MasukHari demi hari berlalu, kini sudah satu bulan Sora tinggal satu atap bersama Durand. Beberapa kali ia mendapati wanita datang ke rumah.
Namun, ia tak ingin tahu mengenai urusan Durand lebih dalam. Sora hanya ingin hidup tenang selama di sana. Meski beberapa kali telinganya mendengar suara-suara yang menarik perhatiannya. Namun, pikirannya terus bertanya, di manakah Viktor selama ini? Mengapa di mansion mewah ini tak terlihat keberadaannya? Hari ini, tepat pukul 14.00 waktu setempat, Sora sudah tiba di mansion. Jam pulang lebih awal dari biasanya. Begitu memasuki ruang tamu luas itu, langkahnya terhenti begitu salah satu pelayan menghampirinya. “Tolong berikan ini pada Tuan Durand. Aku sudah tidak tahan ingin ke belakang.” Pelayan itu memberikan dokumen tersebut pada Sora secara paksa. Posisi Sora tidak siap, hingga hampir membuat dokumen itu terjatuh dari tangannya. “Eehh … tung … gu.” Pelayan itu sudah menjauh, sebelum Sora berkata lebih lanjut. Sora menghela napasnya panjang, lalu membolak-balikkan dokumen di tangannya. “Apa ini? Aku tidak pernah melihat sampul dokumen seperti ini,” gumamnya pelan. Cap stempel di atas dokumen itu membuat Sora penasaran. Bentuk melingkar dengan tambahan ornamen mahkota dan rantai itu terlihat unik menurutnya. Belum selesai dengan rasa penasarannya, tiba-tiba saja ada yang menarik tangannya dari arah samping, sehingga tubuhnya ikut berputar ke arah yang sama. Pelakunya hanya satu, Durand. Rahang pria itu mengeras, ditambah tatapan menusuk, seperti ingin menerkamnya hidup-hidup. “Kenapa berkas ini ada di tanganmu?” suaranya penuh penekanan. “Siapa yang mengizinkanmu menyentuhnya?!” “Bu-bukan saya–” “Aku tidak menyuruhmu bicara!” teriak Durand, suaranya menggema memenuhi ruangan, tak memberi kesempatan untuk Sora menjelaskan. Dengan tarikan kasar ia merampas berkas itu dari tangan Sora. Perlahan, pria itu melangkah maju. Sora reflek melangkah mundur, hingga kakinya tersandung dan tubuhnya terjatuh di atas lantai. Durand menghempaskan dokumen itu ke atas meja di dekatnya, membuat Sora terlonjak. Napasnya memburu, tangannya mencengkram dagu wanita itu kuat. “Katakan, siapa yang mengirimmu menjadi mata-mata di rumahku?” Sora menggeleng. Tangannya berusaha menyingkirkan cengkeraman Durand, tetapi cengkeraman itu semakin menguat. Tenaga Durand lebih besar darinya. Ada sedikit kemarahan dalam hatinya. Bagaimana mungkin ia dituduh sebagai mata-mata? Selama di rumah itu, ia seperti sandera. Tak dibiarkan berbicara, ataupun melakukan sesuatu. “Saya bukan mata-mata, Tuan!” suara Sora sedikit meninggi. “Bisakah Anda mendengar jawaban saya terlebih dulu?!” Senyum sinis mengembang di wajah Durand. “Kau sudah berani sekarang.” Durand melepas cengkraman sedikit kasar, membuat kepala Sora tertoleh ke samping. “Mari kita lihat sejauh mana kau bersikap sok polos.” “Beruntung kau kali ini.” Durand kembali menegakkan tubuhnya, dan menambahi, “Bersiaplah untuk makan malam.” Tanpa menunggu jawaban Sora, Durand melangkah pergi. Sementara di balik dinding dapur, salah satu pelayan menghela napas panjang. Mengelus dadanya, bersyukur ia selamat dari cengkeraman pria itu, dan membiarkan Sora menjadi tumbalnya. Malam harinya, meja panjang di ruang makan itu kini terisi berbagai macam hidangan. Mulai dari appetizer, hidangan utama dan hidangan penutup. Sora duduk di kursi seberang, mematung, seperti boneka. Ini pertama kali baginya makan malam di meja panjang, dengan berbagai hidangan mewah. Di kursi ujung, Viktor duduk menunjukkan kharismanya. Sementara Durand duduk di sebelah kanan, menatap sinis ke arah Sora. Sepanjang makan malam, Sora hanya diam, menunduk ke arah piring miliknya. Hingga akhirnya suara Viktor memecah keheningan. “Aku dengar kau punya potensi yang bagus, Sora.” Viktor mengawali dengan penuh wibawa. “Papamu selalu mengatakan padaku, kau adalah gadis yang cerdas.” Sora tersenyum tipis. Baru saja ia ingin menjawab, suara Durand menghentikannya. “Dia memang cerdas,” sela Durand dengan nada