Share

Bab 2

Author: Sya Reefah
last update Last Updated: 2025-10-27 13:41:08

Sora mematung.

Dengan langkah lebarnya Durand mendekat.

Sora masih menunduk, fokusnya pada kaki pria itu.

“Apa itu?” Matanya tertuju ada gelas di tangan Sora.

Sora diam. Akan tetapi, hatinya berteriak panik.

Durand semakin mendekat, tatapannya penuh intimidasi membuat gelas yang ada di tangan Sora bergetar. “Aku bertanya, apa yang ada di tanganmu?”

Sora berpikir, haruskah ia menjawabnya?

Melanggar aturan adalah kesalahan, tetapi mengabaikan pertanyaan Durand itu jauh lebih buruk.

Dengan suara pelan dan nyaris berbisik, ia menjawab, “Air, Tuan.”

Seketika, udara di sekeliling semakin mencekam. Suasana hening itu membuat tawa mematikan Durand terdengar jelas.

“Air?” Durand mengulang. Ia kini berdiri tepat di depan Sora. “Aku tidak menyuruhmu berbicara!”

Keberanian Sora semakin menciut. Ia memberanikan diri menatap Durand, lalu tak lama pandangan itu kembali turun. Ia takut, sekaligus bingung.

“Tapi … Anda bertanya, Tuan. Saya hanya mengikuti peraturan yang Anda buat.”

Sora tahu, ini adalah kesalahannya yang kedua karena berbicara lebih banyak.

Dengan gerakan cepat, Durand mengulurkan tangannya, mengambil gelas dari tangan Sora. Membanting gelas kaca itu ke dinding, di samping kepala wanita itu.

Pecahan kaca itu berserakan, dan sebagian cipratan air mengenai wajah Sora.

Sora terkejut. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan gemetar.

Pandangan Durand menunduk, memerhatikan wajah Sora penuh ketakutan. Ketakutan yang alami, tanpa dibuat-buat. “Aku bertanya itu hakku, kau menjawab adalah pelanggaran. Di rumah ini, yang kau lakukan hanyalah patuh! Aku ingin melihat kau terus bungkam sampai aku bosan mendengar napasmu.”

Sora mengangguk takut.

Durand melirik serpihan kaca di lantai. “Sekarang, bersihkan kekacauanmu! Jangan keluar kamar kecuali untuk keperluan kuliah, atau aku memintamu keluar.”

Durand berbalik meninggalkan Sora tanpa belas kasihan.

Sora menurunkan badannya, segera memungut serpihan lantai di kaca. Menundanya akan mendatangkan amarah lebih besar.

Air mata yang sedari tadi ia tahan kini tumpah.

Dengan hati-hati Sora memungutnya, menggunakan rok sebagai wadah. Tak ada sapu, tak ada serokan. Ia tak berani mencarinya.

Ia sudah berusaha sehati-hati mungkin, tetapi pecahan tajam kaca itu mengenai kulit tipisnya. Darah mulai merembes keluar. Tetapi Sora mengabaikannya, dan segera menyelesaikan tugasnya sebelum Durand melihatnya.

Setelah insiden gelas pecah, Sora membatasi dirinya. Selama tiga hari, ia mengurung diri di kamar, tanpa berani mengambil air, menahan haus dan ketakutan akan hukuman.

Yang ia lakukan hanyalah menunggu. Menunggu pelayan datang membawa makanan dan minuman. Menunggu Durand memanggilnya.

Suatu malam, Sora keluar, tetapi bukan karena haus ataupun lapar. Ia mendengar jeritan dan benda jatuh samar dari lantai bawah.

Rasa Penasarannya lebih besar daripada rasa takutnya mengenai aturan Durand. Perlahan, Sora berjalan menuruni tangga.

Di ujung tangga, ia melihat hal seharusnya yang tak pernah ia lihat.

Di ruang tamu besar itu, beberapa pria bertubuh kekar berdiri memakai pakaian serba hitam. Di tengah ruangan, Durand berdiri tegap, membelakangi Sora.

Namun, fokus utama Sora tertuju pada satu pria tergeletak berlumuran darah, dan satu lagi babak belur di bawah kaki Durand, memohon ampunan.

“Tidak ada ampunan untuk pengkhianat. Dan kau tahu itu.” suara Durand datar, tanpa emosi.

Durand mengangkat kakinya yang semula berada di leher pria itu. Ia mengambil tongkat besi di atas meja yang bersebelahan dengannya, menyeretnya hingga menimbulkan bunyi nyaring di atas lantai marmer.

Mata Sora mengikuti setiap pergerakan Diran. Ia bertanya-tanya, apa yang akan dilakukan Durand dengan tongkat itu?

Pria itu mulai mengangkat tongkat besinya, bersiap menjatuhkan hukuman terakhir.

Bugh!

Suara yang dihasilkan merobek pendengaran Sora. Seluruh tubuhnya gemetar. Pemandangan itu begitu kejam dari apa yang ia bayangkan.

