk bermain game bersama "Jangan ganggu gue di ruang latihan" titah Algarrel ding>Markas Darknez.. Siang ini matahari terlihat sangat terik membuat orang-orang merasakan penat berlebih dari biasanya begitupun para lelaki muda yang baru saja menyelesaikan kelas di kampus mereka " Tuh anak kenapa?" Tanya Raven yang baru saja tiba di markas Darknez setelah menyelesaikan kuliahnya "Sejak si bos datang juga dia hanya diam dan menghela nafas berat, apa jangan-jangan si bos punya banyak utang yah" celetuk Kafa "Bego, bahkan duit Garrel lebih banyak dari duit bokap lo" cibir Lucas "Yah kan siapa tahu saja tiba-tiba tuh bocah miskin mendadak". Balas Kafa anpa dosa "Ada apa?" Tanya Vaska yang melihat ketiga sahabatnya saling berbisik "Nah ini dia yang bisa buat kita tahu masalah Garrel" sahut Kafa "Apa?" Tanya Vaska bingung "Ka, lo tanyain Garrel dong dia kenapa, kita semua takut tuh bocah tiba-tiba kesurupan karena bengong mulu sejak tadi" pinta Lucas pada Vaska "Lo dari mana?, kenapa tidak masuk kampus?" Tanya Vaska yang kini duduk di sebelah Algarr
Mata laki-laki tampan yang awalnya terpejam kini perlahan terbuka dengan ringisan kecil yang terdengar dari bibirnya Sshh Algarrel Killian baru saja terbangun dari tidurnya, tubuhnya terasa remuk walau rasa perih di punggungnya sedikit berkurang, Algarrel mendudukkan dirinya di pinggiran ranjang, ia memperhatikan tubuhnya yang tanpa atasan dan terlilitkan perban yang menutupi sebagian tubuh atletisnya Mata tajamnya yang terlihat sedikit sayu mengedar meneliti kamar yang ia tempati saat ini hingga pintu kamar itu terbuka membuatnya menoleh cepat Ceklek Tatapan Algarrel bertemu dengan tatapan datar seorang wanita cantik yang selalu berhasil membuatnya tertarik Hingga potongan kejadian semalam kembali terputar di kepalanya bersama dengan rasa pening yang ia rasakan >Flashback on... "Dia demam?, dan demamnya sangat tinggi, oh tuhan kenapa bocah ini sangat menyusahkan ku" gumam Ruby Setelah mengendarai mobilnya beberapa menit Ruby kini tiba di basement apartemennya dan denga
Tok Tok Ceklek "Bang Garrel?" Panggil Kaizen yang memasuki kamar Algarrel begitu saja dan melihat kakak tirinya itu sedang mengganti pakaiannya "Ada apa?" Tanya Algarrel dingin "Gue obatin punggung lo yah bang" ucap Kaizen "Tidak perlu" jawab Algarrel dingin "Tapi bang luka lo akan semakin parah jika tidak segera diobati" sahut Kaizen lagi Algarrel mengenakan jaketnya sebagai pelengkap penampilannya dan segera melangkahkan kakinya mendekati adik tirinya itu "Berhenti untuk peduli ke gue, karena lo dan keluarga lo itu hanya orang asing di hidup gue" ucap Algarrel penuh penekanan dan berlalu begitu saja meninggalkan Kaizen yang hanya bisa menghela nafasnya pasrah "Padahal gue senang punya kakak keren seperti lo bang" lirih Kaizen Algarrel mengendarai motor sportnya dengan kecepatan tinggi seakan jalanan yang macet karena berakhirnya jam kerja bagi semua karyawan bukan menjadi hambatan untuknya tiba di Markas mereka bahkan rasa perih di punggungnya hanya bisa ditaha
Beep... "Nona Ruby" panggil Lexa yang baru saja tiba di lokasi yang Ruby katakan, Lexa turun dari mobilnya dengan pakaian kantornya yang sudah terlihat rapi Ruby memang dengan sengaja meminta Lexa untuk menjemputnya di depan gedung apartemen mewah yang menjulang tinggi itu "Langsung ke perusahaan" titah Ruby masuk lebih dulu ke dalam mobil Lexa, sedangkan Lexa masih menatap bingung gedung mewah di hadapannya ini "Kenapa hanya diam?" tanya Ruby dengan suara tegasnya membuat Lexa kembali dalam kesadarannya dan segera masuk ke kursi kemudi "Apa yang ingin kau katakan?", tebak Ruby saat menyadari gerak-gerik Lexa yang seperti ingin mengatakan sesuatu "Bukan apa-apa, Nona muda" jawab Lexa ragu "Sudah ku katakan Lex, jangan bersikap formal jika kita hanya berdua" jengah Ruby "Ya udah kalau gitu gue to the point, semalam lo mabuk berat kan?, lalu tadi apartemen siapa?, karena gue sangat tahu itu bukan apartemen lo" Tanya Lexa beruntun "Salah satu teman gue" jawab Ruby bohon
Eungh... Lenguhan seorang wanita cantik yang terlihat baru saja terbangun dari tidurnya, terdengar ringisan kecil yang kembali keluar dari bibir ranumnya ssshhh... "Aish, kepalaku sangat pusing" keluh Ruby wanita cantik yang baru saja tersadar dari mabuk beratnya yang berhasil membuatnya tak sadarkan diri semalam Ruby mendudukkan tubuhnya sembari terus memegangi kepalanya yang terasa tak nyaman, pandangannya perlahan mengedar melihat setiap sudut kamar yang saat ini di tempatinya Sebuah kamar dengan warna dominan hitam yang di padukan dengan Dark Grey dan sedikit serta aroma mint maskulin yang tercium dari kamar itu membuat alis Ruby mengernyit bingung "Ini bukan kamarku" gumam Ruby terdiam namun kesadarannya kembali begitu cepat saat suara gemercik air terdengar dari sebuah pintu yang ada di dalam kamar itu membuat Ruby dengan cepat memeriksa tubuhnya sendiri, dan...
Di tempat lain tepatnya di sebuah Club besar yang sangat terkenal di kota itu, berbeda dengan keadaan di lantai dasar club yang terdengar ramai di penuhi para lelaki dan wanita yang menikmati musik serta minuman beralkoholnya, di lantai atas lebih tepatnya di sebuah ruangan VIP dalam Club mewah itu terdapat seorang Wanita cantik yang tak lain adalah Ruby ia terlihat sedang duduk angkuh di sofa single sembari memutar kecil segelas whisky di tangannya, Wanita cantik berwajah datar itu terlihat menikmati sensasi setiap teguk minuman beralkohol yang melewati tenggorokannya "Selamat malam Nona muda Ruby" sapa Lexa yang baru saja masuk ke dalam ruangan VIP tempat bosnya berada "Duduk Lex dan bicara lah dengan santai gue hanya butuh teman" ucap Ruby lirih "Ada masalah?", tanya Lexa serius "Hahaha memangnya Kapan hidup gue jauh dari masalah" balas Ruby tersenyum miris dan hanya Lexa yang bisa melihat itu, selama ini Ruby selalu bersikap sebagai wanita kuat walau sebenarnya dia hanya l







