Share

Bab 26 Hadiah Pertama

Penulis: Edelweis Jingga
last update Tanggal publikasi: 2026-08-08 15:07:39

.

.

.

Bab 26

“Bunda, ayo! Buruan masuk. Di luar dingin.” Zio menyambut kepulangan Dara.

Dara ingin sekali membawa anak itu ke Toko Bunga, tapi kejadian beberapa waktu lalu seketika menjadi alarm tak terlihat untuk segera menghentikan niat tersebut.

Sebagai gantinya Dara hanya menjemput Zio di sekolah dan menutup Toko Bunga lebih awal.

“Iya, sayang. Zio mau bunda masakin apa buat makan malam?” tanya Dara, seraya mengusap lembut puncak kepalanya.

Obrolan mereka berlanjut sampai ke dapur.

Beberapa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 75 Seolah Tak Terjadi Apa-Apa

    ...Bab 75Pria itu melepaskan pelukannya pelan-pelan. Begitu pelan sampai Dara sempat berharap Ryuga akan kembali menariknya. Mengatakan bahwa ia hanya bercanda, atau setidaknya membantah kalimat bodoh yang meluncur begitu saja dari mulut Dara.Namun, yang pria itu lakukan justru berdiri dan hendak meninggalkan Dara tanpa berkata apa pun.“Mas… kamu mau kemana?” seru Dara, sengau.Ryuga meraih kembali kausnya. Rahangnya mengeras, seolah ada banyak kata yang ditahannya agar tidak sampai melukai perempuan itu.“Panas, Dara. Saya mau mandi.”Dara mengatupkan mulutnya. Dia berharap apa?Memangnya apa lagi yang bisa dikatakan seorang suami setelah istrinya sendiri menawarkan perpisahan disaat hubungan mereka baru saja membaik. Hal itu bagaikan terjun bebas dari ketinggian tanpa menggunakan parasut.Dalam diam, Dara mengusap sudut matanya kasar-kasar. Mungkin ini memang lebih baik. Ryuga pantas mendapatkan perempuan yang tidak rumit seperti dirinya, tidak penuh ketakutan dan yang jelas

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 74 Aku Pernah Melakukan Itu

    ...Bab 74Dara menggigit bibirnya kuat-kuat, masih bisakah dia menolak suaminya malam ini?Arghh! Dara bisa gila memikirkan itu.Ryuga membungkukkan tubuhnya tepat di depan wajah Dara.“Mm…k-kamu kenapa harus buka baju?” seru Dara, panik.Ryuga menyeringai jahil, jemarinya bergerak menyingkirkan rambut tipis yang berantakan di wajah Dara. Perempuan itu kesulitan menarik napasnya kala bibir Ryuga nyaris bersentuhan dengan bibirnya dan merambatkan getaran panas dalam tubuh yang terus menjalar cepat.Ryuga menundukkan lebih dalam, menempelkan bibirnya dan melumat bibir Dara pelan. Dara sudah mulai terbiasa dengan bibir Ryuga, kali ini ia tak lagi menahannya. Membiarkan pria itu menjelajah apa yang seharusnya menjadi haknya.Sentuhan lembut di pinggang Dara, membuat tubuhnya refleks menggeliat kecil dan ciuman mereka semakin dalam. Dara bersumpah dia lepas kendali atas dirinya sendiri. Tangannya melingkari leher Ryuga dengan jemarinya bergerak naik menyusupi helaian rambut pria itu.De

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 73 Godaan Besar Bagi Dara

    ...Bab 73Ryuga masih tekun membungkus souvenir, tapi tatapannya tak lepas dari wajah Dara yang merengut. “Iya, maaf ponsel saya ketinggalan kayaknya, di kamar.”Dara menepuk dahinya, dari sekian banyak yang Dara utarakan jawaban pria itu hanya soal ponsel yang ketinggalan.“Maaf,” ulang Ryuga. “Saya pesanin makan, nggak usah masak.”Ditatap begitu lama dan permintaan maaf yang terdengar tulus seketika menurunkan kadar emosi dalam diri Dara. Ternyata pria itu jauh lebih bahaya buat Dara ketika bersiap manis begini. Dara jadi salting brutal dibuatnya.“Ya udah, nggak apa-apa,” gumam Dara, memalingkan wajah. “Besok-besok dicek lagi ponselnya sebelum berangkat.”Ryuga bangkit menuju kamar mencari ponselnya untuk memesan makanan.“Ramen? Nasi goreng? Atau mau ayam crispy?” tawar Ryuga.“Ayam crispy pake saus yang lada hitam, Mas. Kata Mbak Fitri tadi nasinya masih banyak.”Ryuga melirik tumpukan souvenir yang belum dibungkus. “Kamu mandi dulu aja, nanti lanjut kerjain desain. Souvenir

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 72 Tidak Cocok Jadi Istri!