sarkatik. “Dia cerdas menyembunyikan wajah liciknya, Pa. Lihat saja, bahkan dia tidak bernapas di depan kita.” Sora kembali menunduk, menyuapkan hidangan penutup ke dalam mulutnya. Diam jauh lebih baik daripada mengucapkan kata-kata yang salah. “Bagaimana kabarmu di kampus, Sora?” Viktor mencoba mencairkan suasana, tak menghiraukan putranya. “Baik, Tuan,” jawab Sora singkat. “Hanya ‘baik’?” sela Durand lagi. Ia menyandarkan punggungnya, dengan kepala tertahan oleh jari telunjuknya. “Apa kau tidak memiliki teman dan bersosialisasi?” Senyum sinisnya membuat Sora muak. Ia sadar, bahwa Durand mencoba mengintimidasinya. Senyum Durand semakin lebar. “Owh … mungkin aku perlu mencari tahu semuanya sendiri, tidak ada yang bisa dipercaya dari dirimu.” “Durand!” Terdengar nada memperingatkan dari Viktor, tetapi Durand tetap abai. Pandangan Sora tertuju pada Durand. Tangannya menggenggam sendok kuat-kuat menahan amarahnya. Ia baru menyadari, tinggal di keluarga ini, kebebasan yang ia inginkan terasa mustahil. Hari berikutnya, Durand tampak sibuk di ruang kerjanya. Tangannya membalikkan lembar demi lembar dokumen di tangannya. Kertas-kertas itu berisi asal usul Sora, hari ini baru sempat ia membukanya. “Tidak ada yang mencurigakan, Tuan Muda. Semua catatannya bersih,” jelas anak buahnya. Durand menutup map itu lalu melemparnya ke atas meja. “Kau sudah tertipu dengan wajah polosnya. Berikan padaku jadwal lengkapnya dan siapa saja dosen yang mengajarnya. Setelah itu lakukan tugasmu selanjutnya.” **** Moscow State University. Di tengah hiruk pikuk kampus, Sora bertemu dengan Katharina, sahabat karibnya yang ia kenal sebelum terjebak dalam sangkar emas. Jauh dari dinding mansion Volkov, Sora sejenak melupakan semua aturan tak tertulis yang Durand berikan. Ia tertawa lepas, tanpa beban. Mereka berbagi cerita, dan tugas kuliah. Tawa dan perbincangan mereka tampak akrab. Itu adalah momen singkat kebebasan dan kebahagian Sora yang mulai tidak bisa ia rasakan. Sora tidak tahu, setiap pergerakannya, setiap ucapannya telah diawasi. Di balik dinding perpustakaan, Durand mengamati. Ia datang, tetapi tak menunjukkan batang hidungnya. Ia melihat Sora berbincang dengan Katharina, melihat betapa bahagianya wanita itu. Tawa itu menimbulkan rasa tidak senang di hati Durand. Ini bukan cemburu. Akan tetapi, Sora di bawah kekuasaannya, miliknya, asetnya. Kebahagiaan dan kebebasan itu harusnya miliknya, bukan untuk dibagi dengan orang lain. Dan ketika malam tiba, Sora harus kembali ke sangkar emasnya. Untuk mengisi waktu luangnya, ia mengerjakan sisa-sisa tugasnya yang tertunda. Dibawanya pulang beberapa buku dari perpustakaan. Sora menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, Menghela napas panjang. Akhirnya, bab Karya Sastra Klasik Rusia selesai ia rangkum. Jemarinya yang pegal mengambil segelas air putih, untuk membasahi kerongkongannya. Malam semakin larut. Ia mulai menutup buku-bukunya. Namun, tiba-tiba, suara ketukan pintu dari luar memecah keheningan. Apakah itu Durand?Sementara di Mansion Volkov, suasana tampak sepi dan ganjil. Ruang makan yang luas itu hanya diisi dengan dentingan alat makan yang beradu dengan porselen mahal. Sementara para pelayan berdiri di setiap sudut ruangan.Hélèna meletakkan garpunya dengan dentingan keras, menunjukkan kekesalannya yang tidak bisa ditutupi. Ia menatap kursi kosong di seberang, milik Durand. "Bahkan malam tahun baru pun dia tidak pulang walau hanya untuk makan malam," gerutunya, nada suaranya dipenuhi ketidaksenangan. "Kesibukannya seperti menelan sisi manusianya!"Viktor yang duduk di ujung meja menyesap red wine dengan tenang. Ekspresinya jauh lebih tenang, meski sang istri dalam suasana hati kesal. "Durand sedang mengurus logistiknya yang memang sangat sibuk, Hélèna. Kau tahu sendiri bagaimana sibuknya logistik di akhir tahun seperti ini," balas Viktor datar. “Itu karena kau membebankan semuanya padanya!” Viktor menghela napas panjang. “Bukankah sama saja dengan Dmitri yang mengurus bisnis di Paris?”
