Masuk. . . Bab 150 “Kenapa?” Dara mengernyit heran, sedikit memundurkan badannya saat Ryuga memicingkan mata ke arah telinganya. “Sstt.” Ryuga menempelkan jari telunjuknya pada bibir Dara. Meminta untuk diam. Ia meraba anting Dara, ujung jarinya menyentuh sesuatu di balik anting itu. Sebuah benda kecil yang nyaris tak terlihat. Benda itu lah yang Ryuga cari seharian ini. Ia sampai mengacak-acak seluruh isi toko, bahkan mengganti beberapa perabot ternyata justru benda itu ada pada Dara. Ryuga memasukkan alat penyadap itu ke dalam gelas berisi air. “Itu apa, Mas? Kok bisa ada di anting aku?” Dara sampai mengangkat gelas ke depan wajahnya, demi memperhatikan benda kecil itu. “Alat penyadap,” sahut Ryuga, singkat. Seluruh tubuh Dara s
...Bab 149Dara tersenyum lebar usai mengantri hampir tiga puluh menit demi untuk satu pack risol mayo viral yang diidamkannya.“Sudah, Mas. Ayo, jadi ke departemen store sekarang katanya mau beri beberapa perabot.”“Iya.”Ryuga pun melajukan mobilnya menuju ke departemen store. Dibalik wajah penatnya, Ryuga masih fokus memikirkan teka-teki yang belum terpecahkan.“Kapan kamu ketemu Dirga?” tanya Ryuga, tanpa menoleh pada istrinya.Risol di tangan Dara urung masuk ke mulutnya. Ia menolehkan kepalanya. “Itu, sehari sebelum kamu berangkat latihan.”“Dia ke toko?”“Iya. Dia katanya nggak sengaja lewat terus kebetulan mampir aja buat beli bunga.”Ryuga sempat melirik, lalu pandangannya kembali tertuju pada jalan. Dari semua rekaman cctv hari itu Ryuga sudah mengecek semuanya. Tidak ada yang menampilkan sosok Dirga memasuki toko.“Kamu nggak cek cctv?” tanya Dara.“Rekaman cctv hari itu nggak ada yang menangkap kedatangan Dirga.”Kali ini Dara menutup kotak risol di pangkuannya. Merubah
...Bab 148Dara menggigit bibirnya sendiri, melirik sahabatnya meminta pertolongan. Namun, Deaalova melempar pandangannya acak berpura-pura tak melihatnya.Dara menyipitkan mata. Awas aja! Dara tidak akan membantunya nanti kalau tiba-tiba dia Yudha tahu pria-pria simpanannya.“Kita ke toko sekarang,” uajr Ryuga akhirnya.“Kenapa? Aku udah tutup, kok.”“Nggak apa-apa. Sambil menunggu waktu jemput Zio, daripada ke rumah akan lebih jauh.”Nada bicara Ryuga sama sekali tidak keras, tetapi cukup membuat Dara mengurungkan pertanyaan berikutnya. Ia pun segera menggamit lengan suaminya, keluar dari ruangan Dealova.Dara melirik ke belakang. Di balik punggungnya Dealova mengepalkan tangan, memberi semangat dengan cengiran mengejeknya.Sepuluh menit berlalu dalam keheningan. Sempat ragu, Dara akhirnya berusaha mencairkan suasana dengan mengomentari banyaknya pedagang
...Bab 147“Saya hanya ingin memastikan dulu kandungannya. Tablet itu aneh, Dara—”“Iya, Dealova udah cerita semuanya.” Dara bangkit dari sofa. “Harusnya kamu bisa tanya aku aja. Kalau gini sama aja kamu curiga kalau aku sengaja mau nyakitin kamu.”“Nggak sama sekali. Saya cuma nggak mau kamu khawatir dulu. Saya bakal bilang semuanya kalau hasil tes lab udah keluar.”“Seharian aku udah khawatir, Mas. Kamu larang aku minum vitamin itu tanpa jelasin apapun. Lalu, aku liat sendiri kalian memeriksanya diam-diam.”Dara lantas memutar tubuhnya, menuju kamar dengan menghentakan kaki. Dalam situasi begini, Ryuga memilih diam, membiarkan istrinya tenang dulu.***Dara terus menekuri tab nya, meski Ryuga beberapa kali tampak meliriknya dari balik kemudi. Tak ada satu pun yang membuka percakapan. Begitu juga saat tiba di depan toko, Dara segera berpamitan, tak berniat menawari suaminya masuk lebih dulu seperti biasa..Ryuga terdiam lama memperhatikan istrinya sampai masuk ke dalam toko.Harum
...Bab 146Selesai dengan urusannya di toilet, Dara menyelinap ke ruangan Dealova. Sebisa mungkin ia mengendap-endap agar tidak menimbulkan kecurigaan Yudha.Tanpa mengetuk lebih dulu, Dara mendorong pintu. “De.”Dokter cantik itu meringis di balik mejanya. “Kenapa, Beb? Mau konsultasi seputar apa? Ada yang tidak nyaman pada kehidupan ranjang, kah?”Dara mencebik. Menepis gurauan dari mulut beracun Dealova tanpa minat. “Jawab jujur, kenapa Yudha bawa botol vitamin tadi? Dia nyuruh kamu periksa?”Mata Dealova berkedip, polos. Dara tahu apa artinya. Puluhan tahun bersahabat dengannya dan sempat dibohongi habis-habisan, kini dia lebih mudah membaca gelagat sahabatnya itu.“Udah, deh! Nggak usah berniat bohongin aku.”“Iya, iya.” Dealova menghela napas, menyerah. “Jadi, ceritanya semalam itu Komandan mau minum vitamin itu tapi nggak sengaja kena tumpahan air terus leleh nggak kesisa, nggak ada b
...Bab 145“Halo, sayang.” Suara Dealova terdengar serak dari seberang. “Jam berapa ini? Bisa besok aja nggak, telponnya?”Dealova segera menjawab panggilan itu meski masih sambil memejamkan matanya. Tentu saja dia baru saja tertidur setelah pulang shift karena ini sudah jam dua belas lewat.Yudha meringis, merasa kasihan pada kekasihnya. Namun, rasa penasaran membuatnnya tak sanggup menunggu sampai esok pagi.“Maaf, sayang. Darurat nih.”“Nggak usah ng-prank.” Dara menguap kecil. “Kalau nggak penting aku tutup.”“Iya, iya. Ada yang aneh sama vitamin Komandan. Tadi tablet itu tiba-tiba aja larut nggak kesisa pas kena air. Bahkan nggak bau apa-apa.”Dengan sisa-sisa kesadarannya, Dealova mencoba menganalisa. “Itu vitamin dari mana? Coba fotoin botolnya.”“Ok, nanti aku foto. Itu dari kakak ipar katanya.”“Vitamin yang biasa aku kasih ke Dara harusnya nggak cepat larut dalam air, sih.”“Makanya aku bilang aneh. Ya udah, besok aku bawa ke rumah sakit buat kamu cek.”“Eh! Tanggung jawa