Biasanya, ia hanya melihatnya di film-film. Namun, sekarang matanya menyaksikan secara langsung.

Durand adalah raja kematian yang menakutkan dan dengan mudah melenyapkan nyawa seseorang.

Pukulan itu tak cukup sekali dua kali. Tanpa sadar, Sora tersentak hingga mengeluarkannya suara ‘embh’ melalui bungkaman mulutnya.

Suara kecil di tengah heningnya suasana itu bagaikan meriam.

Durand berhenti. Ia tak berbalik.

Seluruh anak buah Durand menoleh ke arah tangga.

Mata Sora melotot. Ia tertangkap basah. Mengintip urusan Durand adalah pelanggaran besar yang sudah ia lakukan.

Entah apa yang akan dilakukan Durand padanya setelah ini? Apakah nasibnya akan sama seperti dua pria itu?

Sora ingin lari, tetapi marmer di bawahnya seperti medan magnet yang menahannya.

Perlahan, Durand menoleh. Ekspresinya datar, tidak marah, tidak juga terkejut. Tatapan yang ia berikan sama seperti menatap dua penghianat yang tergeletak di lantai.

Wajah Sora memucat. Ia sadar, tatapan dari pria itu mengandung bahaya. Ia segera berlari, tergopoh-gopoh menuju kamarnya.

Durand memberikan tongkat besi itu kepada anak buahnya. “Singkirkan tikus-tikus ini dari hadapanku.”

Dengan kaki jenjangnya, pria itu mulai menaiki satu demi satu anak tangga, menuju lantai dua. Ia begitu tidak suka orang lain di mengintip urusannya.

Sesampainya di kamar, Sora segera mengunci pintu rapat-rapat. Tubuhnya meringsut di depan pintu. Adegan di lantai bawah, tatapan Durand yang mematikan terus terbayang.

Siapa sebenarnya keluarga ini? Mengapa sang ayah harus menitipkannya di sini?

“Tolong aku, Tuhan. Tolong aku.” Kata-kata itu seperti mantra yang ia ucapkan berulang kali, mantra agar terhindar dari hukuman Durand.

Namun, mantra yang keluar dari mulutnya tak cukup membantu. Saat itu juga, terdengar suara ketukan pintu dari luar.

Jantung Sora berdebar kencang. Hanya satu orang yang dengan bebas bisa mengetuk pintu kamarnya tengah malam seperti ini.

“Buka pintumu, Sora!” suara Durand di balik pintu terdengar tenang, tetapi mengandung ancaman.

Sora menjauhkan diri dari pintu. Gambaran orang-orang di bawah sana terus berputar di kepalanya.

Berakhirlah sudah!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 28

    Di sisi lain mansion yang luas itu, Sora masih tergulung rapat di balik gundukan selimutnya. Ini hari minggu, ia tak berniat sedikitpun beranjak dari tempat tidur. Tak ada rencana yang lebih baik untuk hari ini, selain menghabiskan waktunya untuk tidur sampai siang. Udara di kamar terasa lebih dingin dari sebelumnya. Sora menarik selimut, hingga menutupi kepalanya. Ia meringkuk di dalamnya, seperti kucing yang mencari kehangatan. Benar-benar dingin. Suasana mansion yang tenang dan dingin mendukungnya untuk bermalas-malasan. Lagipula, ia tak memiliki kebebasan sekarang. Setiap langkah yang ia ambil kini dibayangi oleh anak-anak buah Durand. Alih-alih melindungi, justru menguntitnya, seperti buronan jahat di bawah kekuasaan ketat.Namun, ketenangan itu tak berangsur lama. Suara ketukan pintu dari luar cukup keras, membuatnya terbangun paksa. “Nona Sora, apa Anda sudah bangun?” Sora terduduk. Dengan mata yang masih terpejam ia menyahut dengan nada malas, “Ya … aku sudah bangun.”“N

  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 27

    Pagi itu, udara Moskow terasa lebih dingin dari sebelumnya, menandakan musim dingin semakin dekat. Hanya menghitung hari. Durand duduk di kursi menatap keluar jendela ruang kerjanya. Di luar sana, kabut tipis menyelimuti hamparan taman luas dan menyamarkan patung-patung marmer. Cahaya matahari belum sepenuhnya mengusir warna gelap langit, ruangan itu terasa sunyi dan tenang. Tak ada hiruk pikuk klakson kota atau dentingan lift, di mansion ini, hanya ada keheningan yang megah dan penjagaan ketat di luar sana. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Stepan. Meski matahari belum sepenuhnya muncul, ia sudah tiba di Mansion Volkov. Jas panjang yang dikenakan menunjukkan bagaimana dinginnya pagi ini.Stepan membungkuk sedikit, lalu memberikan map tebal berwarna hitam pada Sang Tuan.Durand membuka map. Beberapa lembar menampilkan catatan keuangan, dan beberapa lembar lainnya menampilkan daftar nama. Stepan mulai menjelaskan, “Baltic memindahkan pusat distribusinya ke pelabu