Langit sudah gelap sepenuhnya. Kini, jalanan dipenuhi lampu-lampu hias yang menggantung sepanjang jalan, memantul di permukaan salju. Orang-orang berjalan cepat, membungkus diri mereka dengan mantel tebal dan syal. Moskow akan tampak terlihat lebih hidup ketika menjelang tahun baru. Mereka akan berbelanja, membawa kantong belanja penuh makanan menyambut tahun baru. Suasana di dalam mobil hening. Namun, Sora merasa tidak ada tekanan seperti biasanya. Jalanan yang cukup padat membuat arus perjalanan mereka sedikit terganggu. Dmitri sesekali melirik ke arah Sora. Waktu sudah menunjukkan makan malam. Harusnya, makan malam terlebih dahulu sebelum berangkat."Harusnya kita makan malam dulu sebelum berkeliling," ucap Dmitri sambil mendengus kesal. Ia menoleh ke arah Sora, menunjukkan senyum santai, kemudian bertanya, "Apa kau ingin makan sesuatu, Sora?"Sora menoleh. "Aku ikut saja." Baginya, makan apa saja tidak ada bedanya. "Kau yang lebih tahu banyak tentang Moskow, Sora. Aku tidak
Pagi di kediaman Volkov terasa sangat dingin, hingga menusuk tulang. Sora terbangun dengan perasaan ringan. Setelah rentetan zachyot—ujian kualifikasi yang menguras tenaga—akhirnya tuntas, meski ujian akhir di bulan Januari nanti sudah menantinya. Setidaknya, selama dua hari ini ia terlepas dari buku-buku tebalnya. Sora memilih untuk mengurung diri dalam kamar yang luas dan dingin. Sesekali keluar hanya untuk keperluan mendesak saja.Suasana di bawah mulai riuh dengan persiapan tahun baru. Para pelayan berlalu lalang, dan aroma khas pohon pinus mulai tercium. Namun, bagi Sora, kamar adalah tempat paling aman dari tatapan mata-mata Durand yang selalu membuatnya merasa seperti buronan yang harus diawasi. Mata-mata, pembangkang, adalah julukan yang selalu Durand tanamkan pada dirinya. Ketika sore tiba, Sora duduk di depan jendela, menatap butiran salju yang turun. Salju itu menutupi semua halaman, seperti kain putih yang membentang. Jauh dari tembok Mansion, suara tawa dan dan musi
Satu jalur pelabuhan dipindahkan untuk menghindari pemeriksaan internasional. Beberapa pengiriman dialihkan ke terminal lain agar lebih aman. Sementara itu, jalur darat diperketat untuk memastikan tidak ada gangguan dari para rivalnya. Durand mengawasi semuanya dengan ketelitian. Layar besar di depannya menampilkan laporan keluar masuk dari berbagai wilayah. Baltik, Laut Hitam, hingga jalur distribusi Eropa Tengah. Bukan hanya itu, perusahaan logistiknya menjadi penghubung wilayah Asia-Eropa. Beberapa pesan datang dari orang yang tidak terdaftar di dokumen resmi. Durand membacanya tanpa bersuara, hanya sesekali memberikan perintah yang langsung dijalankan. Kesibukan ini hingga berhari-hari. Bahkan malam tiba, kantor tidak pernah tidur. Dokumen terus berganti di mejanya. Laporan kontrak, laporan pengiriman, hingga catatan operasi dunia bawahnya yang hanya bisa dibaca oleh orang-orang tertentu. Stepan bahkan keluar masuk membawa pembaharuan laporan yang terjadi di lapangan. Dalam k