    ...Bab 72“Bu Dara mendengar saya?” tanya Bu Dewi sambil menoleh.Dara segera memasang senyum manisnya dan mengangguk cepat. “Izin, Bu. Saya mendengarkan semuanya.”Bu Dewi hanya melirik dan kembali menghadap ke depan. Dara jadi merasa tidak enak pada beberapa orang lain yang ikut mencuri pandang ke arah mereka.“Stt, Ve.” Dara menyenggol lengan Vera yang sedang fokus memotong pita. “Ini kita kayak gini sampai jam berapa?” bisiknya.Perempuan itu menggeleng, lelah. “Sampai ratusan souvenir itu kelar dibungkus, Dar. Tanganku aja udah mau patah rasanya,” sahut Vera, dramatis.Sebagai anggota termuda, mereka kebagian terima nasib disuruh ke sana kemari, mengambil ini itu dan mengerjakan lebih banyak pekerjaan disbanding lainnya yang lebih senior.Pukul satu siang, satu per satu ibu-ibu persit mulai izin pulang lebih dulu hingga akhirnya tersisa Vera dan Dara saja.“Maaf, Bu Ryuga Bu Cakra ini nggak apa-apa kalau masih di sini?” basa basi Bu Dewi.Ingin sekali Dara menolak, dia masih

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 71 Mantan Calon Ibu Mertua

    ...Bab 71Untuk beberapa saat, Dara tidak mengatakan apa-apa. Pelukannya pada tubuh Ryuga justru mengerat. Membahas trauma rasanya seperti sedang berkaca pada dirinya sendiri.Dara tahu membicarakan hal ini dengannya sama saja dengan membuka kembali luka yang selama ini ia kira sudah sembuh.Dara mendongak. “Gimana kamu bisa sembuh?”Jemari Ryuga beralih membelai rahang Dara, menyusupnya sampai ke tengkuk. “Kadang, luka dan trauma itu bukannya susah sembuh. Tapi, kamu yang terlalu erat menggenggamnya.”Dara tertegun. Atau memang otaknya selemot itu sejak bergaul dengan Ryuga? Pria itu selalu saja membuatnya berpikir keras.“Coba mulai sekarang, biarkan rasa benci, sakit dan kecewa yang ada dalam diri kamu itu pelan-pelan dikurangi.”“Psikiater juga bilang gitu, Mas. Tapi nyatanya?”“Kamu masih cinta sama dia?” suara Ryuga berubah irama, cukup untuk menunjukan rasa tak suka yang ia tahan.“Nggak!” sanggah Dara, cepat. “Aku benci banget sama dia. Benci, sebenci-bencinya.”Dara lantas

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 70 Malam Panas

    ...Bab 70Bibir mereka saling bertaut, bergerak lembut beberapa saat hingga mulai saling mencecapi rasa manis yang membuat keduanya enggan menyudahi.“Bibir kamu nggak sakit, Mas?” tanya Dara disela ciuman mereka. Pertanyaan yang merusak momen romantis. Dara hanya sedang berusaha meredam debaran jantungnya yang teramat menggila.Ryuga terkekeh kecil. “Bukannya aku lagi dapet anestesi, ya?”Bibir Ryuga kembali berlabuh sekilas. Napasnya mulai memberat, menyusuri rahang sampai turun menerpa leher Dara. Membuat bulu-bulu tipis di bahu dan tengkuk perempuan itu meremang.Daraa hanya bisa meremas bahu suaminya untuk menyalurkan sebuah gejolak aneh yang mendadak meronta, ciuman yang berawal dari keraguan itu berangsur makin intens. Tak sadar, membuat Dara menginginkan hal yang lebih.Gerakan saling melumat dan mencecap lembut yang mereka lakukan makin membuat keduanya hilang arah. Tangan Ryuga merambat naik ke belakang kepala Dara, menekan tengkuknya untuk memperdalam cumbuan.Ryuga teru

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status