  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 26

    “Sudah berapa kali kau melanggar aturan di rumahku?!” Suaranya berat dan penuh ancaman, tetapi tak membuat Sora mundur. “Siapa yang mengizinkanmu masuk ke kamarku?!”“A-aku sudah memanggilmu berkali-kali,” jawab Sora cepat, menutupi kegugupannya. “Tapi tidak ada sahutan sama sekali. Aku hanya ingin mengantarkan makanan untukmu.”Tak ada lagi bahasa formal yang terucap. Sora masih berdiri di tempatnya, sementara Durand menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Alih-alih takut karena kemarahan Durand, justru Sora melangkah maju, masuk ke kamar pria itu tanpa menunggu izin sang empunya. Dengan gerakan tenang, ia meletakkan nampan itu di atas meja. “Dokter bilang padaku kalau Anda sama sekali belum menyentuh makanan, apalagi obatnya,” lanjut Sora tanpa menoleh, tangannya sibuk menata mangkuk dan gelas di atas meja. Durand diam di tempat. Matanya mengamati setiap pergerakan yang Sora lakukan. Sora kembali menegakkan tubuh, menatap Durand yang memandanginya tajam. “Kalau Anda in

  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 25

    Sora mengerutkan kening, menatap Belin dengan serius. Permintaan itu terlalu tiba-tiba, tetapi cara Belin mengatakannya terlihat serius dan tak bisa diabaikan. “Membantu?” tanya Sora ragu. “Apa itu?”Belin menarik napas panjang sebelum menjawab. “Saya butuh bantuan Nona untuk membujuk Tuan Durand agar mau makan,” katanya terus terang. “Sejak pagi, Tuan Durand tidak mau menyentuh makanannya. Pelayan baru saja melapor.”Penjelasan itu membuat Sora terdiam. Bukan karena tidak mau, tetapi karena bingung. Ia tak mengerti mengapa dokter pribadi Durand itu melibatkannya dalam urusan ini. “Apa yang terjadi dengannya?” tanya Sora.Belin menggeleng. Ia sendiri tidak memiliki jawaban pasti untuk masalah ini. “Saya juga tidak tahu, Nona. Pelayan mengatakan padaku jika Tuan Durand menolak makan, bahkan Tuan Stepan tidak bisa membujuknya. Obat yang saya berikan juga tidak tersentuh sama sekali.”Kening Sora berkerut semakin dalam. Penjelasan itu justru membuatnya semakin tak mengerti kemauan Dur

  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 24

    Keheningan itu membuat pikiran Helena terseret pada putri mendiang teman lama suaminya. Meski ia belum pernah bertemu secara langsung, ia tahu banyak tentang gadis itu melalui laporannya. Mulai dari latar belakang, pendidikan, dan posisi Sora yang dipilih bukan karena sembarangan. Helena kembali bersuara, “Bagaimana dengan Sora? Papa yakin ini akan berhasil?”Viktor meletakkan cangkirnya kembali, lalu menyandarkan punggungnya di punggung kursi. “Semua akan berjalan semestinya,” jawabnya tenang. “Dia selalu membawa wanita tidak jelas ke rumah. Sampai kapan kebiasaan itu dibiarkan?”Helena menggeleng pelan, tampak ragu dengan keputusan besar suaminya. Viktor terlalu percaya pada peraturan dan rencananya. Ia yang melahirkan Durand, yang melihat tumbuh, memahami bagaimana cara berpikirnya. Durand bukan anak yang mudah diikat oleh peraturan, terlebih jika itu dirasa tidak penting. Viktor terlalu optimis jika Durand akan menyesuaikan diri—mengikuti rencana yang dibuatnya. Namun, Helena

  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 23

    Stepan meletakkan ponselnya yang menampilkan foto-foto laporan penyelidikan kejadian semalam. “Mereka bukan hanya satu orang, Tuan. Mereka membentuk kelompok untuk menyerang Anda.”Durand menatap foto-foto di ponsel Stepan dingin. Ia mengenali wajah-wajah di sana. Salah satu dari mereka berasal dari rival lama, dan pria yang pernah ia kalahkan dari meja negosiasi setahun terakhir.“Jadi, mereka bersatu?” ucap Durand. “Kelompok dari barat, sisa-sisa keluarga pengusaha dari selatan. Kerja sama yang menyedihkan.”Durand menyeringai tipis memandangi wajah mereka di layar ponsel. Aliansi mereka terlahir rapuh, bukan karena kekuatan, melainkan dari ketakutan. Ia tahu persis alasannya—kekuasaannya sudah terlalu besar untuk ditantang satu per satu.Mereka tak punya nyali menghadapinya secara langsung, maka mereka melakukan apa pun untuk menyerangnya. Termasuk membentuk aliansi. Sebuah upaya nekat, yang bagi Durand itu sangat menyedihkan.“Tapi … ada yang lebih menarik, Tuan.”Durand menatap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status