Tok! Tok! Tok!Pandangan Sora tertuju pada pintu kamarnya, tapi ia tak langsung membukanya. Selang beberapa detik, pintu kembali diketuk dari luar. Aneh, tak ada panggilan dari luar untuknya. Entah siapa yang mengetuk? Ketukan itu terdengar pelan dan halus. Itu bukan ciri khas Durand yang biasa menggedor pintu. Bukan juga pelayan di sini. Sora segera bangkit dan melangkah ke arah pintu. "Ya, aku datang."Begitu ia membuka pintu kamarnya, ia mendapati Dmitri berdiri di sana. Berbeda dengan Durand yang selalu membawa aura intimidasi, Dmitri membawa ketenangan. Tangannya membawa bingkisan besar yang dibalut pita satin. "Maaf mengganggumu malam-malam, Sora," kata Dmitri dengan suara lembut. Untuk sesaat, Sora tertegun. Suara itu benar-benar menyerupai milik Durand. Tegas, dalam. Kesamaan antara mereka benar-benar tidak bisa diabaikan, terutama tatapan matanya yang sama seperti Durand. Hanya saja, Dmitri lebih lembut dan tenang. Tak ada tekanan dingin yang terpancar di matanya. So
Sora terpaku. Kedua orang itu kontras dengan aura Rusia yang dimiliki Durand. Namun, salah satu dari mereka memiliki fitur wajah yang hampir mirip dengan Durand. Seorang pria muda berambut golden brown yang memiliki rahang tegas, tatapannya angkuh identik dengan Durand. Hanya saja, matanya tidak memancarkan kebencian. Jika Durand adalah versi pria matang dan penuh obsesi, pria muda di depannya adalah versi lebih halus tapi memiliki api yang sama di matanya. Pria muda itu biasa disapa Dmitri—putra kedua Viktor. Sora bertanya pada diri sendiri. Apa mereka saudara Durand? Rasa penasaran itu meluap. Selama tinggal berbulan-bulan di bawah atap yang sama dengan Durand, Sora tak pernah mendengar pria itu menceritakan keluarganya, atau sekadar menunjukkan foto keluarga mereka. Menurutnya, Durand adalah pria berbahaya yang hidup dalam kemewahan dan penuh rahasia. Di tengah rasa penasarannya, suara lembut tapi berwibawa memecah keheningan. "Sora?" Sora tersentak lalu segera menunduk ho
Durand tak menjawab permintaan maaf dari pelayan itu. Wajahnya tenang, tetapi nada suaranya terdengar penuh intimidasi. “Keluar.”Pelayan itu menunduk cepat. Ia hampir tersandung ketika melangkah pergi meninggalkan Durand dan Sora. Pintu kembali tertutup.Suasana kembali hening.Sora masih berdiri
Sora menarik napas lega, memposisikan dirinya senyaman mungkin di atas kasur. Hawa dingin dan sunyinya kamar berasa surga yang diidam-idamkan. Ia kembali menggulung tubuhnya di bawah selimut.Perlahan, kesadarannya hilang. Napasnya mulai teratur. Ia hampir saja jatuh ke dalam tidurnya yang nyenyak.
Di sisi lain mansion yang luas itu, Sora masih tergulung rapat di balik gundukan selimutnya. Ini hari minggu, ia tak berniat sedikitpun beranjak dari tempat tidur. Tak ada rencana yang lebih baik untuk hari ini, selain menghabiskan waktunya untuk tidur sampai siang. Udara di kamar terasa lebih din
Pagi itu, udara Moskow terasa lebih dingin dari sebelumnya, menandakan musim dingin semakin dekat. Hanya menghitung hari. Durand duduk di kursi menatap keluar jendela ruang kerjanya. Di luar sana, kabut tipis menyelimuti hamparan taman luas dan menyamarkan patung-patung marmer. Cahaya matahari be